Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Masihkah Ada Kesempatan?


__ADS_3

Ada perasaan tidak berdaya dalam diri Reza saat perjalanan menuju Surabaya, ia mulai mempertanyakan tujuan hidupnya selama ini. Keinginannya untuk menunjukkan keberhasilan dalam memimpin perusahaan telah mendorongnya untuk terus menunjukkan performa yang terbaik. Sebetulnya tidak ada yang menjadi kompetitor di perusahaan ini, keluarganya pemegang saham terbesar, dan sebagian besar pemegang saham tidak ambil peduli siapa yang menjadi pucuk pimpinan selama bisa memberikan keuntungan yang tinggi.


Dari dulu dia memang merasa menjadi orang yang perfeksionis, semua harus diatur menurut caranya, mungkin karena ia anak ke satu sehingga dorongan untuk lebih bertanggung jawab dalam menanggung beban keluarga jatuh padanya. Berbeda dengan Isyana ia lebih menikmati hidup, memilih jurusan di bidang fashion dan kemudian menikmati fasilitas sebagai suatu kebebasan finansial.


Untuk pertama kalinya Reza tidak menginginkan perjalanan ini, ia hanya ingin pulang dan diam menikmati waktu bersama keluarga. Tapi tidak mungkin, sudah terlalu banyak janji yang sudah dibuat dan kesepakatan yang harus ditandatangani, sebagai pimpinan ia harus bertanggung jawab pada ribuan karyawan yang ada dibawahnya, kalau kesepakatan ini gagal maka bonus dan gaji karyawannya menjadi taruhan.


Sepanjang perjalanan Reza mencoba menghibur hatinya dengan mengirimkan beberapa pesan kepada Hasna, dimulai dengan informasi bahwa dia sudah sampai di Bandara Soetta, suasana di ruangan Boarding hingga informasi bahwa ia sudah sampai di hotel di Surabaya. Reza mengirimkan pemandangan dari hotel tentang suasana kota Surabaya, rasanya seperti mengirimkan pesan pada pacar, Reza jadi tersenyum sendiri rupanya menyenangkan menceritakan sesuatu yang tidak penting kepada orang lain. Dalam pesannya Reza menuliskan "Different view with Sin.. wish you could be here with me"


Biasanya Hasna yang melakukan itu, mengirimkan informasi tentang hal-hal yang tidak penting yang ia lakukan, foto ia sudah sampai di kampus, gambar dosen yang sedang mengantuk saat mahasiswa presentasi, foto mobilnya yang sedang diparkir dan diberikan tulisan kalau mobilnya terlihat paling keren,  hingga foto anak-anak sedang bermain di ruang keluarga. Kadang Reza tidak pernah merespon kiriman pesan dari Hasna apalagi saat ia sedang di kantor, baginya waktu terlalu berharga hanya untuk sekedar menjawab pesan tidak penting seperti itu.


Ternyata seperti ini rasanya menunggu pesan untuk dijawab oleh orang lain, sebentar-sebentar ia mengecek handphone apakah Hasna menjawab pesan darinya ternyata tidak. Hingga akhirnya menjelang tidur, akhirnya ada pesan masuk dari Hasna, Reza langsung membuka dan tersenyum, perempuan itu tidak menjawab apapun hanya mengirimkan foto Maura dan Hujan yang sedang asyik beraktivitas di meja belajarnya masing-masing. Dalam rasanya melihat foto ini, semua kegundahan dan gelisah nya terobati. Reza segera menuliskan pesan


“Kamu sedang apa?” hampir sepuluh menit dan tidak ada jawaban akhirnya Reza menuliskan pesan kedua.


“Jangan lupa makan, supaya cepat sembuh” dan pesannya hanya dibaca tanpa ada respon apapun. Akhirnya Reza kembali menuliskan pesan penutup.


“Aku mau tidur, besok acaranya padat sampai malam, kita chat lagi besok malam yaaa… selamat tidur ….mimpi indah….Love u” Reza mengeja kata itu dengan pelan, ternyata mudah untuk mengungkapnya. Reza tersenyum perasaannya lebih bahagia dan tenang tidak ada lagi kegamangan dan keresahan dalam hatinya.


Surabaya panas seperti biasa, untung semua kegiatan dilakukan di ruang tertutup. Hanya saat melakukan tinjauan pabrik mereka harus keluar dan melihat kondisi fisik pabrik yang mengajukan diri untuk memenuhi kapasitas produk sesuai dengan kebutuhan investor. Saat Reza tengah berdiskusi dengan pemilik pabrik dan investor tiba-tiba Aswin mendekat dan memberinya tanda pada handphone. Reza langsung meminta ijin untuk berbicara dengan Aswin secara private.


“Ada apa” kening Reza berkerut, biasanya Aswin bisa menghandle sendiri beberapa hal.


“Pihak Bank dari Jakarta menelpon meminta konfirmasi kaitan dengan deposito atas nama Bu Hasna Pak…” Reza langsung bereaksi


“Bu Hasna mencairkan kedua deposito tersebut, dan memindahkannya pada rekening yang berbeda, Bank meminta ijin konfirmasi karena deposito atas nama Bu Hasna tapi Bapak sebagai pihak pembuka perlu memberikan konfirmasi” Reza langsung kaget, Hasna tidak mengontak atau memberitahunya terlebih dahulu.


“Deposito yang aku berikan sebagai Mahar?” ia berusaha mengingatnya.


“Iya betul Pak… ini pihak Bank masih menunggu jawaban konfirmasi dari Bapak ...bisa atau tidak dipindahkan ke rekening yang berbeda, karena kalau dipindahkan kita tidak bisa lagi memiliki kewenangan untuk melihat aktivitas likuiditasnya” Aswin menjelaskan dampaknya.


“Hmmm itu uangnya dia karena saya memberikannya sebagai Mahar… terserah dia mau dipakai bagaimana dan dimana” Reza menarik nafas, ia tidak mungkin menelepon Hasna dan menanyakan hal itu sekarang. Para tamu tampak sedang menunggunya.


“Ok… konfirmasi saja boleh dicairkan dan dipindah rekeningkan” jawab Reza cepat, ia tidak mungkin meninggalkan tamu terlalu lama.


Acara berlanjut hingga jamuan malam, ia baru masuk ke kamar jam 10 malam, benar-benar hari yang melelahkan. Dilihatnya pesan tidak ada satupun dari istrinya, anak-anak pasti sudah tidur sekarang, badannya terlalu lelah untuk hanya sekedar menyapa lewat telepon. Besok pagi… Reza berjanji dalam hati besok pagi ia akan menelpon Hasna.


Keesokannya Reza langsung mencuba menelpon Hasna selepas solat subuh, tapi tidak diangkat. Tiga kali Reza mencoba untuk telpon tapi masih saja tidak diangkat, akhirnya ia menelpon Hujan.


“Halo Papi… masih di Surabaya?” anak itu langsung saja tidak pernah berbasa basi.


“Assalamualaikum… kamu tuh kalau angkat telpon salam dulu..main tembak aja” Reza mendengus kesal, Hujan langsung tertawa.


“Waalaikum salam...hahahah maaf biasanya Papi juga gak pernah salam” dasar anak ini pikir Reza sukanya membalikkan ucapan orangtua.


“Sedang apa disana? Papi coba telepon Bunamu tapi tidak diangkat” terdengar kesibukan di sebrang telepon.


“Owh Buna lagi nyiapin sarapan...Papi mau bicara sebentar? aku panggil” terdengar Hujan berbicara dengan Hasna dan ditimpali Maura.

__ADS_1


“Buna bilang pakai speaker aja karena sedang membuat sarapan. Aku video call yaa supaya Papi bisa liat” Reza langsung melihat permintaan video dari Hujan, ia melihat aktivitas di pagi hari seperti biasa.


“Papiiii udah banun?” Maura langsung mengambil alih video dan menatap Reza yang tengah berbaring di tempat tidur. Reza tertawa “ kalau Papi belum bangun matanya merem seperti ini gak akan telepon Maura” Maura langsung tertawa lepas, mendengar suara tawa Maura membuat Reza ikut tertawa.


“Buna mana? Sedang apa?” Reza masih mengharapkan Hasna berbicara dengannya.


“Buna aggih bikin salapan sama bekal buat Kaka sama Mola, nanti Mola pulang school mau ke lumah Iyang… kata Buna Iyang punya burung Palkil” Maura bercerita dengan penuh semangat.


“Parkit bukan Parkir” terdengar suara Hasna menimpali, mendengar setitik suara Hasna yang normal membuat Reza senang. “Buna kemalen ke lumah Iyang tlus liat bulung palkil nya banak ...anak yang tuning, hijo, melah, tuning lagi Mola liat di fotoin sama Buna...Mola mau bulung juda Papiiii” Maura terlihat merajuk.


“Ya… nanti lihat dulu saja di rumah Iyang, Maura suka gak. Buna bikin sarapan apa buat kalian?” Reza masih mencoba berusaha mendengar suara Hasna.


“Buna kata Papi bitin apa?” Maura langsung berteriak membuat telinga Reza sakit, anak selalu bersemangat.


“Coba Papi liat Buna” akhirnya Reza tidak tahan. Maura langsung mengarahkan kamera handphone ke arah Hasna, terlihat Hasna sedang sibuk di meja makan.


“Buna lagi buaaat apa?” Reza mencoba mengajaknya bicara, Hasna memalingkan mukanya melihat ke arah kamera handphone, ekspresinya berubah menjadi diam.


“Bunaaaa kata Papi bitin apa?” Maura menjadi speaker penyambung lidah Reza.


“Onigiri” jawab Hasna pendek. Ia langsung berbalik seperti mengambil sesuatu, Reza melihat istrinya mengikat rambutnya ke atas memakai tusukan sehingga seperti seperti rambut jaman dahulu.


 


 


“Bunaaa kata Papi teliatan tantik, tlus maau onigili duga” kembali speaker bergaung di ruangan.


“Kalau mau merayu Papi telepon sendiri, aku gatel ngedengernya” Hujan mengambil alih handphone dari tangan Maura. “Udah yah aku mau mandi, terlambat… Assalamualaikum” anak petir itu langsung melambaikan tangannya diikuti oleh Maura. “Salamulekum...salamulekum…” Maura nongol di layar sambil melotot dan tertawa-tawa. Reza tersenyum pagi ini harinya terasa lebih ringan dan cerah, ia harus segera menyelesaikan kegiatan di Surabaya secepatnya sehingga bisa pulang ke rumah.


Hari itu Reza menyelesaikan pekerjaan dengan penuh semangat, semua detail pekerjaan dilaporkan dan dipresentasikan dengan baik. Pihak investor tampak puas, tinggal melakukan peninjauan di pabrik yang terletak di Gresik. Perjalanan Surabaya - Gresik hanya 30 menit kurang dengan menggunakan tol. Udara cukup panas apalagi daerah ini menjadi daerah industri di Surabaya. Melihat kondisi pabrik yang masih baru dan fasilitas yang lengkap, pihak investor optimis mereka bisa melaporkan kalau rencana kedepan akan menguntungkan kedua belah pihak. Reza bernafas lega segala usahanya mulai membuahkan hasil.


Besok hanya tinggal menyepakati poin-poin kerjasama, rencana empat hari bisa dipangkas menjadi tiga hari, Rabu sore ia sudah bisa pulang. Malamnya pihak investor meminta acara hiburan malam di Surabaya, ia sudah menolak dengan tegas, kondisinya terlalu lelah, sekarang yang diinginkannya hanya berendam dan membuat beberapa perbaikan kesepakatan sesuai kondisi di lapangan. Biarlah pihak tuan rumah yang yang menyertai tamu, pengalaman buruknya bersama tamu dari Korea cukup membuatnya kapok untuk tidak lagi ikut acara hiburan malam, walaupun kali ini tidak ada Arcy.


Setibanya di kamar hotel ia langsung membuat perbaikan dokumen untuk didiskusikan besok pagi. Aswin yang menemani tamu dengan pihak Pabrik lokal, ia tidak mengkhawatirkan Aswin karena dia masih muda dan pengendalian dirinya cukup baik. Reza membuat perbaikan dokumen hingga jam 11, saking asyiknya bekerja ia tidak mendengar ada panggilan telepon dari Hujan, saat ia melihat jam sudah jam 11.30 Hujan sudah barang tentu sudah tidur, tapi ia coba telpon. Hingga hitungan ketiga telepon masih berdering, tapi kemudian seseorang mematikannya. Hmmm mungkin Hujan yang merasa terganggu, sudahlah pikirnya besok pagi saja ia telpon.


Dilihatnya aplikasi pesan ada beberapa pesan dari Mama Isna ada apa Mama Isna mengirimkan pesan. Rupanya ia mengirimkan foto-foto Maura yang sedang bermain dengan burung, anak itu memang sangat menyukai binatang. Tanpa terasa melihat foto-foto Maura yang lucu membuat Reza tenang dan tertidur.


Jam menunjukkan pukul tujuh lewat saat Reza membuka matanya, dia kesiangan gara-gara membuat dokumen semalaman, terdengar ketukan di pintu kamarnya, rupanya ia terbangun karena suara ketukan di pintu. Ternyata Aswin.


“Selamat pagi Pa… tadi saya telpon tapi tidak diangkat. Jam delapan pihak investor sudah siap di ruang pertemuan, mohon bisa hadir sebelumnya karena orang Jepang sangat tepat waktu” Aswin tampak sudah siap. Reza memberikan flash disk kepada Aswin, “dokumennya di print, ada beberapa perubahan yang signifikan yang harus disepakati dulu” Aswin langsung bergegas menuju lobby hotel. Reza sangat menyukai Aswin yang selalu bisa diandalkan.


Pagi itu karena kesiangan Reza tidak sempat menelpon Hujan bahkan mengecek pesan di hpnya. Baru saat break utk coffe ia menyempatkan diri membuka Hp, ada banyak pesan salah satunya dari Hujan.


“Papi...mestinya kalau Buna kondisi gak sehat jangan diijinkan untuk berangkat ke Jepang”


“Aku khawatir kenapa Buna aneh seperti ini, seperti gak akan ketemu lagi sama kita, pantesan Maura dititip sama Iyang soalnya kalau liat Buna pergi pasti nangis”

__ADS_1


“Papi kenapa gak bisa ditelpon sih..aku kesel”


“Papi telp sekarang” 


Handphone di tangan Reza hampir terlepas, Hasna berangkat ke Jepang? Tanggal berapa ini, kenapa dia gak bicara dulu semalam. Reza tampak pucat. Ia sama sekali lupa rencana studi banding Hasna.


“Kenapa Pak? Ada masalah di rumah?” Aswin melihat muka Reza yang tampak syok melihat ke layar handphone.


“Winnn ini jam berapa? Flight ke Jepang jam berapa?” Aswin terlihat bingung, kenapa Reza tiba-tiba menanyakan penerbangan ke Jepang.


“Winnn… cepat flight ke Jepang jam berapa?” Reza mengguncangkan Aswin yang tampak semakin bingung.


“Maksudnya untuk tamu-tamu ini Pak.. mereka baru akan pulang di hari Jumat katanya dan sudah membeli tiket pulang Pak” Aswin langsung menjelaskan panjang lebar.


“Bukan untuk mereka Bodoh…. Hasna pergi ke Jepang hari ini” Reza hampir berteriak, membuat semua orang menengok ke arahnya, Aswin segera menarik Reza ke sudut ruangan.


“Maaf Pak saya tidak mengerti, Bu Hasna ke Jepang dalam rangka apa? Bapak mau berangkat dengan ibu?“ Reza mengusap mukanya dengan tidak sabar, sulit untuk menjelaskan panjang lebar ke Aswin.


Ia segera mengambil telpon dan menghubungi Hasna, hpnya sudah tidak aktif. Jam sudah menunjukkan 10.15 hingga dua kali Reza menelpon dan hasilnya sama telepon yang anda hubungi sedang tidak aktif, akhirnya ia menghubungi Hujan, pada deringan pertama langsung tersambung.


“Papiiiii gimana sih gak bisa ditelpon aku bingung dari tadi” terdengar Hujan panik.


“Papi kalau Buna kondisinya gak fit kenapa diizinkan pergi jauh, pagi-pagi tadi Buna muntah, dia bilang stress karena mau perjalanan jauh. Aku jadi khawatir udah gitu dari malem ngomongnya aneh kaya yang gak akan ketemu lagi aja… padahal kan studi banding cuma seminggu”


“Papi kapan pulang? Aku khawatir sama Maura kalau gak liat Buna bisa-bisa semalaman nangis di rumah” terdengar suara Hujan yang terdengar kesal.


“Kaka tadi Buna berangkat jam berapa?” suara Reza terdengar panik.


“Tadi berangkatnya barengan, katanya flight jam 11. Kalau keberangkatan internasional harus dua jam sebelumnya sudah di bandara kataya” Hujan terdengar sedih, dari malam ia sudah berusaha menghubungi Reza tapi tidak bisa.


“Ya Papi pulang sekarang” Reza langsung menutup telpon, ia menghampiri Aswin.


“Win aku pulang sekarang, tolong carikan flight yang paling dekat waktunya” Aswin langsung terbelalak.


“Pak mohon closing dulu, nanti mereka merasa ditinggalkan tanpa kepastian, sayang Pak kita sudah sejauh ini, urusan administrasi nanti saya selesaikan” Aswin berusaha menyadarkan Reza akan pekerjaan yang hampir selesai.


Reza menarik nafas, ia harus berpikir rasional jangan terbawa emosi. Ok kalaupun flight nya Hasna jam 11 ia sudah tidak mungkin untuk mengejar, tapi kalau masih belum berangkat dan ada waktu ia ingin mengejar ke Jakarta.


“Flight ke Jepang selain pagi dan siang jam berapa lagi?” Reza langsung menanyakan jadwal penerbangan. Aswin langsung mengecek jadwal penerbangan Indonesia Jepang yang direct. Ternyata dalam sehari ada beberapa jadwal penerbangan tapi yang direct hanya di pagi dan malam hari.


“Ada flight malam hari Pak .. dimulai dari jam 8 sampai jam 11 malam” Reza menarik nafas, ia masih berharap kalau dia masih punya keberuntungan Hasna berangkat jadwal yang malam.


“Ok kita closing sekarang, kamu pesankan tiket pulang ke Jakarta yang paling dekat” Reza langsung melangkah ke ruang pertemuan, kepalanya sudah tidak bisa lagi fokus dengan pertemuan ini ia harus pulang ke Jakarta sekarang.


Masihkah ada kesempatan baginya untuk memperbaiki semua kesalahan ini…..


 

__ADS_1


 


__ADS_2