
Pada jam istirahat di sekolah, Marni duduk di bangku halaman sekolah sembari menatap ke arah lapangan basket, menonton aksi anak laki-laki yang tengah berebut bola di lapangan.
Kebetulan Jimmy lewat tepat di depan dia memilih untuk duduk di sebelahnya. Dia merasa penasaran karena melihat Marni telah masuk sekolah. Namun, Marni tidak menyadari kehadiran Jimmy karena masih asyik dengan pikirannya sendiri.
"Kamu sedang memikirkan apa?" pertanyaan Jimmy membuat buyar lamunan Marni.
"Ka-kak?" dengan refleks segera hendak bangkit, namun tangannya ditahan oleh Jimmy. Hal itu membuat Marni kembali terduduk dan heran atas tingkah Jimmy barusan. Hanya melirik Jimmy dari sudut matanya.
"Kenapa kamu selalu menghindariku? Apa ada hal yang membuat kamu takut padaku?"
Marni masih melirik Jimmy, kali ini dengan memasang wajah heran. Lalu tiba-tiba Marni teringat kata ayahnya bahwa Jimmy lah yang mengabarkan dirinya kecelakaan kepada mereka. Apakah Jimmy menonton pertandingan juga? Mengapa tidak melihat dia ada di sana ya? Tapi tunggu, Jimmy memanggil Tosan melihat gue sebagai siapa? Marni apa Via? Waduuh..., Marni malah semakin panik memikirkannya.
"Kamu udah baikan? Kenapa udah sekolah aja? Bukankah kecelakaan yang kamu alami itu cukup berat?"
Marni masih berusaha mencerna pertanyaan dari Jimmy barusan. Ada sesuatu yang dia sembunyikan, namun Marni tak tahu itu apa. Karena dia tidak bisa membaca hati seseorang.
"Apa kamu membenci ku?" tanyanya dengan nada semakin sendu, karena tidak mendapatkan jawab apa-apa dari Marni.
Tiba-tiba dia merasa akan sulit untuk mendapatkan Marni alias Via. Jangankan menyatakan perasaan, untuk mendekati nya saja, merupakan hal yang sulit bagi Jimmy.
Cukup lama waktu terjeda dalam diam, mereka sama-sama asik dengan pikirannya sendiri. Akhirnya Marni bersuara, "Terima kasih kakak sudah membuat kedua orang tuaku datang ke sini," tanpa sadar kembali berbicara tanpa akting gagap.
__ADS_1
Kemudian dia tersadar secara refleks dia menutup mulutnya dan pergi, terus melirik Jimmy, merasa jengkel pada ketololannya karena kembali lupa untuk pura-pura gagu.
Namun, reaksi berbeda terjadi pada Jimmy. Wajahnya yang tadi sendu akibat berbagai macam pikiran menggelayuti hatinya, seketika berubah menjadi sebuah senyuman. Kali ini dia merasa bahwa Marni mungkin tidak membencinya, namun ada satu hal yang membuatnya terus menjauh.
Dalam diam di memegang kotak makan, Joko alias Deval melihat kejadian tersebut. Seketika amarah karena cemburu memenuhi hatinya.
Rencananya dia ingin mengajak Marni makan bekal bersama kembali, namun malah melihat sesuatu yang membuat perasannya menjadi kacau.
Mungkin karena dia juga seorang lelaki, bisa menilai tindakan Jimmy barusan, memperhatikan gerak-gerik Jimmy yang diam-diam menyukai gadis pujaan hatinya.
Sepulang sekolah, Marni dan Irin menunggu Joko. Semalam dia sudah berjanji untuk menemani Joko menyelidiki kasus hari ini. Joko yang sadar telah ditunggu, hanya melirik sesaat dan berjalan meninggalkan mereka begitu saja. Marni dan Irin mengejar, namun Joko hanya memberikan tatapan dingin.
Marni yang merasa tersudut, menghentikan langkahnya, memilih tidak mengejarnya lagi. Baginya itu adalah sesuatu yang sia-sia.
"Kenapa sih dia?" celetuk Irin yang ikutan kesal melihat tingkah laku cowok culun itu, barusan.
Marni hanya mengedikkan bahunya, mencoba memahami Deval yang memang suka berperilaku tidak jelas. Kadang dia jadi cowok perhatian luar biasa, kadang sangat manis, dan kadang marah-marah nggak jelas seperti ini. Tapi, apa penyebab dia marah-marah tidak jelas seperti itu?
Saat menuju gerbang, tidak sengaja mereka bertemu dengan Jimmy dan kawan-kawannya. Kawan-kawannya asik menyikut Jimmy, mengode gebetan jeleknya sedang hadir di pelupuk mata pangeran ganteng itu.
Jimmy dengan kalem hanya memberikan senyuman tipis pada Marni, lalu kemudian mempercepat langkah mendahului mereka dan diikuti oleh dua kawannya.
__ADS_1
"Nah, yang itu juga kenapa.." kali ini celetuk Irin dengan heran.
Lalu Irin membayangkan jika situasi ini ditambah jika ada Stevan, pasti keadaan luar biasa terjadi dalam memperebutkan si jelek Marni, dia sudah terkekeh sendiri membayangkan apa saja usaha para cogan untuk mendapatkan hati Marni.
Deval yang memiliki wajah imut, namun bersifat kaku. Stevan si bule ganteng yang selalu berlaku ramah pada siapa saja. Dan Jimmy, yang masih misterius mencoba mendekati Marni. Sebenarnya dia ganteng, tapi sayang anak dari Buana Putra, batinnya kembali.
"MARNI...!" tiba-tiba langkah mereka terhenti mendengar sebuah teriakan, itu suara Dino.
"Mau kemana Lo? Gue mau kasih tugas pertama sejak tadi, eh elo nya kabur mulu?" tampak langkah kaki Dino bergerak semakin cepat mendekati Marni.
"I-iya, ma-maaf. Gu-gue lupa!" Marni memperbaiki posisi kacamatanya, sembari memperhatikan tindakan Dino.
"Sekarang ikut gue!" Dia berjalan mendahuluinya. Marni terpaksa mengikutinya, dan menyuruh Irin pulang duluan. Awalnya Irin ingin menemani Marni melihat tindakan Dino, namun dicegah oleh Marni.
Akhirnya Irin pulang sendirian, dan ternyata menemukan seseorang di depan pintu gerbang tengah bersandar dengan satu kaki menumpu di dinding pagar sekolah sambil melipat kedua tangannya. Joko tengah berdiri menunggu mereka.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1