
“Buna kita pulang yaa sekarang? Kasian ade di rumah” Hujan menatap dengan muka penuh harap pada Hasna, yang membalas dengan anggukan lemah.
“Memang mau pulang Buna juga cuma kemarin masih ada yang harus diselesaikan dulu” Hasna menunduk dengan sedih dia tidak menyangka akan secepat ini Reza menemukannya.
“Kita periksa dulu ke dokter sebelum pulang” Reza berdiri dan menatap tajam “tadi kamu ditabrak sama anak kecil yang main sepatu roda trus kemudian lari-lari mungkin itu sebabnya perutnya jadi sakit...kita ke dokter sekarang khawatir ada apa-apa” Hasna langsung mendelik.
“Aku sebelumnya gak apa-apa kalau Mas Reza gak maksa meluk” jawab Hasna sambil ketus, Hujan langsung memandang Reza dengan putus asa.
“Papi kalau bicara jangan suka nge gas!” Hujan merasa gemas, Reza langsung terdiam, rasa khawatirnya membuat ia lupa kalau posisinya sedang tidak favorit di mata istrinya.
“Buna… aku mau temenin periksa ke dokter aku takut nanti Buna sakit lagi aku gak mau Buna kaya Mami dulu” Hujan merengek dengan muka sedih penuh kekhawatiran. Hasna yang pada mulanya kesal pada Reza melihat muka Hujan yang terlihat sedih menjadi tersenyum lembut.
“Iya nanti kita periksa ke dokter kalau bikin Kakak Hujan seneng” Hasna mengusap muka anak pertamanya dengan lembut. “Kakak tau gak Buna bawa banyak oleh-oleh buat Kakak” Hasna sebetulnya tidak sabar ingin bertemu dengan anak-anak ingin memberikan semua barang yang ia beli selama disana.
“Waaa Buna beli apa aja? Aku seneng Buna pulang” Hujan langsung terlihat gembira dan langsung memeluk Hasna. Mereka sudah kembali asyik dengan obrolan dan melupakan Reza yang hanya duduk menatap mereka berdua. Akhirnya Reza memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Aswin.
“Kita bisa periksa ke dokter hari ini, barusan sudah didaftarkan” Reza memotong pembicaraan keduanya, ia tidak peduli Hasna marah atau tidak kekhawatirannya pada bayi yang dikandung Hasna terlalu besar.
“Ayolah Buna… pleaseee” Hujan memohon sambil mengatupkan kedua tangannya, akhirnya Hasna mengangguk pelan.
“Yessss… aku mau lihat adik bayi…” Hujan langsung tampak gembira. Hasna tertegun ia tidak mempersiapkan hari ini untuk keluar dan menjalani pemeriksaan dokter, memang ia juga ingin memeriksa lengkap karena terakhir hanya pemeriksaan luar saja.
“Hmmm tapi…” Hasna terlihat seperti ragu untuk mengucapkan. Reza langsung memusatkan perhatian.
“Tapi…. Bisa makan siang dulu kan sebelum ke dokter.. Aku belum makan besar dari pagi” Hasna menatap Reza dengan takut-takut.
“What… kamu tuhhh.. Sedang hamil malah menunda ma….” belum sempat Reza menyelesaikan bicaranya, Hujan langsung memotong. “Papiiii….” Reza langsung sadar nada bicaranya yang selalu keras membuat Hasna langsung mundur.
“Aku juga lapar… kita makan dimana yahh” Hujan langsung berusaha mengalihkan kekakuan.
__ADS_1
“Tadi turun mau beli makan, pagi-pagi cuma makan sereal ketemu sama Kakak jadi lupa malah makan cheseecake sekarang Buna lapar lagi” Hasna cemberut karena merasa dianggap lalai makan. Reza menghela nafas dan mengusap mukanya dia harus benar-benar bisa menahan diri sekarang.
“Sekarang kita pergi.. Sudah jam 12 lebih, kita makan sekarang” Reza langsung beranjak dari tempat tidur. “Ayo berangkat” Hasna langsung mendelik
“Masa aku pakai baju rumah keluarnya… yang bener aja” Reza kembali menghela nafas “Pakai baju itu juga kamu terlihat cantik” tapi saat ini gombalan Reza hanya seperti aliran air di kran meluncur dan langsung terbuang.
“Tunggu saja di lobby aku mau ganti baju dulu… ambilkan koper yang diatas itu ada oleh-oleh untuk anak-anak disana” Hasna kembali mengaum, ditunjuknya koper yang ada di atas lemari. Reza langsung mendekat dan menggapai koper “Siapa yang menyimpan koper seberat ini di atas lemari, jangan bilang kamu lagi yang menyimpannya” Hasna kembali melotot.
“Aku masih belum segila itu lagi hamil trus manjat-manjat nyimpen koper ke atas lemari” sekarang giliran Hujan yang mengusap muka dengan putus asa. “Papi udah deh turun duluan daripada nanti malah jadi makin kisruh” Reza hanya bisa melengos, saat ini yang terpenting adalah Hasna mau ikut diperiksa ke dokter dan pulang ke rumah. Apapun kondisi yang nanti akan menimpa dirinya ia akan terima, selama ia bisa melihat Hasna.
Hampir 15 menit Reza menunggu di Lobby, satpam yang tadi menyapa Hujan kembali mendekat.
“Tidak ada barang yang hilang kan dari tasnya Pak?” ia menatap Reza dengan penuh selidik. Reza tergagap awalnya tidak memahami maksud pertanyaannya tapi kemudian ia langsung sadar kalau tadi ia meninggalkan laptop dan tas di lobby saat mengejar Hasna.
“Ohhh… tidak pak.. Terima kasih maaf jadi merepotkan” sebetulnya ia tidak sempat memeriksa apapun di dalam tas, tapi mendengar perhatian satpam tersebut ia hanya ingin menghargai saja.
“Bapak tadi main lari saja, gak ingat sama barang segitu mahalnya. Saya tahu pak laptop mahal itu hampir 30 juta kalau sampai hilang beuuh saya bisa kena peringatan ada barang hilang di lobby” sang satpam menyerocos membayangkan kemungkinan terburuk. Reza hanya tersenyum, baginya barang hilang tidak sebanding dengan kebahagiannya menemukan Hasna.
“Yaah kenal Bu Hasna orang baik, kalau beli makanan saya suka dikasih, saya akhirnya tahu, karena suka pesan makanan antar, jadi tau ditujukan untuk siapa dan lantai berapa. Saya suka dikasih Pak. Jarang-jarang loh Pak ada yang beli makanan antar kemudian kita yang jagain makannya di kasih… biasanya kita cuma kebagian wanginya saja” Reza kembali tersenyum kalau soal kebaikan berbagi makanan ia sudah tahu dari cerita Aswin tentang penjaga kost an Hasna dulu.
“Iya terima kasih Pak sudah menjaga istri saya selama disini” Reza menjawab pendek. “Memangnya bapak rumahnya di luar kota yah sampai istrinya tinggal di apartemen sendiri?” Reza hanya bisa tersenyum, untung saja Hasna dan Hujan sudah turun sehingga ia tidak usah menjawab pertanyaan itu. “Permisi Pak saya tinggal dulu” Kemudian dirinya langsung menyelipkan sejumlah uang di sakunya. “Ini buat beli makanan, oleh-oleh buat yang di rumah, terima kasih sudah membantu menyimpankan barang-barang saya”, ucap Reza sambil berlalu menarik koper menuju parkiran.
“Saya tinggal dulu yaa Pak Yayan” Hasna berpamitan sambil menarik yang Hujan melambaikan tangannya dengan ramah, aura permusuhan yang tadi sempat muncul di awal pertemuan langsung hilang. Saat tadi Hujan mencari tas dan laptop milik Reza dan dirinya ternyata sudah di amankan oleh Pak Yayan.
“Mau makan apa?’ tanya Reza pendek melihat ke spion. Hasna tidak mau duduk di depan, mual alasannya, hari ini dia menjadi supir pribadi karena Hujan pun memilih duduk di belakang tidak mau berjauhan dari Hasna. Dia tidak banyak protes misi terpenting hari ini adalah ke dokter dan membawanya pulang jangan sampai gagal.
“Steak” Hasna langsung menjawab, perutnya sudah merasa lapar dari tadi. “Ok ..” Reza langsung mengarahkan kendaraan ke restaurant yang sering dipakainya untuk menjamu tamu perusahaan. Pengunjung restaurant lumayan penuh karena jam makan siang, mereka harus menunggu karena tidak melakukan reservasi terlebih dahulu.
“Saya pesan ruangan VIP saja, ada yang pakai?” Reza langsung menyodorkan kartu member. Resepsionis langsung menyambut. “Silahkan Pak ada satu ruangan kosong” hari ini semuanya harus berjalan lancar tidak boleh ada gangguan.
__ADS_1
“Saya pesan 3 menu yang ini, minumnya orange juice 2 dan strawberry milkshake” Reza langsung memesan tanpa menanyakan keinginan dua orang perempuan yang ada di depannya. Hasna dan Hujan langsung terhenyak.
“Papi gak tanya kita mau makan apa?” Reza hanya mengangkat alis “Papi yang tahu menu andalan disini, lagi pula sekarang kita harus menghemat waktu jam 3 kita harus sudah ada di rumah sakit untuk pemeriksaan” Reza menatap jam tangan masih ada waktu 2 jam. Hasna langsung melengos dia sudah hapal dengan kebiasaan Reza yang arogan.
“Aku mau sholat dhuhur dulu” ia langsung meninggalkan Reza, “Aku lagi gak sholat tunggu disini aja” Hujan langsung asyik berselancar dengan hp. Reza langsung beranjak mengikuti Hasna.
“Aku mau sholat” ucap Hasna ketus. “Sama aku juga mau sholat memang mau kemana lagi” Reza tersenyum riang dia harus lebih santai sekarang jangan ikutan terbawa emosi.
Selama proses wudhu dia berdiri memastikan kondisi Hasna aman, pikirannya jadi lebih waswas setiap kali melihat Hasna pergi lepas dari penglihatannya. Selama perjalanan pergi dan kembali dari tempat sholat tidak ada percakapan apapun diantara mereka, masing-masing berjalan dengan pikiranya.
“Aku mau ke toilet dulu” Hujan langsung meninggalkan Hasna berdua dengan Reza. Reza tersenyum anak itu selalu saja ada idenya supaya dia bisa berduaan dengan Hasna.
“Kamu terlihat lebih cantik dengan memakai kerudung” ucap Reza lembut, Hasna tidak menjawab hanya mengarahkan pandangan ke arah lain. Reza semakin senang melihatnya. “Kenapa yah kalau perempuan hamil selalu terlihat lebih cantik dari biasanya” Hasna langsung menengok dengan pandangan galak “Gak usah ngegombal udah gak laku” ia langsung cemberut baginya ucapan Reza seperti air hujan yang jatuh ke jalanan dan langsung masuk ke selokan. Melihatnya Reza semakin ingin tersenyum “Jadi makin lucu kalau cemberut gitu”
Hasna langsung melotot bibirnya langsung dikatupkan. “Aku bilang jangan liatin terus, bikin jadi bad mood nanti ga nafsu makan” Reza kembali tersenyum santai “kan aku sudah bilang kalau aku akan selalu ngeliat ke kamu mulai sekarang” Hasna langsung tersenyum sinis “Telat ..” jawabnya sambil melihat ke handphone.
“No handphone kamu berapa?” tanya Reza yang langsung tertawa sendiri “aku kaya anak SMA yang nanya nomor hape sama perempuan yang disukainya”
Hasna langsung kembali mendelik, dipindahkannya handphonenya agar tidak terjangkau dari pandangan Reza. “Handphone kamu baru yaa? Dulu aku mau belikan Iphon* gak mau sekarang ternyata beli juga” Hasna tidak bereaksi seakan-akan tidak mendengar ucapan Reza.
“Wuiih Buna handphone nya baru” Hujan langsung menyambar dan melihat handphone milik Hasna, “Coba aku lihat beda speknya apa sama yang punya aku” dengan Hujan, Hasna tidak banyak bicara, pandangannya langsung teralih pada pesanan makanan yang sudah datang. Sudah sejak lama ia ingin makan steak dan baru sekarang terlaksana.
Proses makan siang tidak makan waktu lama, Hasna langsung menghabiskan satu porsi dengan cepat, Reza hanya menatap dengan tatapan terharu, dalam hatinya ia berjanji tidak akan membiarkan istrinya sampai terlambat makan lagi.
“Makan punyaku masih banyak” Reza menawarkan piring steaknya, ia baru menghabiskan setengah dan Hasna sudah habis. Hasna langsung menggeleng walaupun matanya masih menatap piring di depannya. “Aku sudah kenyang nanti malah mubazir kalau tidak dimakan” sambungnya, Ia tahu istrinya paling tidak suka membuang-buang makanan.
“Baiklah kalau sudah kenyang” ia langsung menyambut piring Reza dan melanjutkan makan siangnya. Hujan hanya menatap dan langsung tersenyum dikulum, Reza langsung melengos saat mereka bertatapan karena Hujan terlihat sedang mentertawakannya diam-diam. Meskipun sebetulnya ia masih lapar tapi melihat Hasna yang makan dengan semangat membuatnya langsung merasa kenyang.
Dalam perjalanan keluar restauran Hujan mendekatinya sambil berbisik. “Aku baru tahu kalau Papi bisa bucin juga.. Jangan khawatir di Hp Buna aku udah instal aplikasi Zenly dan sudah masukin nomor Papi jadi kita bisa tau posisi Buna ada dimana” Reza langsung menatap anaknya dengan tatapan kagum, tidak sia-sia dia menyekolahkan anaknya ke tempat yang mahal, otaknya jadi makin cerdas.
__ADS_1
Ternyata untuk menjadi bucin butuh dukungan dari berbagai pihak