
Malam itu Hasna tengah belajar bersama Maura di meja makan, Hujan tiduran di sofa sambil menonton film di televisi. Mereka menunggu Reza pulang, ia berjanji akan membawakan pizza pesanan anak-anak. Sudah hampir jam 9 malam, Maura sudah mulai tampak mengantuk, akhir-akhir ini Maura sulit sekali diajak untuk tidur siang. Ada saja alasannya kalau diajak untuk tidur siang, padahal untuk usia Maura sekarang, tidur siang masih sangat penting untuk perkembangan otaknya.
Klik… Tuluwit.. Terdengar pintu depan terbuka. Anak-anak langsung melihat ke arah pintu.
“Akhirnyaaaa…. Lama banget sih Papiii.. Aku udah ngantuk nih” Hujan langsung menyambut kedatangan Reza.
“Kaka… Papi datang disambut dengan baik, salim… alhamdulillah Papi sudah datang” Hasna langsung menanggapi sikap Hujan.
“Selamat datang Papi ...Welcome home” ucap Hujan sambil bergaya seperti sales promotion. Hasna langsung mendengus. “Gak kaya gitu juga kaleee… lebay kamu” Hujan langsung menjulurkan lidah sambil membawa pizza ke meja makan.
“Ganti pakaiannya aku bawa tamu” Reza menggerakan kepalanya ke arah kamar meminta Hasna berganti pakaian. Hasna langsung menaikan alisnya “Siapa?” ucapnya sambil berjalan ke arah kamar, Reza mengusirnya masuk ke kamar “udah cepetan ganti baju..” sambil cemberut Hasna bergegas masuk ke kamar. Bertamu kok malam-malam kaya yang gak ada waktu lagi pikirnya, sudah pulangnya malam-malam masih membawa tamu pula...Tumben.
Saat berganti pakaian Hasna mendengar suara laki-laki di ruang tengah, seperti yang akrab dengan Maura. Tapi kok suaranya ia kenal, tidak mungkin kalau Kak Angga pasti ia tidak akan disuruh ganti pakaian memakai kerudung, pasti orang lain. Hasna jadi tidak sabar untuk kembali ke ruang tengah.
“Kang Arkhan!” Hasna langsung kaget saat melihat Arkhan sedang duduk di meja sambil makan pizza. Yang disapa hanya nyengir sambil asyik ngunyah pizza, Hasna langsung memandang suaminya, ada angin apa ini Reza membawa orang yang paling dicemburui malah bertemu dengannya.
Reza tampak pura-pura acuh seperti tidak menghiraukan tatapan bingung istrinya. Hasna langsung mendekati suaminya, digamitnya tangan Reza sambil berbisik.
“Ada apa? Kenapa Kang Arkhan kesini?” Reza hanya mengangkat alis seperti tidak peduli, Hasna langsung gemas, bukannya menjawab malah terlihat bergaya sok cool. Dicubitnya pinggang Reza dengan kuat.
“Arghhhhh…. Sakiiit sakiit… aduuuuh kamu tuh” Reza langsung menjauh sambil mengusap-usap pinggangnya. Arkhan yang melihat Reza yang kesakitan tersenyum, ia sudah mengira kalau Hasna pasti bingung melihatnya.
“Sehat Na… udah lama banget yah kita gak ketemu, kamu makin bulet aja” ucapan Arkhan langsung membuat Hasna melotot, disebut bulet lagi, walaupun hamil terasa sangat mengesalkan.
“Akang tuh baru juga ketemu udah ngomong nyelekit pikasebelen. Sana balik” Hasna langsung cemberut. Arkhan langsung menyadari kesalahannya saat ia menatap Reza yang langsung mengeleng-gelengkan kepalanya pelan takut ketahuan Hasna. Arkhan langsung mengganti mode suara.
“Yang bulet itu perut na bukan kamunya, sensitif amat sih kamu. Wajar dong kalau hamil, kamu jadi bulet, kalau lurus malah jadi aneh, masa hamil langsing nanti orang bingung itu hamil atau busung lapar” Hasna makin cemberut sambil memandang pizza. Tadi sebetulnya ia berniat mencomot sepotong pizza tapi saat mendengar sebutan dia terlihat bulat langsung menghentikan gerakan tangannya.
Reza melihat pandangan Hasna yang tidak lepas dari Pizza langsung mengambilkan satu slice. “Makan satu slice gak bikin kamu gemuk sayang… lagipula sekarang kan baru jam sembilan. Kita palingan nanti tidur jam sebelas atau dua belas kan masih dua jam lagi, tidak masalah” disodorkannya pizza kedepan muka istrinya, Hasna menatap Reza sesaat, yang ditatap menggerakan dagu seakan memberikan ijin pada Hasna untuk segera memakannya.
“Beneran gak bikin gemuk nih Mas kalau makan malam-malam?” tanya Hasna sambil meraih pizza di depannya. Sebelum Reza menjawab, Arkhan sudah menjawab duluan.
“Yah bikin gemuk lah, satu slice itu Na sama dengan 270 kalori, itu baru bisa kamu bakar dengan joging atau aerobik selama kurang lebih 20-30 menit lah. Itu hitungan baru satu slice loh kita kan biasanya minimal makan 2 slice” ucap Arkhan sambil mengambil slice pizza yang kedua.Reza menatap Arkhan dengan kesal, orang ini benar-benar tidak berpikir kalau rencananya gagal, maka dijamin tesisnya bakalan kelaut.
Hasna yang sedang menggigit pizza, jadi membayangkan olahraga yang harus ia lakukan untuk membakar kalori. Sekarang ini selama tinggal di apartemen ia jarang sekali berolahraga. Paling tidak untuk jalan kaki keluar saja bawaannya malas, ditambah lagi tidak bisa bersosialisasi. Penghuni apartemen lebih individualis, di lift pun mereka jarang bersapa, lebih banyak diam atau pura-pura main handphone.
“Kamu tuh gimana sih Khan ngomong gak difilter terus, kalau Nyonya Besar tidak berkenan kamu gak bakalan dibantu sama dia” Reza mengingatkan Arkhan tentang rencana mereka datang kesini. Hasna langsung menoleh, dari tadi ia merasa ada sesuatu yang aneh saat Arkhan datang.
“Ngomongin apa?” Hasna langsung memandang Reza dengan tajam sesekali memandang pada Arkhan yang terlihat salah tingkah. Reza memandang Arkhan yang terlihat enggan bicara malah trus saja mengunyah pizza sambil menonton TV. Dalam pikirannya kenapa musti dia yang memperjuangan tesis anak songong ini.
__ADS_1
“Ini Arkhan kesulitan menyelesaikan tesis soalnya musti kerja, dia sudah dipanggil sama pembimbing. Aku pikir kamu bisa bantu dia, katanya pilihan spesialisasi studinya sama dengan kamu. Yah hitung-hitung latihan lah nanti juga kan kamu bikin tesis, mumpung sekarang waktu kamu lebih senggang” Hasna langsung tersenyum sinis, pantas saja diajakin ke rumah ternyata ada maunya.
“Gak mau… dia orangnya nyebelin” jawab Hasna sambil beranjak dari meja. Arkhan langsung terlonjak kaget, tidak disangkanya Hasna akan menolak permintaan suaminya.
“Na… jangan gitu dong Na.. help me please cuma kamu yang ngerti jalan pikiran aku.. Tolong bantu aku Na” Arkhan langsung beranjak mendekati Hasna. Reza langsung melotot, ditariknya baju Arkhan supaya kembali duduk
“Heee… udah dibilangin juga jaga jarak sama Bini gw. Tiga meter jarak yang paling dekat” Arkhan langsung melengos. Mendengar bentakan Reza pada Arkhan, Hasna langsung tersenyum rupanya kakak kelasnya yang menyebalkan itu udah punya pawang yang bisa mengendalikan dia. Diambilnya jus dari lemari pendingin dan gelas, niat hati mau ngambek diurungkan karena ingin melihat seperti apa interaksi antara Reza dan Arkhan sekarang.
“Nih minum dulu Kang. Mas Reza mau minum teh gak?” Reza jarang minum air dingin kalau malam hari. “Buatkan aku teh hangat tawar saja, aku ganti baju dulu. Kamu duduknya berseberangan jangan dekat-dekat sama Bini gw” Arkhan langsung melengos mendengarnya, sepanjang perjalanan Reza tidak henti-hentinya memberikan ultimatum soal aturan kalau ia bertemu dengan Hasna.
Akhirnya ia mengalihkan perhatian pada dua anak perempuan yang asyik menonton televisi.
“Belum pada tidur kalian, kan besok sekolah” Hujan hanya melirik saja tanpa merespon, Maura yang langsung menatap Arkhan dan menjawab.
“Mola besyok mau dibagi lapot jadi udah nda belajar Om” Arkhan tersenyum, ia terhenyak melihat sikap dingin Hujan, wuih cantik-cantik tapi galak begini dalam batinnya. Ia pernah bertemu Hujan dulu saat pernikahan Hasna.
“Nana.. anak kamu yang gede kok galak banget.. Dia gak nge bully kamu kan?” bisik Arkhan pelan pada Hasna yang duduk disebrangnya setelah membuatkan teh untuk Reza.
“Mata aku memang nonton ke TV tapi telinga gak budek” tiba-tiba Hujan menjawab sambil melirik Arkhan dengan sinis, yang dilirik langsung melonjak kaget. Hasna langsung ingin tertawa melihatnya, Arkhan baru saja kena sambaran petir.
“Tidur yuk De.. “ ia menggamit tangan Maura yang dengan senang hati mengikuti kakaknya. Mencium pipi Hasna dan langsung berjalan menuju kamar.
“Pamit tidur dulu Om” Hujan langsung mengucapkan salam sambil melengos pergi, berbeda dengan Maura yang menghampiri Arkhan dan salim.
“Mola bobo duyuan udah mayem.. Assalamualaikum walahmatulahu wabalokatu” Hasna langsung tersenyum melihat gaya sok dewasa Maura. Langsung ditepoknya pantat anak koala kesayangannya itu.
“Jangan lupa pipis dulu terus gosok gigi…” teriak Hasna pada anak-anak. Reza yang baru keluar dari kamar langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih saja senang teriak-teriak, padahal kan ruangan apartemen tidak terlalu luas.
“Bang...anaknya galak banget sih. Beneran Na.. kamu gak di bully sama dia” dengan santainya Arkhan mengomentari sikap Hujan. Reza melengos, mau dikata apa lagi memang Hujan tidak mudah akrab dengan semua orang, ia termasuk pilih-pilih dalam berteman.
“Gak..baik banget sama aku, lebih sering ngebelain aku daripada Papi-nya. Malahan dia yang sering kena sambaran petir kaya Akang tadi..hehehehe” Hasna merasa terhibur mendengar Hujan yang membalas Arkhan dengan sindiran yang tidak bisa dibalas.
“Nana.. aku betulan butuh bantuan nih” ucap Arkhan dengan muka putus asa. Belum sempat ia melanjutkan ucapannya keburu dipotong oleh Reza.
“Ehhh… ditambah lagi aturannya, mulai sekarang jangan suka manggil Nana sama Bini gw, ini peraturan yang berlaku menetap. Gak cuma saat pembuatan tesis aja” Hasna dan Arkhan langsung melirik bersamaan dengan tatapan kesal.
“Yaelah Bang… aku dari dulu udah manggil dia Nana, bukan karena apa-apa emang udah kebiasaan, bukan panggilan sayang atau spesial… lebay banget sih lu jadi orang Bang” Arkhan terlihat mulai kesal.
“Mas.. apaan sih. Jangan suka berlebihan deh” Hasna langsung melotot. “Yang ngundang Kang Arkhan kesini kan Mas Reza bukan aku, jangan suka malu-maluin gitu, kesel aku ngedengernya” Hasna mulai kesal karena dari tadi ia belum sempat bicara dengan jelas. Reza yang menyadari kalau ia sudah membuat istrinya kesal langsung sadar dan tersenyum.
__ADS_1
“Maaf hehehe… suka kesal soalnya kalau dia manggil kamu Nana.. sok akrab aja kesannya… Maaf yaah jangan marah, nanti baby nya jadi gampang marah kalau Bunanya emosian. Mau pizza lagi gak?” Reza menyodorkan potongan pada Hasna yang disambut dengan satu gigitan.
“Habiskan sama Mas Reza, jangan aku sendirian yang gendut… Mas Reza juga musti gendut jangan ganteng sendirian” Reza mengangguk patuh dimakannya pizza dengan penuh penghayatan. Arkhan berusaha menahan senyum melihatnya, kalau dikantor memang GM yang keras dan berwibawa ternyata kalau di rumah Reza masuk kelompok suami takut istri.
“Pembimbingnya siapa Mas” tanya Hasna, Arkhan langsung melonjak senang. Ini naga-naganya bakalan dibantuin kalau sudah menanyakan soal pembimbing.
“Prof Sujatmoko, dosen yang paling senior, dia paling killer dan perfectionis banget. Aku udah dua kali bikin proposal tapi ditolak terus. Alasannya penelitian gak punya novelty trus kemarin dibilangnya gak jelas binatangnya apa… hadeuuh aing rieut” akhirnya ungkapan sunda keluar juga dari mulut Arkhan saking pusingnya. Hasna tertawa, kalau sudah seperti itu biasanya Arkhan memang sudah putus asa.
“Ya udah aku bantuin, kasih bahan-bahannya ke aku. Ntar aku coba bantu susun proposalnya” Arkhan langsung berdiri dan hendak bersalaman dengan Hasna untuk mengucapkan terima kasih, tapi langsung disambit oleh potongan pizza oleh Reza.
“Heee… gak boleh ada kontak fisik gw bilang juga” Arkhan langsung menarik tangannya sambil merunduk, ia lupa aturan tidak boleh kontak fisik. “Iya maaf Bang lupa” Hasna langsung ingin tertawa melihatnya. Jarang-jarang Arkhan bisa ditaklukan seperti ini, luar biasa hari ini ia melihat pemandangan langka. Suaminya benar-benar kharismatik bisa mengalahkan singa kampus.
Malam itu mereka habiskan untuk berdiskusi hingga jam sebelas malam sampai akhirnya Arkhan diusir oleh Reza. Sesuai dengan permintaan suaminya Hasna menyanggupi untuk membantu Arkhan karena ia mulai merasa ada alasan untuk bisa berkegiatan diluar. Mentalnya sudah mulai tidak stabil, sering sedih dan emosi untuk hal yang tidak jelas. Selain itu ia ingin membantu kakak kelasnya, yang selama ini banyak membantu saat memulai kuliah di S2, lagipula sekarang ia punya banyak waktu kosong jadi bisa dimanfaatkan.
Tapi yang paling utama, yang mendorongnya untuk membantu Arkhan adalah Reza suaminya sendiri. Entah ada angin apa sehingga terjadi perubahan yang sangat mendadak seperti ini. Hasna jadi ingin tahu kenapa tiba-tiba Reza berubah 180 derajat dalam memberikan kebebasan untuknya berinteraksi dengan laki-laki lain.
“Mas…” Hasna mengusap-usap dada suaminya, saat mereka sudah tiduran di kamar, ia tahu kalau Reza belum tidur.
“Kenapa tiba-tiba menyuruh aku ngebantuin Kang Arkhan, bukannya dulu Mas Reza paling benci kalau aku dekat-dekat sama dia” Reza membuka mata dan tersenyum kecut.
“Aku tidak tahan melihat kamu seperti kehilangan arah, tidak tahu harus mengerjakan apa. Padahal dulu kamu selalu penuh dengan ide-ide aneh tapi menarik.” ia menghela nafas dan menatap Hasna.
“Aku takut nanti kamu jadi tidak bahagia menjadi istri aku, hingga suatu saat akan mencapai titik, kalau aku dianggap menjadi penghambat dan membuat diri kamu menjadi orang lain. Aku sudah melakukan kesalahan itu pada Mitha dan tidak mau melakukan kesalahan yang sama” Hasna tersenyum dan memeluk Reza erat.
“Kamu harus berkembang dengan cara kamu sendiri, aku akan selalu mendukung kamu. Tapi aku minta jangan sampai melupakan kewajiban pada keluarga, jangan melupakan aku sama anak-anak” diciumnya kepala istrinya dengan lembut.
“Jadi ngebantuin Kang Arkhan dianggap bisa ngebantu aku back on the track lagi gitu?” tanya Hasna dengan senyum mengembang, Reza mengangguk. “Bukannya Mas Reza gak suka aku dekat-dekat sama dia, gak takut nanti kehilangan kontrol emosi lagi, trus marah-marah kaya dulu” Hasna tersenyum mengejek. Reza langsung cemberut melihat ejekan dari istrinya, ia paling kesal kalau diingatkan soal kebodohannya dulu.
“Cara paling cepat dalam menghadapi suatu ketakutan itu adalah menghadapinya langsung. Aku takut kamu tertarik sama laki-laki yang lebih muda dan menarik. Ternyata setelah aku lihat aku tetap lebih unggul walaupun umurku lebih tua” Reza tersenyum sinis, Hasna tertawa mendengar kepercayaan diri yang berlebih dari suaminya. Tapi memang betul sih saat mereka berdua disandingkan, ia bisa melihat kalau kematangan suaminya memiliki nilai yang berbeda dibandingkan dengan lelaki seusia Arkhan. Ah atau memang dirinya yang suka pada laki-laki dewasa yah pikir Hasna.
“Ya deeeh suamiku yang paling ganteng sedunia, baik, perhatian sama istri. Nikmat mana lagi yang aku dustakan ya Allah”
“ Tambah satu lagi, suami kamu juga laki-laki kuat dan perkasa” Hadeuuuuh salah lagi… dipuji dikit ujung-ujungnya kesitu… Sabar yaaa Samsul dan Udin. Bapaknya sering kangen sama kalian
********************
Sering gak sih menghadapi situasi yang membuat kita gak nyaman, terkadang cara yang paling cepat adalah dengan menghindari dengan seribu alasan dan sejuta kebohongan hehehehhe #pengalamansoalnya ternyata berdasarkan pengalaman hidup #cieeeindikatorudahtua kalau kita berhadapan pada situasi yang tidak kita kuasai dengan baik seperti lingkungan baru, musti presentasi di depan orang-orang yang gak dikenal, masuk pada kelompok yang beda latarbelakangnya, tawaran kerjaan baru yang tidak kita kenal, sering membuat kita mundur dan memilih tidak terlibat. Padahal tidak serumit dan sesusah itu fulgoso. Pikiran kita aja yang sudah defense dan membuat bayangan buruk, sedangkan kenyataannya kalau kita memaksakan diri melewatinya ehhh ternyata baik-baik aja. Kita gak mati, gak sobek atau gak sampai berdarah-darah... jadi kesimpulannya jangan takut sama hal yang baru... coba saja siapa tahu itu menjadi pengalaman yang menarik yang akan membuat diri kita lebih berilmu. Kalaupun jadi pengalaman buruk..yah at least kita tahu mana yang gak cocok sama kita toh gak membuat kita mati. Sebagaimana yang saya tulis dulu. Segala sesuatu selama tidak akan membunuh kita, akan membuat kita jadi orang yang lebih kuat. Begitu Marimar.... heheheheh tik tok tik tok.... mendekati hari-hari terakhir kita... Banyakin peluk deh buat kalian... Love u Gurlz...
***********************
__ADS_1