
"Tapi kok gak ada yang mirip Papa siiiih?" sungut Via melirik Jimmy.
Jimmy meraba wajahnya. "Hmmm, gak suka?"
Via melirik jam dinding. "Katanya buru-buru? Berangkat dulu sanah." Via menggandeng kedua buah hatinya mengantar Jimmy hingga kendaraan yang akan digunakan.
Setelah Jimmy benar-benar berangkat, Via berjongkok menyejajarkan dirinya dengan si kembar. "Habis ini kita ngapain hayo?"
"Ma, ayo kita ke taman. Uta mau main lari-larian di taman."
Lalu Via menanyakan kepada Hyuna, apakah dia mau ke taman juga dan gadis kecil itu mengangguk masih canggung. Via menggandeng kedua buah hatinya menuju taman yang ada di sekitar tempat mereka tinggal.
Hyuna memilih bermain dengan teman-teman lain yang seusia dengannya. Sementara Hyuta menuju ke bawah pohon yang sedikit rindang. Via mulai kebingungan, harus bagaimana. Hyuta bergerak sendirian ke arah pohon tersebut tanpa mengatakan satu apa pun.
"Mba, boleh titip Una sebentar? Saya mau mengejar Uta ke sana." Via menunjuk ke arah Hyuta yang sudah jauh darinya.
"Pengasuhnya mana, Mba? Mba ini siapa?" Wajah mereka terlihat sedikit aneh. Mereka belum mengenal Via, karena yang biasa membawa kedua bocah tersebut adalah para pengasuh mereka masing-masing.
Via mengulurkan tangannya. "Maaf saya lupa memperkenalkan diri. Saya adalah ibu mereka."
Pasukan ibu muda tersebut saling melihat heran. "Ibu baru mereka? Emang kapan Mas Jimmy menikah lagi?"
Meski Via merasa heran dengan pertanyaan tersebut, Via lebih memilih untuk mengejar Hyuta yang sedang berjongkok berbicara sendiri di bawah pohon itu. Dia meletakan sepotong roti yang dibawa dari rumah.
"Uta ... kamu lagi apa?"
Hyuta menunjuk ke arah pohon. "Kasian kakek itu, Ma. Kemalen Uta lum ke cini, jadi kakek beyum maem." Hyuta berdiri mendekat meraih tangan Via. Lalu melambaikan tangan dan mengajak ibunya segera kembali.
Tampak lah Hyuna sedang merebutkan sesuatu dengan anak yang bermain dengannya tadi. Hyuna mendorong anak itu merebut benda dari tangannya. Anak itu menangis dan mengadu kepada ibu yang tadi dititipkan oleh Via.
Ibu itu terlihat marah dan gusar. "Ah, seharusnya bocah nakal ini dikurung aja di rumah," rutuknya kesal membawa anak yang sedang menangis.
__ADS_1
"Una, Sayang, kenapa tadi berantem?" tanya Via memperhatikan Hyuna sibuk dengan benda yang tadinya tidak ada.
"Lho, itu mainan siapa?" Via melihat ada satu anak laki-laki yang hanya diam.
"Itu mainan anak saya, Mba. Jadi Una rebutan sama Cia. Memperebutkan itu." terang ibu dari anak laki-laki bernama Bagas.
Via menengadahkan tangannya meminta mainan tersebut. Namun, Hyuna menggeleng tidak mau menyerahkannya. Setelah itu, Hyuta mendekat entah membicarakan apa. Akhirnya dia membawa pesawat mainan tersebut diserahkan kepada Bagas.
"Ayo kita puyang, Ma?" Hyuta menarik Via. Via langsung menarik Hyuna dan pamit dari Ibu Bagas.
Via merasa heran dengan putranya ini. "Uta udah aja mainnya? Katanya mau lari-larian di taman?"
Hyuta tertawa dan menggelengkan kepala. "Udah capek," ucap mulut kecilnya.
Lalu tiba-tiba Via dihadang oleh sosok pria tua yang seperti menanti mereka. Via berhenti dan merasa heran, mengapa langkahnya dihalangi oleh pria tua itu.
"Maaf ya, Kek. Kami permisi lewat."
Hyuta tersenyum melihat pria tua itu. "Kakek udah kenyang?" tanyanya. "Baju Kakek bagus." tambahnya lagi.
Via melirik Hyuta dan pria tua itu secara bergantian. "Apa Kakek kenal dengan putra saya?"
"Kamu harus lebih hati-hati lagi menjaga Hyuta ke depannya. Seperti yang sudah kamu ketahui, anak laki-lakimu ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh semua orang."
Via semakin erat menggenggam tangan kedua anaknya ini. Dia merasa tidak nyaman dengan ucapan kakek itu barusan.
"Kamu tidak perlu takut dengan saya. Hanya saja saya harapkan, orang lain tidak perlu tahu bahwa anakmu ini istimewa. Itu bisa menjadi sesuatu yang berbahaya baginya nanti."
Via membenarkan ucapan pria tua ini di dalam hati. Via memperhatikan Hyuta yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arah pria tua tadi. Lalu Via hendak menanyakan sesuatu kepada pria tadi. Namun, dia terperenjat, pria tua itu sudah tidak ada di saat Via menoleh kembali.
Seketika perasaan Via menjadi tidak enak, dan segera mempercepat perjalanannya menuju ke rumah. Menyuruh para pengasuh membersihkan si kembar. Telinga Via masih terngiang ucapan pria tua tadi.
__ADS_1
Sehabis mencuci tangan dan kaki, Hyuta berlari mengejar Via. Dia langsung naik ke pangkuan mamanya yang sedang merenung duduk di atas sofa.
"Mama ingat kakek tadi?" tanyanya yang bagai orang dewasa versi cadel.
"Uta, kamu kenal kakek itu dari mana?" tanyanya membelai rambut Hyuta.
Hyuna digandeng oleh pengasuh, melepaskan diri dan ingin duduk di pangkuan Via juga. Hyuta mendorong, melarang Hyuna ikut mendekat kepada ibu mereka.
"Ssst ... anak Mama jangan berantem! Kalian berdua anak Mama kan. Anak pinter gak boleh berantem ya? Ayo, sini dua-duanya duduk sama Mama."
Via memeluk keduanya. Sekarang dia sudah merasa lega, karena Hyuna sudah mau mendekat padanya. Saat memeluk kedua buah hati, dia teringat akan ucapan ibu yang tadi.
Apa maksudnya mereka ya? Emangnya mereka berpikir aku ini sudah meninggal?
Waktu pun beranjak malam, kedua anak mereka sudah tidur dengan pulas. Seperti sebelumnya, Jimmy pun menarik Via masuk ke kamar mereka. Mereka berdua duduk berhadapan memperbincangkan masalah tadi pagi.
Akhirnya mereka sepakat untuk ziarah ke makan Deval sekaligus ke makam Papa Jimmy dan Othousan. Via juga menceritakan kejadian aneh yang dia alami tadi, bertemu dengan kakek tua yang mengenal Hyuta dengan jelas.
"Hmmm, aku akan mencari informasi lebih lanjut lagi mengenai Hyuta nantinya. Ada berita lain tentang anak-anak kita?"
"Hyuna udah mau deket sih," jawab Via.
Jimmy menarik Via ke dalam pelukannya. "Syukur laah, yang penting kamu tidak sedih lagi kan?"
Via membalas pelukan Jimmy dan mengangguk. "Ternyata sesederhana itu perasaan menjadi seorang ibu."
Keesokan harinya, Via dan Jimmy telah berada di depan makam Deval. Entah kenapa ada jutaan rasa yang tak bisa dimengerti menggelayuti hati Via.
"Kamu jangan nangis lagi! Kalau kamu begini terus tiap mengenangnya, nanti aku tak akan mau mengajakmu ke sini lagi." ucap Jimmy tegas.
Via bangkit dan segera mengusap air matanya menatap Jimmy menggeleng. Lalu bergerak menuju makam kedua ayah mereka. Usai berdoa mereka kembali ke aktifitas masing-masing.
__ADS_1
Via masih dalam masa pemulihan sehingga harus pulang menemani anak-anak mereka. Usai mengantarkan Via ke rumah, Jimmy menuju rumah sakit. Ponsel Jimmy bergetar mendapat panggilan dari Romi.
"Gawat, Pa. Sepertinya saingan kita ingin membajak bisnis kita!"