Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Another Surprise


__ADS_3

Perjalanan pulang ke rumah hanya 30 menit karena jalanan kosong, sepanjang jalan Hasna hanya melirik Reza yang tampak cemberut dan berkali-kali menarik nafas. Ia tahu kalau suaminya sedang berusaha menahan diri untuk tidak emosi karena sepanjang malam telah ia “ganggu” tanpa disadari. Begitu sampai di rumah ingin rasanya Hasna loncat dan segera keluar dari mobil tapi belum juga keluar dari mobil langsung terdengar perintah.


“Hati-hati kalau turun ...ingat kamu mengandung bayi kembar” rupanya gerakannya yang cepat dalam membuka seatbealt langsung membangunkan macan.


“Iyaa..” Hasna langsung melambatkan gerakan, menyambar kantong berisi ayam dan burger dan bergegas masuk ke rumah meninggalkan Reza di belakang. Hasna sudah bisa merasakan ada aura panas di dekat suaminya… Senggol Bacok


“Bunaaaa...hwaaaaa…” langsung disambut oleh tangisan Maura yang sedang minum susu di sofa.


“Ehhh udah banguuun anak koalanya” Hasna langsung merentangkan tangan untuk menggendong Maura, dan terdengar kembali auman di belakang.


“Jangan menggendong Maura mulai sekarang” tangan Hasna langsung terkulai, disambung oleh tangisan Maura “hwaaaaaa…. Papi jaat”


“Buna lupa masih sakit peyut heheheheh… ini liat Buna tadi pagi beli bulgel dan ayam goreng kesukaan Mola dibawa untuk bekal sekolah yaaaa” Hasna mengacungkan kantung berisi burger dan ayam goreng kesukaan Maura dan sukses menghentikan tangisan manja.


“Buna kenapa pagi-pagi beli ayam syama belgel” Maura melongok kedalam kantung. Hasna langsung memutar otak mencari alasan.


“Iya tadi pagi-pagi Buna lapar banget terus ingat kalau Maura sukanya ayam” Hasna kemudian sibuk memasukan ayam ke dalam fryer dan Burger ke dalam microwave.


“Anak ayam sih nggak akan ngerti, gimana Mak Ayam aja” sindir Hujan sambil tersenyum meledek. Hasna langsung menarik pipi Hujan sambil berbisik, “Balikin semua makeup dan perawatan muka yang Buna kemarin belikan kalau banyak protes” Hujan langsung teriak. “Jangan khawatir setiap hari bekal ayam juga kita seneng-seneng aja lumayan variasi menu… kalau bisa besok bawanya spaghetti atau steak” dan jembelan tidak hanya di pipi kiri langsung di sambung pipi kanan juga.


Hari itu Hasna mengantarkan Maura dengan diantar oleh Pak Agus, pada awalnya ia bermaksud langsung pulang ke apartemen, tapi diingatnya tadi saat mengantarkan Maura ia tidak melihat Reza dan tidak sempat pamit. Walaupun saat ini hubungan mereka masih terasa kaku dan belum sedekat dulu tapi Hasna tahu batasan, adalah salah kalau ia pergi saat suami di rumah dan tidak pamit.


“Kemarin saat Tuan Reza saat jemput Bu Hasna di Bandara dan tidak bertemu terlihat seperti putus asa. Belum pernah saya melihat Tuan seperti itu” Pak Agus bercerita tanpa Hasna bertanya apapun, Hasna hanya tersenyum malu, tadi saat bertemu pagi-pagi ia memberikan oleh-oleh, Pak Agus tidak memberikan komentar apapun, mungkin karena ada Maura.


“Sudah hampir dua minggu ini beliau tidak berangkat kekantor full, hanya sesekali dan tidak lama. Katanya beliau bertengkar dengan Bu Arcy… saya dengar dari OB kalau Bu Arcy dicekik oleh Tuan” Hasna langsung melongo, posisi duduknya seketika langsung berubah dan berpindah mendekat ke kursi driver.


“Dicekik bagaimana Pak?” Pak Agus memandang Hasna dengan ragu-ragu, tampaknya ia takut salah kalau bicara terlalu banyak. “Saya juga tidak tahu banyak, masalahnya apa? Tapi katanya tiba-tiba Tuan Reza masuk ke ruangan Bu Arcy dan langsung mencekiknya, semua karyawan di kantor heboh Bu” Hasna langsung tertegun. Tiba-tiba ia teringat pada hp yang Mitha yang ditinggalkannya di kamar. Jangan-jangan Reza menemukan handphone itu, Hasna sengaja tidak memberitahu Reza tentang isi handphone itu khawatir kalau suaminya merasa terluka kembali.


Sesampainya di rumah ia langsung bergegas ke kamarnya dulu, saat mencoba membuka pintu ternyata terkunci. Hasna langsung memanggil Mbak Jumi.


“Mbak.. kamar ini sengaja di kunci?” Mbak Jumi memandang ke arah kamar Reza,


“Tuan kemarin memberesi kamar Neng Hasna, pasang tempat tidur bayi sendiri, lemari dan mengeluarkan beberapa barang Non Maura yang disimpan di gudang dulu. Katanya Neng Hasna mau punya bayi… bener Neng?” Mbak Jumi mendekat sambil kemudian mengusap-usap perut Hasna dan langsung terkejut.


“Oalaaah sudah terasa,… ini sih sudah 4 bulan, laaah kok baru tahu sekarang saya, kemarin kamana aja” Mbak Jumi langsung heboh, Hasna hanya tersenyum lucu melihatnya, jangan Mbak Jumi dia sendiri juga baru tahu saat sudah 3 bulan.


“Sama saya juga baru tahu sebulan kebelakang, ndak terasa lagi hamil… kembar Mbak...ada dua bayinya” Mbak Jumi langsung membelalak.


“Gusti Allah kembar…. Haduuuuh si mbak bakalan jadi Mbah kalau begini senangne liat bayi ada dua sama mukanya… iki koyo apa ...nda sabar pengen liatnya” Mbak Jumi langsung terlihat bersemangat.


“Tapi Maura belum tahu, saya masih bingung memberitahunya” Hasna terlihat bingung. Maura beberapakali mengatakan tidak ingin memiliki adik.


“Non Maura itu lucu, baik, sholehah, ndak mungkin gak mau punya adik, pasti bakalan sayang sama adiknya” Mbak Jumi bicara dengan penuh meyakinkan.


“Aamiin yra, ya sudahlah Mbak saya mau istirahat saja di kamar anak-anak. Mas Reza masih tidur kayanya, kok gak ngantor sih” Hasna melirik ke arah kamar Reza. Mbak Jumi langsung memajukan posisi tubuhnya seakan memberi tahu hal rahasia.


“Tuan sudah seminggu lebih seperti itu, banyakan di rumah, pergi ke kantor sesekali. Tapi jarang makan saya sampai khawatir sakit. Nanti Neng Hasna jangan pergi lama-lama lagi, kasian Tuan sama anak-anak keliatannya menderita banget ditinggal pergi” bisik Mbak Jumi, Hasna hanya tersenyum dan beranjak masuk ke kamar anak-anak. Mbak Jumi tidak menyimpan kunci kamar itu jadi ia tidak bisa masuk melihat apa yang disiapkan suaminya di dalam.

__ADS_1


Semenjak hamil Hasna memang lebih mudah mengantuk, begitu merebahkan badan di tempat tidur Maura ia langsung menghilang dari dunia peradaban. Tidurnya terasa dalam dan lama, sampai ia merasakan ada yang memegang perutnya sehingga merasa geli.


“Ehmmm…” Hasna memegang perutnya terasa ada tangan, ia langsung membuka mata ternyata Reza.


“Ada apa?” tanyanya. Reza langsung tersenyum, “maaf kamu jadi kebangun, cape yah tadi nganterin Maura” Hasna menggelengkan kepalanya, ia langsung mencoba duduk, tapi Reza mendorongnya untuk tidur kembali.


“Sudah tidurkan saja, kamu harus banyak istirahat supaya badannya sehat” Hasna langsung cemberut. “Aku sehat kok ..hamil itu bukan sakit cuma suka gampang ngantuk sama lemes aja” Reza langsung beranjak ke kaki Hasna dan memijitnya. “Katanya kaki suka pegal kalau hamil itu” Hasna langsung menarik kakinya “geliiii...kaki aku gak pegel tadi gak kemana mana kok… ntar kalau pegel juga minta dipijit” ia berusaha menarik kakinya tapi Reza bersikeras untuk memijat kaki.


“Mas… ihhh kenapa sih jadi kurang kerjaan gini.. Kenapa gak ngantor malah mau jadi tukang pijet” Reza langsung terlihat kurang bersemangat saat disebut disuruh pergi ke kantor.


“Malas… mendingan di sini aja sama kamu” Reza langsung merebahkan dirinya di kasur disebelah Hasna yang langsung menatapnya tajam.


“Kenapa kamar sebelah dikunci, sengaja yah supaya aku gak balik lagi ke rumah ini” Reza langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat, muka terlihat kesal. “Kenapa sih kamu sejak hamil jadi galak dan menyebalkan bicaranya” ia langsung berdiri dan menarik tangan Hasna.


“Sini aku liatin” menarik Hasna turun menuju kamar disebelah. “Lepas ihhh kebiasaan narik-narik tangan orang” Hasna mengibaskan tangannya yang ditarik Reza. Ternyata kunci kamar ada di laci meja belajar Hujan.


“Aku udah siapin kamar buat bayi, aku kira anaknya cuma satu jadi hanya menyiapkan satu bed” Hasna tidak tertarik dengan pembahasan perlengkapan bayi matanya langsung tertuju pada laci meja belajarnya tempat ia menyimpan handphone Mitha, begitu dibuka betul saja handphone itu sudah tidak ada disana.


“Handphone Mbak Mitha diambil Mas Reza?” tanya nya cepat. Reza langsung menatapnya tajam. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakan tentang foto-foto di handphone Mitha?” Hasna langsung membuang pandangan.


“Kalau aku cerita apakah akan merubah sejarah? Mbak Mitha apakah akan tetap hidup? Tidak akan ada yang berubah. Yang ada Mas Reza akan dihantui perasaan bersalah kembali pada Mbak Mitha dan aku tidak mau itu, aku tahu kok Mas Reza gak berciuman dalam foto itu aku kan sudah melakukan rekonstruksi” Hasna melengos.


“Kamu kalau sudah tau aku tidak berciuman sama si Arcy kenapa menuduh aku berzinah segala sama dia” Reza langsung kesal teringat pada tuduhan Hasna yang menyebutnya berzina.


“Yah kenapa ada dalam ruangan kantor trus pake dikunci-kunci segala, trus bibirnya Arcy belepotan trus di bibir Mas Reza ada lipstik trus di kemeja ada lipstik” Hasna tidak mau kalah berteriak.


“Nih lihat” ucapnya sambil menunjukkan ke baju dan bibirnya, “Trus bandingan sama ini” Reza langsung menarik Hasna dan menciumnya dengan sepenuh hati. Direngkuhnya tubuh istrinya dan meluapkan semua hasrat yang telah ditahannya, Hasna yang mendapatkan serangan mendadak tidak kuasa untuk menahan semua hasrat Reza, tubuhnya tidak menolak langsung lemas.


“Ahhhh….”  Hasna hampir terjatuh, kakinya tidak mampu menumpu berat tubuh saat Reza melepaskan ciumannya, untung Reza langsung menahan tubuhnya. “Kenapa…” langsung panik.


“Kenapa-kenapa!… dasar” Hasna langsung membekap mulut Reza sambil pergi dengan bersungut-sungut tapi jalannya masih limbung sehingga Reza langsung memegang pinggangnya. “Ahahaha… kamu kelamaan gak ada yang ngecharge jadi konslet begini” Hasna memandang Reza yang tertawa dengan tatapan tajam membuat Reza langsung menunduk.


“Maaf-maaf...mau aku ambilkan minum?” Hasna menggeleng mukanya masih kesal, ternyata tubuhnya merindukan sentuhan suaminya, tapi hatinya masih merasa tidak rela. Reza mendudukan Hasna di kursi sofa baru yang dibelinya untuk mengisi kamar itu, kursi yang sengaja dirancang untuk membuat seorang ibu menyusui anaknya dengan nyaman. Tiba-tiba handphone di saku Reza berdering.


Tring….tring...tring…


Reza langsung mengalihkan pandangan pasti dari kantor. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih dan dia kembali tidak masuk kerja. Ternyata Papa Ardy. Reza langsung termenung, Hasna melihatnya dan bertanya “Siapa?” Reza menjawab “Papa” ia langsung menjawabnya.


“Halo Pa” muka Reza langsung serius, hilang sudah keceriaan dimukanya,


“Dimana kamu? Sudah satu minggu lebih Papa dengar kamu jarang ke kantor” Reza terdiam, ia memang merasa kehilangan semangat setelah Hasna pergi dan kemudian ditambah dengan masalahnya bersama Arcy.


“Sekarang bagaimana istrimu? Papa dengar sudah pulang dari Jepang, dia mau kembali sama kamu?” ternyata kabar cepat menyebar, Reza menghela nafas.


“Ya.. sudah” jawabnya pendek.


“Mana Papa mau bicara sama menantu Papa” rupanya Papa Ardy tidak percaya ucapan Reza.

__ADS_1


“Mau bicara apa sih Paa” Reza tidak ingin Hasna mendengar tentang kekacauan yang dibuatnya.


“Kamu tuh… Papa cuma ingin menyapa menantu kesayangan Papa saja… mana Hasna” Reza dengan malas memberikan handphonenya.  “Papa mau bicara sama kamu” Hasna langsung duduk dengan posisi tegak, ia khawatir kalau Papa sudah tahu kondisinya dengan Reza.


“Assalamualaikum Papa… apa kabar?” Hasna bertanya pelan


“Halooo sayang… gimana katanya baru pulang dari Jepang gimana senang selama disana?” Papa langsung banyak bicara, Hasna hanya beberapa kali saja menimpali sambil tertawa. Reza menatap dengan malas, dengannya Papa tidak pernah berbicara dengan santai dan membuatnya tertawa tapi kenapa dengan Hasna tampak menyenangkan.


Hasna menyodorkan handphone Reza, “Papa mau bicara” hampir lima belas menit ia mendengarkan Hasna dan Papa bicara, tidak ada jeda kebosanan atau kebingungan dalam percakapan mereka. Tapi dari cara Hasna bicara dan ekspresi antusiasme menunjukkan kalau ia menikmati pembicaraan mereka. Ia bersyukur Papa tidak membahas tentang permasalahan pernikahannya langsung dengan Hasna.


“Papa mau bicara dengan kamu berdua, kamu pindah ruangan jangan ada Hasna di sana” suara Papa terdengar tegas dan resmi. Reza langsung memberikan tanda kalau dia turun ke ruangan kerjanya sambil berbisik “kerjaan”. Hasna mengangguk dan Reza langsung berlari turun masuk ke ruangan kerja dan menutup pintu.


“Syukurlah tampaknya istrimu tidak mempermasalahan kebodohan yang kamu buat, jangan membuat kesalahan yang sama lagi” Reza tidak menjawab.


“But..something good came” ucap Papa kemudian, Reza diam dan hanya mendengarkan.


“Seperti yang Papa jelaskan terakhir kalau kita tidak bisa memecat Arcy karena dia tidak membuat kesalahan secara profesional tapi masalah pribadi dan tidak berhubungan dengan pekerjaan. Sehingga dewan direksi merasa tidak memiliki alasan untuk memecat dia”


“Tapi karena selama dua minggu terakhir kamu sibuk menyesali diri dan membereskan masalah rumah tangga kamu sehingga kantor kamu abaikan. Dewan Direksi merasa terganggu dan merasa kalau company flow get little bit down because of it”


“Mereka mempertanyakan kenapa kamu jadi tidak bekerja dengan baik, lalu Papa akhirnya membuat gertakan BAGAIMANA MUNGKIN SESEORANG BISA BEKERJA DENGAN BAIK KALAU DIA HARUS BEKERJA DENGAN ORANG YANG MEMBUNUH ISTRINYA.. JADI SILAHKAN KALIAN PILIH ARCY ATAU REZA….hahahahahahahahah” terdengar Papa Ardy tertawa dengan puas, Reza menggeleng-gelengkan kepalanya. Papa seenaknya saja membuat pertaruhan tentang masa depan dirinya.


“Hahahahha...jangan khawatir tentu saja Papa tidak bodoh, kadang-kadang kita harus berani mengambil resiko untuk mendapatkan keinginan kita”


“Dan tentu saja sesuai dengan perkiraan Papa mereka memilih kamu… so Arcy akan dipindahkan tidak akan ada lagi di posisi Sekretaris Direksi, dia akan menjadi penghubung untuk semua mitra kita di Asia Tengah, Perusahaan yang Taiwan memberikan satu office buat dia sehingga menjadi  satelit untuk memantau semua informasi kerjasama. Lebih mudah bagi kita, memang pekerjaannya tidak terlalu signifikan, Papa perkirakan dia akan mundur dengan sendirinya, dengan sikapnya yang otoriter pasti dia menginginkan posisi yang powerfull”


Reza mengerutkan dahi, membuat kantor satelit menyulitkan posisi berkomunikasi secara langsung dengan investor terlalu banyak pihak dan memperlambat proses pengambilan keputusan. Tapi ia tidak terlalu peduli, Papa dan Direksi yang lain pasti akan menyadari itu, sehingga pasti mereka akan bisa mengambil tindakan lanjutan. Paling tidak ia tidak harus bertemu dengan perempuan itu.


“Siapa yang akan menggantikan posisi Arcy di perusahaan, pekerjaan itu membutuhkan orang yang sudah berpengalaman” Reza jadi pusing memikirkan orang yang kompeten untuk posisi itu. Arcy memang menyebalkan dan tidak sopan tapi kemampuan kerjanya mampu diandalkan dan kompeten.


“Aswin…” jawab Papa pendek, Reza langsung membelalak.


“Papa.. aku tidak bisa bekerja tanpa bantuan asisten, pekerjaanku sangat banyak, harus ada yang membantuku. Aku setuju kalau Aswin menduduki posisi itu tapi nanti siapa yang akan membantuku” Reza menyadari tidak bisa melakukan semuanya sendiri, apalagi nanti dengan penambahan kapasitas produksi di perusahaan mitra untuk memenuhi kebutuhan pasar.


“Papa sudah menemukan asisten baru buat kamu, malahan hari ini Papa sudah ada janji bertemu dengannya jam 2. Kamu bisa ketemu sekarang” Reza menarik nafas panjang. Walaupun dirinya menduduki posisi tinggi di perusahaan, tetap saja Papa merasa memiliki hak untuk menentukan orang yang mendampinginya karena menjadi komisaris.


“Terserah Papa saja… asal jangan perempuan aku gak nyaman” Reza menjawab pendek. Papa langsung tertawa “Hahahahaha kamu sudah tidak berkutik sekarang sama Hasna…. Welcome to Marrige Life My Son…. Dimana laki-laki memang pinter tapi perempuan yang selalu benar...hahahahahahaha” Papa mengakhir telepon dengan bahagia, Reza hanya tersenyum getir akhir-akhirnya ia memang tidak pernah benar di mata istrinya.


Jam 1 siang setelah makan siang Reza bersiap berangkat ke kantor. Ia melarang Hasna untuk pergi menjemput Maura, perjalanan pergi dan pulang cukup melelahkan ditambah dengan aktivitas Maura setelah pulang sekolah maka Hasna diminta untuk menghemat energi dengan menunggu Maura di rumah dan nanti bisa bermain bersama. Hasna tidak banyak mendebat, setelah mengetahui kalau ia hamil anak kembar, perlu penyesuaian dalam dirinya sehingga terbiasa dengan perubahan fisik.


Sampai di kantor Reza langsung naik ke ruangan Papa Ardy, sekarang sudah jam dua lebih, pasti tamu yang akan menjadi asistennya sudah datang. Reza tidak merasa perlu tergesa-gesa toh orang itu yang akan menjadi asistennya. Sesampainya di ruangan tampak sekretaris Papa Ardy sudah menunggu.


“Rani tamunya sudah datang?” Rani sekretaris senior yang sudah hampir lima belas tahun disana tampak tersenyum melihat Reza.


“Sudah ditunggu dari tadi Mas Reza… silahkan masuk” ia membukakan pintu. Di dalam Papa tampak sedang duduk menghadapi dua orang tamu yang sedang bercakap-cakap. Satu orang masih muda dan satu lagi tampak sudah berumur kalau dilihat dari rambutnya.


“Ahhhh ini dia GM yang mogok kerja sampai berminggu-minggu….hahahahahah” Papa langsung melambaikan tangan padanya. Ia langsung memperhatikan kedua orang itu rasanya ia kenal dan saat keduanya menatapnya. Shiittsssss…. Anak songong ini yang akan menjadi asistennya…. Shitssss…. No way.

__ADS_1


__ADS_2