
Mami, Tosan, dan Kak Yudhit tergopoh-gopoh menyusuri koridor rumah sakit, setelah mendapat kabar Via dirawat di kamar mana. Mereka baru saja mendarat menggunakan jet pribadi langsung dari Singapura.
"Nah, saya telah mengatakannya berkali-kali. Via seorang perempuan. Tapi awak berkeras untuk terus buat dia suka awak. Bagaimana jika dia meninggalkan kita selama-lamanya?" ujar sang ibu gusar, terus melangkah cepat menuju kamar Via.
"Bertenang! Dia macam saya. Dia mesti sihat," ucap sang ayah kalem. Mengikuti langkah sang istri yang tengah galau karena mendapat kabar bahwa anak gadisnya babak belur setelah dihajar pasukan mafia.
"Jika dia mendapat masalah, saya akan memberitahu dia berhenti menjadi detektif. Saya akan membawanya pulang ke Singapura," masih mode melangkah cepat, diikuti dua ajudan di kiri kanan, yakni Tosan dan Yudhit. Pria asli negara sakura itu hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan sang istri.
Akhirnya mereka berada tepat di depan pintu kamar Via. Menarik kenop pintu perlahan, dan membukanya dengan perlahan, takut apabila membangunkan Via yang tidur. Namun, alangkah terkejutnya keluarga The Big Boss tersebut, saat mendapati ranjang itu kosong tak berpenghuni.
"Kemana dia?" sang ibu tergopoh-gopoh mencari perawat yang jaga. Sang Ibu takut, bila mafia tersebut diam-diam datang untuk menculik anak gadis mereka yang tengah dirawat, seperti di pilem-pilem mafia.
"Mba..Mba...Mba...." ucap sang Ibu tergesa menarik perawat itu untuk mengikutinya.
"Kenapa Bu? Ada apa?" tanya perawat tersebut heran, namun masih tetap mengikuti langkah Ibu Megi, ibu dari Lutvia Megita.
"Anak saya dimana?" tanyanya gemas sembari masih menarik sang perawat.
"Anak Ibu yang mana?" mencoba menahan langkahnya.
"Yang di ruang ini?" menunjuk ruang VVIP yang telah kosong, hanya tampak brangkar dengam selimut yang sudah berantakan.
Sang perawat juga heran, kenapa gadis tersebut menghilang? Padahal terakhir dia memastikan Via masih mode tidur, dengan perban hampir di sekujur tubuhnya.
"Dimana ya? Padahal setengah jam yang lalu masih di sini tidur..." ucap perawat itu sembari menggaruk tengkuknya yang juga merasa heran.
"Ada yang menemaninya?" sela Yudhit ikut menodong sang perawat dengan dingin melirik perawat itu.
Perawat tersebut terkesima melihat wajah tampan kakak laki-laki Via ini. Pantas saja gadis korban keroyokan itu cantik, ternyata keluarganya rupawan semua, batin si perawat masih mode terpana pada wajah Yudhit.
"Mba.... Mba..." Yudhit menjentikkan jarinya beberapa kali di depan perawat yang tengah berada di atas awan itu.
"Mba....?" sekali lagi dijentikkan jarinya, dan akhirnya perawat terkesiap kembali ke tubuhnya di yang ada di atas bumi.
Kali ini perawat muda itu menggaruk pelipisnya, yang masih merasa bingung tidak tahu sejak kapan sang pasien menghilang dan keluar bersama siapa.
"Maaf Bang, aku juga gak tahu dia pergi bersama siapa," jawabnya dengan nada manja sembari menjepitkan rambut sebahunya ke belakang kuping dan tersenyum manis.
"Aneh.. perawat di sini kok tidak kompeten begini sih?" ujar Yudhit dengan arogan.
"Apah kata Andah?" seketika perawat yang baru kembali ke bumi langsung jatuh ke dasar bumi karena ucapan Yudhit barusan, dia merasa sangat-sangat terhina.
"Anda bilang kami tidak kompeten?" nada suaranya mulai meninggi.
"Lalu itu namanya apa? Pasien yang sakit menghilang saja kamu tidak tahu!!! Bagaimana bisa begitu? Ini kan tempat pelayanan masyarakat? Nanti kami laporkan kepada pimpinan rumah sakit ini baru tahu rasa kau!!"
"Udah Yudhit...!" sang Ibu mencegah Yudhit yang terus bebicara.
"Kamu diam saja! Biar Mami yang bicara...!"
Lalu Yudhit mendengus kesal memperhatikan wajah perawat yang mulai berubah menjadi kesal itu. "Perawat dari ongkong..." sungutnya pelan.
__ADS_1
Sang perawat mendengar dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sang Ibu mencoba untuk mengalihkan perhatian perawat tersebut.
"Jadi kita harus bagaimana ini Mba? Apa yang harus kita lakukan untuk menemukannya dengan segera?"
"Sabar Bu, saya akan mengontak pegawai ruang kontrol untuk mengecek CCTV dulu..." lalu dia berlalu dengan wajah marah tanpa permisi.
"Haah.. kenapa semua keluargaku orangnya arogan seperti ini sih?" sungut sang Ibu..
"Baik itu suami, anak pertama, dan anak kedua wataknya sama. Kenapa tidak ada yang mewarisi sifat Mami sih?" mami menghembuskan nafasnya kesal... huuuffftt..
Yudhit meninggalkan sang ibu yang terus mengoceh tak jelas. Melangkah menyusuri koridor, dan menuju ruang terbuka. Tak sengaja melihat seorang berpakaian pasien, hampir seluruh badannya dililit kain kasa, tengah push up di dekat taman.
Merasa ini hal yang aneh bin ajaib, Yudhit mendekati pasien itu sambil berjongkok.
"Eeehh.. Non... Ngapain tu?"
Ternyata pasien itu adalah Via, Via yang merasa tidak rela dikalahkan oleh komplotan mafia kemarin. Menjadi semakin gigih untuk mencoba melatih ototnya saat dia baru terbangun dari tidurnya tadi.0
Via baru menyadari kedatangan kakaknya, langsung mengubah ke posisi duduk, "Kakak...." langsung memeluk dada bidang saudara kandung yang telah lama tidak dijumpainya.
"Kamu itu masih sakit Dek .. Kenapa latihan begini?" mengelus kepala adiknya yang terbalut perban.
"Aku harus kuat Kak.. Biar aku tidak bisa dikalahkan... Sebel banget.. mereka main curang... Masa mengirim ribuan orang untuk mengalahkan aku?" decaknya kesal dengan tangan dikepal.
"Namanya juga mafia dek... Ya mereka tak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka mau..." Yudhit membelakangi Via, menyuruh Via naik ke gendongan punggungnya.
Via dengan gembira langsung naik ke gendongan sang kakak, sudah lama sekali dia tidak merasakan ini. Kasih sayang kakak yang sangat besar untuknya.
Lalu Yudhit melangkah menuju ke kamar Via dengan hati-hati. Beda usia kakak beradik ini terpaut lima belas tahun. Via lahir saat Yudhit setara duduk di bangku kelas tiga SMP.
Harapannya untuk memiliki adik, baru terpenuhi saat dia sudah cukup besar untuk memiliki seorang adik. Adik perempuan yang sangat cantik, seperti harapannya dulu. Yudhit benar-benar menyayangi Via.
"Akhirnya kalian datang juga..." ujarnya sedikit dingin.
"Kalau tahu begini, dari dulu aku tak perlu berlagak sok kuat..." tambahnya yang masih kesal ditinggal sendirian di negeri ini.
"Maafkan Mami ya Nak.. Mami tak menyangka bisa sampai seperti ini akhirnya..." raut wajah sang Ibu sungguh sangat menyesal. Melihat gadis yang masih kelas tiga SMP itu terluka seperti ini.
"Lalu sekarang Via harus bagaimana Mi? Via sudah menuruti keinginan Tosan untuk menjadi detektif, dan mengikuti apa yang Mami suruh untuk mengikuti budaya Indonesia, dan akhirnya begini..." menundukkan wajahnya, sebenarnya dia sendiri merasa malu. Takut dianggap tidak bisa menyelesaikan masalah oleh keluarga hebatnya ini.
"Maafkan Mami Nak.. Jika memang kamu sudah tidak bisa lagi melanjutkan untuk tinggal di sini, Mami akan membawamu pulang sekarang juga!"
"Sekarang Mi?" wajah Via berbinar, akhirnya dia dijemput juga, stelah hampir tiga tahun menjadi anak yang terbuang.
"Iya... mari kita pulang ke Singapura sekarang..." sang ibu mengelus punggung anaknya itu dengam lembut.
Via merasa sangat bahagia, akhirnya dia bisa berkumpul dengan keluarganya secara utuh. Ini adalah hal yang telah lama didambakannya. Kembali lagi dalam keluarga yang sangat dicintainya.
"Tunggu dulu...!!" cegah sang ayah..
Eeett dah si Bapak, "Kenapa Tosan?" dengus Via, merasa ucapan sang ibu hanya sebuah khayalan belaka.
"Terus kamu mau ninggalin pekerjaan gitu aja di sini?"
"Tapi Tosan, Via kan sedang sakit...," sela Yudhit yang juga ingin segera bersama adiknya lagi.
"Kan sakit bisa istirahat dulu. Nggak perlu ditinggal juga.. Ini Tosan udah ngeluarin dana yang tak sedikit lhoo, bangun organisasi BOS di negara ini.
"Tidak mungkin dibubarkan begitu saja kan? Terus bagaimana nasib agen, detektif, dan karyawan yang telah kita rekruit dengan khusus itu? Masa iya kita PHK semua?" setelah itu Tosan menatap tajam ke arah Yudhit.
__ADS_1
"Kamu saja yang gantikan Via?" ucap sang ayah menangkap sorot mata Yudhit.
"Ooohh.. No...No.. that's not my passion..." tolaknya.
"Lalu harus bagaimana?" sang ayah merasa cukup gusar karena keinginan istrinya ini.
"Tosan aja yang kendalikan, sperti yang lainnya. Rusia, Makau, Jepang, Korea... negara-negara Eropa, bisa Tosan kendalikan dari jarak jauh aja." sang isteri ikut menyela.
"Iyaaa.. tapi Tosan sudah meninggalkan perwakilan yang sangat kompeten di sana. Kalau tiba-tiba Via meninggalkan BOS di sini begitu saja, siapa yang akan bertanggung jawab?"
Mereka diam, membenarkan penjelasan Tosan. Memikirkan alasan lain namun tak kunjung juga dapat pemecahannya. Ini masalah yang sangat serius, menyangkut banyak hal dan banyal nyawa.
Tok...tok...tok...
Mata mereka seketika menoleh ke arah pintu, memecahkan suasana serius yang membuat mereka pusing.
"Masuk!!!" titah Tosan.
Lalu yang mengetuk menarik kenop pintu, deg-degan membuka pintu dengan pelan, dia sudah mendapat kabar pimpinan besarnya sedang berada di sini untuk menemui anaknya, itu adalah Stevan.
"Aa ...." sorak Via setengah senang melihat pria tinggi yang hanya mendapat sedikit luka di tubuhnya.
"Kamu siapa?" tanya sang Ayah kembali dengan mode penuh wibawa.
"Ini Aa Stevan, Tosan..Yang tugasnya bikinin tugas sekolah aku itu lhooo...." Via yang menjawab.
Stevan berdiri dengan kikuk... 😅 seperti akan berperang dengan hati menemui calon mertua.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA TINGGALKAN TANDA JEJAK YAA.. LIKE, LOVE, VOTE & KOMENTAR 🥰🥰😘😘...
...terima kasih...
...Visualisasi keluarga BIG BOSS...
Chizzuru Sato (sang Bapak), warga berkebangsaan Jepang, pimpinan tertinggi Organisasi BOS, usia 55 tahun.
(Nama aslinya: Takhesi Kaneshiro, aktor berkebangsaan Jepang)
Megita Purnama (sang Emak) berkebangsaan Indonesia, seorang pengacara handal di Singapura, usia 52 tahun.
(semua warga negara ini sudah tahu siapa Mami Via ini)
Yudhit Akira Sato (sang Kakak), seorang Jaksa handal di Singapura. Perawakan dingin, dan arogan yang diturunkan langsung dari sang ayah Usia sekarang 31 tahun.
(Nama aslinya Luke Plowden, turunan Thailand Jepang. Sengaja mencari tokoh yang ada campuran Jepang, biar agak mirip dengan adik yang campuran Jepang juga 😂)
si bungsu LUTVIA MEGITA, usia saat ini telah 16 tahun.. watak arogan juga langsung diturunkan dari sang ayah, ceriwis dan perhatian turun dari sang ibu. Dia adalah orang yang dijadikan pusat dari kehaluan Author.
(Nama aslinya : Ayana Shahab, pernah menjadi Anggota Girl Band JKT 48. Keturunan Indo-Jepang beneran)
__ADS_1