DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA
Bertemu Devan


__ADS_3

Jimmy sampai di rumah dengan wajah kuyu. Dia disambut oleh keluarga yang sangat dicintainya. Hyuna ingin langsung naik gendongan sang Papa, tetapi dilarang oleh Via.


"Papa mandi dan ganti baju dulu ya, Sayang."


Via membantu Jimmy melepas pakaiannya, menyugar rambut Jimmy yang jatuh menutupi keningnya. "Ada apa, Kak? Kenapa lemas gitu?" Via meraba kening Jimmy dengan punggung tangannya.


Jimmy menggeleng menarik tangan Via, mencium pipi sang istri. "Aku mandi dulu." Jimmy langsung menuju ke kamar mandi.


Via memperhatikan sikap suaminya yang terlihat kacau tidak bersemangat. Dia langsung menyalin kontak Romi ke ponselnya dan menghubungi Romi dengan diam-diam.


"Apa?" ucap Via ikut panik. Dia melirik ke arah kamar mandi khawatir Jimmy selesai mendapati dirinya secara diam-diam menyelidikinya.


"Aku akan mencari tahu, kamu tak usah bilang padanya kalau aku tahu. Aku tutup dulu." Via menutup panggilan dan mengirim pesan chat pada Stevan.


^^^[ Aa ... tolong aku selidiki saingan bisnis game online milik suamiku ya? ]^^^


Pesan pun dibalas oleh Stevan.


[ Emangnya apa yang terjadi? ]


Via kembali membalas.


^^^[ Nanti aku jelaskan, tolong ya? ]^^^


[ oke ]


Dari arah kamar mandi, terdengar suara pintu dibuka. Jimmy terlihat mengusap rambutnya yang basah. Via langsung menyerahkan pakaian bersih untuk digunakan oleh Jimmy.


"Kak, esok aku ikut ke rumah sakit, ya?"


Jimmy mengenakan pakaian menatap Via dengan heran. "Mau ngapain? Kamu istirahat saja di rumah."


"Aku bosan, Kak." rajuknya memeluk Jimmy. Lalu mengedipkan matanya kepada kedua anak yang tersenyum melihat polah sang ibu.

__ADS_1


"Oh iya, maaf ya, Sayang. Kita belum pernah jalan-jalan setelah kamu sembuh, kan?" Via mengangguk memasang muka bebek.


"Kalau begitu, sekarang ayo keluar. Kita pergi keliling kota aja." Jimmy menyisir rambutnya. Setelah itu menggendong Hyuna dan menarik tangan Via.


Via menggandeng Hyuta langsung menuju kendaraan mereka. "Waaah, sudah lama nih aku tidak pernah berkiling kota," ucap Via semangat melihat pemandangan tersebut.


Mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Waktu yang sudah beringsut menuju malam, membuat Jimmy memutuskan untuk sekedar jalan-jalan di tempat seperti ini. Demi kesehatan anak-anaknya juga, agar tidak terkena angin malam.


Ini untuk pertama kalinya bagi Jimmy membawa anak-anaknya ke pusat keramaian seperti ini. Dia baru menyadari selama ini tak pernah ada waktu membawa si kembar bermain di luar. Dia sibuk memantau Via yang tak kunjung bangun.


duughh


Seorang pria misterius lewat mendorong Jimmy dengan kasar. Kedua anak yang masih belum stabil itu ikut terdorong dan hampir jatuh. Jimmy dan Via dengan segera menguatkan pegangan agar anak-anak mereka tidak jatuh.


Jimmy melepas tangan Hyuna mengejar pria yang tidak sopan tadi. Namun, Jimmy telah kehilangan jejak. Dengan wajah menahan amarah, dia kembali mencari keluarga kecil yang ditinggalnya tadi.


buuggh


Kali ini ada pria yang tak asing sedang terlihat terburu-buru mendorongnya. Jimmy yang sudah memendam amarah menarik pria yang tak sadar telah mendorong dirinya. Pria itu melihat Jimmy dan berhenti dengan apa yang sedang dia lakukan.


"Apa yang kau lakukan? Apa saya ini kurang besar di matamu itu?"


"Maaf, Bang. Maaf ... Saya sedang menyelidiki seseorang. Tadi dia lari ke arah sini. Apa kabar, Bang? Bagaimana dengan keadaan Via?"


Jimmy berdiam sejenak dan menepuk bahu Devan. Dia mengajak Devan untuk ikut dengannya. Devan melirik ke arah pria yang tadi kabur dari pantauan. Akhirnya memilih pasrah dan mengikuti Jimmy menuju ke tempat seseorang.


Mata Devan membesar tak percaya menemukan sosok yang diketahuinya tidak pernah terbangun hingga waktu yang tidak ditentukan. "Via?"


Via menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Via merasa de javu melihat bayangan wajah yang sama mengenakan pakaian serba putih. "De---"


Jimmy menggenggam tangan Via. Membuat Via sadar dan keluar dari halusinasinya. "Devan?"


"Ini beneran kamu, Via? Bagaimana keadaanmu?" Devan mendekat menyalami Via dengan wajah haru.

__ADS_1


Via mengangguk menyambut uluran tangan itu. "Iya, ini aku."


Devan mencoel dagu kedua kembar, dah Hyuna langsung bersembunyi di balik kaki Jimmy. "Syukur lah kamu sudah bangun. Mama pasti ikut senang jika mengetahuinya."


"Kamu sendirian aja? Gebetannya mana? Jangan bilang kamu mengalami patah hati berat karena gagal mendapatkan Irin?"


Devan tersenyum kecut dan menggeleng. "Ada kok, hanya saja saat ini aku lagi bertugas. Sepertinya dia berhasil kabur."


"Ooohh, sedang tugas. Ya udah, lanjutkan saja. Kami mau bawa si kembar jalan-jalan." Via melirik Hyuta yang tidak berkedip memandang Devan.


Via berjongkok menyamaratakan tinggi dengan anaknya. "Kenapa serius sekali lihat Om itu, Nak?"


"Om baju putih?" ucapnya menengadah menatap Devan.


Via menyipitkan matanya. "Om ini lagi pakai baju hitam, Sayang."


Hyuta menggeleng kepala. "Baju putih, bukan Om ini," ucapnya lagi.


Devan mengerutkan keningnya menanyakan maksud ucapan Hyuta. Via hanya bisa menggeleng tak memahami juga.


"Ya udah, kalian lanjutkan saja. Aku mau mencoba mencari orang tadi lagi." Devan mengeluarkan ponselnya melambaikan tangan kepada mereka.


"Baik lah, semoga tugasnya diselesaikan dengan cepat." Via turut melambaikan tangan.


Hyuta menatap panjang Devan hingga hilang tidak terlihat lagi. Jimmy menggelengkan kepala kembali melanjutkan perjalanan. Mereka masuk pusat permainan anak. Menikmati waktu sejenak melupakan stress yang melanda kepalanya.


Setelah kedua anaknya terlihat letih, Jimmy mengajak mereka makan dan pulang. Si kembar telah lelap dalam lelahnya ketika sampai di rumah. Hingga Jimmy bergantian membawa bocah kembar itu masuk ke kamar. Dia tidak mengizinkan Via menggendong si kembar yang sudah mulai berat.


Di dalam kamar, Jimmy terlihat memikirkan sesuatu kembali. Tanpa mengatakan apa pun, Via memeluk Jimmy menyandarkan diri di bahunya.


"Esok kan week end, liburan aja yuk?"


Jimmy membelai rambut Via. "Maafkan aku. Sepertinya aku belum bisa membawa kalian pergi berlibur. Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan."

__ADS_1


"Kalau begitu, kami yang ikut ke rumah sakit."


__ADS_2