Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Makeup Minimalis Ekonomis


__ADS_3

 


 


Siang itu Hasna segera bergegas menuju sekolah Hujan. Sebelumnya ia tidak tahu banyak sekolah Hujan, hanya sebatas sekolah Islam yang berada di Jakarta Selatan. Ia segera mencari dokumen sekolah Hujan di kamar, dicarinya informasi tentang nama sekolah dan kelas Hujan. Saat mencari tahu dokumen Hasna baru menyadari bahwa ia kurang dekat dengan Hujan sampai tidak tahu tentang sekolahnya.


Hasna menggunakan mobil online saat pergi, ia bisa membawa kendaraan tapi yang tidak ia kuasai adalah jalanan Jakarta. Salah belok dikit bisa-bisa sampai ke Bandung bukannya datang ke sekolah. Untungnya Maura  dalam mode bisa ditinggalkan setelah drama pagi tadi, diberikan pengertian kalau Hujan dimarahi di sekolah sehingga Hasna harus segera pergi sendiri, menjadikan Maura segera menurut.


Saat Hasna tiba di sekolah ia langsung menuju ruangan Bimbingan dan Konseling yang terletak di tengah antara kelas dan kantor guru. Begitu masuk ke dalam ruangan, tampak seorang guru muda yang sedang duduk di meja paling depan, gayanya tampak santai menghadapi beberapa orang murid yang sedang duduk di depannya. Ada tumpukan handphone dan alat-alat makeup di meja. Ada yang disimpan khusus dalam kotak box di atas meja sebagian lagi tergeletak di atas meja. Tidak tampak Hujan di ruangan itu.


“Assalamualaikum … Maaf ini ruangan Bimbingan dan Konseling” Hasna tersenyum pada guru muda itu.


“Waalaikum salam, ya betul mbak.. Mau bertemu siapa?” guru muda itu senyum-senyum gak jelas kepada Hasna. Hmm ini senyam senyum tidak profesional sekali sebagai guru.


“Tadi suami saya mendapatkan telepon kami diminta datang ke sekolah, karena putri kami ada bimbingan di sini” Hasna berusaha tampak serius, jangan sampai diremehkan oleh guru kenyes-kenyes yang tampak di depannya.


“Waaahh… menikah usia berapa anaknya sudah sekolah SMP. Jangan main-main mbak, ini pasti kakaknya atau Tantenya yah.. Orangtuanya pada sibuk” guru muda kenyes-kenyes malah ngoceh gak jelas. Tak lama kemudian keluarlah seorang guru perempuan yang usianya sudah setengah baya.


“Mbak wali dari siapa?” guru perempuan itu langsung bertanya kepada Hasna.


“Saya orangtua dari Raina Safira Rafa Bu” Hasna langsung mengalihkan pandangannya kepada guru perempuan. Yang ini keliatannya lebih profesional dari pada guru kenyes-kenyes.


“Raina ada di ruangan yang sebelah soalnya tadi dia bersikeras kalau itu bukan barang punya dia, tapi tidak mau memberitahu siapa pemilik barangnya” Guru perempuan ini mukanya tidak bersahabat sekali, kelihatan kesal soal Hujan.


“Barang apa bu?” Hasna langsung degdegan, semoga bukan barang terlarang, Ya Allah gimana kalau barang yang aneh-aneh.


“Perlengkapan makeup dan dia juga membawa handphone” ucap guru perempuan.


“Maaf bu perkenalkan dulu saya Hasna, ibunya Hujan… eh Raina” Hasna langsung memperkenal kan diri, kesantunan harus ditunjukkan kepada guru sekolah supaya merasa dihargai sebagai pendidik.


“Masa ibunya … terlalu muda kan Bu Lis kalau jadi ibunya Raina” Guru kenyes-kenyes masih saja ngomporin gak jelas. Beberapa siswa perempuan yang ada di ruangan tampak berbisik-bisik. Heuuuuh gemesss pengen ngejewer guru laki-laki ini. Palingan umurnya masih 23an, ga level di remehkan sama anak purunyus kaya gini.


“Anda kakanya atau Tantenya? Saya Lisda penanggung jawab Bimbingan dan Konseling untuk kelas 9” Bu Lisda kemudian menyambut uluran tangan Hasna.


“Saya ibunya Bu Lisda” tiba-tiba terpikir oleh Hasna bagaimana kalau Hujan memanggilnya Tante seperti biasa kalau di rumah.


“Maaf ada masalah apa ya Bu sampai kami dipanggil harus ke sekolah” Hasna langsung masuk ke duduk perkara, tidak dihiraukannya guru laki-laki yang masih senyam senyum gak jelas kepadanya.


“Iya Raina membawa peralatan makeup dan handphone ke sekolah. Kalau handphone kami masih mentolelir selama dimatikan kalau di sekolah. Masalahnya ia membawa makeup dan tidak mengakui kalau itu makeup punya dia, tapi tidak mau menjelaskan milik siapa”


“Itu sebabnya kami memisahkan dia dengan teman-temannya yang lain karena dia marah dan bersikeras kalau itu bukan makeup punya dia, kami hukum dia ke ruang isolasi sampai dia mengakui siapa pemilik makeup tersebut”


“Jangan-jangan make up yang tadi disimpan di box itu dengan handphone, kok Hujan bawa makeup lengkap” Hasna langsung berpikir cepat, kemungkinan milik temannya dan disimpan di tas Hujan.


“Wahhhh jangan-jangan tadi pagi saya salah masukan tempat makeup saya ke tas Raina yaa Bu” Hasna langsung pasang muka cengar cengir bersalah. Daripada panjang urusan mendingan dibuat simple saja.


“Bisa dijelaskan makeup nya seperti apa mbak?” Beuuuh ini guru pinter juga, untung tadi sempat lirik-lirik.


“Yang saya simpan di pounch bening Bu” namanya juga kagok kepalang basah jangan ragu-ragu yang penting untuk kebaikan bukan untuk kejahatan.


“Owhhh betul artinya punya Mbak Hasna kalau begitu, pantesan isinya makeup anak muda semua. Coba dilihat yang mana tempat makeupnya?” Bu Lisda masih pinter saja ngetes Hasna. Untung Hasna ingat kalau Hujan memakai gantungan handphone boneka kecil dan disimpan bersebelahan dengan tempat makeup pembawa masalah itu.


“Yang ini bu… hihihi ya ampun tadi saya lagi shortir make up bu kok malah sampai masuk ke tas Kaka yah” Hasna kembali pasang muka cekikikan padahal dalam hati dia degdegan takut ketahuan. Dibukanya pounch makeup itu ternyata isinya lengkap alat makeup yang dari lip tint dengan beragam bentuk, maskara ada 3, kemudian pelembab, bb cream, blush on yang cair dan cream dan bedak dengan beberapa merk juga. Wahhh pantesan ini sih kayanya barang jualan.


“Maaf yaa bu, saya jadi merepotkan ini tadi saya sedang mengumpulkan makeup yang diberikan dari hadiah pernikahan” harus dialihkan isyunya supaya tidak fokus ke masalah penemuan make up.


“Maksudnya Mbak Hasna ini ibu sambungnya Raina?” Bu Lisda langsung menyorot tajam, beuuuh ini si Ibu langsung menuduh melakukan sabotase.


“Iya bu saya ibu sambung Raina, boleh saya ketemu Raina bu” Hasna langsung mencoba meluruskan permasalahan jangan sampai ribut di depan teman-teman sekolahnya dan guru kenyes-kenyes.

__ADS_1


“Silahkan ikut dengan saya. Raina ada di ruangan sebelah” Bu Lisda tampaknya juga ingin segera menyelesaikan urusan permakeup an.


Mereka berjalan ke ruangan lain melintasi ruangan UKS dan kemudiaan ada ruangan tempat istirahat siswa. Disana tampak Hujan duduk sendiri dengan muka cemberut, ia sedang menuliskan sesuatu di kertas dan seperti kesal.


“Kaka… BUNA kaget maaf yaaa… tempat makeup BUNA jadi masuk ke dalam tas Kaka” Hasna langsung mendahului pembicaraan dan memeluk Hujan.


“Tadi BUNA membereskan tempat makeup, gara-gara Maura mengamuk, jadi salah masuk ke tas Kaka…. Maaf yaaa Kaka jadi dihukum yaah” Hasna langsung memeluk Hujan dan kemudian berbisik


“Panggilnya Buna” Hasna membisikan di telinga Hujan.


Hujan memandang Hasna dengan tatapan bingung, kemudian melihat ketempat makeup yang dipegang oleh Hasna.


“Ini loh tempat makeup yang dari hadiah pernikahan kemarin, BUNA kumpulkan disini, malah masuk ke dalam tas kaka… pasti Kaka bingung yah” Hasna memberikan senyuman palsu terbaik. Hujan langsung mengerti dan tersenyum sinis melihat gaya Hasna.


“Kan saya bilang bu itu bukan punya saya” Anak petir itu langsung nyambar dengan ketus.


“Ehh ga boleh bilangnya kaya gitu sama Bu Guru, wajar kalau Bu Lisda tanya makeupnya. Soalnya ini kan banyak sayang”


“Ibu ini semuanya baru loh… aku tuh bingung soalnya pada ngasih gift makeup” Hasna langsung membuka wadah makeup tersebut dan melihat satu merk yang bisa dikorbankan.


“Ibu mau coba gak merk ini, katanya bagus loh Bu” Hasna langsung mengacungkan bedak yang memiliki kemasan gold.


“Jangan tidak usah mbak, saya hanya mau meluruskan saja kepemilikan make up” Bu Lisda langsung menolak bedak yang disodorkan Hasna.


“Ow iya Ibu mukanya agak kering lebih membutuhkan pelembab, soalnya kulit ibu sudah bersih banget” Hasna langsung bergaya seperti ibu-ibu rumpi dengan style di lebih-lebihkan seperti di sinetron. Hujan langsung menahan senyum melihat gaya Hasna.


“Hahahaha iya muka saya memang agak kering, suka lupa memakai pelembab. Syukurlah kalau makeup nya memang milik Bundanya Raina, jadi kami melarang siswa untuk memakai makeup Bu. Ini Raina ditahan karena membawa makeup yang banyak dan tidak mau mengakuinya”


“Saya kira sudah jelas ya Mbak Hasna Raina bisa pulang. Nanti lain kali jangan sampai salah menyimpan barang yah Mbak kasian anaknya jadi kambing hitam”


“Waaah anak saya ini gak akan pernah jadi kambing hitam bu, sebelum menghitam dia sudah menyambar duluan bu kaya geledek” Hasna langsung mencubit pipi Hujan.


“Kami boleh pulang bu? Saya ijin sekalian menjemput pulang saja ya Bu Lisda karena Papinya sedang keluar kota”  Hasna berpikir untuk meluruskan duduk permasalahan makeup secepatnya.


“Iya silahkan hanya tinggal 1 jam pelajaran lagi, saya berikan surat keterangan kepada guru kelasnya”


Akhirnya Hujan bisa ditarik pulang bersama Hasna, saat menunggu Hujan keluar dari kelas membawa tas Hasna kembali bertemu dengan guru kenyes-kenyes di dekat gerbang.


“Mbak.. jangan sampai lupa yaaa makeupnya dipakai” guru ini masih kasih senyam senyum gak penting. Guru kaya gini musti dikasih pelajaran.


“Pak maaf, saya memberitahu saja kalau dalam kategori pelecehan kepada perempuan itu, adalah memberikan tatapan yang tidak senonoh atau tidak sopan. Saya beritahu saja yah Pak, kalau Bapak itu mukanya sudah mesum, walaupun tidak berniat mesum tapi terlihat tidak sopan. Coba nanti Bapak bercermin kemudian senyam senyum seperti tadi, kalau perlu saya fotokan dan nanti Bapak lihat sendiri.”


“Kalau sampai ada pengaduan guru yang memberikan pandangan tidak sopan kepada orangtua murid maka diperbolehkan untuk mengajukan pengaduan kepada pihak sekolah atau komite sekolah. Saya tidak bermaksud untuk mengadukan Bapak, tapi Bapak harus menjaga sikap dan muka bapak. Kondisikan mukanya!”


“Kenapa Buna?” Hujan mendekat dengan membawa tas perlengkapan sekolah lengkap.


“Gak apa-apa, ayo kita pulang” Hasna langsung menarik pulang Hujan, meninggalkan Pak Guru yang terlihat pucat.


“Maaf Bu…” terdengar suara lirih guru yang tidak mau dilaporkan kepada pihak sekolah karena memiliki muka yang tidak dikondisikan.


“Buna nyemprot Pak Rudi? Hahahhahah bagus Bun… emang dia nyebelin banget, suka goda-godain gak jelas gitu, ngerasa cakep kayanya” Hujan langsung tertawa melihat ekspresi Pa Rudi yang masih mematung panik dan kebingungan.


“Awas aja kalau dia macem-macem mengganggu kamu, lapor sama Buna, diplitek” Hasna masih merasa kesal.


“Cakep apanya.. Muka kamsepay begitu gak intelek sama sekali” sekalinya emosi bakalan terus emosi.


“Masih ganteng Papi kamu… jauh bumi dan langit” waaahhh jadi emosi jiwa.


“Hahahahha Papi bakalan berbunga-bunga disebut ganteng jauh bumi dan langit sama yang lebih muda”

__ADS_1


“Ehhhh kamu awas aja bilangin sama Papi” Hasna langsung kaget mendengar ucapan Hujan.


“Ini kamu makeup siapa lagi ada di dalam tas, gimana sih kamu jualan makeup apa?”


“Ini kan makeup yang gak bermerk sayang.., bahaya kandungannya gak tahu apa”


“Bisa mengandung merkuri….Ini punya siapa?”


Hasna langsung nyerocos begitu mereka keluar dari gerbang sekolah, dari tadi dia pengen menjewer karena Hujan membawa makeup yang tidak jelas abal-abal.


“Udah ahhh ntar aku ceritain, sekarang aku lapar” Hujan langsung berubah mode menjadi memasang muka kesal dan marah.


“Teman aku kurang ajar banget, gak mau ngaku kalau itu punya dia, padahal dia yang jualan. Aku cuma liat-liat… eh malah ada razia jadi aku yang kena” Hujan cemberut mengingat kejadian tadi.


“Lah kamu kenapa gak bilang kalau itu makeup punya teman kamu” Hasna mencari mobil online untuk membawa mereka pulang tapi ternyata sulit.


“Masa aku musti mengadukan orang lain, aku gak suka. Mustinya dia yang ngaku sendiri” hadeuuh anak ini emang punya prinsip.


“Kamu kenapa liat-liat makeup punya dia, kamu emang mau beli?” Hasna melihat memang Hujan tidak pernah terlihat memiliki alat makeup.


“Aku pengen kaya temen-temen pake bedak sama produk kecantikan, katanya mereka kalau jalan ke Mall suka pake lip tint sama bedak” Hujan menunduk, selama ini ia tidak pernah bisa membeli produk-produk kecantikan karena tidak ada yang bisa memberinya saran.


Hasna menghela nafas, ia ingat saat seumur Maura dia paling suka mencoba makeup punya Mama, kadang dia suka iseng-iseng ikutan berdandan di kamar Mama saat remaja, sedangkan Hujan dengan siapa dia bisa mencoba-coba alat makeup karena ibunya tidak ada. Hmmm kalau begini sih, musti menggunakan uang suka-suka dari The King.


“Ya sudah, sekarang waktunya We Time” ucap Hasna. Dirubahnya tujuan dalam pemesanan mobil online menuju Mall yang terdekat.


“We Time apa?” Hujan bingung


“Kita belanja makeup… mari kita membahagiakan diri kita sendiri” Hasna mendorong Hujan masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Hasna googling standar makeup yang bisa dipakai oleh gadis remaja. Ada beberapa jenis makeup yang diperkenankan dipakai oleh remaja. Dimulai dari  pelembab,  sunblock, bedak tabur / bedak padat, dan  lip gloss / lip tint. Hmmm ini tampaknya sudah cukup tinggal mencari merk yang lucu dan bisa dipakai remaja.


Ternyata ada beberapa merk makeup Korea yang memiliki kemasan yang menarik dan lucu, hahaha ini tidak tampak seperti makeup malah seperti penghapus bahkan tipex. Hasna melihat sepanjang perjalanan menuju Mall. Ia menunjukkan pada Hujan beberapa merk produk luar dan dalam negeri yang bisa dibeli untuknya. Hujan tampak bersemangat selama ini ia ingin memiliki makeup sederhana yang bisa dipakainya seperti teman-teman.


Saat tiba di Mall, Hasna menawarkan untuk makan siang terlebih dahulu, tapi Hujan menolak dengan alasan ingin segera membeli makeup. Akhirnya Hasna memutuskan membeli sandwich untuk mengganjal perut dan segera mengeksplorasi mencari makeup untuk nona petir.


Untuk produk skincare Hasna memilih membeli produk dalam negeri yang dipakai untuk remaja, dengan asumsi ini adalah produk yang cocok dengan kulit orang Indonesia, tapi beberapa peralatan makeup seperti lip tint, lip balm, masker untuk perawatan wajar, dan maskara Hasna membolehkan produk dari luar. Dengan catatan kalau maskara tidak diperbolehkan untuk dipakai ke sekolah, hanya untuk iseng-iseng keluar bersama keluarga saja.


Hujan tampak senang, kantong makeup yang dibelikan untuknya dipegang sambil diayun-ayunkan.


“Terima kasih Bunaaa…. Aku seneng banget bisa punya tempat makeup sendiri”


“Itu bukan makeup tapi skincare, kaya pelembab sama sunblock musti kamu pakai setiap hari, pakai bedak tabur juga. Supaya bibirnya gak kering pakai lip balm. Buna pilih yang merk itu soalnya kaya gantungan kunci. Jadi guru kamu gak akan sadar kalau itu makeup”


“Okidoki” jawab Hujan…. Hmmm kenapa kata itu jadi turun sama anak ini pikir Hasna.


“Ehhhh kamu sekarang gak panggil Tante lagi tumben” Hasna langsung tertawa.


“Nanti takut kelupaan kalau ketemu sama Pa Rudi aku manggil Tante, ntar aku diledekin lagi”


“Hehehehe akhirnya anak Buna mendapatkan hidayah..hahahahha”


“Mau makan dimana sekarang?” Hasna celingukan mencari tempat makan


“Pulang aja… nanti Princess Mora ribut lagi” Hujan melangkah menuju pintu keluar.


Hadeuuuuuh lupaaa anak koala musti dikasih hadiah supaya gak bikin drama lagi….musti dibawain apaaa dongg…


 


 

__ADS_1


__ADS_2