
Via segera menghubungi Irin, nada tunggu tak berujung, lalu operator yang menjawab.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan..."
Sementara di tempat lain, "Wooiiyy.. teleponnya bunyi tuh... Kasian ni anak sampai diserempet kayak gini. Gimana caranya nih?" ucap salah satu anggota gangster tersebut.
"Jangan angkat! Matikan hapenya! Darahnya belum berhenti?" perintah si Kurus duduk di samping supir.
"Belum nih, pelipisnya nggak berhenti mengeluarkan darah..." ucapnya sembari menahan aliran darah dengan kain yang dia punya.
"Udah, biarin aja.. Tugas kita kan buat nangkap anak ini. Mau dia selamat kek, mati kek, yang penting kerjaan sudah kita lakukan dengan baik..."
"Tapi ini darahnya...? Aiiishhh... udah penuh darah pakaian gue.." sungut mafia yang berusaha menaham aliran darah Irin.
"Kita bawa dulu ke markas, nanti kita lihat apa kata big boss .." jelas si Kurus.
***
Stevan mendapat perintah dari atasan untuk mengecek CCTV sekolah, sejak kejadian ada mafia yang mau menangkap Via. Sejak tadi, dia terus mantengin CCTV melihat beberapa kejadian. Kebanyakan sih belum hal yang penting, hanya sekedar melihat mobil-mobil yang parkir di jalanan depan sekolah.
Kemudian dia keluar rumah hendak membeli sesuatu sejenak. Saat dia keluar, dalam layar laptop nya muncul gambar Via dan Irin pulang sekolah. Irin naik ojol, dan Via naik mobil bersama Dedi. Tak lama ada mobil yang putar balik mengikuti Irin. Tapi itu tidak diketahui oleh Stevan, karena dia sedang berada di luar.
Satu jam kemudian dia kembali, menengok jam dinding, "Waduuhh, ini sudah lewat dari jam pulang mereka," bicara sendiri. Kemudian scrolling waktu ke saat Via dan Irin pulang.
Masih menikmati mie cup yang telah diseduh dengan air panas, tampak Via dan Irin berpisah di jalan. Irin naik ojol, Via naik mobil bersama Dedi. Lalu tampak mobil yang sudah dari tadi dilihat Stevan parkir di depan sekolah berputar ke arah Irin.
Hanya sekedar Iseng, Stevan mencoba mengambil alih CCTV yang ada di sekitar jalan arah lrin lewat, tiba-tiba kuah mie yang panas menyembur dari mulutnya. Melihat di layar laptop aksi kejar-kejaran Ojol yang membawa Irin dengan mobil yang tadi tampak di CCTV.
"Gila, ini pasti mereka..." kembali berbicara pada diri sendiri, teringat kejadian sebelumnya. Dia langsung menghubungi Markas.
Kemudian dia menelepon Via, Via tidak tahu bahwa Stevan juga bertugas sebagai hacker, karena yang dia tahu Stevan hanya sebagai tukang bikin tugas sekolahnya.
"Yaa.. ada apa Steve ..." tanyanya, yang tengah bersimbah keringat karena latihan.
"Bukan Steve... tapi Aa..." mengoreksi ucapan Via. "Lo nggak pulang bareng Irin?" tanya Stevan.
"Nggak, gue lagi latihan taekwondo..."
"Sudah dapat kabar dari dia?"
"Tadi gue udah coba telpon, tapi nggak diangkat..."
"Sudah ditelpon lagi belum?"
"Udah, tapi hapenya non akftif, mungkin lagi chas hape pas sampai rumahnya..."
Gimana cara ngomongnya ya sama ni anak ya, batin Stevan.
"Ayah Irin sudah menelpon belum?"
"Belum, Ayah belum menelepon. Ada apa Steve?"
"Aa..."
"Iya Aa.. ada apa? Irin kenapa?"
"Kayaknya Irin disergap gerombolan yang mencoba menangkap Lo kemarin.."
__ADS_1
"Apa?" seketika jantung Via berdegup dengan sangat kencang, cemas dan takut menjadi satu... "Dimana dia A?"
"Gue juga belum tahu. Boleh minta kontak Irin?"
"Buat apa?"
"Kirim aja secepatnya!!!"
Masih dalam telepon, Via mengirim kontak Irin lewat aplikasi Chat, dan dia langsung mengakses di sistem mencoba mengambil alih fungsi ponsel Irin..
"Sial... teleponnya off..."
"Iya, dari tadi gue juga bilang ponselnya gak aktif .."
"Ya udah, Lo jaga diri baik-baik. Gue mau coba ngontak markas..."
Telepon ditutup, Via langsung mengajak Dedi kembali ke area sekolah.
Sementara Stevan, menghubungi senior hacker di BOS, setelah itu mencoba mengakses jaringan yang dia mampu.
Huffftt.. ponsel Irin sudah tidak bisa diharapkan, batinnya, Kita hanya bisa menunggu hingga ponsel itu diaktifkan kembali.
"Ternyata mereka cukup pintar sampai memikirkan hal ini," masih sibuk bicara sendiri.
Dia kembali mencari informasi, membuka kembali rekaman CCTV tadi untuk mengecek nomor polisi mobil yang mengejar Irin.
"Yak, dapat...!!! Kenapa tidak kepikiran dari tadi katanya," dengan senyuman smirk.
Tak menunggu-nunggu lama, dia langsung melacak mobil tersebut lewat CCTV yang ada di seluruh jalanan di kota ini. Pekerjaan ini cukup merepotkan, karena harus mengecek seluruh sisi jalan yang sudah memiliki CCTV. Tapi lebih baik daripada hanya sekedar diam berpangku tangan.
Kembali ke Via, yang tengah menyidik area sekitar sekolah tadi.Terdengar percakapan dari pasukan kang ojek.
"Dimana Bro?"
"Itu di jalan dekat pasar. Terus penumpangnya gadis sekolahan sampai terluka parah bersimbah darah.."
"Terus mereka sudah dibawa ke rumah sakit?"
"Kabarnya yang penumpang cewek diangkut paksa masuk ke dalam mobil, padahal dalam keadaan tidak sadar setelah terseret motor. Sementara teman kita sudah dibawa ke rumah sakit."
Via segera mendekati pasukan berjaket hijau itu.
"Kang, liat sendiri kejadiannya?"
"Enggak Dek, tadi Akang sedang ada tarikan di tempat lain. Tapi kawan yang mangkal dekat sana yang ngasih tau..."
"Dimana lokasinya Kang?"
"Yang dekat mesjid dekat pasar itu Dek, nggak terlalu jauh dari sini..."
"Terima kasih infonya Kang!"
Belum sempat dijawab "Sama-sama" oleh kang Ojek, Via sudah berlari menuju mobil.
Dedi pun melajukan mobilnya dengan sangat kencang, tak lama lama mereka sampai di lokasi.
Tampak motor yang sudah hancur karena kejadian itu, dan tampak sisa-sisa darah di atas aspal.
Via terduduk, tak kuat membayangkan itu adalah darah sahabatnya Irin, akibat ditabrak dengan sengaja. Tak terasa, air matanya mengalir.
__ADS_1
"Irin... maafin gue... Maafin gue.. Gue gak bisa jagain elo... Seharusnya tadi kita pulang bareng padahal gue tahu kita tengah diikuti oleh mereka. Bodohnya gue biarkan elo pulang sendiri."
...klik gambar di bawah ini
...
Stevan tengah melihat Via yang menangis dari rekaman CCTV yang berhasil dia telusuri lewat pekerjaannya barusan.
"Maafkan aku Vi.. aku yang ceroboh.. seharusnya aku pantengin CCTV itu tanpa beranjak kemana-mana..." ucap Stevan dengan wajah menyesal luar biasa.
Tiba-tiba ada notifikasi di sistem DOS bahwa ponsel Irin telah aktif kembali. Tampak dari CCTV, Via tengah menerima telepon, yang langsung disadap dan didengar oleh Stevan.
"Halloo.. Rin.. Rin..." Jawab Via karena mendapat telepon dari kontak Irin "Lo dimana Rin...?"
"Hahahaha... gadis nakal..." terdengar suara laki-laki dengan nada cempreng dari balik sana.
"Heeeh, Lo apain Irin?" bentak Via dengan. garang..
"Dia bersama kami, Dia akan selamat kalau Lo datang sendiri tanpa ditemani siapa pun apalagi oleh polisi..." lalu terdengar krasak krusuk...
"Anak kecil..hahahaha..." suaranya sudah bertukar kembali.
"Tikus kecil yang sudah menghancurkan perusahaan yang sudah dirintis keluarga saya sejak satu abad lalu... hahaha.."
"Lo siapa!?" bentak Via.
"Dasar anak kurang ajar! Semudah itu kamu melupakan apa yang kamu lakukan pada perusahaan saya?"
"Buana Putra?!"
"Ha-ha-ha... Akhirnya kamu ingat.."
"Apa yang Lo inginkan dari gue...?! Kenapa Irin yang Lo tangkap?!"
"Ha-ha-ha, kuping saya merasa tergelitik mendengar anak kecil yang tidak sopan seperti ini.."
"Hehey, Lo sendiri gak sopan ya. Menculik anak kecil yang tengah bersimbah darah... yang tidak ada hubungan sama sekali dengan Lo...!"
"Ha-ha-ha, seharusnya dari kemarin kamu mengikuti keinginan untuk segera menemui saya...!"
Stevan sudah mendapatkan alamat dimana Irin disekap. Kemudian menginformasikan ke markas besar dan kepolisian.
"Lalu lo mau berbuat apa?"
"Saya ingin kamu bertanggungjawab atas kerugian yang saya alami..!!"
"ha-ha-ha, Lo entah begoo apa tolol. Gue harus berbuat apa dengan kerugian karena perbuatan Lo sendiri? Perusahaan farmasi yang katanya sudah satu abad, tetapi malah tidak bisa mempertahankan kualitasnya. Seharusnya Lo malu, pada pendiri asli perusahaan itu, yang susah payah untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat dengan memberikan kualitas dan bahan yang bermutu..!! Bukan barang palsu, seperti yang telah Lo lakuin.."
"Ha-ha-ha, bocah tengik... ternyata kamu banyak omong juga... Cepat ke sini! Sebelum temanmu mati! Kehabisan darah... tuuut...tuuu...tuuu..." telepon telah ditutup.
"BASTARD ...KEPARAT..." umpat gadis itu tengah menangis membayangkan kondisi Irin yang tengah sekarat.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA TINGGALKAN TANDA JEJAK YAA.. LIKE, LOVE, VOTE DAN KOMENTARNYA 🥰🥰😘😘...
__ADS_1
...terima kasih...