
Video yang dikirim oleh mafia itu telah rusak dengan sendirinya. Namun beruntung, tadi saat videonya masuk, sistem yang dibuat oleh Stevan berhasil menyimpan alamat posisi mereka saat ini.
"Via…! Via…!"
Perlahan mata Via terbuka dan langsung teringat akan keadaan Deval. Dia langsung bangkit, dan berjalan hendak meninggalkan tempat itu. Stevan segera membawa tablet dan mengikuti langkah Via.
"Mau kemana?"
"Gue mau siap-siap dulu!" Dia terus melangkah menuju rumah kos dan menyiapkan diri untuk berperang.
"Alamatnya udah dapat?"
"Udah."
"Gue masuk dulu," Via menuju ke dalam rumah itu segera menuju ke dalam kamarnya. Mengganti pakaian yang bisa membuatnya bergerak dengan bebas. Menyiapkan peralatan yang sekiranya dibutuhkan.
Tak lama dia kembali keluar, dia lupa akan jati diri Marni. Sehingga, saat dia keluar dari kamar membuat penghuni kost terheran ada orang asing keluar dari kamar Marni.
"Hei, lo siapa?" tanya salah satu warga kost tersebut. Via hanya melirik, dan tetap berjalan menuju keluar rumah kost itu dengan langkah cepat.
"Hei! Lo habis maling kamar Marni ya?" Gadis itu mengejar Via dan menarik tangan Via. Via meronta melepaskan tarikan itu. Setelah lepas, dia berusaha kabur dari kejaran warga sebelah kamarnya itu.
"Maling...! Maling...!" teriaknya. Sehingga penghuni rumah kos keluar dari kamar mereka masing-masing ikut mengejar seseorang yang diduga maling.
"Shiit...!" umpatnya mempercepat lari. Perasaan yang sudah kacau, menjadi semakin kacau akibat kesalahpahaman yang gaje ini. Via berlari secepatnya dan menarik Stevan dari kejaran warga kosan yang ramai.
"Ada apa sih?" Stevan hanya ikut lari dengan wajah kebingungan.
"Lari aja dulu!!!"
__ADS_1
Ternyata warga kosan terus mengejar mereka. Membawa pentungan, sapu, pengki, dan apa saja alat yang bisa digunakan.
Via melihat rerumpun tanaman pagar rumah warga. Via menarik Stevan bersembunyi di balik tanaman itu. Mereka berdua ngos-ngosan lalu mengatur nafas dengan sebaik mungkin.
"Udah keren, diteriaki maling..." celetuk Stevan menahan tawa. *otornya aja ngakak menulis ini*
Via membulatkan matanya dan kembali mencubit pinggang Stevan. Stevan mengelus pinggang bekas cubitan Via yang luar biasa perih. "Mas Dedi udah dipanggil?"
"Nah, itu gue lupa," lalu mengeluarkan ponsel dan memanggil Dedi. Lalu mengirim sharedlock keberadaan mereka saat ini.
Ggrrrr...
Terdengar sebuah gerutuan, Stevan melihat arah suara. Alangkah terkejutnya Stevan melihat hewan berkaki empat bewarna hitam tepat berada di belakang bokongnya. Hewan itu tengah memamerkan gigi-giginya yang tajam.
Doberman, anjaaaaii... anjing tergalak di dunia kenapa ada di sini?
"Vi..." Stevan mencolek Via yang masih memantau keadaan warga kosannya.
"Ssstttt...!!!" Via menyikut cowok yang sudah gigit jari melihat gigi-gigi itu.
"Vi...!!!" suara Stevan semakin kuat, menarik tangan Via.
"Iiihhh...apaa sih?" Via melenguh, dan tampak seekor makhluk kaki empat tengah menggerutu di belakang Stevan.
"Omaigat...!" Dia menarik Stevan dan langsung berusaha lari kembali.
Guk... guk... guk...
Akhirnya hewan itu menyalak dan ikut berlari mengejar mereka berdua. Mereka berlari ke arah warga kosan yang sedang kebingungan mencari jejak mereka yang tiba-tiba menghilang.
"Nah, itu mereka..." mereka kembali mengejar Via dan Stevan.
__ADS_1
Via sudah bertekad untuk melewati mereka, karena dia lebih takut anjing dibanding orang-orang itu. Akhirnya Via dan Stevan menerobos mereka dan berlari secepat yang dia bisa.
Warga kosan yang melihat anjing bertampang garang berlari ke arah mereka, membuat mereka berlari ke arah sebaliknya. Mengkuti arah Via dan Stevan tadi berlari. Akhirnya terjadilah lomba lari dengan peserta yang sangat banyak. Posisi terakhir diisi oleh makhluk ekor empat dengan lidah kemana-mana.
Via melihat mobil yang dibawa oleh Dedi mendekat ke arah mereka. Mobil berhenti, Via dan Stevan langsung naik. Napas mereka terengah, seluruh tubuh dibanjiri keringat.
"Hahaha, gokiiiiillll..." Stevan bengek mengingat kejadian yang baru saja mereka alami.
"Tawanya garang banget Boss?" Via menatap dengan ganas.
"Gue ini lagi gusar tau nggak? Kayak tengah bahagia di atas penderitaan orang? Deval lagi dalam bahaya, malah ada-ada aja yang terjadi. Waktu terbuang sia-sia."
Stevan tidak menanggapi ucapan Via, dia mengambil lembaran tissue yang tersedia. Menyeka keringat Via yang tengah mengucur di wajahnya.
Dia tampak makin hot saat memasang wajah garang seperti saat ini.
Stevan hanya menyunggingman senyum tipis. Sementara mata Via menerawang entah sampai kemana.
"Mas, aku kirim sharelock ya? Kita harus ke sana dengan segera!" Stevan memencet tablet tadi dab mengirim ke tablet di mobil itu.
"Baik Mas Stevan... laksanakan..."
Alamat yang didapatkan itu, mengantarkan mereka ke sebuah bangunan tua yang telah lama terabaikan oleh pemiliknya. Stevan lebih dahulu turun, diikuti Via dengan kegelisahaan yang tiada tara.
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...
__ADS_1