Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Maukah menjadi ibu anak-anakku Hasna?


__ADS_3

Seminggu berlalu semenjak pengakuan drama Hasna kepada Arya, namun banyak yang berubah dari sikap Arya kepada Hasna. Arya terlihat lebih menjaga jarak dan Hasna merasakan itu. Saat makan siang Arya lebih memilih berkumpul dengan teman-teman laki-lakinya di bagian Akunting daripada dengan Maytha dan Hasna.


"Mbak Maytha kenapa yah Mas Arya kayanya sekarang keliatan kesal sama aku" Hasna menatap Arya yang tampak duduk bersama-sama dengan teman laki-laki di di seberang mereka.


"Hmmm.. seneng aja kali ngobrol sama teman laki daripada kita" jawab Maytha asal, padahal dia tahu kalau Arya berusaha menghindari Hasna


"Ehmm.. koq aku ngerasa Mas Arya kaya marah yah sama aku... apa gara-gara minggu kemarin Mbak Maytha nyuruh aku main drama sama Mas Arya... Mbak sih  ah..." Hasna mengeluh.


"Udah lah gak usah dipikirin... Laki kok baperan sih" Maytha sebetulnya merasa bersalah tapi mau gimana lagi, ternyata memang Hasna ternyata tidak menyukai Arya.


"Kamu emang gak suka sama Arya 'Na?" akhirnya Maytha menanyakan kemungkinan itu.


"Hmmm... gak tau .. engga kayanya, soalnya aku biasa aja tuh liat Mas Arya kaya aku liat temen-temen di kampus.. kadang kalau Mas Arya lagi ngasih tau ini itu aku ngeliat dia kaya Kak Angga kakak aku.." jawab Hasna sambil menatap Arya


"Kamu waktu dipegang tangan sama Arya gak krasa deg deg an seeerr atau gimana gitu?" Maytha keukeuh


"Hmmm enggak.. aku kmarin fokus bayangin GD Oppa... mbak sih .. aku jadi gak enak" Hasna cemberut, dia benar-benar merasa bersalah.


"Ya udah gak usah dipikirin, ntar juga baik sendiri" Maytha menghibur


"Aku beliin kue aja nanti ah.." kata Hasna


"Jangaaan biarin aja... udah ntar dia malah baper lagi.. udah yuks bentar lagi habis waktu istirahat" Maytha mengajak Hasna kembali ke ruangan. Waktu sudah menunjukkan jam 12.35 dan mereka belum shalat duhur.


Ting-ting.. terdengar pesan masuk. Darth Vader


"Saya harus mengikuti rapat tapi Maura tidak ada yang menjaga, dia tidak mau ditemani oleh tim sekretaris umum, bisa bantu kerjanya di ruangan saya?"


Maytha menoleh


"Siapa Arya?"


"Bukan Mbak.. Pak GM minta saya menemani Maura diruangannya soalnya dia musti rapat, Mauranya gak mau ditemani anak-anak sekretaris lantai 9" jawab Hasna lemah, dia berusaha menghindari Pak Reza dan bersyukurnya setelah kejadian usap pipi dia tidak pernah bertemu setelah hampir 2 minggu.


"Ya udah mau gimana lagi, gih pergi sana, izin dulu sama Bu Rika"


"Kamu bener-bener deket sama anaknya Pak Reza.. sekalian aja 'Na kamu nikah sama Bapaknya sekali mendayung dapat 1 perusahaan" ucap Maytha


"Ihhh.. mbak ngomongnya asal banget" Hasna cemberut.


"Emang kamu gak tau keluarga Pak Reza itu pemegang saham 40% dari perusahaan ini, Bapaknya Pak Reza kan salah seorang direksi disini Hasna... beuh kamu gak gaul banget.. Tajir tau dia tuh"


"Banyak uang gak menjamin kebahagian mbak... yang aku lihat dia tuh kaya orang tekanan bathin" Hasna tersenyum


"Mendingan kaya aku, gak banyak keinginan soalnya duitnya juga gak ada...hihihi" Hasna cekikikan sambil masuk ke ruangannya. Musti cepat sholat Duhur dulu sebelum naik ke atas, biasanya rapat mulai jam 1 jadi dia musti naik ke lantai 9 sebelum jam 1.


Jam 12.50 dia sudah naik ke lantai 9. Tadi sebelum solat dia menjawab pesan Pak Reza kalau dia akan naik ke atas setelah sholat duhur terlebih dahulu sambil menunggu Bu Rika pulang makan siang. Tapi sampai jam 12.50 Bu Rika masih belum masuk ruangan akhirnya dia mengirimkan pesan saja dan diperbolehkan oleh Bu Rika.


Begitu keluar dari lift ia melihat Nenek Sihir berjalan di depannya, fuiiih dari belakang siluet tubuhnya nilainya 9, rok selutut dan blazer yang melekat ke badan menjadikan tubuhnya seperti Biola ukuran L.


"Pak GM sudah siap?" tanya Arcy


"Sudah tinggal menunggu Hasna datang.... ah ini dia yang ditunggu-tunggu" Aswin melihat Hasna yang berjalan di belakang Arcy


"Nungguin baby sitter toh" dengus Arcy


"Bagaimana Bu?" Hasna langsung merasa kesal, enaknya aja disebut baby sitter. Bukan meremehkan pekerjaan sebagai baby sitter tapi maksud menyebutkan dirinya dalam posisi itu dengan maksud melecehkan yang tidak Hasna sukai.

__ADS_1


"Kaaaa Asnaaaa.....mola kangeeen udah lama" Maura tiba-tiba muncul dari pintu ruangan Pak GM


"Maaf yaa Hasna jadi merepotkan kamu terus, tadi Maura tidak mau saya tinggal di rumah karena seminggu kemarin saya tinggal ke Tiongkok.


"Saya tadi sudah minta stafnya Bu Arcy untuk menemani, tapi Maura tidak mau malah menangis" Reza merasa tidak enak karena Hasna tampak kesal mukanya.


"Gak apa-apa Pak... sudah lama saya tidak bertemu Maura. Saya juga kangen sama Maura" ucapnya sambil mengusap kepala Maura yang sedang memegang roknya. Sebetulnya Hasna bukan kesal karena diminta menjaga Maura tapi kesal sama nenek sihir yang ada di depannya.


"Bisa kita buka play ground kayanya pak di kantor kita, sudah ada yang bisa menjaga, cocok sama anak kecil" Arcy kembali menyiram bensin


"Jangan bicara seperti itu tidak sopan meremehkan orang yang sudah baik membantu kita" Reza langsung menoleh dan berbicara dengan keras


"Pekerjaannya bagus di TnD banyak inovasi yang dikembangkan, kalau divisi itu terus mengembangkan produk peningkatan SDM yang berkualitas, perusahaan akan berkembang lebih baik. Keuntungan perusahaan itu tidak dilihat hanya dari nilai profit saja tapi SDM yang handal itu aset penting perusahaan" Reza terus mengingatkan Arcy yang tampak kesal dan mendengus mendengar ceramah Reza.


"Saya duluan ke ruangan rapat, mau melihat kesiapan ruangannya" Arcy berjalan pergi. Aswin tertawa cekikikan tanpa suara yang langsung diam saat ditatap Reza.


Ini adalah masa dimana Hasna ingin menguasai tari Balet dan menari dengan iringan soundtrack How'ls Moving Castle: Merry Go Around of  Life di sekitar ruangan. Di telinganya hanya terdengar alunan suara musik klasik dan dia menari mengelilingi Arcy sambil memakai baju balet yang indah.


Imaginasi Hasna terputus oleh tarikan tangan di roknya.


"Mola mau liatin gambal sama Ka Asna" Maura berlari ke dalam ruangan Pak Reza


"Masuk ... tolong temani dia selama rapat, paling lama sampai jam 3" ucap Reza


"Baik pak... gak apa-apa gak masalah, Bapak bisa rapat dengan tenang. Saya sudah ijin sama Bu Rika" Hasna tersenyum


"Kalau kamu mau minum tinggal ambil di kulkas, makanan ada di lemari pojok sana" ucap Reza.


"Tidak usah Pak saya tadi sudah makan siang, saya suka khilaf kalau sudah mulai ngemil gak akan berhenti, lemari bapak bisa kosong...hehehe" Hasna langsung mengambil posisi duduk di sofa dekat Maura


"Saya tinggal yah, rapatnya sudah akan dimulai.. Terima kasih, maaf sekali lagi merepotkan terus" Reza mengambil jas yang tersampir di kursinya.


"Papi ... fitiing" ucap Maura sambil berdiri mengacukan tangannya ke atas. "Ulu uluuu anak koala bikin gemaaay".. Hasna langsung menjembel pipinya.


Reza keluar ruangan sambil tersenyum, Aswin mendampinginya masuk ke lift sambil tersenyum


"Bapak yang dikasih semangat tapi kenapa hati saya yang berbunga-bunga yah Pak" kata Aswin sambil memegang dadanya.


"Eehhmmm..." Reza hanya berdeham mendengar ucapan Aswin dan kembali memasang muka lurus menatap pintu lift.


Sepanjang siang itu Hasna menemani Maura menggambar, sesekali dia memberikan komentar dan petunjuk akan warna dan gambar yang dibuat Maura. Ia sendiri masih sibuk terus bekerja melanjutkan pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan jam 3 sore tapi Pak Reza tidak tampak ada tanda-tanda sudah selesai rapat. Maura sudah terlihat mulai mengantuk, Hasna langsung mencari tas Maura pastii butuh minum susu sebelum tidur, anak koala ini belum tidur siang.


Ternyata dot sudah diganti dengan gelas minum anak, hmmm betul-betul sudah melupakan dot rupanya sekarang.


"Maura mau minum susu yah sekarang"tanya Hasna


"Mauuuu mola ngantuk, papi lama keljanya.." Maura mulai cemberut, hmm sebentar lagi bakalan merengek musti segera disumbat dengan susu ini sih.


"Sebentar Kak Hasna bikin susu dulu" Hasna langsung membuat susu, dia berputar mencari dispenser.


"Ailnya ada disana dengan lemali pintu tolilet" Maura menunjukkan arah dispenser. "Uwhh ini anak pinternya tau aja aku lagi nyari dispenser"


Begitu susu sudah jadi, Maura sudah terlihat mengantuk tapi masih memainkan pinsil gambar.


"Mau minum susunya di sofa?" tanya Hasna

__ADS_1


"Nda.. mau dikursi Papi" Maura menunjukkan kursi kerja Pak Reza


"Wah disitu gak enak, Maura nanti gak bisa tiduran" jawab Hasna


"Papi suka peluk mola sambil minum susu disitu.. Ka Asna duduk disitu" Maura menuntun Hasna duduk di meja kerja Pak Reza


"ehhh... jangan duduk disini nanti Papi Maura marah.. duduk di sofa aja yah" Hasna menolak


"Molaaa mau dudut disyituuuuu waaaaaahhh" Maura menjawab sambil sudah mengeluarkan jurus andalan langit yaitu air yang bercucuran.


"Ehhhh... ya ya... jangan nangis.. Ka Hasna duduk disitu tapi kursinya tarik dulu jangan di meja itu ... sebentar" hadeeuuh ini anak koala bikin riweuh aja pikir Hasna.


Akhirnya kursi kerja Reza ditarik ke tengah ruangan dekat sofa tadi mereka menggambar. Hasna langsung duduk.. "alamak ini kursi enak amat.. langsung posisi nyaman begini, bisa dipakai bobo siang" Hasna tertawa dalam hati.


Anak koala langsung naik ke pangkuan Hasna, tangan kecilnya memeluk badan Hasna. Tidak lupa selalu menggosok-gosokkan hidungnya pada dada Hasna. Hasna tersenyum gerak tubuh Maura seperti kucing di rumahnya yang menggosok-gosokkan badannya ke kaki Hasna kalau minta makanan.


"Maura suka kangen sama Mama Maura gak" tanya Hasna pelan, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Mama mola meninggal waktu lahilin mola… kata Papi adik mola yang di sulga minta ditemenin kasian sendilian" Maura menjawab dengan nada biasa saja, tangannya memainkan sikut belakang Hasna.


Hati Hasna langsung tercekat mendengar ucapan Maura, Ya Allah sedih banget gak pernah bertemu dengan ibunya, matanya langsung berair mendengar suara Maura.


"Kata ka ujan mama mola tantiiiik kaya mola.. tapi kalo mola liat di kamal papi mukanya Mami kaya kaka ujan" Maura mengangkat mukanya dari dada Hasna dan menjelaskan dengan muka serius


Hasna langsung ingin menangis.


"Pasti cantik, Maura cantik Kaka Hujan cantik... pastinya mama Maura cantik" dipeluknya Maura. Hatinya tidak kuat membayangkan perasaan Maminya Maura yang harus meninggalkan anak-anaknya saat masih kecil dan bayi yang baru dilahirkan.


Tanpa terasa Maura tertidur di pelukan Hasna, hati Hasna terasa hangat dan pedih bersamaan, membayangkan sedihnya perasaan anak yang ditinggalkan dan membayangkan perasaan ibu yang terpaksa meninggalkan anak-anaknya karena maut yang memisahkan mereka.


Perasaan itu menekan Hasna sehingga merasa lelah dan tertidur dengan air mata yang menggenang di matanya. Keheningan di ruangan itu membuat dua mahluk Tuhan itu saling memberikan kekuatan.


Reza POV


Aku baru bisa kembali ke ruangan jam 4, rapat ternyata diperpanjang hingga jam kerja berakhir karena peserta ingin memiliki kesepakatan untuk dilanjutkan oleh divisi masing-masing sebagai tindak lanjut. Perasaan lelah saat masuk ke dalam ruangan langsung disambut oleh pemandangan Maura yang sedang memeluk Hasna di kursi kerjaku.


Aku melihat Hasna sedang tertidur sambil mendekap Maura "Perempuan ini mudah sekali tertidur" senyum tanpa sadar muncul melihat pemandangan ini. Perlahan ku hampiri mereka dan berjongkok di depan kursi.


"eh kenapa ini ada air mata di sudut matanya, apa dia kesal, tapi kenapa dia memeluk Maura erat seperti ini... kenapa dada ini..." Aku menatap mukanya tampak damai, ku lihat tangannya yang memegang Maura, tangan yang kemarin dipegang laki-laki temannya itu, kenapa aku merasa kesal tangan ini dipegang oleh dia.


Aku raih tangan itu, kecil halus tapi kokoh, ada cincin kecil melingkar di jari manisnya, kukunya pendek tidak seperti perempuan lain yang senang memelihara kuku hingga panjang.


Tangannya terasa hangat dan lembut digenggam. Tiba-tiba terasa tangannya menggenggam, aku liat ternyata dia sudah bangun dan menatapku. Kenapa matanya terlihat sedih seperti itu, tanpa sadar tanganku mengusap air mata di sudut matanya.


"Maaf.. Pak .. tadi saya sedih mendengar Maura cerita kalau ibunya sudah meninggal saat melahirkan dia, dan katanya dia cantik seperti Maura... saya sedih pak mendengarnya" tangannya semakin menggenggam tanganku, air matanya terus mengalir.


Entah kenapa perasaaan ini seperti campur aduk melihat pengakuan dan tatapan matanya, entah kesadaran dari mana rasanya hati ini seperti ingin meledak melihatnya.


"Kamu mau menjadi ibu untuk anak-anakku Hasna"


Eh.......


***********


Helooooowww... tolong susut air matanya mbak... tisue mana tisue....


Udah sampai titik ini cukup yaaah... hatiku masih senud-senud.... oya jangan lupa dengerin lagu soundtrack How'ls Moving Castle: Merry Go Around of Life  .... sambil ngasih vote like dan comment... hikssss.

__ADS_1


************


__ADS_2