
Seminggu berlalu sepulang dari menonton konser BigBang di Singapura, kenangan yang akan diingat terus oleh Hasna sepanjang hidupnya. Selain ia bisa melihat pujaan hatinya G Dragon, di kota itu ia telah mencapai jati dirinya sebagai seorang istri bagi Reza. Sudah tidak ada lagi keraguan dalam hatinya apakah pernikahan yang ia lakukan hanya sekedar untuk menjadi ibu dari Maura dan Hujan. Karena semenjak di Singapura ia telah menjadi istri secara lengkap dari pagi hingga malam.
Reza memilih tidur di kamar Hasna setiap malam, ternyata ia memang memiliki suami yang sangat pintar dalam memanipulir kondisi dengan Maura. Saat mereka bertemu Maura nyaris tidak mau lepas darinya. Ada rasa haru pada diri Hasna saat ia baru bisa bertemu dengan Maura saat mereka dijemput untuk ke Bandara untuk pulang. Melihat sikap Maura yang sangat posesif pada Hasna, Mama Bertha dan Isyana langsung tertawa.
“Maura… Bunanya nanti jangan ditinggalkan yaah… nanti diambil sama Papi setiap malam ... hahahaha” Isyana langsung tertawa puas melihat Maura yang langsung mengeratkan pelukan pada Hasna.
“Maura sudah besar Aunty... sudah school.. Kalau sudah school sudah berani tidur sendiri” jawab Reza tenang. “Teacher suka bertanya sama Papi… bagaimana Maura apakah sudah berani tidur sendiri.. Papi bilang Maura its a big girl… tidak mau kalah dengan Baby Mikail yang tidur sendiri”
“Oww iya betul… tiga malam bersama Granny juga Maura senangnya tidur sendirian gak musti ditemani lagi sekarang… cucu Granny betul-betul sudah besar” Mama Bertha menguatkan Reza supaya Maura mau tidur sendiri, dan ternyata hal itu terbukti saat mereka sampai ke Indonesia, malamnya Maura sudah memilih untuk tidur sendirian. Ia hanya ingin ditemani Hasna dulu sebelum tertidur, dan selama kurang lebih tiga hari, ternyata anak koala itu benar-benar menikmati kemandiriannya. Terkadang saat Hasna datang untuk menemaninya tidur, ia sudah terkapar karena kelelahan setelah seharian bermain di sekolah dan di rumah.
Hari Sabtu ini keluarga dari Bandung datang, karena Hasna tidak bisa pulang ke Bandung dengan alasan Reza sibuk menebus pekerjaan yang ditinggalkannya di Hari Senin kemarin. Tepat jam 10.15 Hasna mendengar kedatangan mobil di luar ternyata betul saja mobil Ayah yang ia lihat di depan. Hasna langsung berlari keluar.
“Ahhhhhh…. Alhamdulillah cepat juga sudah datang… Maura Hujann… Enin sama Aba nya sudah datang… ehhh Om Emran yang nyetirnya” Hasna memanggil anak-anaknya yang sedang asyik menonton di ruang keluarga.
“Ayaaahh… Mama welcomeee... “ Hasna langsung memeluk Mama dan Ayah…
“Welcome ..welcome … assalammualaikum kituh ari ketemu orang tua teh.. Kamu karek ge sakali ka Singapur udah jiga menantu Bu Bertha yg orang asing aja” ucap Mama sambil menoyor kepala Hasna yang langsung cekikikan mendengar ceramah Mama.
“Ini juga belum selesai atuh Maaa… assalamualaikum Bu Haji… Pa Haji… Mama Ayah gimana udah sehat? Udah gak pusing lagi?” Hasna langsung melihat Ayah yang hari ini tampak gagah memakai topi pet.
“Alhamdulillah sudah stabil lagi tekanan darahnya. Keukeuh mau ke Jakarta pengen liat teteh sebelum kuliah katanya, mau lihat mobil teteh yang baru” Mama langsung tertawa mengejek ke arah Ayah yang tampak senyam senyum malu, ternyata sejak kemarin sibuk hilir mudik tidak sabar ingin segera ke Jakarta menengok Hasna. Mendengar cerita Hasna dibelikan mobil baru dan mendapatkan jaket oleh-oleh dari Reza membuat ayah merasa tidak sabar.
“Liat yahh mobilnya bagus ga?” Hasna menunjukkan mobil barunya yang terparkir cantik di garasi. Ia menggunakan mobil hanya untuk mengantar Maura ke sekolah, belum berani mengantar Hujan karena agak jauh. Masih merasa takut belum hapal arah jalan di Jakarta daripada malah tersesat dan membuat Hujan terlambat.
“Ckckckck mobil teteh lebih gaya daripada punya Ayah.. ini namanya nyalutak” Emran langsung nyambung melihat mobil Hasna. “Coba sama Ade dibawa keliling-keliling kompleks dulu pengen tau kalau mobil baru enak gak?” Emran langsung saja nembak ingin mencoba. “Ayo Om.. aku temanin.. Ayo Aba kita jalan-jalan di ujung jalan ada tempat jajan baru aku mau cobain jajan disana dari kemarin gak ada temen” Hujan langsung lari mengambil kunci mobil ke dalam rumah.
“Ehhhh ini gadis bukannya salam malah ngajak jalan-jalan” Hasna menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Hujan yang bersemangat saat keluarga Bandung datang. ‘Mola juda mau ikut sama Aba sama Om Emlan” Maura langsung ikut-ikutan mengambil sandal dan mau masuk ke mobil.
“Eleuh-eleuh ini Enin meni gak ada ngajak salam…” mama langsung protes karena di cuekin sama cucu-cucunya. “Hehehehe mau salim sama Enin sekalian sekarang” Hujan langsung salim dan memeluk. “Kamu udah gede aja, keliatan gadis sekarang mah.. Musti dijaga teh jangan sampai lepas perhatian” Mama langsung pasang petuah melihat Hujan yang semakin besar dan cantik.
__ADS_1
“Heey.. jangan pakai celana pendek kalau keluar.. Sana ganti baju dulu kakanya pakai celana panjang” Hasna langsung menangkap Hujan dan memutar balik supaya berganti baju dulu. “Mola ndak pake telana pendek…” Maura langsung khawatir dilarang ikut. “Iya Maura langsung masuk aja ke mobil duduk barengan sama Aba sana”
Suasana di hari Sabtu itu langsung menghangat saat semua keluarga berkumpul. Ternyata Mama membawa masakan dari rumah supaya bisa dinikmati saat makan siang. Nasi liwet dan teman-temannya yaitu jengkol, ikan asin, tempe dan tahu, ayam goreng serundeng, ikan mas goreng, sayur lalap lengkap tidak lupa sambal tomat yang dibuat dadakan supaya segar.
Hasna sibuk menelepon Reza mengajaknya pulang terlebih dahulu supaya bisa makan bersama-sama keluarga. Tapi rupanya kesibukan Reza tidak bisa diganggu, malahan ia menyampaikan tidak bisa pulang hingga malam karena harus bertemu klien untuk menindaklanjuti pertemuan yang dilakukan minggu kemarin. Ia menyampaikan salam saja dan meminta maaf tidak bisa bertemu.
Kekangenan Hasna akan keluarga terobati saat bertemu orang-orang tercinta. Semua yang berkumpul mendapatkan kebahagiaan yang sama. Ayah mendapatkan hadiah jaket yang keren dari Reza langsung dipakai, Mama Bertha menitipkan teh kesehatan untuk Ayah, parfume untuk Mama dan cokelat untuk Emran dan Kak Angga. Saat di Mall Hasna membeli beberapa barang juga sebetulnya kaos untuk kakak dan adiknya, dan saat melihat toko perhiasan, ia kemudian ingat kalau perhiasan di Singapura terkenal unik sehingga ia memutuskan membeli beberapa gelang yang dilapisi emas untuk sahabatnya dan Mama. Ia juga membeli gelang yang lucu dan cantik untuk Hujan dan Maura. Sampai sekarang gelang itu mereka pakai, karena memiliki model yang sama dengan yang dipakai olehnya.
Mama sangat terharu saat Hasna membelikannya gelang, ia tidak menyangka kalau Hasna membeli gelang yang terlihat sangat elegan.
“Bagus ya Ma modelnya? Yang punya Mama paling mahal itu… “ Hasna mematut-matut gelang yang dipakai Mama. “Mama suka gak?” tanyanya, Mama langsung tersenyum dan mencium Hasna. “Mama suka semua yang dibelikan kamu … kamu selalu ingat membelikan sesuatu untuk Mama.. Mama akan pakai gelang ini setiap hari.. Nanti kalau ada yang tanya Mama akan bilang ini dibeliin anak Mama dari Singapur” ucap Mama sambil tersenyum.
“Jangan dibilangin gitu ihh malu-maluin..” Hasna langsung cemberut, bayangan Hasna nanti orang akan menyangka Mama ujub lagi menyombongkan barang kepada orang lain.
“Ayah nanti akan bilang sama teman-teman di kantor, ini jaket Singapura dari menantu” Ayah langsung berputar gaya seperti seorang model. Hasna hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Ayah. “Ihh ayah kan sudah sering pergi keluar negeri juga, meni kaya orang yang gak pernah dapat barang dari luar” Hasna cemberut.
“Ehhh kamu dasar budak borokokok awas jangan coba-coba pinjam jaket ini apalagi dipakai ke gunung… ayah bilangin sama Mas mu nanti” ayah langsung mengancam. “Ade teteh lupa tadi Mas Reza bilang dia punya hadiah buat kamu disimpan di kamar sebentar” Hasna langsung berlari ke kamar Reza, karena kecil sampai lupa belum disampaikan kepada Hasna sebelumnya.
“Ini de..” Hasna sendiri belum tahu isinya apa karena mereka memisahkan diri saat di ION Mall setelah keluar dari toko La Senza. Emran langsung membuka hadiah dari Reza dengan penuh semangat, “Waaaahh hahahahhahaha mahal ini...hahahhaha… lebih mahal dari jaket ayah” Dia langsung bersemangat dan membuka pembungkusnya, owh ternyata headset dari merk terkenal kualitas suaranya. Hasna tersenyum melihat adiknya yang sangat senang, memang untuk anak seusia Emran headset adalah kebutuhan primer.
Hasna menitipkan oleh-oleh untuk Aurel dan Ghina pada Mama, mereka berjanji akan datang mengambilnya ke rumah, sedangkan untuk Ema Hasna menitipkan tas dengan tulisan Singapura segede gajah, di dalam tas disimpan cokelat dan balsam Tiger. Balsam ini menjadi oleh-oleh khas dari SIngapura. Ema pasti suka dan akan memakainya kalau pulang ke kampung, terbayang banyak gayanya Ema.
Keluarga Bandung pulang setelah sholat Isya, asalnya Ayah ingin bertemu dulu dengan Reza tapi karena tidak ada kabar dari Reza walaupun Hasna sudah mengirimkan pesan kalau mereka menunggunya. Akhirnya Mama memaksa untuk pulang karena khawatir nanti Emran akan mengantuk kalau menyetir terlalu malam.
Jam sudah menunjukkan hampir jam 11 malam dan belum ada tanda-tanda Reza akan pulang, tidak ada pesan ataupun telepon. Tidak seperti biasanya, Hasna merasa tidak tenang khawatir terjadi sesuatu. Akhirnya ia mengirimkan pesan pada Aswin untuk menanyakan kabar biasanya mereka selalu bersama. Hampir 10 menit Hasna menunggu jawaban pesan dari Aswin dan tidak ada juga jawaban hingga akhirnya Hasna memutuskan untuk menelepon. Hingga dering ketiga barulah ada jawaban.
“Haalo” terdengar suara serak seperti orang bangun tidur, tampaknya ia sudah tidur.
“Mas maaf mengganggu ini Hasna, mau tanya kalau Mas Aswin lagi dengan Mas Reza kah? Aku khawatir soalnya belum pulang, trus aku telepon dan kirim pesan juga tidak menjawab” Hasna mencoba tenang. Kalau Aswin sudah tidur lalu kemana suaminya?
__ADS_1
“Oww maaf Mba Hasna tadi saya pulang duluan jam 7 karena kondisi badan sedang tidak fit. Tadi kami ada meeting dengan tamu dari Korea kemudian mereka ingin lanjut sambil makan malam. Karna kondisi saya tidak fit jadi hanya Pak Reza dan Bu Arcy yang menemani mereka ke Restaurant… Hatchiiiii” terdengar suara Aswin yang bersin-bersin, rupanya memang sedang sakit.
“Owh ya gak apa-apa maaf, saya jadi mengganggu istirahat Mas Aswin.. Selamat malam Mas” Hasna jadi merasa bersalah telah mengganggu orang yang sedang sakit.
“Saya telepon Bu Arcy kalau begitu menanyakan posisi dimana?” Aswin terdengar jadi khawatir karena mendengar Reza belum pulang.
“Gak apa-apa, gak usah Mas.. istirahat saja, nanti saya tunggu saja mungkin memang masih menemani tamu… Maaf ya Mas Aswin semoga cepat sembuh… Malam” Hasna segera mengakhiri panggilan telepon. Apalagi yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berdoa agar suaminya bisa segera pulang dengan selamat.
Tidak sampai 10 menit terdengar pesan di hape Hasna ternyata pesan dari Aswin. Rupanya ia tetap melaksanakan niatnya untuk menanyakan posisi Reza kepada Arcy.
“Ternyata mereka ke Restaurant Korea dan masih disana, saya sudah sampaikan kepada Bu Arcy kalau Pak Reza tidak segera pulang sekarang, acara malam dengan tamu Korea akan sampai ke Pak Ardy” Hasna sangat bersyukur Reza memiliki asisten seperti Aswin, tampaknya ia tahu kalau titik lemah Arcy adalah Dewan Komisaris.
Hasna menunggu hingga akhirnya tertidur di sofa ruang keluarga, ia terbangun saat mendengar suara gedoran di pintu. Rupanya suaminya pulang, kenapa sampai menggedor pintu bukankah ia sudah mengetahui kombinasi kunci pintu. Saat Hasna membuka pintu ia hampir terjengkang karena Reza sudah ada di depan pintu dan mendorongnya, Pa Agus tampak kepayahan memegang badan Reza yang tinggi besar. Kenapa lagi suaminya kenapa sempoyongan seperti ini, dan urghhh bau apa ini pikir Hasna.
“Pak Agus… kenapa ini?” Hasna berusaha menahan tubuh Reza yang seperti sedang tertidur. Bajunya kotor dan bau asem.
“Aduuuh bu ini Tuan Reza kenapa jadi begini, tadi di mobil juga muntah, pas keluar dari Restaurant jalannya juga dipapah oleh Bu Arcy, saya tadi harus mengantarkan Bu Arcy dulu jadi lama sampai ke rumahnya” Pa Agus tampak berusaha menahan Reza untuk tetap bisa berdiri.
“Kayanya tadi Tuan minum alkohol bu” Hasna langsung terbelalak matanya, minum alkohol berarti sekarang suaminya mabuk… “Astagfirullahaladzim…. Aku belum pernah melihat orang yang mabuk rupanya seperti ini… Ya Allah pantas dilarang untuk menyentuh minuman beralkohol”
“Pa Agus tolong saya kita bawa ke kamar saja.. Saya mau bersihkan dulu” Hasna langsung menyeret Reza ke kamar bawah, untung anak-anak semua sudah tidur bagaimana kalau mereka melihat Papinya seperti ini. Setelah membaringkan Reza di kasur, Pa Agus langsung pamit untuk membersihkan mobil, walaupun Hasna melarang untuk melakukannya saat itu tapi Pa Agus bersikeras katanya takut mobil jadi bau karena muntahan.
Hasna segera membuka pakaian Reza, disekanya dulu sebelum diganti dengan pakaian tidur supaya bau muntahannya hilang. Hasna tidak kuat mencium bau alkohol yang tercium dari Reza, bau yang tidak ia kenal, kalau benar Reza minum alkohol di Restaurant Korea artinya dia minum Soju, yang ia baca kalau Soju lebih keras daripada Sake sehingga orang yang tidak terbiasa akan langsung terkapar.
Setelah selesai mengganti pakaian Reza dengan susah payah akhirnya Hasna menyelimuti suaminya, kenapa bisa sampai sejauh ini sih acara menemani tamu, bukankah biasanya juga tidak sampai pada acara minum alkohol bersama. Samar-samar Hasna mendengar Reza menggumam
“Arcy ...sudah sudah cukup….”
Hasna langsung berkerut…. Apa yang cukup… Nenek sihir ini ternyata masih berulah
__ADS_1