DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Anak istimewa


__ADS_3

Via merasa tangannya sedikit ringan. Mencoba menggerakan jemari dan tangannya yang terasa lebih leluasa. "Kak ... tanganku udah tidak kaku lagi."


Jimmy membuka matanya dengan lebar. Dia mendekat ke sisi brangkar dan duduk di samping Hyuta. Hyuna dipangku, dan Jimmy segera mengecek jemari istrinya. Via menggenggam tangan Jimmy, dan membelai rambut Hyuta.


Hyuta memeluk Via. "Mama, Uta tanen cama Mama. Ayo kita main agi." Hyuta menarik Hyuna untuk ikut memeluk Via.


Hyuna merengek menggelengkan kepala. Hyuna memukul kepala Hyuta melepas tarikan kembarannya. Lalu Hyuna memeluk Jimmy kembali dengan lebih erat lagi. Melihat hal itu, membuat hati Via menjadi sedih.


Jimmy menggenggam tangan Via. "Tidak apa, Sayang. Nanti dia akan terbiasa."


Via mengangguk dan mendekap putranya yang sudah masuk kembali dalam pelukannya. "Uta pernah ketemu Mama?" tanyanya.


Hyuta mengangguk. "Mama tantik, pakai baju putih."


Via memandang Jimmy. Mencoba memikirkan kembali. Bukan kah anak kecil daya ingatnya masih sangat minim. "Bagaimana dengan Uta ini Kak? Kenapa dia mengatakan pernah bertemu denganku? Bagaimana dengan kecerdasasan motorik halusnya?"


"Aku rasa, perkembangannya melebihi anak-anak biasa." ucap Jimmy. "Bahkan dia sudah bisa diajak ngobrol lho? Kalau Hyuna, kamu lihat sendiri kan?"


Via mengusap punggung Hyuta. Dia merasa tubuhnya tidak sekaku sebelum kedatangan si kembar. Via mencoba bangkit, hal ini membuat Jimmy refleks untuk membantunya. Via menggelengkan kepala memperlihatkan bahwa dia bisa melakukannya sendiri.


Hyuta seakan paham apa yang dilakukan oleh ibunya, menarik tangan sang Mama. Seperti itu hanya hal yang enteng, Via benar-benar berhasil duduk dengan sempurna. Dengan perasaan haru, Via memeluk tubuh Hyuta dan menciumnya berkali-kali.


"Mama bau ..." celetuk Hyuta membuat tawa dua orang tuanya meledak.


"Iya yah, Mama bau? Udah tahunan belum mandi."


Setelah itu Via meminta Hyuta untuk menyentuh kaki dan kedua telapak kakinya. Ternyata apa yang dia rasakan tadi, nyata adanya. Kedua tangan Hyuta seperti memiliki kekuatan listrik dengan tegangan kecil.


"Kak, apa pernah kesentrum kalau lagi menggendong Hyuta?"


Jimmy mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


"Kedua tangannya ada aliran listrik statis ini lho Kak? Apa kamu tidak pernah merasakannya?"


Jimmy menelengkan kepalanya sedikit merasa heran. "Tunggu, aku panggil Jason dulu. Biasanya dia yang ngasuh si kembar kalau di sini. Pengasuh di rumah tidak ada melaporkan apa-apa sih."


Jimmy mencoba meletakan Hyuna di sisi ibunya. Namun, Hyuna menggeleng dan memeluk Jimmy. "Hyuna memang agak sedikit susah menghadapi orang baru."

__ADS_1


"Ini Mama lho, Nak? Ayo sini, sama Mama dulu. Mama mau peluk Hyuna."


Hyuna masih menggeleng dan terus minta digendong oleh Jimmy. "Kalau begitu Hyuta saja yang jagain Mama ya?" titah Jimmy kepada batita itu.


"Oke, Papa ...." Hyuta mengacungkan jempolnya seperti paham apa yang diperintahkan Papa Jimmy.


Via yang merasa gemas memeluk Hyuta dan terus mencium kedua pipi anaknya. Akhirnya Hyuta menolak. "Uta malu, Ma. Uta udah becal. Olang becal tidak dicium agi."


Mendengar ucapan Hyut membuat Via menjadi menjadi semakin gemas untuk mencium pipi gembilnya. Via mengecek telapak tangan anaknya. Menaruh rambut di telapak tangan tersebut. Rambut Via seperti tertarik dan menempel di sana.


"Mama, ayo kita kelual?" Hyuta kembali menarik tangan Via.


Via menganggukan kepalanya. "Mama coba dulu ya, Sayang?"


Via dengan leluasa menggerakan kedua kakinya. Padahal beberapa waktu lalu seluruh tubuhnya seolah mati rasa. Via menurunkan kaki dari brangkar dan mencoba melangkah kan kakinya pelan-pelan. Meski agak terasa kesemutan, tetapi lama kelamaan makin menghilang. Hyuta tampak beringsut turun sendiri.


"Sini, Mama bantu?"


Hyuta menggelengkan kepalanya. "Uta uda becal. Tidak digendong-gendong agi." Tampak dia sudah berhasil turun dengan sangat baik.


Hyuta meraih tangan Via, menariknya dengan tiba-tiba. Hal ini membuat Via tergopoh mengikuti langkah kaki kecil anaknya tersebut. Via membuka pintu dan ternyata ada taman yang langsung menyambutnya. Via menarik nafas dalam-dalam, dan menggerakan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


Sebuah suara yang membuat dia menghentikan aktifias peregangan ototnya. "Romi." Via melambaikan tangannya.


Romi melangkah kan kakinya semakin mendekat pada Via. Melihat Via dari ujung rambut hingga ujung kepala dengan heran. "Kok bisa langsung berjalan gini? Padahal aku lagi nyiapin alat fisioterapi untukmu."


Via menunjuk bocah yang ada di sebelahnya. "Sepertinya aku punya manusia fisioterapi super," candanya.


Romi tidak paham pada apa yang dikatakan oleh Via. Via menggandeng putranya ke arah Romi. Hyuta memandang heran mengapa dia diserahkan kepada Romi.


"Sepertinya anakku ini istimewa dibanding anak yang lain," ucap Via.


Romi tampak berpikir sejenak. Keningnya terlihat berkerut mencoba memahami apa yang disampaikan oleh Via. "Dibanding anak lain Hyuta memang tampak istimewa. Bahkan dengan kembarannya sendiri, perkembangannya jauh lebih cepat."


Romi berjongkok menyamaratakan posisinya dengan Hyuta. "Uta sudah makan belom?"


Hyuta menggelengkan kepalanya. "Beyum Om ... Papa ngajak Uta cama Una buat ketemu Mama. Uta ceneng, akhilnya ketemu cama Mama agi."

__ADS_1


Romi kembali menatap Via dengan heran, beralih ke Hyuta lagi. "Emang Uta udah ketemu sama Mama?" Hyuta hanya mengangguk.


"Kapan?"


"Dulu waktu Uta macih kecil cekali."


"Emang Uta ingat semua kejadian Uta masih kecil?"


Hyuta mengangguk. "Ingat. Uta ingat cemua. Mama datang cama Om yang ganteng cekali. Mama cama Om itu pakai baju putih cemua."


Romi menggaruk kepalanya. Dia merasa apa yang diucapkan oleh bocah laki-laki ini begitu mustahil. Apalagi memori pada bayi belum terbentuk dengan sempurna. Otaknya berpikir keras mencerna sesuatu yang dikatakan Hyuta. Ini sungguh tidak masuk akal dia mengingat semua kejadian tersebut.


"Sepertinya Uta ini penerus Albert Eisntein ya?" canda Romi.


Hyuta menggelengkan kepala. "Uta lebih hebat dali Enten itu Om."


Romi terkekeh mendengar apa yang diucapkan oleh Hyuta. "Emang kamu tahu siapa Einstein?"


Hyuta tampak memejamkan mata. Orang yang dimaksud seperti tergambar di dalan pikirannya. Hyuta membuka mata dan membuka mulutnya. "Enten kakek botak di cini." Mengusap kepala bagian atas.


"Lambut putih di cini." Menggerakan tangan di bagian belakang kepala.


"Ada lambut juga di cini." Jemari kecilnya menunjuk bagian antara hidung dan mulut.


Hal itu membuat Romi tertawa dengan ngakak, menyebut kumis sebagai rambut. Romi bangkit dan menggaruk pelipisnya karena heran. Baginya ini sungguh merupakan hal yang luar biasa.


"Ekheeemmm ..."


Deheman tersebut membuat Via dan Romi refleks menatap ke arah sumber suara. Romi terfokus pada sosok yang ada di samping Jimmy yang berdehem tadi. Memberi kode kepada pria muda itu untuk mendekat.


Pria muda tersebut menunjuk dirinya kembali memastikan bahwa dirinyalah yang ditunjuk. Romi memasang wajah garang, membuat Jason sedikit berlari menuju ke arah mereka.


"Katakan pada kami, apa saja yang kamu ajarkan kepada Hyuta?"


"Haaah?" Yang ditanya pun merasa heran.


__ADS_1


...Jason sang Snyper...


__ADS_2