
Via menunggu Devan menyiapkan senjata yang diselipkan di pingganngnya.
"Serius?" Alisnya terangkat sebelah, sembari menyerahkan pistol tersebut.
...cisuuung...
Semua terkejut. Tanpa aba-aba Via menembak asal ke arah kolam. Mendengar suara pantulan peluru tersebut, yang tengah hajar-hajaran di dalam kolam pun merasa terkejut. Serempak mata mereka memandang seorang perempuan memegang pistol dengan mata nyalang.
"Marni...," ucap mereka semua dengan serempak.
Mendengar kekompakan mereka, Irin malah terkekeh. "Marni terlalu susah untuk dilupakan," celetuk sobat Marni tersebut.
"Masih mau lanjut pukul-pukulannya?" suaranya garang membahana.
Akhirnya semua yang asik di air memilih keluar, mata gadis-gadis itu terbelalak mendapat pemandangan empat pria tidak berbaju.
...glek...
Devan langsung menghalangi perhatian Irin yang tengah terpana. Devan mengikuti arah mata Irin memandang.
"Kamu melihat yang kayak gitu? Aku juga punya nih!" ucap Devan terus mengembangkan kedua tangannya menutupi tatapan Irin, makin terbelalak melihat kotak-kotak di tubuh Gilang.
Sementara Via, bagai mendapat serangan pemandangan. Bergantian melihat bagian tubuh pria itu satu per satu. Jimmy melihat hal itu, segera mengambil pakaiannya yang basah, dilempar ke wajah Via. Romi hanya tersenyum sinis melihat itu, segera mengambil benda-benda miliknya lalu mencoba untuk pergi.
"Romi!" suara Jimmy cukup menggelegar.
"Romi?" suara Irin bertanya, mencari seseorang yang dulu familiar di dilihatnya tiap hari. Irin menangkap sosok tampan tengah menyempangkan pakaiannya yang basah. Melihat kotak-kotak di perut pria itu.
"Itu Romi?" tanya nya dengan mata nyalang tak fokus melihat wajah dan tubuh Romi secara bergantian.
Devan kembali menutup mata Irin, melihat pria yang beberapa waktu lalu mengaku sebagai pacar Via, kali ini malah membuat Irin tergoda.
Romi melirik Irin, tersenyum tipis lalu seakan terbang mendekati Romi. "Ini Romi temannya si ngeselin Dino? Yang ngalahin gue main rubik dulu?"
__ADS_1
"Iya."
"Waah, kenapa beda banget sekarang?" Irin masih belum bisa menghilangkan rasa terpukaunya.
"Dah, saya cabut dulu."
Irin menatap kepergian Romi, "Iiiih gile, bikin jantung gue meronta-ronta meliat roti sobeknya," desis Irin.
"Ekheeem," Devan yang sedari tadi tidak dianggap akhirnya mencoba mengambil kembali perhatian Irin.
"Kamu gak percaya aku juga punya itu?" Bersiap melepas kancing bajunya juga
...plaaak...
Sebuah baju basah mendarat di kepala Devan. Via melempar baju yang tadi diberi Jimmy untuk menutup kepalanya Via membelalakkan matanya kepada Devan.
"Yakin mau buka-bukaan juga?" ucap Via dengan nada mengancam.
"Siapa tau kamu penasaran sama punya Deval juga kan?" ucap Devan tanpa merasa bersalah.
***
Akhirnya Via mau mendengarkan apa yang diceritakan oleh Jimmy. Tadi saat Kevin dan Gilang mencari Jimmy, sengaja menjemput Via terlebih dahulu. Awalnya Via tidak mau mengikuti mereka, namun akhirnya bujukan Gilang mampu mencairkan perasaan Via yang tadi sempat mengeras.
Via masih terbayang-bayang Jimmy tanpa pakaian. Pikirannya seolah travelling ke perfileman pemersatu bangsa yang tak sengaja tertekan saat browsing informasi. Via menjadi tidak fokus melihat Jimmy lalu menerawang isi baju Jimmy.
"Kamu mikirin apa sih? Kamu denger penjelasanku tadi nggak?" ucap Jimmy dengan nada curiga.
"Jangan-jangan kamu masih mengingat kami semua yang habis berenang tadi?" lanjutnya.
Via memutar bola matanya, dikejap-kejapkan berharap bisa fokus. Pikirannya belum bisa fokus melihat rambut Jimmy yang masih tersurai basah.
"Ooo, apa tadi?" menggaruk dagunya, karena memang sedari tadi tidak tahu apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh Jimmy.
__ADS_1
"Kamu udah gak marah? Kok cepet amat ilang marahnya?"
"Ooo, eeeh iya... kenapa ya?" Dia masih belum konek.
"Sayang! Ayo sadar! Ini gara-gara tadi nih. Otaknya mulai gesrek kayaknya." Jimmy mengulum senyumnya.
"Beneran udah gak marah nih? Gitu aja? Cukup segitu aja marahnya?" tambahnya.
"Hmmm, sebenernya yaa ini bersangkutan dengan pekerjaanku di FBI dulu. Di sini pun BOS juga mencarimu." jelas Via masih belum fokus antara wajah dan bahu Jimmy yang ada sebuah tato kecil.
"Kamu ini kenapa?"
"Hmmm, coba kamu jelaskan kembali. Kenapa kamu sampai merambah ke dalam pencarian FBI juga?"
"Tadi sudah aku jelaskan. Kami itu sengaja. Untuk mencarimu yang telah lama menghilang. Membuat jaringan besar hingga kami terdeteksi oleh semua agen-agen detektif tingkat internasional. Akhirnya kami semua menemukanmu di USA."
Kembali dia teringat, saat berhadapan dengan pasukan mereka di USA. Namun, mereka berhasil kabur dan melarikan diri kembali ke Indonesia. "Terus ngapain sampai ke USA segala? Pakai cara menipu kami dengan alat-alat rakit CPU palsu di truk kontainer yang sengaja kalian gulingkan."
"Kan sudah aku bilang. Aku ingin menemukan keberadaanmu. Dan itu semua bisa memancingmu kembali ke sini bukan?"
"Bukan karena itu juga sih. Aku sudah dipaksa Tosan untuk kembali tepatnya." Via mulai fokus menatap mata Jimmy dengan dalam.
"Lalu sekarang bagaimana? Masih asik bermain dengan mafia-mafiaannya?" Mulai berbicara dengan nada dingin.
"Itu salah satu penghasilan kami yang terbesar saat ini. Dengan itu lah anak-anak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka."
"Jangan-jangan seluruh anggotanya kawan-kawan alumni sekolah kita?"
Mau promoin cerita adik kami boleh? Ceritanya gak kalah seru lhooo..
...*bersambung*...
__ADS_1
...JANGAN LUPA MEMBIASAKAN MEMBERIKAN LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
...terima kasih...