
Malam ini merupakan malam pertama Hasna tidur di rumah barunya. Jam 8 Maura sudah menarik-narik Hasna ke kamar.
“Buna malam ini tidul dengan Mola kan, sekalang Mola mau tidul” setelah selesai makan malam Hasna tengah membersihkan meja makan.
“Tidur setelah makan gak bagus, kasih kesempatan nasi dan ayam yang tadi Maura makan buat jalan-jalan dulu di ususnya” Hasna tersenyum melihat Maura yang sangat bersemangat untuk tidur dengannya. Reza tidak nampak untuk makan malam, pasti menyelesaikan pekerjaan yang tadi siang belum selesai dikerjakannya. Dia bukan anak kecil yang harus diantarkan makanan, kalau lapar pasti akan keluar dan makan sendiri pikir Hasna.
“Sebelum tidur Buna mau ngobrol dulu dengan Maura” Hasna menarik Maura ke sofa
“Asik asik Buna mau celita lagi sekalang” Maura langsung mengambil posisi wuenak di sofa
“Hahahah bukan celita mau ngobrol” Hasna langsung cekikikan melihat gaya Maura yang sudah pw dengan bersandar di bantalan sofa.
“Buna mau tanya sama Mola, kalau Mola sudah mau sekolah gak kaya kaka Hujan?” tanya Hasna
“Mahu tapi kata Papi Mola masih kicil nanti saja kalau sudah dude” Maura langsung duduk dengan semangat
“Kalau Maura mau, nanti bisa sekolah di tempat anak-anak yang kecil semua, biar Maura bisa berteman sama anak-anak yang kecil-kecil” lanjut Hasna
“Mola mau belteman sama anak kicil-kicil asal meleka ga dahad”
“Memangnya ada anak kecil yang jahat?” Hasna bingung kok Maura sudah tau ada anak kecil yang jahat.
“Kalau Mola main di playglon suka yang dolong dolong tlus lempal lempal mainan sama Mola” Maura langsung cemberut mengingat kejadian saat bermain di Playground
“Owh itu anak kecil yang gak tau bagaimana caranya berteman yang baik”
“Biasanya mereka itu pengen ngajak kita kenalan, pengen tau nama kita, tapi mereka gak tau musti gimana” Hasna mencoba mengajak Maura berpikir positif.
“Kalau Maura ketemu anak yang seperti itu, nanti Maura tanya aja langsung namanya siapa? mau main sama aku gak, gitu aja”
“Kalo meleka nda mau main sama Mola tlus dolong dolong gimana” Maura tampak bingung
“Tinggalkan saja artinya mereka teman yang gak asik, nanti Maura akan bertemu teman yang asyik yang suka bermain bersama” Hasna mengusap-usap kepala Maura. Anak koala ini terlalu banyak bergaul dengan orang dewasa dan kurang berteman dengan seusianya.
“Kalau mau berteman sama orang baru Maura bisa nawarin sesuatu sama mereka, kaya permen, kue, cokelat atau mainan yang Maura mainkan ajak mereka main sama-sama” usul Hasna.
“Mola mau main sama teman-temen” Maura langsung tampak bersemangat.
“Ok kalau Maura mau sekolah nanti Buna tanya pada Papi dulu boleh gak Maura nyobain sekolah, nanti sama Buna ditemani di sekolahnya” usul Hasna
“Mola mau… mola mau ditemanin sama Buna” Anak koala ini tampak bersemangat mendengar usul Hasna.
“Nanti setelah pulang sekolah sorenya Maura nanti belajar mengaji sama Buna” Hasna ingat ia selalu belajar mengaji bersama Mama di rumah.
“Buna mau ngajalin Mola mengaji kaya Iyang” Maura langsung mendekat ke Hasna dan memegang tangannya.
“Iya dong.. Sama Iyang Mola udah belajar apa aja”
“Alip, Ba, Tsa, Jim, Ha, Ho, Lam, Mim, Jim, Mun, Ya, Yi, Ye, Yo” Maura sambil loncat-loncat mulai mengeja huruf dengan asal
“Ehehehe mana ada ya yi yu ye yo emang belajar konsonan dan vokal” Hasna tertawa-tawa mendengar Maura mengeja.
“Mulai besok kita belajar mengaji yaa sama Buna”
“Sekarang kita belajar bernyanyi untuk berwudu dulu gimana?” tanya Hasna
“Mola udah bisya berwudu.. Cuci tangan, kumul-kumul, usap kepala, cuci muka telus cuci kaki” Maura memperagakan gerakan berwudhu.
“Uwoooow sudah pintelllllll...uwiiiih anak Bunaaaa pengen di uwel-uweelll….gemeeeezzz” Hasna akhirnya tidak kuat untuk tidak mengelitik perut Maura yang mengundang untuk digigit dan diuwel-uwel.
“Qiqiqiqiqiqi….geyi...geyiii…” Maura berguling-guling disofa karena serangan Hasna di perutnya.
“Jangan digelitikin nanti ngompol lagi malam-malam” terdengar suara Reza yang baru keluar dari kamar kerjanya.
“Ehhh hehehe mau makan Mas? Aku siapin?” tanya Hasna melihat ke arah Reza
“Gak usah aku sdh biasa sendiri” jawabnya singkat. Hasna hanya tersenyum tipis, tidak usah dipaksakan pikirnya jangan terlalu drastis mengubah kebiasaan.
“Hmm Maura tau gak lagunya berwudhu sama Buna peragakan yah nanti Maura ikuti dari youtube”
“Siaaaap... liatin Buna yaa” Hasna berdiri dan pasang kuda-kuda untuk bernyanyi, Maura langsung ikut berdiri dan memasang kuda-kuda seperti Hasna.
“Hihihihi… bentar Buna mau ketawa dulu” Hasna tidak kuat melihat gaya Maura meniru dirinya.
“Ehmmmm… “ Hasna menguatkan diri untuk bernyanyi
“Baca Bismillah sambil cuci tangan” tangan Hasna mengusap-usap kedua telapak tangan
“Kumur-kumur basuh hidung basuh muka” Hasna bergaya kumur, membasuh hidung dan mencuci mukanya”
“Tangan sampai kesiku” Hasna menirukan mencuci tangan hingga ke siku
“Kepala dan telinga” Ia mengusap kepala dan mengorek telinga
“Tak lupa cuci kaki lalu doa” Hasna mengacungkan kaki kedepan dan diakhiri dengan mengacungkan tangan seperti gerakan berdoa.
Maura meniru gerakan Hasna dengan cermat sambil terus menatap dengan serius. Hasna hampir saja tertawa tapi ia ingat nanti Maura jadi gagal fokus kalau ia tertawa-tawa.
“Ok sekarang Buna setel lagu berwudhu di youtube Buna sama Maura ikuti gerakannya yah sambil dinyanyikan” Hasna langsung mencari lagu berwudhu sama dengan yang ia contohkan pada Maura ada banyak ternyata di Youtube dan berbeda-beda versi sampai akhirnya ia temukan yang sama syair dan nada yang ia nyanyikan kemudian memainkannya.
“Siaaaaap….” tanya Hasna sambil melirik ke arah Maura
“Siyaap” jawab Maura dengan penuh semangat, Hasna langsung tertawa. Reza tampak memperhatikan keduanya dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Hasna kemudian menemani Maura mengikuti gerakan di youtube bersama-sama satu kali. Saat kedua kalinya dia membiarkan Maura belajar sendiri. Maura sangat senang bisa mengikuti gerakan di lagu, biasanya dia mengikuti gerakan lagu dengan Pororo.
“Hihihi semangat dia..” ucap Hasna sambil mendekati Reza yang sedang makan
“Mau minum air putih atau air teh?” Hasna menawarkan minum pada Reza.
“Air putih”
Hasna membuatkan air putih hangat untuk Reza dan menemaninya duduk di meja makan.
“Banyak banget kerjaannya? Gak dikasih kendor yah walaupun ijin juga” Hasna mencoba memulai percakapan manusia dewasa.
“Hmm..” jawab Reza sambil terus memandang Maura yang sedang menghafalkan lagu berwudhu.
“Kalau ada yang bisa aku bantu kasih tau aja” ucap Hasna, paling tidak ngetik-ngetik aja dia bisa bantu, tapi kan kerjaannya Reza bukan butuh juru ketik tapi juru pikir.
“Hmm itu lagu kamu hapal dari dulu atau memang suka dengerin di Youtube” Reza seperti lebih suka membahas mengenai lagu yang Maura sedang nyanyikan.
“Diajarin dulu waktu TK sama guru, sampai sekarang inget” jawab Hasna sambil mencomot kerupuk yang ada di meja.
“Diajarin wudhu sama Mama sih gak hapal-hapal soalnya Mama galak kalau ngajarin, aku jadi malah lupa terus, tapi waktu diajari nya sambil nyanyi inget deh” Hasna berusaha mengingat kejadian dulu saat kecil.
“Tapi nanti dia berwudhu nya sambil nyanyi dong” potong Reza.
“Yah emang kenapa kalau dia nyanyi, namanya juga anak kecil belum kena aturan sunah dan rukun wudhu, lagi belajar”
“Yang penting dia belajar urutan berwudhu yang benar. Lama-lama juga gak akan nyanyi kalau sudah hapal”
“Kamu dulu berapa lama sampai hapal gerakan wudhu dan tidak lagi menyanyi” tanya Reza
“Yah mana inget atuh kan akunya juga masih kecil, gak akan spesifik mengingat yang kaya gitu” Hasna berusaha mengingat tapi tidak terekam dalam memorinya sama sekali.
“Kayanya sih lama...soalnya kamu gampang lupa, nikah pagi aja pas sore udah lupa” ejek Reza
“Hadeeuuh meni dendam lama amat, mustinya aku juga lupa menyanggupi nikah biar gak diungkit-ungkit lagi” Hasna kesal lama-lama kesalahannya selalu diingatkan terus.
“Ehhhhh kok gitu” Reza langsung kaget melihat Hasna yang kesal dan beranjak pergi dari meja makan.
“Ya sudah-udah maaf, gak akan diungkit-ungkit lagi… tolong ambilkan nasi aku mau nambah” Reza berusaha menahan Hasna yang mukanya sudah ditekuk cemberut.
“Udah jangan nambah nasi… nanti gendut. Udah malam, makan jangan kebanyakan. Ditutup makan buah aja kalau masih laper” Hasna langsung mengambil piring Reza untuk disimpan di belakang. Mukanya masih ditekuk karena kesal, Hasna sama sekali tidak berniat untuk menendang dengan sengaja waktu kemarin dia betul-betul lupa dan kaget.
Reza tersenyum melihat Hasna yang menghilang ke dapur menyimpan piring bekas makannya, keisengannya ternyata membuat Hasna marah. Perempuan itu ternyata mudah tersinggung juga, padahal seharusnya kalau senang bercanda jangan mudah marah.
“Mau makan buah apa? Ada apel, pear atau semangka?” Hasna melongokkan kepalanya dari pintu dapur.
“Apel”
“Kupas” ucap Reza
“Kalau dikupas gak ada seratnya dong, kan kandungan yang bagusnya di kulit buahnya”
“Banyak lilin dan pestisida..kupas saja” jawab Reza lagi. Hasna hampir menjawab lagi tapi dia ingat untuk mengurangi perdebatan dengan suaminya, setiap orang punya kebiasaan yang berbeda.
Dikupasnya buah satu persatu dan diberikannya kepada Reza.
“Ini.. ada yang mau disiapkan lagi sebelum tidur?” Hasna berdiri di samping meja makan, dia masih harus mencari pola untuk berkomunikasi dengan Reza. Tapi seringkali duduk berdampingan malah hanya memunculkan perdebatan seperti barusan.
“Hmm engga .. kenapa sudah mau tidur? Temani aku sebentar disini” Reza menoleh dan menggeser kursi makan di sebelahnya.
“Lihat kelakuan Maura, kayanya dia bakalan langsung hapal lagu dan gerakannya..hehehe” Reza asyik mentertawakan Maura yang sibuk memperagakan gerakan berwudhu
“Maura coba sekarang bernyanyinya gak pakai lihat youtube sudah hapal blum?” Hasna ingin mencoba kemampuan daya tangkap Maura dalam seni musik.
“Aku bisa sekalang” Maura langsung mendekat ke meja makan dan mulai bernyanyi.
“Baca bismillah sambil basyuuh tangan”
“Kumul-kumul basyuuh hidun basyuuh muka”
“Tangan syampai keciku”
“Kepalanya telingaa”
“Tak lupa basyuh kaki lalu doa. BERDOA” Maura berteriak saat waktu menyebutkan berdoa..
“Hahahahha jadi basyuuh yaa bukan cuci… “ Hasna tertawa mendengar kata basyuh rupanya di lagu yang Youtube kata cuci diganti dengan kata basuh.
“Bagus-bagus… Maura anak pinter sudah ingat langsung padahal belum 1 jam loh”
“Tadi apa kepalanya telinga” Reza bingung. Sedangkan Maura sudah kembali lagi ke hp dan kembali mendengarkan gerakan lagu berwudhu.
“Maksudnya kepala dan telinga, sama Maura disingkat jadi kepalanya telinga.. Gak apa-apa yang penting maksudnya betul”
“Jangan banyak koreksi dulu.. Biarkan Maura senang dulu belajarnya”
“Anak kalau baru mulai belajar sudah banyak dikoreksi nanti dia merasa tidak berhasil”
“Biarkan anak merasakan capaian atau keberhasilan dalam belajar supaya dia semangat untuk belajar lagi”
“Kadang orangtua selalu menekankan sisi kesempurnaan untuk hasil belajar anak, padahal kan yang paling utama bukan nilai sempurna tapi proses belajar si anak”
“Kamu belajar dari mana tentang itu?” Reza merasa heran kenapa Hasna bisa hapal mengenai teori belajar anak.
__ADS_1
“Dulu aku belajar teori perkembangan anak trus sering baca-baca aja di internet” jawab Hasna
“Saking ingin sempurna nya hasil belajar anak orangtua sering mengkritik pekerjaan anak, ini huruf o nya gak bulat atau m nya panjang sebelah, bikin anak frustasi karena kebanyakan komen...heheheh” Hasna membayangkan orangtua jaman now yang sangat kompetitif anaknya ingin menjadi yang terbaik.
“Yah melatih anak untuk memberikan hasil yang sempurna kan boleh-boleh saja” Mr. Perfectionist langsung berkomentar. Hmmm ini kayanya tipe-tipe yang musti segala benar dan sempurna.
“Iya kalau anaknya sudah punya pola belajar sih gak apa-apa”
“Kita kembalikan aja sama diri kita sendiri, kalau kita belum bisa mengerjakan sesuatu trus atasan kita menuntut kita sempurna suka kesel kan”
“Yah wajar kalau atasan ingin pekerjaan sempurna.. Karyawan juga kan minta gaji yang sempurna” Reza tertawa sinis..
“Ehhh karyawan mah manusia dewasa Om … ini kita bicara anak-anak” Hasna langsung mendelik
“Hmmm...iya sih kalau anak-anak” akhirnya Reza mengiyakan pemikiran Hasna
“Anak-anak itu untuk bisa duduk lama saja butuh energi apalagi ditambah belajar”
“Yahhh buat belajar Maura aku serahkan deh sama kamu sebagai ahlinya.. Aku bagian juru bayar aja” jawab Reza
“Oya Mas.. aku kelupaan mau tanya. Boleh gak Maura aku ajak trial ke Play Group.. Kaya PraTK gituh.. Supaya dia belajar bersosialisasi sama yang seumuran sama dia” Hasna langsung akan tancap gas untuk urusan Maura.
“Hmmm.. boleh saja selama ini dia suka mengeluh ingin pergi sekolah seperti Hujan, hanya kan selama ini tidak ada yang mengantar dan menemani dia, kalau kamu bisa ya syukurlah” Reza menghabiskan potongan buah apel terakhir, betul saja langsung kenyang setelah makan buah.
“Mau dimana belajarnya? Cari tempat yang bagus dan repsentatif” Tuan Standar Tinggi kembali memberikan petunjuknya.
“Iya nanti dicari dulu yang dekat ke rumah dan searah juga sama kampus” jawab Hasna
“Kamu kapan mau mulai nyari kampus buat S2” Reza langsung memalingkan mukanya melihat Hasna.
“Ya nanti masih banyak yang mau diberesin dulu di rumah, besok aku mau kerumah Mama Isna dulu ngobrolin soal handling anak-anak dan keperluannya”
“Sama mau ke makam Mbak Mitha juga”
“Mau apa kamu kesana?” Reza langsung memandang Hasna
“Yah mau berziarah lah.. Memangnya mau ke makam ngapain. Mau lapor sama Mbak Mitha kalau amanahnya buat ngurus anak-anaknya sudah dilaksanakan”
“Ngurus suaminya gak akan dilaporkan juga?”
“Itu masih dipikirkan, soalnya suaminya susah diatur, marah-marah terus” Hasna menjawab sambil meninggalkan meja dan menghampiri Maura.
“Bobo yuk, besok kan kita mau bangun pagi-pagi kita lihat sekolah buat Maura” ajak Hasna
“Iyeeeeyyy aku mau sekolaaah Papi... “ Maura langsung berlari kearah Reza dan memeluk Papinya dengan penuh kegembiraan.
“Ayo kita sudah jam 9 lebih kita tidur dulu” Hasna menggendong Maura.
“Kiss dulu papinya” ucap Reza. Hasna mendekatkan Maura untuk bisa mencium Reza.
“Buna juga kiss dulu papi sebelum bobo” ucap Maura, Hasna langsung kaget kenapa tiba-tiba Maura menyuruhnya mencium Reza. darimana pula perintah itu datangnya. Reza langsung tersenyum melihat muka Hasna yang terlihat panik.
“Cukup sama Maura saja, kiss papinya” kata Hasna pelan
“Di film sebelum bobo semuanya kiss dulu supaya mimpinya indah” Maura langsung memberikan alasan.
“Ayo cepat, katanya mau tidur, kiss dulu sebelum tidur biar mimpi indah” Reza kembali menggoda Hasna. Hasna memandang Reza dan mengomel tanpa suara, membuat Reza semakin puas mentertawakan. Dia langsung menyodorkan pipinya.
“Kasih contoh ke Buna sama Maura gimana kalau mau kiss papi sebelum tidur” kata Reza. Maura langsung mencium Reza dengan semangat.
“Sekalang Buna” ucap Maura. Akhirnya dengan setengah hati Hasna mendekati Reza dan dengan ragu-ragu mencoba mencium pipi Reza. Tanpa diduga saat Hasna mendekat Reza langsung memalingkan muka dan saat berhadapan dengan cepat mengecup bibir Hasna.
“Muachhhh” ....Hasna hampir saja meloncat kaget. Dia tidak menyangka bibirnya akan dikecup oleh Reza.
“Selamat bobo semuanya...hahahahah” Reza langsung melangkah masuk kembali ke ruang kerja dengan tertawa. Hari ini ia merasa menang telah berhasil mencuri ciuman pertama Hasna dengan baik.
“Hihihihi…. Papi malah kiss kiss nya bikin Buna kaget” Maura tertawa-tawa karena ia hampir saja terjatuh dari gendongan Hasna.
“Arrghhhhhh… Mass Rezaaa awaaasss pokoknya” Hasna langsung cemberut sambil membawa Maura ke kamar atas. Perasaannya campur aduk antara kaget dan bingung. Ia belum pernah berciuman dengan laki-laki.
Untunglah Maura tidak meminta Hasna untuk bercerita setelah gosok gigi, ia terlalu bersemangat karena begitu besok bangun tidur akan pergi untuk mencari sekolah. Tinggal Hasna yang kemudian tidak bisa tidur malam ini, perasaan kagetnya masih tertinggal. Disentuhnya bibir yang tadi dikecup oleh Reza, bayangan Hasna akan ciuman pertama dan kenyataan yang dialaminya berbeda 180 derajat.
Ia langsung mengirimkan pesan kepada Reza.
“Kenapa tadi malam cium bibir kan mustinya cium pipi juga cukup”
“Hahahaha memangnya kenapa?”
“Ini tuh ciuman pertama aku mustinya berkesan atau gimana gitu bukannya bikin kaget”
“Yang kaya tadi bukan ciuman namanya tapi kecupan”
“Kalau mau ciuman nanti aku kasih tau gimana caranya… atau mau sekarang?”
“Gak…. mau tidur.. SELAMAT MALAM”
Hasna langsung menutupi kepalanya dengan selimut. Khawatir ada yang datang ngasih tau gimana caranya mencium yang baik dan benar. Hadeuuuuhhh…anak perawan dasar.
******************************
Halo manteman deterjen maap baru bisa update... atulah aku tuh musti sambil kerja, ditambah semester baru berjalan jadi sibuk-buk-buk... segini juga uyuhan bisa update story cape kalau udah sore teh pengen rebahan gak pegang laptop #jadi curhat... Kalau banyak protes nanti aku pundung...heheh ngancem. Selamat hari Jumat sore yahhh... Semoga sehat semuanya. Oya ada pesan dari Mimin Group Chat yang mau masuk grup chat musti hapalin dulu lagu berwudhu... jadi pasword nya itu aja.. tulis versi yucub atw versi Hasna. Hahahah bedanya apa. Pikiran sendiri ... jangan saya aja yang musti mikirin story gkgkgkgkkg... Love u all.. sehat selalu yaaaa
*******************************
__ADS_1