Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Hasna Dimana Kamu?


__ADS_3

Jakarta - Sendai adalah dua kota beda negara yang memisahkan dua insan dengan hati yang saling bertautan. Sama-sama terluka, sama-sama merindukan, perbedaannya adalah yang satu  mendamba kehadiran sedangkan yang di Sendai tidak mengerti harus kemana hatinya harus dilabuhkan.


Sendai


Hasna membaca email Reza di malam hari setelah seharian mereka melakukan kegiatan akademik di Universitas, entah bagaimana kalau ia membaca email itu di malam sebelumnya mungkin ia tidak akan bisa tidur seperti malam ini. Hasna membolak balikkan badannya ke kiri dan kekananan tapi ia tidak menemukan kenyamanan yang membuatnya bisa memejamkan mata.


Ia tidak menyangka kalau Reza akan mengirimnya email, sengaja memang ia mengirimkan email untuk Hujan supaya kalau ada sesuatu yang sangat penting Hujan bisa menghubunginya, itupun Hujan baru satu kali membalasnya sekedar mengabarkan kalau kondisi di rumah baik-baik saja dan ia bersama Maura sudah berada di rumah karena dijemput oleh Reza ke rumah Mama Isna. Dalam email itu Hujan menumpahkan kekesalan mengapa Hasna tidak mengaktifkan roaming internasional sehingga menyulitkannya untuk berkomunikasi.


Dalam email itu Hasna bisa membaca penyesalan dari suaminya, air matanya menetes membaca pengakuan penyesalan Reza, ada ketulusan yang terungkap dan suaminya menyadari kalau mungkin perasaannya tidak akan sama lagi seperti dulu. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya, tidak boleh lagi merasa sedih dan tertekan seperti kemarin. Ada makhluk yang tumbuh di dalam dirinya yang bisa merasakan emosi yang ada dalam dirinya, ia tidak mau kalau anaknya akan menjadi manusia yang emosional karenanya.


Hasna membayangkan suasana rumah saat dulu sebelum pertengkaran terjadi, ada rasa rindu yang amat sangat, bayangan Maura yang sedang bercerita, cemberut karena salah membaca iqro, yang berlari menuju kelasnya tapi kemudian berbalik sambil melambai-lambai dengan penuh semangat seakan menjadi film yang berputar di kepalanya.


Kakak Hujan yang bermain hp tanpa memperhatikan lingkungannya, battle dance yang mereka lakukan, sampaikan saat anak itu menangis dikamar saat merasa tidak diperhatikan membuat dadanya terasa sesak oleh kerinduan. Akankah anak petir itu merindukannya juga? Seperti ia merasakan kehilangan mereka.


Sampai akhirnya Hasna memikirkan suaminya, laki-laki yang selalu serius, minim senyum dan hanya terlihat menjadi pribadi yang berbeda saat mereka berada di Singapura dulu, ia terlihat romantis dan penuh perhatian. Hasna tersenyum sinis “bodohnya aku...tentu saja dia akan baik karena menginginkan warisan leluhur yang kupegang teguh” tapi kalau dipikir-pikir memang karakternya Reza seperti itu hanya fokus pada apa yang dia pikirkan dan minati jarang memperhatikan lingkungan yang ada di sekitarnya.


Mengingat saat pertengkaran mereka Hasna masih merasakan sakit di dadanya, kenapa masih belum hilang juga. Reza sudah meminta maaf tapi kenapa bayangan kejadian itu masih belum bisa dilupakan. Hasna mencoba berpikir dengan bijak, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan bukankah pemberian maaf lebih baik daripada sedekah dengan perkataan menyakitkan seperti ia bilang pada Ammera tapi bicara memang lebih mudah daripada mengalaminya sendiri.


Hasna menutup kepalanya dengan bantal, rasanya ia ingin merasakan amnesia akan kejadian itu, hilang dari memorinya sehingga ia merasa baik-baik saja dan semuanya akan seperti semula tapi semakin ia mencoba melupakan, semakin ia merasa kesedihan itu bertambah, karena harus jauh dari orang-orang yang merebut hatinya hingga membuatnya hampa.


“Tiduur Naa… jangan dipikirin” terdengar suara Ammera yang terbangun karena Hasna terus bergerak-gerak di tempat tidur. “Segala masalah akan berlalu tanpa kita sadari… kalau dipikirkan terus malah jadi beban… kamu cenderung suka overthinking” Hasna tersenyum. Ammera dalam kondisi mengigau bisa bicara penuh filosofis, tapi kalau lagi sadar bicaranya suka pedas. Akhirnya kata-kata Ammera bisa membawa Hasna ke alam mimpi. Semua akan baik-baik saja.


Jakarta


Reza tampak bingung ia berupaya masuk pada instagr*m yang biasa ia buka, pagi ini sebelum memulai aktivitasnya seperti biasa ia membuka aplikasi itu untuk melihat bagaimana istrinya. Tapi kenapa ia tidak bisa membukanya lagi malah memintanya untuk log in, padahal kemarin ia tidak log out. Dua hari sebelumnya ia melihat kalau istrinya sedang presentasi tentang rencana penelitian di depan Profesor dan mahasiswa Jepang. Di antara semua teman-temannya yang presentasi Hasna yang paling banyak mendapatkan pertanyaan karena dianggap menyajikan bahan yang menarik dan memiliki tema yang bisa dipahami di dunia internasional.


“Yang bilang kalau perempuan lagi hamil itu semakin cantik itu banyak, tapi kalian pernah dengar gak kalau perempuan hamil itu terlihat semakin pintar” Reza masih ingat celetukan Ferdi saat membuat rekaman story dan menyorot Hasna yang sedang berdiskusi dan menjelaskan topik penelitiannya kepada mahasiswa Jepang. Ia merasa bangga dengan penampilan istrinya, tampak cerdas dan penuh dengan kepercayaan diri. Memang terlihat berbeda ada pancaran yang membuat istrinya lebih berwibawa dan lebih meyakinkan.

__ADS_1


“Aswin kesini sebentar saya tidak bisa masuk ke instagram Hasna” ia sudah berupaya login dengan menuliskan berbagai password yang ia coba tebak tapi gagal semua.


“Ada apa Pak?” Aswin langsung mengambil handphone yang disodorkan Reza.


“Aku gak bisa mengakses aplikasinya padahal kemarin tidak logout” daripada menghabiskan waktu mengutak ngatik lebih baik menyerahkan pada orang yang biasa menggunakan aplikasi ini. Aswin mengerutkan dahinya, posisinya sudah logout dan tidak bisa masuk kecuali hafal passwordnya. “Bapak hapal password instagram Bu Hasna?” Reza langsung melirik kesal


“Kalau saya tahu saya tidak akan memanggil kamu tapi langsung login, saya tidak gaptek” Reza terlihat kesal karena merasa diremehkan. Aswin hanya tersenyum beberapa hari ini Reza mudah tersinggung, untung saja Arcy meminta cuti sejak kejadian kemarin sehingga tidak bertambah masalah di kantor. “Bu Hasna tampaknya login menggunakan perangkat lain dan menutup akses dari perangkat ini pak” ia mencoba scrolling tapi tidak bisa.


“Bapak sudah follow akun Bu Hasna?” Reza langsung melengos “Saya tidak suka menggunakan sosial media seperti ini, kalau twitt*r saya suka pakai untuk membaca berita karena kadang lebih cepat informasinya” Reza tampak tidak bersemangat, niatnya untuk melihat aktivitas Hasna yang sedang berjalan-jalan di Nara dan Kyoto pupus sudah.


“Bapak bisa membuat akun sekarang, dan follow akunnya Bu Hasna, mudah-mudahan tidak di private jadi kita bisa melihat akun temannya” Reza langsung tertarik “tidak terpikir oleh saya untuk membuat itu” Aswin kemudian membuka hpnya “sebentar Pak saya cek dulu akun Bu Hasna di private atau tidak kalau tidak saya akan follow” Reza langsung melotot.


“Kamu tidak usah follow istri saya, biar saya saja buat akun instagr*am sekarang” Reza langsung mendownload aplikasi melakukan pendaftaran. Ia langsung mengerutkan kening saat mencoba mencari akun istrinya, ternyata di private. Aswin yang ada di sebelahnya hanya menahan senyum, ia sudah tahu kalau akun Hasna di private tapi dengan sikap Reza yang posesif, lebih baik ia menarik diri terlebih dahulu. Reza meliriknya dengan kesal “diprivate” ucapnya singkat.


Dengan menahan senyum dan mencoba untuk tetap serius Aswin memberikan saran, “apakah Bapak masih ingat nama akun temannya Hasna yang selalu upstory atau teman-temannya yang lain” Reza langsung fokus dia masih ingat nama akun temannya Hasna call_me_dy ternyata nama yang aneh malah lebih mudah ingat, ia benar-benar berhutang budi pada anak itu. Dan jreng-jreng ternyata akunya tidak diprivate Reza langsung tersenyum lebar “tidak diprivate” kenapa sejak kemarin ia tidak berpikir untuk membuat akun sendiri. Bodoh memang dirinya.


Hari ini adalah hari terakhir Hasna di Kyoto, ia melihat kalau istrinya lebih banyak mengambil gambar teman-temannya daripada melakukan foto selfie seperti yang lain. Reza tersenyum ia ingat kalau istrinya tidak suka jadi objek foto, ia bisa melakukan hobinya mencari objek foto selama di Jepang. Reza tidak senang melihat istrinya ditarik kesana kemarin oleh teman-temannya rupanya mereka merasa puas dengan hasil bidikan Hasna. Kalau seperti itu jadinya seperti menjadikan istrinya tukang foto, ingin rasanya ia memberikan komentar dalam status Ferdi tapi ia tahu diri, kalau sampai ia ketahuan memantau akun ini pasti akan menimbulkan kecurigaan.


“Aswin tolong kamu cek jadwal kedatangan pesawat dari Jepang, maskapainya pasti yang dengan yang berangkat tapi lihat juga maskapai lain” paling tidak ini usaha yang bisa ia lakukan supaya bisa menjemput Hasna langsung. Dan sekarang di depannya ada list jadwal kedatangan pesawat di Jepang. Reza langsung membuat perkiraan dengan melihat usia rombongan yang masih pada muda mereka pasti akan memilih jadwal yang paling akhir sehingga mereka bisa berjalan-jalan dulu di Tokyo setelah mereka dari Kyoto. Soalnya saat kedatangan mereka ke Tokyo mereka belum sempat mengeksplorasi kota itu.


Artinya Hasna akan datang lusa pagi, Reza merasa lega, ia masih punya waktu untuk menyiapkan kejutan untuk istrinya. Ia berniat membeli perlengkapan bayi dan disimpan di kamar istrinya supaya ia merasa senang dan terharu, ia akan menata kamar itu menjadi lebih nyaman sehingga Hasna akan merasa betah disana. Sepulang dari kantor ia akan membeli perlengkapan bayi, selama ini ia tidak pernah membelinya bersama Mitha, dulu saat Hujan lahir mereka tidak mungkin membeli perlengkapan bayi yang lengkap karena apartemennya tidak memungkinkan saat di Inggris.


Kemudian saat Maura lahir, ia masih dalam kondisi berduka, Maura tidur dengan Mama Isna, sesekali bersamanya, perlengkapan Maura ia beli sesuai kebutuhan saja, tidak pernah mengkhususkan untuk membeli dan ditata seperti keluarga normal lainnya. Reza menghela nafas, kalau dipikir-pikir sekarang adalah untuk pertama kalinya ia menyiapkan persiapan untuk anak yang masih dalam kandungan padahal ini adalah anaknya yang ketiga.


 


Pagi itu Reza sudah bersiap sejak subuh, ia sengaja tidak memberitahu Maura kalau Hasna pulang hari ini, tapi Hujan sepertinya sudah tahu kalau Hasna akan pulang ke Indonesia hari ini. Sejak pagi ia menanyakan apakah hari ini ia bisa izin tidak sekolah, ia tidak mengatakan apapun soal menjemput Hasna hingga akhirnya anak petir itu tidak tahan untuk tidak bertanya. “Papii… aku juga mau ikut ke Bandara” ia berbisik takut Maura mendengar perkataannya.

__ADS_1


Reza menatap Hujan dengan tatapan penuh pengertian, rupanya anaknya sudah ingin bertemu dengan ibu sambungnya “Papi tidak tau pasti jadwalnya jadi lebih baik kamu menunggu di rumah saja yaa.. Terlalu lelah nanti menunggu di Bandara lagipula kan kamu ada jadwal ujian minggu depan, pasti ada banyak tes harian menjelang ujian sebagai persiapan” Hujan menunduk sebetulnya memang ia memiliki jadwal ulangan harian, tapi ia ingin ikut menjemput.


“Ya…” jawabnya pendek kemudian tanpa banyak bicara langsung menyiapkan kelengkapan sekolah. Kamar Hasna sengaja Reza kunci agar anak-anak tidak tahu, ia belum mengabari soal kehamilan Hasna pada anak-anaknya. Ia ingin memberitahu mereka berdua dengan Hasna sehingga perasaan keluarga yang utuh akan lebih ia dapatkan saat mereka berempat seperti dulu.


Kemarin seharian setelah anak-anak berangkat sekolah ia menata kamar Hasna, pekerjaan kantor sudah ia serahkan pada Aswin, surat-surat yang harus ditandatangani dan dokumen yang harus dibaca dikirimkan ke rumah, sehingga ia bisa mengerjakannya di sela-sela waktu istirahat. Ternyata menyenangkan menata kamar untuk bayi ada rasa antusias dan keharuan yang menyergapnya saat ranjang bayi berhasil ia rakit.


"Sebetulnya berapa bulan usia kandungannya" pikir Reza, tapi ia merasa kalau Hasna sudah lama tidak datang bulan, tapi Hasna pernah mengeluh jadwal datang bulannya tidak menentu dan hanya flek saja sehingga ia tidak bisa memastikan kapan dan berapa usia kandungan istrinya. Tapi Reza tidak ambil pusing, kepercayaan tidak boleh membeli perlengkapan bayi kalau belum tujuh bulan itu tidak berdasar pikirnya. Sebetulnya bukan berhubungan dengan melanggar aturan mendahului takdir. Tapi bayi yang lahir sebelum tujuh bulan atau prematur memiliki kesempatan hidup lebih kecil daripada yang lahir 7 bulan lebih, sehingga kalau orangtuanya sudah membeli perlengkapan bayi dan kemudian bayinya lahir prematur dan meninggal tentu akan sangat menyedihkan melihat perlengkapan bayi yang sudah disiapkan. Reza hanya berpikir secara logika saja.


Ia rasa sekarang usia kandungan Hasna sudah lebih dari tiga bulan kalau ia berhitung semenjak Hasna tidak mendapatkan menstruasi. Walaupun belum tujuh bulan ia tetap optimis kalau bayinya akan baik-baik saja. Ia hanya tidak bisa memikirkan kejutan lain selain dari kamar bayi sebagai bukti bahwa ia sangat mendambakan kehadiran Hasna dan bayinya.


Reza meminta Aswin untuk menemaninya ke Bandara, hanya dengan Aswin ia bisa berbagi semua hal tentang keluarganya. Untungnya asistennya ini sangat bisa diandalkan dan bisa menjaga rahasia, sungguh pilihan yang tepat menerimanya dulu sebagai asisten saat ia kembali ke kantor setelah ditinggal Mitha. Aswin adalah anak kenalan Papa Ardy, ia memiliki latar belakang pendidikan Management Bisnis, keluarganya merupakan keluarga menengah, ia punya satu orang kakak perempuan. Orangtuanya sudah pensiun karena memiliki profesi sebagai guru. Ibunya Aswin adalah teman Papa Ardy saat SMA, sebetulnya Reza agak curiga karena kalau sebetulnya ibunya Aswin dan Papa Ardy adalah teman khusus saat SMA dulu. Tapi ia tidak ingin tahu lebih banyak selama kinerja Aswin bagus tidak menjadi masalah toh itu adalah masa lalu.


Terminal Kedatangan sudah penuh dengan penjemput, Reza sengaja berpakaian santai dengan hanya memakai kaos dan memakai topi, ia tidak ingin bertemu dengan orang yang ia kenali dan melihatnya sedang menjemput di Bandara. Terlalu banyak penjelasan yang harus disiapkan, ia hanya ingin fokus menjemput istrinya.


“Jam berapa landingnya?” Reza melihat lagi ke jam tangannya, sudah lebih dari 40 menit tapi tidak terlihat tanda-tanda rombongan teman-teman Hasna muncul.


“Jam 9.30 pak.. Saya tunggu di pintu kedatangan yang satu lagi yaa Pak soalnya takut terlewat” Aswin langsung beranjak menuju pintu kedatangan yang berbeda, dari tadi rombongan penumpang yang datang dari destinasi luar negeri sangat banyak. Banyak juga rombongan Indonesia yang baru pulang Umroh, rupanya mereka memilih pesawat melakukan penerbangan di malam hari supaya penumpang dapat tidur sehingga datang ke Indonesia pagi-pagi.


Reza semakin gelisah, jam sudah menunjukkan lebih dari satu jam sejak kedatangan pesawat dari Jepang, ia sudah melihat beberapa orang Jepang yang datang dan dijemput tapi ia tidak melihat Hasna dan teman-temannya. Akhirnya ia mendatangi Aswin yang menunggu agak jauh di pintu kedatangan yang lain.


“Winn kamu yakin ini terminal kedatangannya?” Reza mengerutkan kening, udara panas di Jakarta terasa menambah rasa tidak nyaman.  “Bapak yang memutuskan untuk menjemput sekarang kan, sedangkan terminal kedatangan itu sudah pasti Bapak lihat sendiri di board informasi penerbangan” Aswin menunjukkan board informasi penerbangan yang menjelaskan kedatangan dan keberangkatan pesawat di terminal itu.


“Shiiitss…. “ Reza hanya bisa memaki, “kamu tidak melihat teman-temannya Hasna?” Aswin menggeleng, “saya tidak terlalu mengenal teman-temannya Hasna Pak karena saya tidak follow akunnya Bu Hasna kan Bapak melarangnya” balas Aswin, ia pun merasa sangat panas menunggu satu jam lebih dan tidak ada hasilnya.


“Ok.. kita tunggu satu jam lagi.. “ Reza akhirnya beranjak pergi, ia bingung harus bagaimana lagi. Kemudian satu jam berlalu tanpa hasil.


“Pak tampaknya ibu tidak menggunakan maskapai penerbangan ini atau berbeda waktu kedatangannya” Aswin menghampiri Reza yang tampak terduduk lemas di bangku tunggu Terminal Kedatangan. Dahinya berkerut dan mukanya tampak kesal.

__ADS_1


“Apakah di instagr*am temannya Hasna tidak ada informasi kapan mereka berangkat Pak” Aswin mencoba memberikan ide. Reza menggeleng, “terakhir dia bilang dalam storynya kalau memorinya penuh… ia terlalu banyak mengambil foto-foto” suara Reza tampak putus asa.


“Hasnaa dimana kamu?”......


__ADS_2