Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Pulang aja aah ke Bandung


__ADS_3

Pagi ini Hasna masih belum bisa move on menyeimbangkan perasaannya. Bawaannya kenapa malah jadi pengen nangis terus. Jam sudah menunjukkan 8 pagi, saat terdengar dering telepon di Hpnya. Mama..


“Assalamualaikum teh… lagi apa?” terdengar suara Mama yang ceria, seketika itu juga Hasna ingin menangis.


“Ehhh.. Mama...heuheu…” suara Hasna langsung tercekat.


“Sebentar Ma..aku keselek” Hasna berusaha menahan suaranya agak tidak terdengar menangis. Untung saja Maura masih asyik dengan tv show nya.


Segera diminumnya air dan menarik nafas, jangan sampai Mama mendengarnya menangis di telepon.


“Maaf Ma tadi aku keselek, mama gimana sehat?” Hasna berhasil menyeimbangkan emosinya.


“Alhamdulillah, Mama dari malam kenapa yah inget terus sama kamu, makanya pagi-pagi telepon.. Teteh sehat?” Hasna langsung ingin menangis lagi, kok bisa kegundahan hatinya sampai ke Mama.


“Sehat. Teteh mau pulang ke Bandung da sekarang, kan mau ngasihin makeup punya Mama” tiba-tiba Hasna berpikir untuk pulang ke Bandung sekarang. Mudah-mudahan Hujan mau ditinggal dan ditemani Mama Isna, pasti beliau juga senang karena sudah lama tidak bertemu dengan Hujan.


“Ehhh kok tiba-tiba, mama sih senang kalau teteh pulang, boleh gitu sama Mas Reza nya?” Mama terdengar kaget.


“Pasti boleh, ya sudah aku mau siap-siap sekarang sekalian beli tiket kereta biar bisa sampai ke rumahnya siang”


“Dah mama sampai jumpa di Bandung, assalamualaikum” Hasna langsung mematikan Hp, dikontaknya Mama Isna terlebih dahulu, khawatir beliau sedang tidak ada di Jakarta.


Ternyata beliau baru saja pulang dari Surabaya dan sangat senang bila Hujan mau menginap di rumahnya, bahkan kalau perlu Mama Isna yang nanti akan menginap di rumah Reza. Jangan tanyakan soal Maura, dia pasti mau ikut dengan Hasna ke Bandung, sudah seperti satu paket dengan dirinya, kemanapun Hasna pergi pasti harus ikut.


Ternyata Hujan tidak mempermasalahkan soal Hasna pulang ke Bandung, walaupun sebetulnya ia ingin ikut juga, tapi pasti tidak akan diperbolehkan karena hari sekolah. Dia hanya menitip ingin dibelikan kaos kelek yang dijanjikan oleh Emran. Beres pikir Hasna tinggal meminta ijin kepada Reza.


Hasna menarik nafas, berpikir antara melakukan telepon atau hanya mengirimkan pesan saja kepada Reza. Akhirnya dia berpikir untuk mengirimkan pesan dulu, khawatir Reza sedang sibuk menjelang persiapan rapat.


“Aku ijin mau pulang ke Bandung dulu sebentar, mama barusan telepon ingat terus katanya, sekalian mau ngasih hadiah kosmetik yang kemarin beli bareng Kaka”


Lama tidak ada jawaban, baru 10 menit kemudian Hasna melihat kalau pesan itu dibaca. Dan langsung telepon berbunyi. Darth Vader… kayanya namanya musti dirubah deh ini orang “Manusia Gagal Move On” ...bener cocok ganti aja pikir Hasna


“Halo assalamualaikum..” Hasna menjawab di deringan ketiga, siksa dulu biar dia nungu.


“Waalaikum salam, kamu kenapa tiba-tiba mau ke Bandung, tadi pagi-pagi gak ngomong apa-apa” emang gak kepikir ucap Hasna dalam hati.


“Tadi mama telepon, pengen ketemu memang udah hampir tiga minggu aku gak pulang, mau pulang dulu sebentar, nanti malam pulang lagi pakai kereta”


“Maura aku bawa soalnya kasian kalau sendiri, kaka tadi mau pulang ke rumah Mama Isna katanya”


“Lah aku nanti gimana? Sendiri dong” Reza langsung protes membayangkan dirinya harus sendirian di rumah.


“Yah kalau gak cape aku usahakan pulang, sekalian mau bawa ijazah buat daftar kuliah minggu ini, katanya pendaftarannya dipercepat”


“Kalau capek yah tidur aja sendiri, biasanya juga tidur sendiri gak apa-apa kenapa protes juga” jawab Hasna cepat. Ingin rasanya menambahkan liatin aja tuh foto disisi tempat tidur tapi rasanya tidak mungkin.


“Mohon diijinkan yah” ucap Hasna lagi, ia tahu aturan kalau perempuan bersuami bila pergi harus seijin dari suami.


“Maksudnya?” Reza terdengar bingung selintas terdengar suara orang yang berbicara di sebelahnya dan kemudian ia bicara.


“Aku mau persiapan rapat, nanti kita bahas lagi”


“Gak ada waktu lagi, ijin minta dikeluarkan sekarang” Hasna langsung naik satu oktaf.


“Ijin apa?” Reza menarik nafas, ini perempuan dari tadi sudah asem aja bawaanya.


“Iya aku gak bisa pergi kalau gak ada ijin. Tapi aku pengen pulang sekarang ke Bandung mumpung masih pagi”


“Minta ijin kok maksa sih… ya sudah berangkat saja kalau mau pulang ke Bandung”


“Ya terima kasih…. Tuttttttttttt” Hasna langsung menutup telepon. Reza langsung melotot melihat ke handphonenya main tutup saja.


Kantor Reza


“Ini kenapa sih dia … hari ini kelakuannya aneh-aneh” Reza menatap hapenya dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


“Kenapa Pak?” Aswin mendekat dan melihat kearah Reza, ditangannya sudah dibawa tumpukan map untuk bahan rapat.


“Hasna .. dari tadi pagi keliatan marah dan gak mau bicara, trus sekarang tiba-tiba minta ijin pulang ke Bandung”


“Minta ijin tapi bukan nanya sifatnya tapi lebih ke pemberitahuan, gak terima kalau aku gak ijinkan tapi minta ijin...kan aneh” Reza menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru sekarang berhadapan perempuan yang susah diatur.


“Mungkin lagi PMS pak” jawab Aswin cepat.


“Apa PMS..?” Reza mengerutkan dahinya.


“Perempuan kan kalau sedang menstruasi suka mengalami itu Pak, gampang emosi, gampang nangis katanya” Aswin menjelaskan dengan penuh keyakinan.


“Memangnya kamu pernah ada pengalaman dengan perempuan PMS?” Reza menatap dengan senyuman mengejek, seingatnya Aswin tidak pernah punya pacar.


“Saya menyiapkan diri saya untuk lebih memahami perempuan lebih baik, sebelum saya memulai hubungan Pak” jawab Aswin lugas.


“Daripada seperti Bapak…” sambungnya lagi.


“Memangnya saya kenapa?” Reza memalingkan wajahnya cepat dari dokumen yang sedang dibacanya.


“Bapak sudah menikah dengan dua orang perempuan, tapi tidak mengetahui dan memahami apa itu PMS.. percuma pak ternyata pengalaman bapak tidak menjadi pengetahuan” Aswin tersenyum sambil bergerak menjauh, khawatir terkena lemparan dokumen yang dipegang Reza.


“Kurang ajar kamu, urus kejombloan kamu, bukan ngurusin pengalaman hidup saya”


“Sudah kita selesaikan sekarang pekerjaan. Supaya besok saya bisa off” Reza beranjak dari kursinya. Sebelum rapat dengan pihak luar ia harus bertemu dulu dengan Dewan Direksi supaya dalam rapat nanti mereka memiliki satu bahasa dalam diskusi.


Hasna POV


Hasna segera memesan tiket kereta api ke Bandung, ia hanya membawa beberapa pakaian Maura dan langsung memesan taksi. Kalau dilihat dalam maps hanya 30 menit perjalanan karena sudah lewat jam berangkat kantor dari rumah ke statsiun kereta. Maura langsung bersemangat mendengar akan berangkat ke Bandung dengan kereta api, ia belum pernah naik kereta.


Sepanjang perjalanan Maura sibuk bercerita dan bernyanyi, ia sangat senang akan petualangan hari ini. Tidak tampak olehnya kesedihan dimuka  Hasna yang hanya tersenyum dan menjawab sesekali pertanyaannya. Begitu duduk di kereta ia langsung ingin telepon pada Papinya, tapi Hasna memberitahu kalau Papinya sedang sibuk di kantor dan kemudian bersepakat cukup dengan mengirimkan foto saja.


“Buna fotonya yang banak bial Papi liat aku naik keleta” dia langsung melihat semua hasil foto setiap kali bergaya di depan kamera.


“Buna kilim sama kaka ujan juda” Ia kembali bergaya, benar-benar sebuah hiburan yang luar biasa dengan anak koala ini.


Hasna menatap pemandangan di luar kereta, keputusannya untuk pulang dulu ke Bandung dirasakan tepat. Ia bisa menarik nafas dulu dari tekanan di rumah itu, perasaannya semakin terasa membaik. Tadi yang ia rasakan hanya ingin menjerit dan menangis saja. Hmmm apakah efek dari PMS yah.. Pikir Hasna, mungkin juga aku jadi lebih sensitif. Akhirnya Hasna pun ikut tertidur, goyangan di kereta hampir sama seperti di mobil, dan tadi malam ia hanya tidur 3 jam karena tekanan perasaan setelah keluar dari kamar pemujaan itu.


Begitu sampai di Bandung, jam sudah menunjukkan 12.35, menjelang kedatangan di stasiun Bandung, Hasna membangunkan Maura yang langsung segar melihat pemandangan di luar.


“Syudah sampai Buna? Keletanya syudah di Banung?” Maura celingukan ke jendela melihat pemandangan di luar, rumah-rumah penduduk dan kendaraan yang berhenti saat kereta melintas.


“Iya sudah sampai. Maura senang naik kereta?” Hasna merapihkan rambut Maura yang acak-acakan. Rasa sayangnya pada anak koala ini terasa penuh, seperti memiliki boneka sendiri.


“Syeneng.. Mola syeneng naik keleta, buninya guduk guduk guduk” Maura tertawa sambil menggoyang-goyangkan badannya maju mundur.


“Uwwww gemoooy kamu itu, kalau gak ada kamu gak kebayang Buna tinggal di rumah” Hasna menciumi Maura, perasaannya semakin terasa membaik. Ternyata memang kalau suasana hati sedang gundah, paling cepat adalah keluar dari lingkungan yang menekan perasaannya.


Dalam waktu 30 menit Hasna sudah tiba di rumah, naik mobil online sekarang sangat memudahkan, tidak harus menunggu dijemput sehingga merepotkan orang rumah. Begitu sampai di halaman rumah, tampak sepi. Bandung sekarang panasnya hampir mendekati Jakarta untung saja masih ada udara sejuk sesekali sehingga tidak bikin keringatan dan lengket seperti di Jakarta.


“Assalamualakum…..” Hasna membuka pintu rumah, wusss terasa udara sejuk padahal tidak memakai ac di rumah.


“Melekum….” anak koala ikut-ikutan mengucapkan salam sambil celingak celinguk, masih belum terlalu familiar dengan rumah di Bandung.


“Waalaikum salam wr wb….” terdengar suara Mama di ruang tengah,


“Ehhhhh teteh… ya Allah beneran pulang, anak mama yang geulis ini …” Mama langsung memeluk Hasna.


“Haduh-haduuuuh ini cucu Enin meni semakin hembil aja… Bapao nya semakin mancung, bibirnya semakin mancung, hidungnya juga mancung” Mama langsung mencubiti muka Maura.


“Aduuuuh akittt Enin…..Bunaaaaa” Maura langsung menyembunyikan mukanya pada rok Hasna.


“Hahahahah iiiih meni ogoan sama Buna, sini sama Enin digendong yahhhh… mau liat kucing gak… ada Taiyo lagi bobo di sofa sama Enin” Mama langsung mengambil alih anak koala. Jagoan emang Mama tuh kalau berurusan sama anak kecil.


“Kenapa Taiyonya bobo sama Ewnin?” Maura langsung tertarik melihat kucing pemalas yang tidur dengan gaya semau gw.

__ADS_1


“Kenyang habis makan ikan sepiring” ucap Mama sambil mendudukan Maura di sofa.


“Sini Taiyonya bobo di pangkuan Maura, pasti belum makan yah Maura, sama Enin disuapin yah sama ikan” Mama melihat jam pasti tadi belum sempat makan di jalan.


“Iya Mola lapel tapi nda mau makan ikan Taiyo nanti dia malah-malah ikannya dimakan Mola” ucap Maura sambil mengusap-usap kucing pemalas itu.


“Hahahahah iya ikan Maura dikasih sambel biar Taiyonya gak mau makan” goda Mama, Hasna tersenyum melihat Mama yang asyik dengan Maura. Dia langsung ke meja makan, tadi pagi sarapan hanya sedikit karena tidak bernafsu untuk makan.


“Mola gak kuat makan pewdes Ewnin… bibilnya suka kebakalan” Maura langsung cemberut mendengar akan makan dengan sambal.


“Masak apa Ma? Widiiiih ada Ikan Kembung Balado kesukaan aku, sama oseng kangkung”


“Heheheh Mama masak ini setelah aku bilang mau pulang yah, tau aja nih Bu Kumis kalau mau dikasih hadiah makeup” Hasna langsung mengambil piring dan segera mengisi dengan makanan kesukaannya, gak usah menu banyak dan aneh-aneh nyang kaya gini udah nikmat dan bikin ngiler.


“Maura mau disuapi Buna atau sama Enin” tanya Hasna.


“Sama Mama aja, kamu makan aja jangan banyak pikiran” Mama langsung mengambil nasi untuk Maura.


“Jangan pakai bumbu merah Ma, dia liat merah dikit pasti protes” Hasna langsung memilihkan ikan yang tidak terkena bumbu. Mama tersenyum melihat Hasna yang cekatan memilihkan makanan untuk anak sambungnya. Benar-benar sudah seperti menjadi ibu anaknya ini.


Selama makan Hasna sibuk menceritakan aktivitasnya kepada Mama, kalau bahasa sunda istilahnya “murudul” atau keluar semuanya, hanya ia tidak menceritakan soal kamar pemujaan, rasanya tidak patut saja ia khawatir Mama menjadi sedih.


“Kamu tidur sama anak-anak?” tanya Mama


“Iya seringnya sih sama anak-anak” jawab Hasna santai, dia asyik mempreteli ikan kembung tanpa sadar maksud pertanyaan Mama.


“Mas Reza tidur dimana kalau begitu?” tanya Mama lagi.


“Yah di kamarnya lah dimana lagi masa sama aku” jawab Hasna santai.


“Teh… kamu tuh sudah menikah, bukan anak perawan lagi, kalau istri yah tidur sama suami” Mama langsung menyambung dengan cepat. Hasna langsung berhenti makan, ia tadi tidak sadar menjawab itu.


“Hehehhe maksudnya masa tidur barengan bertiga sama anak-anak” jawab Hasna sambil cengengesan. Bahaya ini bisa-bisa ceramah Mama Merina langsung keluar.


“Nanti setelah sholat Ashar Mama mau ngobrol sama kamu”


“Kamu nginep kan?”


“Ehh hehehehe gak tau nih, tadi sih aku bilangnya mau pulang langsung nanti malam” Hasna langsung meringis, membayangkan musti pulang lagi malam ini rasanya malas.


“Nanti Mama bicara sama Reza, mudah-mudahan kamu boleh menginap” Mama langsung mengambil keputusan. Beuh Bu Merina dilawan, ayah kumis aja gak berkutik padahal kumis baplang panjang.


“Setelah makan, kamu istirahat aja, muka kamu kuyu begitu. Turun kamu yah berat badan, sampai tirus begitu” ucap Mama sambil membereskan piring bekas makan Maura. Anak koala itu asyik saja mengusap-usap Taiyo yang semakin pewe tidurnya karena diusap.


Setelah makan Hasna kembali ke kamarnya, hufffttt rindu serindu-rindunya dengan kamarnya ini, walaupun tidak luas tapi terasa sangat nyaman.


“Anyeoong… GD Oppa….” Hasna memeluk dinding yang menempel poster G Dragon. Kok malah pengen nangis sama GD Oppa.


“Oppa … kamu marahin dia gih… aku tuh sedih” Hasna kembali meneteskan air mata. Selama ini di dalam hatinya cuma ada G Draggon. Kalau bisa ada alat doraemon yang bisa menghidupkan poster, ingin rasanya menyewanya. Gak mau ngapa-ngapain cuma pengen menumpahkan rasa sedihnya pada seseorang.


“Teteh… kamu lagi ngapain sih… masih aja halusinasi sama G Draggon” Mama masuk tanpa ketok-ketok pintu lagi seperti biasa.


“Kangen sama kamar, sama GD Oppa aku tuh Mama” Hasna mengusap air matanya. Mama melihat Hasna dengan tajam.


“Ada masalah apa?” tanya Mama


“Maura mana?” Hasna berusaha mengalihkan perhatian Mama,


“Lagi diajak jajan sama Ema ke toko yang baru diujung kompleks” jawab Mama sambil duduk di kasur.


“Sini duduk cerita sama Mama ada apa?”


“Ah Mama nanti pasti nyalahin aku gera” Hasna naik ke kasur dan menungging.


“Ih...kebiasaan udah nikah masih suka nungging kaya gini” sambil memukul pantat Hasna yang tidak bergeming oleh pukulan tangan Mama…

__ADS_1


Ceritaaa gaaak yaaaaa…..


__ADS_2