
Esoknya mereka semua pergi ke rumah sakit dan kedua bocah langsung diambil alih oleh Jason. Jimmy harus menghadapi pasien, sementara Via masuk ke ruang markas anggota Jimmy secara diam-diam.
Di sana tampak Romi yang terlihat sudah lelah duduk di depan PC terfokus mengerjakan sesuatu. "Bagaimana, Rom?"
"Eh ... oooh ... kamu ada di sini?"
Via mengintip apa yang sedang dilakukan oleh Romi. Tampak sebuah nama yang cukup terkenal, saat dia di Jepang dulu. Via segera mengontak Stevan lewat video call sambil mengunci pintu ruangan tersebut. Romi hanya mengerutkan kening atas apa yang dikerjakan oleh Via.
"Nanti suamimu menduga kita lakukan hal aneh-aneh lho?"
Via memberi kode telunjuk di bibir, menunggu Stevan menjawab panggilannya. "Halooo, Sayaaaang ..." jawab yang di seberang.
"Bagaimana Aa? Udah dicariin belom?"
Stevan tampak melirik ke arah samping. Dia mengangguk dan memperlihatkan jempolnya. "Udah dong. Emang ada apa? Kenapa bisa kena masalah dengan mereka?"
Via melirik Romi. "Jelaskan apa yang terjadi, Rom!"
"Hanya sedikit kesalahan, berujung akun kami dihack, lalu kemarin ada yang mantau, tetapi tidak tahu cara menghapus jejak. Ini mereka sudah bergerak dengan memberikan ancaman."
Stevan tampak berpikir beberapa waktu. "Berurusan dengan mereka memang cukup ribet. Hmmm, bagaimana akun itu? Udah bisa direbut kembali?"
"Belum."
"Ya udah, saya akan coba bantu dari sini."
Terdengar suara pintu sedang digebrak dari arah luar. "Udah dulu, Aa ... aku tutup dulu." Via segera menutup panggilan dan menghapus rekam jekak panggilan.
Romi melihat Romi yang cukup takut pada Jimmy, tersenyum tipis. Dia tidak menyangka, Via benar-benar berhasil ditundukan oleh Jimmy. Via berlari kecil membuka pintu tersebut. Wajah Jimmy terlihat menatapnya bergantian dengan Romi.
"Apa yang kalian lakukan berduaan mengunci pintu?"
"Oh, enggak ... tadi nggak ada dikunci kok. Mungkin anak-anak lain yang kunci." elak Via.
Jimmy mengedarkan pandangan melihat seluruh sisi ruangan. Tak satu pun yang tampak olehnya berada di sana.
"Tadi dia masuk ke sebelah, katanya tidur." timpal Romi yang sadar akan kecurigaan Jimmy.
Jimmy menuju ruang kamar istirat di sebelah. Tampak Dino sedang tidur dengan pulas. Via memberi kode kepada Romi, lalu menarik Jimmy yang hening menatap Dino.
"Kak, ada apa? Ayo keluar dulu." Via mengelungkan tangannya pada kengan Jimmy.
Berasa kepergok selingkuh, njiiirr .... Romi melirik Via berusaha mengalihkan perhatian Jimmy.
'Tapi, seru juga.' Romi menggelengkan kepala lalu melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Via mengajak Jimmy mencari anak-anaknya. Namun, dia mendengar Hyuna menangis menjerit.
"Huuuaaaa ..."
"Kenapa Hyuna menangis?" ucap Jimmy. Via menangkat wajah Devan dan dua wanita asing yang tidak dikenalnya.
"Mungkin Hyuna sedih melihat wajahku yang sangat mirip dengan seseorang," gumam Devan asal.
Jason mengambil Hyuna. Hyuna merasa tenang saat digendong oleh Jason. "Cup ... cup ... cup ... Anak pinter kayak Mama ya. Tahu saja siapa yang hidung belang." Jason kembali membawa si kembar bermain.
Via mengajak Jimmy mendekat ke arah mereka. Hal ini bisa mengalihkan pikiran Jimmy beberapa waktu.
"Halo, apa kabar?" sapa Via kepada mereka.
"Halo, Mbak ...." jawab gadis berambut tidak terlalu panjang, dan yang satunya lagi terlihat canggung.
"Ekhemmm." Jimmy berdehem dan menyalami mereka bertiga.
"Bang Jim, perkenalkan dua teman baikku ini sedang membutuhkan bantuan si nyonya besar." ucap Devan.
Jimmy mengerutkan keningnya. Melirik dua wanita muda yang dibawa oleh Devan. Lalu berganti melirik ke arah Via, istrinya.
"Ada apa gerangan?" sela Via.
"Ekheemm ..." gadis bernama Aura menyela Devan.
"Sa-saya butuh bantuan seorang detektif di sini, Mbak. Namun, malah dibawa ke sini."
Via menatap Devan sejenak lalu mengangguk. Diliriknya ke arah Jimmy, suaminya. Namun, Jimmy tampak membuang muka dan terlihat tidak setuju.
"Kamu belum terlalu pulih, Sayang." ucapnya dingin.
"Ayo lah Kak, apa kamu tidak kasihan melihat keadaan dia? Kamu tahu sendiri bagaimana rasanya berpisah kan?" ucap Via menangkupkan kedua tangannya tepat di depan wajah Jimmy.
Jimmy membelai rambut Via sambil sedikit melirik Aura yang tampak kurang sehat. "Bagaimana dengan keadaanmu? Kenapa kamu terlihat sangat pucat?"
Aura menggelengkan kepalanya sejenak. "Saya tidak apa, Dok." ucap Aura yang terus mencoba membaca Jimmy.
"Dia lagi hamil muda, Dok," timpal Stella, gadis yang satu lagi.
Wajah Via seketika tampak prihatin atas kondisi yang menimpa Aura. "Mari, kita periksa dulu." Via menarik Aura nenuju ruang dokter Vano, sang dokter kandungan.
tok
tok
__ADS_1
tok
"Masuk!" ucap pria yang ada di dalam ruangan.
Via membuka pintu ruang kerja milik Vano. Dia mengintip sejenak, dan tampak wajah dokter Vano menyambut kedatangannya. "Bu Direktur? Ada apa? Apakah kali ini ada kabar tentang adik-adik si kembar?" sambut Vano yang baru bertemu dengan Via setelah bangun.
Via terkekeh menggelengkan kepalanya. "Kamu kan tahu sendiri bagaimana keadaanku yang tak akan bisa hamil lagi. Ini, aku membawa pasien lain untukmu. Tolong segera periksa keadaannya, karena kami akan ada banyak urusan."
Vano langsung menyiapkan bangku dan memeriksa kondisi Aura. Mengecek kehamilan muda seorang perempuan muda tersebut. "Sekarang usiamu berapa?"
"Hmmm, delapan belas, Dok."
"Hmmm, kamu menikah di usia yang cukup muda ya? Kenapa tidak kamu tunda kehamilan dulu pada waktu itu?"
Aura memperbaiki posisi setelah melakukan pemeriksaan lewat USG. "Ada apa, Dok? Apakah keadaan bayi saya tidak baik?"
"Oh, bukan begitu. Semua baik saja kok. Hanya saja kamu dan suamimu memutuskan memiliki anak terlalu cepat. Setidaknya mungkin ditunda dulu hingga usias dua puluh tahun kan?"
"Suami saya ingin segera menggendong anak, Dok. Katanya sudah tidak sabar mengasuh."
Dokter mempersilakan kembali Aura duduk di kursi. Dia mencatatkan beberapa resep vitamin untuknya dan kehamilannya. "Kamu banyak istirahat dulu. Jangan terlalu banyak pikiran. Minum vitamin ini sesuai dengan resep yang telah saya berikan."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Via yang sedari tadi menanti dengan tenang pun bangkit mengajak Aura untuk mengikutinya. Aura menarik Stella yang tidak bergeming menatap dokter Vano yang sangat tampan.
Setelah berada di ruangannya, Via meminta agar Aura menceritakan segala masalah yang tengah dialaminya. Aura pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hingga Reza, suaminya dijemput paksa oleh pihak kepolisian.
"Reza Firto Adijaya itu suami kamu?" tanya Via dengan heran.
"Iya, kenapa Mbak?"
Via kembali berpikir dengan sejenak. "Aku dulu pernah menemuinya. Dia adalah saudara kakak iparku Rini Dwi Adijaya."
Aura pun tercengang. "Jadi, Mba Via ini adik dari Mba Rini?" Lalu Aura tampak meringis. "Iya, adik suamiku kan adik iparku ya? Meski usianya jauh melebihiku."
"Waaah, ini sungguh-sungguh kebetulan yang luar biasa ya?" Via tampak berpikir kembali. Lalu menekan layar ponselnya dan memghubungi seseorang.
"Rom, ke ruang kerjaku sebentar!"
Via kembali fokus kepada Aura. Dia tidak menyangka bahwa hubungan mereka cukup dekat. Tak lama muncul pria tampan yang cukup kalem.
"Ada apa Bu Dir?"
"Aura, kenalkan, dia adalah Romi. Hacker andalan kami semua."
__ADS_1