
"Nah, bunganya udah dicium kan? Sekarang giliran orangnya," Jimmy menyodorkan pipinya kepada Via.
Via hanya mencibir dan menghirup bunga-bunga itu yang masih tampak cukup segar meski telah berhari-hari berada di sana.
"Dih, mereka aja yang disayang. Yang ngasihnya dicuekin gitu aja?" memilih duduk di sofa yang tersedia. Memperhatikan gadis yang masih bergantian menikmati aroma bunga-bunga itu.
"Sayang, mumpung waktu masih panjang, kita jalan-jalan menikmati malam dulu yuk?"
"Kemana?"
"Hmmm, ikut aja!"
Via menghempaskan dirinya ke sofa sebelah Jimmy. "Sekarang?" tanyanya.
"Iya, mumpung masih sore. Kita belum pernah jalan-jalan berdua kan? Soalnya beberapa waktu lalu kaki kamu masih sakit."
"Tunggu! Aku ganti baju dulu." Via bersiap untuk beranjak.
Namun, tangan Via ditahan dalam genggamam Jimmy. "Gak usah. Kayak gitu aja kamu sudah cantik kok."
"Yakin?"
"Ambil jaket aja. Biar gak masuk angin."
Via berlari kecil menuju kamarnya, Jimmy menunggu di depan pintu. Bibirnya kembali merekah dengan sebuah senyuman. Via sudah muncul menggunakan jaketnya. Jimmy menarik gagang pintu, lalu meraih tangan Via dan menggenggamnya.
Melihat tangan yang menggenggamnya itu, Via berusaha melepas karena masih merasa canggung. Namun, Jimmy tidak mau melepasnya. Via merasa de javu kembali teringat kenangannya kepada Deval.
"Kak, aku minta tolong. Lepaskan tangannya." ucapnya lirih.
Jimmy melihat perubahan raut Via, tak serta merta mengikuti permintaan gadis itu. Via malah ditarik untuk lebih dekat lagi, dan kali ini merangkul pinggang gadis itu.
"Eeehh," matanya melotot protes.
"Salah sendiri, tangannya gak boleh dipegang. Jadi ya udah, begini aja!" jawabnya cuek.
"Iiiih, malu tauk! Kita belum apa-apa ini lho."
"Ya udah, skalian ke KUA!"
"Yeee, tidak semudah itu!"
"Aaah, mudah. Tinggal ijab qobul aja!"
__ADS_1
"Masih belum siap!!!"
"Kapan siapnya? Readers udah nggak sabar, kita nikah."
"Reader... reader... Kakak kan belum ketemu langsung ketemu keluargaku lho? Ditambah aku belum ketemu Bua...--" Via menghentikan ucapannya. "Belum ketemu orang tuamu juga."
Tanpa menjawab ucapan Via, Jimmy merapatkan dekapannya, mengacak rambut gadis itu. Entah mengapa Via tetap merasa nyaman diperlakukan seperti itu. Senyumannya mengembang dan akhirnya memagut lengan Jimmy dengan manja.
Jimmy yang melihat perbedaan sikap itu pun merasa terkejut, namun memilih tidak berkomentar. Takut dengan komentar, malah membuat gadis itu merasa malu dan melepasnya.
"Bukannya itu Via?" terdengar suara perempuan yang berjalan di belakang mereka.
Refleks Via dan Jimmy menoleh ke belakang, melihat sumber suara. Mata Via membesar, dia sangat terkejut melepaskan dekapannya pada lengan Jimmy lalu mendorong Jimmy agar memiliki jarak di antara mereka.
"Huh, sekarang sudah punya pacar baru ya?" tanya wanita paruh baya itu dengan sinis. Via kembali de javu ke masa lalu, berjalan mundur perlahan.
"Sudah membuat anak saya tewas, sekarang kamu memiliki pria lain yang akan kamu jadikan korban berikutnya?" masih dengan nada sinis.
Via menutup telinganya. Jimmy mendekap Via masuk ke dalam pelukannya. "Ibu ini Mamanya Jo...-- Deval?" tanya Jimmy langsung meralat nama yang pernah seliweran di sesi sebelumnya.
"Iya, saya ibu Deval yang telah meninggal karena dia. Saya pikir dia benar-benar menjadi gila setelah anak saya meninggal. Ternyata dahulu itu hanya sekedar ali--"
"Ma, jaga ucapannya!" ucap pria paruh baya di sebelahnya.
"Gara-gara dia anak kita meninggal Pa. Papa tau betapa Mama sangat sayang sama Deval. Gara-gara dia Deval kita pergi dalam usia yang sangat belia. Sementara saat ini dia bersenang-senang dengan pria--"
"Ibu, Bapak... Tunggu sebentar! Saya akan menjelaskan situasi yang sebenarnya. Saya juga berada pada kejadian itu."
Mendengar ucapan Jimmy barusan, kedua orang tua Deval berhenti, melirik ke arah dua orang itu. "Apa maksudmu?"
"Gadis ini juga seorang korban. Dimana dia akan ditembak oleh mafia yang tidam memiliki hati, namun dilindungi oleh mendiang Deval."
"Sama saja artinya dia lah menyebabkan kematian anak kami." Sang ibu masih menyela dalam amarahnya.
Via berjalan ke hadapan kedua orang tua Deval, lalu berlutut. "Tante boleh melampiaskan semua amarah yang Tante pendam selama ini terhadapku. Maaf waktu itu aku hanya bisa lari. Lari dari kenyataan bahwa Deval benar-benar telah pergi untuk selamanya."
"Tetapi, kali ini aku lebih kuat dari masa itu. Aku sudah siap jika saat ini Tante ingin membalas semua yang terjadi pada Deval kepadaku. Ayo, lakukan apa pun yang Tante suka. Aku tidak akan lari."
Jimmy mencoba menarik Via untuk segera berdiri. Namun Via menolak dan melepaskan tangan Jimmy. Ibu Deval pun melihat masih begitu banyak tentang Deval yang belum hilang dalam diri Via.
"Ayo Tante, pukul aku. Atau cekik aku seperti dulu lagi. Aku sudah siap."
"Sudah lah! Kenapa kamu malah pasrah aja? Seharusnya kamu membela diri." sungut ibu dari Deval itu.
__ADS_1
"Saya memang salah. Kala itu terlalu ceroboh, seharusnya manusia keparat itu saya bunuh di tempat. Namun, saya membiarkan dia tetap hidup. Bahkan hingga hari ini dia masih bernafas lega di belahan bumi ini. Ini memang salah saya."
"Berdiri!!!" Jimmy kembali menarik Via agar segera berhenti seperti itu.
"Lepas!"
"Jika Tante masih ingin membalas saya, saat ini lah waktu yang paling tepat...--"
"Marni!" suara tegas Jimmy akhirnya menghentakkan Via pada kenyataan.
"Marni? Aku bukan Marni! Aku ini Via!"
"Terserah! Yang aku mau kamu segera berdiri. Kenapa kamu seperti ini? Kamu masih mencintainya?" Via hanya menatap Jimmy dengan nanar.
"Sudah lah, ga ada guna meributkan ini lagi." ucap ibu Deval.
Ayah Deval berjalan ke arah Via. Dia membungkuk meraih tangan Via dan berdiri. "Maaf kan Tante ya? Dia begitu karena Deval adalah anak kesayangannya. Ayo, berdiri!" Akhir Via mau berdiri setelah dipapah oleh ayah Deval.
"Ma, ayo ke sini!" Orang yang diminta hanya diam menatap dengan nanar.
"Ma, ayo!" ucap suaminya dengan suara tegas.
Dengan ragu, wanita paruh baya namun terlihat masih cantik itu akhirnya melangkah ke arah Via. Suaminya memberi kode-kode yang hanya dipahami oleh mereka. Istri pun menggeleng dengan kode-kode yang hanya dipahami oleh mereka.
"Ayo!" suara barito sang suami yang mirip sekali dengan suara Deval membuat istrinya terhenyak.
"Maaf!" ucap ibu Deval singkat.
"Maaf apa?!" bentak sang suami.
"Maaf semua kata-kata Tante yang menyakitkan."
"Terus?" masih dipimpin oleh sang suami.
"Ini adalah takdir anak kami. Kebetulan saat itu dia ada di dekatmu. Meski ada kamu atau tidak, jika dia ditakdirkan umurnya segitu, bagaimana pun caranya, dia akan tetap pergi."
Tes... air mata Via menitik satu per satu.
"Maafkan kata-kata Tante dahulu dan hari ini. Hanya saja, kami tidak sempat mendengar pesan terakhirnya saat dia pergi. Itu yang paling kami sesali."
Via kembali teringat semua yang disampaikan oleh Deval, "Tante, maafkan aku. Seharusnya sejak delapan tahun lalu aku menyampaikannya..."
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...