Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Adu Kuat


__ADS_3

Acara lamaran semalam berakhir hingga hampir jam 10 malam. Ayah dan Pak Ardy ngobrol sampai susah berhenti, entah apa yang diobrolkan mereka berdua sampai tertawa-tawa tidak berhenti. Akhirnya Isyana memilih pulang lebih dulu karena baby Mikail yang sudah harus segera ditidurkan dan merasa lelah.


Maura sih masih segar karena tidur semenjak magrib hingga malam, hingga akhirnya Mama Bertha mengancam akan meninggalkan Pak Ardy dan acara lamaran pun ditutup dengan serah terima bingkisan yang disiapkan oleh keluarga Reza


Entah kapan Mama menyiapkan kue-kue dan makanan khas Bandung, sampai akhirnya seperti suasana tukar kado antar keluarga. Bu Isna yang tampak memeluk Hasna dengan lama, beliau tampak terharu melihat Hasna.


“Nanti main yah ke rumah Mama Isna, gak jauh kok dari rumah Reza, Mama suka kesepian di rumah kalau Maura dan Hujan gak ada” ucapnya dengan hangat.


Hasna langsung mengangguk-angguk dengan semangat, baginya terlepas beliau adalah ibu dari Bu Mitha tapi bahasa tubuh dan rangkulan dari Bu Isna terasa tulus dan hangat di hatinya. Tidak tampak sedikitpun rasa cemburu atau kesal karena Hasna menikahi menantunya. Bekas menantunya lebih tepatnya, tapi rasanya istilah bekas menantu tidak tepat karena tidak ada yang namanya bekas anak.


Saat berpamitan semuanya bersalaman, sampai kemudian saat Reza berpamitan. Emran langsung nyeletuk


“Teh salim dong sama calon suami, masa cuma dadah-dadah aja” Emran langsung senyam-senyum ngeselin


“Apaan sih kamu” Hasna langsung melotot.


“Eh iya teteh, Gak apa-apa dari sekarang dibiasakan salim sama Pak Reza” ucap Mama


Hasna langsung melirik Pa Reza, yang dilirik diam saja menunggu reaksi Hasna.


“Hmm ya sudah gak rugi salim juga emang si Bapak lebih tua” pikir Hasna


“Semoga selamat sampai tujuan Pak.. sampai jumpa di kantor. Terima kasih atas segalanya” ucap Hasna sambil mengambil tangan Pak Reza dan menempelkan di dahinya. Reza langsung tersenyum melihat reaksi Hansa


“Jangan panggil Pak lagi yah.. Panggil Mas Reza saja sekarang, kan bukan di kantor” ucap Reza sambil tersenyum.


“Ehh Bapak tuh.. Mulai besok aja berlakunya.. Sekarang mah udah nanggung” jawab Hasna cemberut.


“Ihiiiw Mas eung… “ ucap Emran yang langsung dikeplak sama Mama.


“Buna besok Mola mau main jalan-jalan sama baby Mikail Buna ikut yaaa”


“Buna besok musti bantuin Aba bersihin mobil, Mola jalan-jalan sama Aunty dan Kaka Hujan yaa… nanti ketemu lagi di Jakarta”


“Kasih bhabhay dulu dong” ucap Hasna sambil terus melambai hingga mobil menjauh.


Hasna ingin menghabiskan waktu libur besok dengan keluarga, mumpung Kak Angga pulang ke Bandung, rasanya dengan rencana pernikahan yang sudah sangat dekat sayang menghabiskan waktu dengan orang lain saat libur.


Aurel dan Ghina langsung memilih menginap di rumah malam itu dengan alasan tidak akan ada waktu lagi untuk bisa berkumpul dengan calon manten. Padahal sebetulnya mereka ingin mencari informasi lebih banyak tentang proses perkenalan Hasna dan Reza sehingga mereka memutuskan menikah.


Dan betul saja semalaman mereka menghabiskan waktu untuk ngobrol sampai hampir jam 3 malam. Sampai akhirnya ayah menggedor pintu dan mengancam kalau sampai jam 3 tidak tidur juga mereka disuruh ngobrol di luar menemani satpam ngeronda.


Sepulang Aurel dan Ghina, Hasna menghabiskan waktu dengan Mama dan Ayah untuk merancang acara pernikahan. Dan akhirnya disepakati untuk melakukan pesta yang tidak kaku lebih intim dengan konsep outdoor. Hanya mengundang teman terdekat dari Ayah dan Mama serta teman dekat dari Hasna saja serta keluarga besar.


Secara teknis pernikahan disetujui untuk diurus oleh Wedding Organizer yang disiapkan oleh pihak Keluarga Pak Reza karena secara kepentingan relasi keluarga Par Ardy lebih banyak daripada keluarga Ayah. Walaupun sebetulnya pernikahan Reza ini adalah pernikahan yang kedua kali, tapi Ayah dan Mama ingin mereka lebih mempertimbangkan kepentingan calon besan dalam mengadakan standar acara.

__ADS_1


Malamnya Hasna pulang dengan Angga, sepanjang perjalanan Kak Angga relatif tidak banyak berbicara, hanya terkadang suka memeluk saja sambil berkata kalau sebentar lagi dia tidak bisa bersama-sama dengan Hasna lagi seperti dulu.


Hasna pun heran walaupun berbeda hanya setahun setengah dengan Kak Angga tapi mereka relatif jarang bertengkar, terutama semenjak Kak Angga masuk SMA. Dia tidak lagi bersikap egois dan lebih pendiam, mungkin karena sudah masuk masa puber. Sebelumnya sejak dari kecil sampai SMP Kak Angga selalu mau menang sendiri dan lebih sering bersikap kasar. Tapi sikapnya berubah semenjak masuk SMA jadi lebih ngemong dan protektif pada Hasna dan Emran.


Sesampainya di kamar, Hasna langsung memasangkan poster GD yang selama ini tergulung di sudut kamarnya. Ia belum sempat memasang poster ini sampai kemarin Hujan menanyakan mengapa tidak ada poster GD di kamarnya. Waktunya hanya 30 hari lagi sampai dia harus segera menikah dan tidak bisa lagi memandang poster GD sesuka hatinya. Akan sangat aneh kalau perempuan menikah masih suka memandang lelaki lain pikirnya.


“GD Oppa apakah kamu tidak berniat untuk segera menikah?”


“Kamu masih punya waktu 30 hari kedepan untuk bisa datang ke Indonesia dan mengajak aku buat nikah?” ucap Hasna sambil mengusap poster GD.


“Hasna mikir kamu mikir… lagian kalau GD datang emang kamu bakalan mau kawin lari sama dia, terlalu jauh khayalan kamu… beda agama, ngomong gak bisa, dicoret dari kartu keluarga… ihhhh amit-amit” Hasna langsung merebahkan dirinya di kasur.


Halusinasi apapun akan ia lakukan demi menutup kegundahan dan kebingungannya saat ini, tapi Hasna kembali mengingat bahwa semua yang terjadi merupakan takdir yang ditetapkan Allah kepadanya, kembali Hasna menjadi tenang. Berserah diri dan ikhlas mungkin itu jalan yang terbaik pikirnya, walaupun sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dan kelemahan pasti akan selalu kembali muncul kegalawan itu.


Saat terbangun, Hasna menetapkan diri untuk menikmati hari-hari terakhir yang dimilikinya untuk bekerja dan menikmati waktu terakhirnya sebagai seorang single dengan baik. Baru saja ia berpikir seperti itu, terdengar suara pesan di Hp nya. Darth Vader.


“Hari ini jangan lupa memasukan surat pengunduran diri”


“Hmmm subuh-subuh kirim pesan hanya seuprit yang isinya komando… orang ini benar-benar tidak bisa berbasa basi” pikir Hasna


“Masih ada waktu sampai akhir bulan Pak, saya masih ingin bekerja sampai batas waktu yang maksimal” tulis Hasna


Langsung berubah menjadi panggilan telepon. Hadeuuuh….


“Assalamualaikum…” ucap Hasna


“Ini kan membicarakan urusan kantor” jawab Hasna


“Kalau kamu tidak mengajukan surat pengunduran diri sekarang saya akan membuat memo untuk meminta kamu berhenti”


“Pilih mana?”


“Ehh pake ngancam segala.. Bapak pagi-pagi ngajak ribut ini” Hasna langsung bangun dari kasur.


“Bukan mengancam tapi kamu harus sudah mulai fokus mempersiapkan untuk acara pernikahan”


“Memangnya apa saja yang harus saya persiapkan, bukankah semuanya akan disiapkan oleh WO, kemarin Mama dan Ayah sudah menyepakati untuk tempat pernikahan, sisanya bisa diurus oleh WO”


“Ada banyak yang harus kamu siapkan, Cincin Pernikahan, Mahar, Perlengkapan Seserahan, Design Kartu Undangan, Setting untuk tempat pernikahan dan banyak lagi yang harus kamu urus”


“Berikan listnya pada saya nanti saya buat check list nya dan saya selesaikan tanpa harus berhenti bekerja sekarang”


“Saya harus membuat laporan hasil TOT dan evaluasi hasil project itu”


“Saya tidak bisa berhenti setengah jalan dalam mengerjakan sesuatu”

__ADS_1


Terdengar suara Reza menghela nafas


“Kapan kalau begitu kamu akan mengundurkan diri”


“Begitu saya sudah selesai mengerjakan pekerjaan saya akan langsung mengundurkan diri”


“Saya juga tahu tanggungjawab saya untuk menyiapkan pernikahan, jangan khawatir saya orang yang sudah biasa membagi waktu”


“Kalau saya tidak bisa menghandle nya nanti saya beritahu Bapak jangan khawatir”


‘Saya mau solat shubuh dulu.. Assalamualaikum” Tut


Sekarang Hasna yang lebih dulu menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Reza, rasa kesal Hasna karena Reza mengancam akan memecatnya karena tidak mau mengikuti keinginannya menjadikan suasana di pagi ini menjadi  siap tempur.


Sesampainya di kantor Hasna langsung mengumpulkan data hasil pelatihan seminggu kemarin. Kalau dilihat sekilas tampaknya hasil evaluasi pelatihan nilainya lebih baik dari TOT tahap 1. Tapi ia belum membandingkan hasil antara ketiga pabrik tersebut.


Tidak terasa waktu terus bergulir dengan cepat hingga jam 11 tiba-tiba teleponnya berbunyi.  Darth Vader


“Apalagi ini si Bapak masih belum puas dengan alasan tadi pagi rupanya?” pikir Hasna


“Halo.. “ Hasna menjawab telepon tanpa salam, pikirannya sudah terlalu penuh dengan data hasil pelatihan.


“Kamu saya tunggu di ruangan sekarang” Tut… “Ehhhh… Kuyaaa dia langsung ngebales matiin telepon lagi” dasar manusia pendendam, disangkanya aku bakalan langsung nurut.


Hasna kemudian melanjutkan lagi analisa datanya, sedikit lagi tanggung tinggal membandingkan antara hasil tes sebelum pelatihan dan setelah pelatihan untuk bisa dilihat perbedaan nilai antara keduanya, setelah itu baru dia akan ke atas dan tak berapa lama kemudian teleponnya kembali berbunyi.


“Ha….” belum sempat dia mengucapkan salam sudah langsung dipotong


“Bisa tidak sekali-kali mengikuti perintah tanpa banyak membantah”


“Bisa Pak… asal jelas alasannya apa”


“Barusan Bapak meminta saya ke ruangan Bapak, tanpa menjelaskan untuk apa, saya kan bukan sekretaris Bapak yang harus masuk ke ruangan Bapak tanpa alasan apapun”


“Pihak Wedding Organizer sudah menunggu dari 15 menit yang lalu, sekarang saya minta kepada Nona Hasna yang sangat sibuk untuk meluangkan waktunya datang ke ruangan saya di Lt 9 untuk mendiskusikan mengenai rencana dan apa yang harus disiapkan untuk acara pernikahan nanti”


“Bagaimana cukup jelas untuk bisa datang ke ruangan saya” tutttttt…


Ahiiiiw.... Boz dimana mana selalu benar.....


 


 


********************************

__ADS_1


Update story kepanjangan jadi gak bisa direview... beginilah nasib penulis yang terlalu berdedikasi, sekalinya menulis kepanjangan jadi musti dibagi 2 story, kalau udah dibagi 2 musti ditambah lagi ceritanya biar gak kependekan.... nasib-nasib... pengen bobo cepat jadi malah ngedit story dua kali... awas aja kalau gak dikasih vote saya bilangan sama Emran biar diketokin komentarnya 1/1..... Lanjut di story nya yah... tapi jangan kebiasaan minta up story banyak... kalian tuh suka tuman.


*********************************


__ADS_2