
Marni dan Irin sudah duduk manis di bangku mereka masing-masing. Marni asyik membaca buku sambil mengunyah sedikit roti yang baru saja dibelinya di kantin. Sementara Irin asyik dengan ponselnya yang entah berkirim pesan dengan siapa.
"Nah, ini dia."
Suara itu mengejutkan Marni dan Irin dari kegiatan mereka tadi. Saking terkejutnya, sisa roti yang baru dimakan sedikit, akhirnya jatuh ke lantai. Biasanya kalau di rumah dia pungut, sambil berkata "belum lima menit," ditiup-tiup dikit lalu dimakan kembali. Kalau sekarang situasi berbeda, entah berapa kuman yang tak terlihat, terdapat di lantai kelas ini.
Menoleh ke asal suara, yang membuat jatah sarapan paginya menjadi jatah ayam atau semut itu, ternyata tampak wajah usil Dino tepat di depan hidungnya. Hal itu membuat pupil Marni langsung fokus ke tengah.
"Kemarin Lo enak-enak aja ya kabur dari tugas? Mentang-mentang tugas Lo digantikan oleh pacar culun Lo itu, tapi jangan anggap semuanya berakhir begitu saja, masih ada list yang kemarin belum selesai Lo kerjakan."
Marni segera mencari tissue basah yang selalu tersedia di dalam tas. Hujan lokal begitu deras menerpa wajahnya, karena Dino terlalu dekat tepat di depan wajahnya. Marni segera menyapu wajah dengan benda lembut nan lembap itu.
Saat tissue sudah menempel di wajahnya, dia teringat akan sesuatu, Gawat! Ini kan basah, bisa terhapus riasan gue, batinnya. Diintip lembaran yang baru saja ditempelkan di wajahnya itu, tampak warna hitam sudah menempel di sana.
"Marni. oiii... Marniiii..." ceracau Dino menambah kepanikannya.
"Woooy, lu denger ucapan gue nggak?"
"I-iya na-nanti gu-gue ke-kesa-sana, se-seka-karang Lo pe-pergi sa-sana!"
"Iiihhh, sombong Lo itu belum ilang juga ya?" ucap Dino gemas, setelah itu dia menuju bangku tempatnya duduk.
Irin yang melihat gelagat aneh dari teman sebangkunya ini, membuatnya tertawa geli. Tissue basah masih tertempel di wajah gadis jelek berkaca mata itu. Sementara tangannya tengah sibuk merogoh ke dalam tas ransel seperti mencari sesuatu.
"Kenapa sih?" tanyanya pada Marni mengintip ke wajah di balik tissue itu. Melihat wajah Marni belang mengenaskan membuat Irin kembali terkekeh geli.
"Jangan ketawa! Bantu gue cari cairan untuk menghitamkan itu!" Tangan Marni masih merogoh tanpa bisa melongok ke dalam bagian tas karena menjaga posisi tissue basah agar tidak lepas.
Irin segera membantu Marni mencari benda yang dimaksud. Namun karena kurang hati-hati, Irin malah menumpahkan seluruh isi tas milik Marni. Semua mata orang di kelas tersebut menoleh ke arah mereka yang sedari tadi mesuh-mesuh heboh sendiri dengan tidak jelas. Mata mereka terfokus melihat tumpahan isi dari tas Marni.
Mereka sangat terkejut melihat benda-benda aneh yang keluar dari dalam tas tersebut. Ada yang sebagian cuek lalu melanjutkan aktivitas yang tadi tertunda sesaat. Beberapa lagi mendekat karena kepo dengan benda-benda yang berhamburan dari dalam tas tersebut.
__ADS_1
Marni mencubit tangan Irin gemas, "Bukannya nolongin, malah bikin makin kacau," rutuknya gemas.
Marni dengan segera merapikan benda-benda yang digunakan nya dalam bertugas, terlupa pada wajahnya yang sudah makin terlihat hancur karena belang disapu tissue basah dengan tidak rata.
"Marniiii..." pekik Sinta, salah satu teman yang duduk di depannya.
"Wajah Lo kenapa?" dia masih dalam keadaan histeris melihat wajah Marni yang tampak mengerikan.
"Omaigat," bisiknya. Langsung mencari botol yang berisi cairan khusus itu, mengabaikan benda lainnya, dan segera menuju toilet.
Irin membantu membereskan peralatan Marni yang berceceran. Salah satu yang tertarik menemukan benda seperti kaca pembesar, suntikan, pisau lipat, beberapa jenis tali, ada lagi yang bulat-bulat tapi bukan tahu bulat dan HT walkie talkie, benda elektronik aneh lainnya.
"Kok Marni bawa alat-alat aneh kayak gini?" tanyanya.
"Iisshh... tadi tu Marni wajahnya serem amat lhoo? Apa dia terkena cairan amonia? Sampai belang mengerikan banget," timpal Sinta yang tadi terkejut melihat wajah belang Marni.
Irin segera merebut benda-benda yang tadi dipungut oleh temannya itu. Setelah itu, benda-benda itu dimasukan ke dalam tas. Kembali dicari kembali oleh Irin dengan seksama, membungkuk mencari sesuatu yang mungkin tercecer di bawah meja dan kursi. Setelah memastikan semuanya sudah masuk ke dalam tas, Irin menaruh tas tersebut ke dalam laci meja.
Sementara Marni, setelah memastikan wajahnya kembali jelek dengan rata, tidak ada lagi belepotan, memutuskan untuk menyelesaikan ritual di dalam toiletnya. Keluar dengan terburu-buru tanpa melihat ke depan, lalu mengecek siapa tahu ada yang tertinggal di dalam toilet, Marni berjalan mundur. Ternyata menabrak seseorang hingga dia jatuh terduduk menimpa orang itu.
"Marni?" orang itu meringis karena ditimpa oleh Marni.
Alangkah terkejutnya dia, berada di atas Jimmy. Refleks langsung bangkit dan menolong Jimmy berdiri.
"Kak-kak, ma-maaf..."
"Kamu tak apa kan?" tanyanya.
*P*adahal yang jatuh tertimpa kan dia, malah mengkhawatirkan gue, batinnya.
"Se-seha-harusnya a-aku yang na-nanya."
__ADS_1
Jimmy tersenyum, "Aku nggak apa kok!" lalu melirik Marni yang tampak gelisah.
"Kamu kenapa? kok terlihat lesu gitu? Udah sarapan belum?"
Acara sarapannya dengan roti terganggu gara-gara kedatangan Dino tadi. Setelah itu malah makin heboh akibat Irin menumpahkan isi tasnya.
"Kak, a-aku ha-harus ke kelas."
"Tunggu, bawa ini!" memberi sebungkus roti sobek isi keju yang mungkin baru dibelinya.
"Makan lah! Kalau kamu terlalu lelah, makan tidak terjaga, nanti kamu bisa sakit. Jangan pernah melewatkan waktu sarapan pagi ya?!" lalu dia berlalu meninggalkan Marni.
Marni hanya melongo mendapat sesuatu yang memang dia butuhkan ini. Perutnya saat ini memang dalam keadaan kelaparan level 15. Dia berjalan menuju kelas, masih terheran akan benda yang baru saja dia dapatkan ini. Marni telah berada di pintu depan kelasnya, namun suasana kelasnya seketika terasa aneh saat dia mulai masuk ke dalam kelas.
Marni tidak memedulikan itu, dia sudah biasa diperlakukan seperti itu, ditatap dengan tatapan tajam. Lalu ingin memastikan keadaan tasnya, ternyata sekarang semuanya sudah rapi kembali. Lalu berlari kecil ke arah Irin.
"Thanks yak," bisiknya menawarkan Irin roti sobek dengan merek yang terkenal lembut ini.
Mereka makan roti tersebut dengan lahap, tetapi perasaan aneh menghampiri karena tengah ditatap dengan tajam saat mereka makan. Marni melirik, beberapa kelompok tengah membicarakan suatu hal, sambil sedikit curi pandang ke arah Marni dan Irin yang sedang makan.
Seandainya gue punya kuping cadangan, gue tempeli setiap bangku mereka dengan kuping-kuping itu untuk mendengarkan apa yang tengah mereka gibahkan, batinnya.
Irin mencolek Marni dan menggeleng, mengajak fokus untuk melanjutkan sarapan.
"Miris banget nasib kita ya Rin, makan pun seadanya. Sekarang Deval udah ngekost pula. Ngga ada lagi sumber energi kita di pagi hari."
Irin juga menyayangkan hal itu. Padahal kalau mereka bisa lebih dekat lagi, perutnya juga bisa ikutan kenyang dengan rumahan gratis setiap harinya. Namun, sekarang semuanya sudah jadi anak-anak terlantar. Entah kemana lagi mencari orang yang memberi mereka makanan enak dan bergizi dengan suka cita. Hah, sudah lah! Nasib anak terlantar...
...*bersambung*...
...JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK YA.. LIKE, LOVE, VOTE, GIFT & KOMENTAR...
__ADS_1
...terima kasih...