Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Hukuman di Strum


__ADS_3

“Astagfirullahalaziem…. “ Hasna tiba-tiba berteriak sampai semua orang kaget.


“Apa lagi?...” Reza tampak tidak sabar dari tadi beberapa kali mereka harus menunda keberangkatan ke Bandung karena Hasna lupa ini dan itu, yang terakhir ia dan anak-anak harus menunggu di mobil karena Hasna ingin buang air kecil dulu.


“Oleh-oleh dari Jepang buat keluarga Bandung… masih ada di apartemen lama. Aku gak bisa pulang kalau gak bawa oleh-oleh Jepang. Emran pasti rungsing” ucap Hasna dengan putus asa.


“Kenapa Om Emlan jadi pusing Buna?” Maura tampak bingung dengan perbendaharaan kata Hasna. Mereka semua akhirnya sudah mulai hafal perbendaharaan kata bahasa sunda yang sering dipakai Hasna berulang-ulang.


“Bukan pusing tapi rungsing… merajuk suka ngambek kalau gak bawa oleh-oleh” jelas Hasna.


“Pak Agus… ke apartemen lama dulu yah, musti bawa dulu koper” Pak Agus hanya nyengir dan mengangguk kemudian tersenyum melihat Reza yang hanya bisa pasrah dan akhirnya membuka tab.


Untungnya perjalanan ke Bandung tidak terlalu macet, tiga jam setengah perjalanan terhitung lancar dengan arus kendaraan yang padat. Beberapa kali berhenti karena Hasna selalu merasa ingin pipis, sampai akhirnya Reza memintanya untuk mengurangi minum air putih. Kandung kemihnya cepat terasa penuh ditambah dengan rasa perih, sampai Hasna kemarin memutuskan untuk kontrol ke dokter sebelum waktunya. Ternyata memang proses penyesuaian dari rahim menjadikan perut terasa ngilu, apalagi karena bayi kembar.


Hasna tidak membayangkan kalau nanti Mama Merin tahu ia sedang hamil bayi kembar pasti akan tambah syok, apalagi kalau melihat badan Hasna sekarang yang sudah mulai terlihat jelas sedang hamil.


Begitu masuk ke kota Bandung perasaan Hasna sudah tidak karuan, perutnya rasanya tidak nyaman sampai berganti posisi beberapa kali.


“Kenapa?” akhirnya Reza memperhatikan Hasna yang terlihat gelisah.


“Aku kok perut kaya gak enak begini” muka Hasna terlihat pucat, dipegangnya tangan istrinya terasa dingin.


“Kakak tolong ambilkan kayu putih di tas ade” Hujan langsung mengambil dan menyerahkan pada Reza.


“Kenapa Buns.. mau pipis lagi?” ia tadi sibuk menonton selama di perjalanan. Maura tampak anteng tertidur di belakang. Syukurlah jadi tidak rewel, ia tadi bangun pagi-pagi sekali karena sangat bersemangat akan pergi ke Bandung.


Reza langsung menggosok tangan Hasna dengan kayuputih dan kakinya juga terasa dingin.


“Kamu tuh pulang ke rumah sendiri nervous” ucap Reza sambil membalurkan kayu putih di perut Hasna. “Ini siapa yang bikin Buna sakit perut Kakang atau Uda” Hasna langsung mendelik, “kok jadi rubah namanya” Reza tersenyum “suka-suka aku dong, kan anak-anak aku… kamu mau Samsul dan Udin kalau aku sukanya Kakang sama Uda” Hasna jadi tidak bisa berkata-kata, memang dia sendiri yang menamai menurut versinya sendiri jadi wajar kalau Reza juga punya versinya masing-masing.


“Apaan sih Papi sama Buna gak jelas banget… selama belum jelas lahir di dunia kita sebut saja bayi X dan bayi Y… sudah simple dimana-mana juga yang berpasangan biasanya X dan Y” potong Hujan, Hasna menggelengkan kepala, pembahasan nama jabang bayi jadi semakin aneh. Tidak terbayang kalau Maura bangun dan juga membuat nama versinya sendiri.


Tapi gara-gara pembahasan nama yang gak jelas itu Hasna jadi melupakan sakit perutnya, entah karena sudah dibaluri kayu putih oleh Reza sehingga merasa hangat atau karena teralihkan perhatian. Yang pasti tiba-tiba Hasna baru menyadari ia sudah sampai ke pintu gerbang masuk kompleksnya, ia merasa terharu sudah lama sekali rasanya tidak melihat gerbang kompleks ini.


“Aku udah lama gak pulang” Hasna tampak melamun dan menatap keluar, rumah-rumah tetangga kompleks yang dulu selalu menyapanya kalau ia keluar naik motor. Rumah Tante Nani yang selalu rame dengan anak-anak muda yang nongkrong karena anaknya masih SMA dan senang ngumpul disana, Rumah Vio teman mainnya dulu, hanya saja sejak Vio kuliah di UGM mereka jadi jarang bertemu. Rumah  Mas Bertand cowo cakep yang dulu jadi kecengan bersama para gadis sekompleks, mereka patah hati berjamaah saat dia menikah.


Eh itu si Ema lagi jalan bawa keranjang sayur pasti baru pulang belanja, ya ampun sesiang ini baru belanja pikir Hasna.


“Emaaaaa” Hasna membuka jendela mobil dan melambaikan tangan.


“Astagfirullah….” Ema yang berjalan sambil melamun, tampak kaget saat Hasna berteriak dari mobil. Rupanya Ema sedang memikirkan Tukang Ojek tampan yang mangkal di pinggir kompleks


“Ya Allah…. Eneeeeengggg kamana wae.. Tega nyaaa ka ema…” Hasna langsung berteriak. “Pa Agus berhenti! saya turun di sini saja, mau jalan sama Ema” Hasna langsung membuka pintu saat mobil berhenti. Reza tergugu melihat sikap Hasna turun tanpa memperdulikan orang lain yang di mobil. Maura terbangun mendengar teriakan dan langsung ingin ikut. “Mauuuu ituuuut” seketika suasana di mobil langsung ribut karena Hasna langsung pergi.


Pa Agus tampak bingung, antara meninggalkan Hasna atau menunggu. Rumah memang tinggal 200 meter lagi.

__ADS_1


“Jalan saja Pak. Tinggal sedikit lagi, biar Bu Hasna meluruskan kaki jalan kaki, kasian sudah bosan dari tadi duduk terus” ucap Reza tenang, dipangkunya Maura yang sedang menangis. “Bunanya lagi jalan kaki supaya gak pegal dan sakit perutnya kalau duduk terus, lihat di depan rumah Enin sama Aba kita sudah sampai. Maura kan mau lihat Taiyo” Maura yang menangis karena kaget langsung terhibur mendengar akan bertemu dengan Taiyo.


Begitu sampai di rumah anak-anak langsung lari masuk ke dalam rumah. Mereka sudah sangat memiliki rumah keluarga Hasna seperti rumah keluarga sendiri. Hasna masih jalan berdua dengan Ema sambil santai, Reza sudah tidak mempermasalahkan sikap Hasna yang suka impulsif, lama-lama ia sudah terbiasa dan memahami sikap istrinya, dan mungkin itu yang membuat dirinya tidak pernah bosan saat bersamanya. Selalu ada kejutan dalam semua aktivitas yang dilakukannya.


“Alhamdulillah sudah sampai… sehat A? Mana putri mantili mama?” Mama Merin tampak celingukan mencari Hasna. Kalau Maura dan Hujan sudah masuk ke dalam mencari objek kesukaannya masing-masing. Hujan mencari Om Emran sedangkan Maura mencari Taiyo keduanya selalu bersama-sama seperti satu paket.


“Tadi di jalan ketemu sama Ema pulang belanja, dia langsung turun.. Sudah bosan mungkin duduk terus dari tadi mengeluh tidak nyaman perutnya kaku” jawab Reza sambil salim. Kebiasaan baru yang dikenalnya semenjak mengenal Hasna, karena di keluarga Reza tidak dikenal budaya salim pada orangtua.


“Eta budak bukannya nyari Mama dulu malah dibajak si Ema” Mama langsung cemberut, Reza tersenyum ternyata ibu dan anak sama-sama gampang cemberut kalau keinginannya tidak terpenuhi.


“Gimana A...kata teteh kemarin sudah di USG katanya sudah keliatan kemungkinan laki-laki?” Mama tampak tidak sabar dengan berita kehamilan Hasna. Reza menganggukan kepala, “Iya Ma… yang satu sudah terlihat laki-laki sedangkan yang satunya lagi masih ngumpet belum terlihat” Mama langsung melotot.


“Kee...kembaaar?” Mamah langsung tergagap mendengar berita bahwa Hasna hamil bayi kembar. Reza mengangguk sambil tertawa ekspresi Mama benar-benar terlihat kaget. Mama langsung memalingkan kepala saat mendengar suara Hasna di pintu.


“Assalamualaikum…. Ibundaaaaaa” bukannya menjawab salam Mama langsung berjalan dan menghadang Hasna di depan pintu, begitu melihat ekspresi Mama yang galak Hasna langsung mundur satu langkah…


“Ehehehehe Mama….” Mama langsung menjewer telinga Hasna.


“Kamu nyak sama Mama tuh tegaaaaa banget… udah mah baru ngasih tau kemarin kamu hamil, trus kamu gak ngasih tau kalau kamu hamil kembar…. Kamu tuh udah gak nganggap Mama jadi ibu kamuuuu… ahhhh “ jeweran Mama malah berakhir dengan suara Mama yang terdengar seperti menangis. Melihat Mama menangis Hasna jadi ikut menangis…


“Huawaaaa…. Mama maaffff….. Teteh minta maafff…” Hasna memeluk Mama, yang dipeluk tampak kesal dan mendorong-dorong Hasna agar menjauh sambil mengusap air matanya, Mama jadi ngambek pundung. Reza tampak bingung melihat ibu dan anak yang menangis berdua tapi sambil marahan. Melihat istrinya yang tampak terpukul karena telah menyinggung ibunya sendiri karena tidak mengabari tentang kehamilan membuat Reza merasa bersalah. Kalau saja tidak ada masalah diantara mereka berdua pasti Hasna akan mengabari langsung pada Mama Merin mengenai kehamilannya.


“Maaa… maafkan Hasna Ma… ini salah Reza, gara-gara saya Hasna jadi tidak bercerita dengan Mama” Reza tidak ingin Hasna menanggung masalahnya sendiri, ia memegang istrinya yang terduduk merosot ke kaki Mama Merin. Ayah yang turun dari kamar atas menjadi bingung melihat ibu dan anak yang tampak seperti drama di televisi.


“Ehhh ieu aya naon meni sampai nangis-nangis segala… Mama gayanya seperti artis Meriam Bellina begini, muka galak dipegang kaki sama anak, seperti ibu yang jahat” mendengar perkataan Ayah yang bicara dengan santai tanpa tahu duduk perkara Mama langsung menengok sambil melotot. “Kalau gak tau duduk masalahnya jangan ikut campur…. Nih anak kamu...hamil gak bilang-bilang… kembar deui Ayah.. kuatka tega sama Mama gak cerita apa-apa” Mama duduk di sofa sambil menyilangkan kaki, tangannya dilipat ke dada tidak memperdulikan Hasna yang terduduk di lantai sambil mengesot mendekati Mama.


“Kamu emang gak mual atau ngerasa aneh gitu sama badan sampai gak kerasa apa-apa… gimana coba kalau kamu makan obat atau makanan yang gak sehat kan bahaya sama bayi. Cik atuh Teh… jangan terlalu fokus ari sama kuliah tuh… kamu mah dari dulu kalau udah belajar suka lupa waktu ...lupa makaan…. Coba kalau ada apa-apa sama kamu dan bayi kamu.. Kan kasian… Mama jadi asa dosa gak nengokin kamu ke Jakarta… da ieu deui si Ayah meni ogoan … Mama beberapa kali pengen nengok ke Jakarta gak boleh pergi aja” akhirnya Pak Kumis kebagian semprotan Mama, langsung Ayah cengar cengir mendengar limpasan semprotan kemarahan.


“Ehhh ayah yang gak salah apa-apa malah jadi ikut dimarahin… udah lah gak usah dipermasalahan. Yang penting anaknya kan sehat, bayinya sehat dua-duanya yah Teh.. A Reza kan sudah diperiksa sehat kan?” tanya Ayah yang langsung disambut oleh anggukan keduanya.


“Tuh sehat semuanya juga, Mama aja yang suka kepikirannya kejauhan. Mama emang gak inget dulu waktu hamil anak-anak juga sama kan kaya Teteh...gak sadar lagi hamil. Yang sadar siapa… Ayaaaah… naha Mama gak pernah libur kalau malam-malam ditoel sama Ayah… selalu on aja. Eh gak taunya lagi hamil” Mama langsung mendelik mendengar disebut selalu On. Emangna saklar pikirnya bisa dibuat on dan off, ayah lagi suka diumbar pake nyebutin suka ditoelin malam-malam. Reza berusaha menahan senyum melihat Mama terlihat salah tingkah.


“Ahhh Ayah sama weh malah ngebelain.. Pokokna kalian mesti dihukum soalnya udah bikin Mama sedih. Siapa yang dosa ini? sampai Hasna gak mau ngabarin Mama” Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istrinya yang masih emosi. Reza langsung mengacungkan tangannya, ia tidak mau istrinya dihukum karena kesalahan yang dibuatnya. “Saya yang salah Ma… Hasna gak cerita ke Mama karena salah saya” ucapnya sambil mengangkat Hasna agar duduk di sofa.


“Salah Aa apa?” Mama langsung mendelik melihat Reza yang tampak kebingungan untuk menjawab. Hasna hanya diam sambil cemberut mengusap air mata di pipinya.


“Hmmm saya bertengkar sama Hasna.. Trus Hasnanya marah sampai ngambek lama” Hasna langsung melengos, kok malah jadi seperti dia yang salah.


“Mas Rezanya yang jahat sama teteh, suka galak, marah-marah terus” Hasna jadi keluar air mata lagi. Reza langsung salah tingkah diadukan sama Mama dan Ayah yang menatapnya sambil melongo.


“Iya-iya...kan Mas juga sudah minta maaf, nanti gak akan seperti itu lagi” diusap-usapnya punggung istrinya. Mama jadi tersenyum tapi ia kembali teringat akan rencana menghukumnya. “Jadi ini siapa yang salah Teteh atau Aa?”


Hasna langsung menatap Reza. “Dia Ma… gara-gara Mas Reza tah...hukum mah jewer, ciwit kalau perlu digegel” Mama menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar aduan Hasna. Reza yang tidak mengerti arti di ciwit dan di gegel kalem-kalem saja kalau saja ia tahu kalau diciwit itu dicubit dan digegel itu digigit pasti langsung kabur.


“Ahhh gak mau Mama nanti takut dimarahi sama Ceu Bertha… anak kesayangannya diciwitan sama Mama… sekarang yang paling gampang mah disetrum saja” Reza langsung terlonjak kaget mendengar kata disetrum. Seumur hidupnya yang namanya disetrum itu adalah hukuman untuk penjahat kelas berat, disetrum sampai mati.

__ADS_1


“Ayaah mana pemukul nyamuk?” Ayah langsung menyodorkan pemukul nyamuk yang ada di meja, Reza langsung merasa lega disangkanya disetrum memakai kabel. Saat melihat Mama berlatih dengan mengayun ayunkan pemukul nyamuk terdengar rentetan bunyi listrik yang terdengar mengerikan di telinga Reza. Saat Mama mendekat ke arahnya Reza langsung memeluk Hasna sambil menundukkan kepala ke istrinya, gayanya seperti akan dieksekusi saja.


Hasna yang melihat gaya Reza yang ketakutan jadi tertawa antara lucu dan kasian melihatnya. Saat Mama mengayunkan dan menempelkan ke punggungnya pelan-pelan tidak terdengar suara listrik apapun. Reza bernafas lega, tapi Mama tampaknya belum puas kalau belum mendengar suara listrik bergema. Ditempelkannya ke rambut Reza dan langsung terdengar suara listrik, yang langsung membuat Reza kembali mengkerut. Hasna jadi terhibur saat merasakan semakin erat Reza memeluknya.


“Kamu tuuuh ihhh cengeng banget disetrum sama pemukul nyamuk aja kaya yang diapain” Reza masih menunduk takut khawatir serangan pemukul nyamuk kembali menghantam. Dilihatnya Mama Merin yang terhibur melihat ekspresinya yang ketakutan.


“Awaaas gak boleh galak-galak lagi sama Teteh, kalau sampai nanti Teteh gak pernah ngabarin Mama ke Bandung, sama Mama mau diontrog ke Jakarta” Reza hanya mengangguk-angguk dengan pasrah. Ia memang tidak akan pernah membuat Hasna sedih lagi, tidak diancam pun ia sudah sadar. Walaupun tidak mengerti bahasa sunda diontrog tapi Reza sudah bisa memperkirakan kalau Mama akan datang ke Jakarta kalau Hasna jarang mengabarinya.


Akhirnya setelah acara hukuman selesai disambung dengan acara mengusap dan memeluk jabang bayi dan ibunya,  Mama menembak langsung pada acara inti.


“Teteh bawa oleh-oleh apa dari Jepang?” ternyata ini yang ditunggu dari tadi.


“Emran mana, biar sekalian buka hadiahnya. Kak Angga besok pulang gak?” Hasna mencari-cari adiknya yang tidak terlihat dari tadi.


“Kayanya sibuk ngasuh anak-anak” ucap Mama sambil menyiapkan makan siang. Hasna langsung mendekat ke tangga dan teriak.


“Adeeee… mau oleh-oleh Jepang gakkkk… Hujan Mauraaaa…. Makan dulu enin udah nyiapin makan siang” Reza menggeleng-gelengkan kepalanya, istrinya masih saja senang berteriak-teriak.


Tak lama terdengar rombongan kaki turun dengan bergegas, dimulai dari komandan Emran diikuti oleh Maura yang membawa kucing dan Hujan yang membawa tumpukan komik.


“Tetehku yang cantikkk dan bageuur akhirnya akan menjadi seorang ibu… hahahahahha Ade bakalan menjadi seorang uncle... “ Emran langsung memeluk Hasna dengan erat, sudah lama memang ia tidak bertemu dengan kakaknya.


“Kata Hujan kembar yah teh…. Wuahahahahah asyik nanti bisa kasih namanya kembaran dong. Siapa namanya yaaa... “ Emran langsung terlihat berpikir keras.


“Teman aku ada perempuan kembar identik cantik-cantik namanya mirip Alvia dan Alqia jadi cuma dibedakan sedikit, tapi itu kan sudah biasa”  jelas Emran, “Ehhh tapi ini laki-laki yah….hmmm musti dipikirkan nama yang bagus dan kreatif” Hasna langsung tersenyum adiknya biasanya suka punya ide yang aneh-aneh.


“Ahhhh aku tahu sekarang tuh, lagi tren ngasih nama yang mengandung unsur lokal jangan terlalu modern seperti Bryan atau Adam tapi harus terdengar kesundaannya” Reza langsung protes


“Ehhh itu bayinya gak cuma darah sunda saja, ada jawa dan padangnya juga de…” Emran mengangguk-anggukan kepala.


“Ok aku kasih ide… ini nama lokal dulu yah kalau Sunda namanya bisa Kucap Kiceup, Pulang Pelong, atau Bulak Balik” Hasna langsung bengong mendengarnya.


“Kalau bahasa Jawa bisa kita ambil namanya Mongan Mengen atau Ngotak Ngatik atau Tuka Tuku” sekarang giliran Reza yang bengong dia sendiri yang keturunan Jawa tidak tau artinya apa.


“Kalau bahasa Padang jadi gimana de?” akhirnya Reza jadi penasaran, sambil tersenyum dia menantang Emran.


“Ohhh maaf itu da harganyo tak semuduah itu ambo kasih tau” Emran langsung merasa di atas angin.


“Beres nanti Mas kasih hadiah.. Coba mau dengar nama kembar dalam bahasa Padang” Emran langsung terlihat berpikir.


“Namanya bisa jadi Basalam dan Salaman atau Sapanuh dan Panuhnyo, atau Basuo sama Bajumpo atau bisa juga kasih nama Gadang dan Ketek heheheheh ..” itu adalah pengetahuan Emran dari warung nasi padang yang suka dikunjunginya. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, ada ada saja pikirnya.


Hasna langsung cemberut, ide memberikan nama Ketek pada anak itu artinya kan ketiak sedangkan bahasa padang artinya kecil. “Ahhh kamu tuh suka asal kalau ngomong..” daripada memberi nama panggilan ketek mendingan Samsul dan Udin saja pikirnya.


“Sudah supaya netral kita panggil saja Sana atau Sini atau Kiri dan Kanan… kan lebih mudah ada di Sana atau Sini… ada di Kiri atau di Kanan” Reza semakin bengong mendengar penjelasan Ayah mertuanya yang memeragakan sambil memegang perut di kiri dan kanan. Ternyata diantara semua keluarga Hasna istrinyalah yang paling waras, ibu mertua senang menyetrum dengan pemukul listrik, Ayah dan Adik Ipar punya ide pemikiran yang Out of the Box…. Semoga saja Bayi A dan B tidak mendengar pembicaraan ini.

__ADS_1


*******************


Eh ini lagi penulis pake ikutan ngasih nama A dan B... ada yang mau ngasih kekinian buat dedek bayi kembarnyo?


__ADS_2