
Akhirnya Irin pulang sendirian, dan ternyata menemukan seseorang di depan pintu gerbang tengah bersandar dengan satu kaki menumpu di dinding pagar sekolah sambil melipat kedua tangannya. Joko tengah berdiri menunggu mereka.
"Mana Marni?"
"Tuh, dia dipanggil oleh Dino. Aksi bayar kekalahan, katanya."
Joko memperbaiki posisinya berdiri dengan tegak. Tanpa berpikir panjang, kembali masuk ke dalam area sekolah, mencari Marni.
"Dasar aneh!" desis Irin mencibir dan melanjutkan perjalanan pulangnya.
Dino tengah mengomandoi Marni untuk membersihkan halaman sekolah, seharusnya ini adalah pekerjaan dia dengan kawan-kawannya. Hukuman dari guru killer yang salah sasaran dulu masih belum selesai. Sekarang dia alihkan ke Marni sebagai imbalan memenangkan taruhan yang telah mereka sepakati.
"Itu, sapu! Yang bersih!"
Marni melirik tajam dengan wajah kesal pada Dino yang tengah merasa di atas awan. Disapunya halaman menggunakan sapu lidi, dikumpulkan ke dalam pengki, kemudian dimasukkan ke tong sampah.
Marni menyeka keringat, matahari tengah membakar dengan teriknya membuat Marni dibanjiri keringat.
Dino melihat baju putih namun kumal yang dikenakan Marni, mulai dijatuhi keringat bewarna hitam.
"Gaguuu, ajaib juga keringat lo ya? Warna kulit lo kok bisa luntur begini sih?" celetuknya terus memperhatikan Marni.
__ADS_1
Joko yang sedari tadi melihat kejadian itu dalam diamnya, akhirnya merasa kasihan. Melonggarkan dasi yang tadinya rapi, lalu berlari ke arah Marni merebut dua benda yang tengah digunakan untuk membersihkan halaman sekolah itu.
"Hei.. Lo mau apa?" bentak Dino tidak terima.
"Biar gue yang gantikan hukuman ini," seketika Marni menatap wajah Joko yang culun itu. Marni kembali merasa heran, kenapa dia berubah lagi? Belum sampai beberapa menit, bentakannya masih terngiang di telinga. Sekarang sudah berubah lagi jadi seperti ini.
"E-enggak u-usah!" Marni kembali merebut dua benda itu dengan mulut mengerucut. Joko kembali merebut dua benda itu tanpa bersuara.
Dino terkekeh merasa ajaib dengan pemandangan ini. Melihat aksi dua orang culun bin jelek itu.
"Tuh kan, kalau di sekolah menjadi si culun, kalau di luar menjadi anak boyband," sindir Dino.
Mereka berdua tidak menghiraukan ceracauan Dino. Masih asyik dalam aksi rebutan sapu dan pengki. Akhirnya Marni menjadi semakin kesal melempar sapu dan pengki lalu mengambil tasnya dan pergi.
Awalnya Marni benar-benar ingin meninggalkan anak yang sifatnya aneh itu. Merasa kesal akan perlakuan Joko padanya. Namun diurungkannya, diam-diam memilih menuju kantin.
Aksi kedua makhluk yang sama-sama keras kepala ini membuat Dino semakin bersorak seolah mendapat tontonan menarik secara gratis.
"Nah, Marni kan udah pulang. Silahkan melanjutkan untuk membersihkan seluruh pekarangan sekolah ini! Gue akan ngawasin dari sana," menunjuk koridor yang sejuk dan teduh, bukan sengatan matahari yang kini tengah membakarnya.
Marni muncul dengan diam-diam, membawa dua botol air mineral dingin, satu untuk Joko, dan satu untuk dia. Memperhatikan Joko yang menggantikannya menyapu di cuaca yang luar biasa panas ini. Saat tampak Joko menyelesaikan pekerjaan nya, Marni mendekat dan menyerahkan minuman dingin itu tanpa berkata apa-apa.
Joko melirik benda yang tampak menggiurkan itu, akhirnya diambil dan langsung diteguk hingga hanya menyisakan seperempat bagian. Sudah terbayangkan bukan, rasa haus yang luar biasa di cuaca panas yang sangat terik ini. Menghilangkan sedikit rasa penat, Joko duduk di bawah pohon yang sangat rindang diikuti oleh Marni.
__ADS_1
"Tadi maaf ya," ucap Joko tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf?"
"Gue marah-marah tak jelas bahkan membentak Lo."
"Iya, gue paham sikap Lo yang gampang berubah itu. Seandainya aja dewasa dikit lagi, pasti gue demen banget," desisnya menatap hamparan halaman sekolah yang luas itu.
Tidak melihat reaksi wajah Joko yang terpana akan wajah jeleknya, yang mengucapkan itu.
"Tadi tu kenapa tiba-tiba marah nggak jelas?"
"Nggak, Bukan apa-apa!" dia gengsi mengatakan bahwa dia tengah dilanda rasa cemburu karena menemukan pujaan hatinya duduk dengan cowok lain.
"Abis ini ngapain?" Marni masih dengan nada dingin.
"Gue mau menyelidik kasus kemarin. Masih belum tuntas."
"Gue boleh ikut?" Kali ini Joko mengangguk kan kepalanya, dan menyesali sikapnya tadi.
Joko bangkit, lalu tangannya terjulur untuk membantu Marni berdiri. Setelah itu mereka meninggalkan area sekolah. Melupakan Dino yang tengah makan bakso di kantin sendirian.
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...