
Reza tiba di Jakarta jam empat sore, penerbangan yang paling dekat adalah jam dua dari Surabaya, setelah pengurusan bagasi dan lain-lain ia baru bisa keluar ke area kedatangan tigapuluh menit setelahnya. Ia langsung bergegas ke keberangkatan Internasional, dalam hatinya masih menyimpan harapan yang ia tahu rasanya tidak mungkin.
Dilihatnya jam penerbangan ke Jepang mulai dari jam delapan malam rasanya tidak mungkin Hasna berangkat dari pagi hanya untuk berangkat di malam hari. Reza terduduk dengan lemas kenapa sampai seperti ini kejadiannya, kenapa ia sampai lupa kalau Hasna akan berangkat ke Jepang di saat pertikaian mereka belum terselesaikan, kenapa Hasna tidak mengingatkannya lagi bahwa dia akan pergi, kenapa dia harus pergi ke Surabaya saat istrinya pergi.
Reza merasakan dejavu, empat tahun yang lalu, ia juga berlari-lari di Bandara karena Mitha sudah masuk rumah sakit untuk melahirkan Maura, dan ia tidak pernah bertemu dengan Mitha dalam keadaan sadar. Sekarang ia juga berlari-lari di Bandara karena Hasna pergi ke Jepang saat mereka sedang bertengkar hebat, apakah ia juga tidak akan bertemu kembali dengan istrinya. Reza mengusap mukanya dengan penuh kekesalan. Kenapa ia tidak pernah mengalami keberuntungan kalau berhubungan dengan perempuan.
“Tuan…” suara Pak Agus memutus lamunan Reza, ia tengah menunduk dan memijat kepalanya yang terasa berdengung. Selama di pesawat ia nyaris tidak memakan hidangan makan siang, hanya makan roti dan kopi.
“Pak Agus...tadi mengantar Hasna pergi ke Bandara?” Reza langsung berdiri dan menghampiri laki-laki separuh baya itu. Pak Agus mengangguk dan terlihat bingung.
“Cuma saya bingung tadi sama Bu Hasna, sepanjang jalan nangis kaya yang sedih padahal cuma seminggu yaa”
“Pas turun sampai meluk saya, trus bilang titip anak-anak anterin ke sekolah, temani Nona Maura sampai masuk kelas, kemudian kalau jemput jangan sampai terlambat khawatir dia main keluar dari sekolah… itu diulang-ulang terus” Pak Agus mengusap-usap kepalanya. Sebetulnya ia khawatir pada Hasna karena terakhir saat malam mengantarkan ia juga menangis saat ditemani Aswin.
“Jam berapa sampai ke Bandara?” Reza tidak sabar mendengar cerita Pak Agus
“Jam delapan tiga puluh, Bu Hasna sudah ditunggu oleh teman-temannya, banyak teman-temannya yang ikut itu, yang perempuan yang langsung menyambutnya” Reza memperkirakan kalau sahabatnya Hasna yang bernama Ammera yang menemaninya.
“Dia bilang pesawatnya jam berapa?” Reza melihat jam ditangannya sekarang sudah hampir jam lima dengan perbedaan waktu dua jam dengan Indonesia artinya di Jepang sudah jam 7 malam.
“Tadi Bu Hasna bilang pesawatnya jam 11.30. memakai Garu**” Reza menghela nafas, kalau sudah sampai spesifik seperti itu artinya memang dia sudah berangkat. Ia terduduk dan menunduk, merasa tidak memiliki harapan untuk bisa bertemu dengan Hasna. Pak Agus hanya bisa berdiri mematung. Hampir sepuluh menit berdiri membuatnya mulai merasa bingung harus berbuat apa.
“Apakah mau mencari informasi dulu tentang Bu Hasna atau bagaimana?” Reza mengangkat kepalanya dan menatap Pak Agus. Terlihat muka kusut yang lelah terpancar dari Reza.
“Kita pulang saja, nanti saya akan coba telpon mudah-mudahan bisa dihubungi” Reza beranjak dan mengikuti Pak Agus menuju tempat parkir. Di mobil begitu Pa Agus menghidupkan mobil tiba-tiba terdengar lagu korea mengalun. Reza langsung mengerutkan dahi, siapa yang menyimpan lagu korea di mobilnya.
“Matikan Pak … kenapa mendengarkan lagu Korea sekarang” Reza merasa semakin pusing
“Ohh ini tadi Bu Hasna memutar lagu dari hp nya tapi setelah Bu Hasna turun lagunya terus saja berputar” Reza mengerutkan keningnya Hasna menghubungkan dengan perangkat bluetooth kenapa masih berputar artinya alatnya masih ada di dalam mobil ini.
“Bu Hasna dengerin lagu ini sambil trus aja nangis Tuan.. saya sampai heran memangnya ngerti artinya apa” Reza kemudian mendengarkan, saat Pak Agus akan mematikan dia menghentikannya. “Jangan matikan Pak saya mau dengar”
Lagu itu tidak ia mengerti bahasa Korea yang ia mengerti dari lagu itu cuma kata-kata If you...if you yang diulang-ulang. Hasna selalu merelate perasaannya dengan lagu BingBang, ia ingat saat waktu di Singapura dulu saat, mereka menjadi pasangan suami istri sesungguhnya.
Reza mencari lagu itu dan artinya, seketika ia berkerut apa ini? Kenapa dia seperti berpikir untuk meninggalkan. Reza terus membaca lirik dan semakin berkerut saat membaca isinya.
__ADS_1
“Jika kamu, Jika tidak terlambat, Tidak bisakah kita kembali bersama-sama?
Jika kamu, Jika kamu berjuang seperti saya, Bisakah kita membuat sesuatu yang sedikit lebih mudah?, Aku seharusnya diperlakukan lebih baik ketika saya milikmu”....
Reza menunduk ia merasa kalau Hasna terlihat sangat terpukul dengan pertikaian terakhir mereka, sulit bagi mereka untuk kembali bersikap normal setelah pertengkaran itu. Lagu itu terus berputar, menyadarkan Reza kalau Hasna meninggalkan alat yang terkoneksi dengan bluetooth di mobil. Dicarinya di bangku penumpang tidak ada, dirabanya saku bangku depan, Reza mengerutkan dahinya, handphone Hasna ada di saku belakang bangku pengemudi. Dia lupa atau sengaja meninggalkan handphonenya? Reza ingat ini adalah handphone istrinya, ia selalu mengecek isi pesan di handphone ini.
“Pak Agus, Ibu sengaja meninggalkan handphone nya?” akhirnya Reza mengacungkan handphone Hasna. Pak Agus langsung berkerut. “Kok bisa tertinggal Pak, sebelum turun Bu Hasna sempat kontak-kontakan dengan temannya menanyakan posisi mereka di bandara. Jatuh mungkin Pak saat turun” tidak mungkin jatuh pikir Reza, pasti sengaja disimpan di saku belakang jok pengemudi.
Reza langsung membuka handphone, ia melihat pesan-pesan yang ada di sana. Pesan yang belum dibuka adalah dari Mama Isna, Mama Merin, Emran, Angga, Ayah dan Angga rupanya semua orang di rumah mengirimkan pesan kepadanya. Ada juga pesan-pesan terakhir yang sudah dibuka di posisi atas. Ammera temannya perempuan.
“Na… kita udah sampai, santai aja.. Jangan keburu-buru masih banyak waktu kita di terminal 3 yah” dan ada banyak pesan di bawahnya, kebanyakan soal koordinasi posisi sudah dimana dan janjian kapan bertemu, informasi apartemen dan tugas-tugas perkuliahan.
Reza langsung mencari pesan dari Arkhan, kegiatan ini melibatkan anak songong itu pikirnya pasti ia melakukan pembicaraan khusus, tapi ternyata pesan terakhir yang ia dilakukan Hasna hanya soal koordinasi tentang presentasi yang dulu sudah pernah ia baca, apa dia menghapus pesan-pesan dari dia.
Kebingungan Reza semakin memuncak saat melihat pesan yang belum dibaca Hasna, ternyata Hasna mengirimkan pesan akan mengikuti studi banding kemarin kepada keluarganya. Semua pesannya sama kepada semua anggota keluarganya.
“Ayah, Mama, Kaka n Ade… Teteh mau berangkat studi banding ke Jepang, maaf gak ngasih kabar dari kemarin… #khawatir si ade minta oleh2 soalnya. Studi bandingnya sih cuma seminggu tapi kemarin dapat info mereka punya slot kelas winter, jadi mungkin bisa diperpanjang. Hp teteh gak bawa jadi gak bisa telpon2an #biar ade gak minta oleh2. Tapi nanti teteh kasih kabar via email. Doakan teteh supaya berhasil dapat ilmu yang bermanfaat. Peluk sayang buat semuanya.
“Maksudnya apa ini winter class” Reza mengerutkan dahi, dibacanya jawaban jawaban dari Mama Merin.
“Teteh berangkat jam berapa? Telp dulu Mama sebelum berangkat” kalau melihat jam pesan Hasna sudah tidak melihat pesan ini karena dikirim jam 8.30.
Kemudian Reza melihat pesan-pesan yang lain dari Ayah, Angga dan Emran semuanya mengekspresikan kekagetan karena Hasna dianggap pergi tiba-tiba. Artinya selama ini Hasna tidak pernah menceritakan apapun tentang kegiatannya, ada perasaan lega di hati Reza. Ia khawatir kalau keluarga Bandung mengetahui pertengkaran diantara mereka berdua.
Sesampainya di rumah jam sudah menunjukkan enam lebih lima belas menit. Suasana rumah terasa sepi, kemana anak-anak pikir Reza. Saat ia masuk di ruang tengah, tampak Mbak Jumi menunggu kedatangannya.
“Tuan, anak-anak menginap di rumah Ibu Isna, soalnya khawatir kalau di sini nanti Maura mencari-cari Neng Hasna eh ..Bu Hasna. Bu Isna tidak bisa meninggalkan rumah karena punya peliharaan yang harus dirawat katanya” Mbak Jumi terlihat sedih.
“Tadi Mbak lihat Bu Hasna pas pergi” tanya Reza pendek. Mbak Jumi semakin menunduk dan menarik nafas.
“Iyaaa… saya kok sedihnya kebangetan ini kaya mau ditinggalin lama, Bu Hasna sampai nangis meluk-meluk saya...minta maaf segala… memangnya mau perginya lama? Kasian anak-anak ditinggalkan...loh kok tegaa ninggalin Non Maura dan Non Hujan. Sudah nikah yo kok bisa ninggalin anak lama… memangnya sekolah mau jadi apa? Piye sudah punya suami sugih ya ndak usah mikirin sekolah buat kerja” Mbak Jumi jadi terlihat terpukul dan tidak mengerti mengapa Hasna pergi meninggalkan rumah bukan karena alasan sekolah.
“Non Maura kayanya ndak tau kalau Bu Hasna pergi jauh, tadi sepulang sekolah sama Ibu nanyain terus kapan Buna pulang, kapan Buna pulang...terus gitu aja nanyainnya” ia terlihat bingung dan sedih.
“Saya istirahat dulu Mbak” Reza langsung memotong, pikirannya semakin kalut. Apa yang direncanakan oleh Hasna, ia kemarin memilih menarik diri semenjak Hasna marah karena ia memaksanya untuk melakukan kontak fisik. Seharusnya ia memang berbicara baik-baik terlebih dahulu sebelum mencoba melakukan kontak fisik dengannya, tapi saat mendengar Hasna meminjam uang pada Angga dan melihatnya di kamar pikirannya menjadi gagal fokus dan lebih memilih untuk mengambil jalan pintas.
__ADS_1
Di suasana kamar yang sepi dan malam membuatnya merasa semakin sendiri, setelah berganti pakaian. Ia merebahkan dirinya di tempat tidur dan melihat hp Hasna, ada banyak pesan yang belum ia baca tapi kebanyakan dari Ammera sahabat barunya, rupanya mereka sering pergi bersama akhir-akhir ini karena dari pesannya mereka berjanji untuk bertemu ke beberapa tempat bersama-sama. Kepalanya terasa pusing, ia belum makan malam tapi sama sekali tidak terasa ada keinginan untuk makan dan terasa lapar. Diletakknya handphone Hasna di meja pinggir tempat tidur, tanpa sengaja menjatuhkan kertas yang terlipat di diatasnya. Apa ini?
Surat! Dari Hasna. Reza langsung terbangun, sekilas surat ini tidak terlihat karena warnanya sama dengan meja. Ia segera duduk, rupanya istrinya masih memiliki kesadaran untuk berkomunikasi dengan suaminya.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Mas Reza
Terima kasih atas segala kebaikan dan pemberiaannya yang selama ini diberikan kepadaku. Saya minta maaf tidak bisa bicara langsung karena tidak sanggup lagi untuk bertemu dengan Mas Reza.
Saya bukan Piala Bergilir. Saya cuma perempuan yang tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan orang lain setelah menikah, tidak pernah punya pacar sebelumnya, sehingga semua teman-teman kuanggap sama laki-laki ataupun perempuan. Orang selalu bilang kalau aku tidak peka tapi apakah karena tidak menyadari perasaan laki-laki kemudian menjadi kesalahan? Mungkin itu letak kebodohanku seperti Mas selalu bilang. Tapi SAYA BUKAN PIALA BERGILIR.. Karena ternyata pada akhirnya aku tidak pernah menjadi piala siapapun bahkan untuk suami sendiri.
Ternyata sulit sekali untuk menempatkan diri pada posisi ini, selama ini saya berpikir kalau saya akan bisa melewati sebuah pernikahan hanya tinggal menjadi ibu dari dua orang anak seperti dulu Mas bilang, saya berpikir untuk mencoba untuk berjuang dalam pernikahan ini… tapi pada akhirnya saya berpikir apakah sepadan perjuangan ini.
Dalam pernikahan ini saya merasa sendiri, saya melihat pada Mas Reza dan Mas Reza tetap melihat pada Mbak Mitha. Memang tidak pernah ada kata kita dalam pernikahan ini, hanya mereka ...anak-anak. Aku menikah karena anak-anak dan Mas Reza menikahi karena anak-anak… Jadi wajar saja kalau Mas Reza tidak pernah memikirkan aku sebagai perempuan karena dalam hati Mas Reza kata “kita” adalah dengan Mbak Mitha.
Ternyata seperti ini rasanya patah hati, ditolak oleh orang yang kita cintai dan kita anggap mencintai kita tapi ternyata kita bukan siapa-siapa dia. Mungkin ini harga yang harus saya bayar atas sikap ketidakpedulian pada laki-laki yang dulu mengatakan suka pada saya. Aku harus meminta maaf pada mereka… ternyata tidak peduli pada perasaan orang itu sangat menyakitkan.
Maafkan kalau saya pergi… berikan waktu untuk menata diri … terlalu sesak untuk saya bisa terus berada di rumah ini, saya tidak bisa lagi bernafas … saya merasa semakin kerdil dan mengecil… merasa tidak berharga dan dihargai adalah sesuatu hal yang baru, saya takut terkurung selamanya dalam perasaan ini.
Saya ingin mengembalikan lagi rasa percaya diri dan pribadi saya seperti dulu, seperti saya sebelum mengenal Mas Reza dimana saya merasa yakin dan mampu menghadapi semua masalah dengan baik. Tolong jangan beritahu Mama, Ayah, Kak Angga ataupun Emran.. Saya takut mereka jadi sedih, nanti biar saya sendiri yang memberitahu, orang bilang salah satu cara menjadi orang dewasa adalah dengan kehilangan tempat mengadu dan menelan semua permasalahan sendiri...menjadi orang dewasa itu ternyata tidak enak.
Saya hamil… jangan khawatir akan ku jaga dengan baik, karena ini menjadi bagian dari tubuhku, buah cinta dari perasaanku pada seorang laki-laki yang kuanggap baik. Hari dimana kita bertengkar adalah saat aku mengetahui kalau aku hamil dan ingin memberikan kejutan untuk Mas Reza namun ternyata kejutannya malah untukku.
Sepulang dari Jepang kalau aku masih belum siap untuk pulang jangan coba mencariku.. Berikan kesempatan dulu buat aku istirahat sampai semua luka ini menjadi pulih dan aku bisa bertemu dengan kepala tegak. Mematikan semua rasa sehingga tidak akan ada lagi rasa sakit saat melihat Mas Reza.
Tolong temani Maura selama aku tinggal, dia yang menjadi hal yang paling berat dan menjadi beban pikiranku, tapi aku juga harus memikirkan adiknya yang sekarang tumbuh di perutku. Sudah aku siapkan cerita dan video untuk Maura, nanti Kakak Hujan yang akan membantu.
Terima kasih dan maafkan aku ternyata tidak bisa memenuhi janji menjadi perempuan yang sholehah yang menjaga kehormatan suaminya, ternyata ilmu agamaku masih belum seberapa. Insya allah aku akan menjadi perempuan yang lebih baik lagi kalau nanti bertemu dengan Mas Reza, menerima semua takdir dengan penuh keikhlasan untuk hanya menjadi ibu dari anak-anakmu.
Wassalam
Hasna
Tangan Reza bergetar saat membaca surat itu, air matanya mengalir, mukanya mengeras seketika semua dinding penghalang yang selama ini menutup semua kegundahan dan kegelisahan hatinya hancur berantakan.
__ADS_1
“HASNAAAAAAAA…………”