Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Hadeuuuh deg-degan


__ADS_3

Selama hampir seminggu kedepannya Hasna bulak balik dari kantor kemudian ke rumah sakit, Bu Rika sangat mengerti  keadaan Hasna apalagi saat diceritakan betapa Maura sangat tergantung kepada  Hasna dan tidak ada yang menemaninya kecuali Oma dan Neneknya.


Terkadang Hasna pagi-pagi langsung ke rumah sakit seperti pagi ini,  Oma Maura  telepon untuk meminta Hasna menggantikannya lebih dulu karena terlambat datang ke rumah sakit sedangkan Pak Reza harus sudah ke kantor karena harus menghadiri rapat. Rika mengijinkan Hasna karena toh pada akhirnya untuk kepentingan perusahaan yaitu Pa Reza bisa menghadiri rapat hanya saja kondisi ini menjadikan staf di bagian Divisi Training and Development menjadi canggung.


Seperti hari Kamis itu saat rapat internal dalam divisi akhirnya Maytha mengemukakan permasalahan ini, saat mendiskusikan progres kegiatan TOT tapi Hasna tidak ada karena harus ke rumah sakit.


"Ibu tidak mengajukan keberatan kalau Hasna harus melakukan tugas menemani anaknya GM di rumah sakit secara kan itu bukan tupoksinya dia saat masuk ke perusahaan ini bu"


"Dan sepengetahuan saya Hasna juga tidak menjalin hubungan apapun dengan Pak GM, saya khawatir hal ini memberikan dampak negatif pada nama baik Hasna di mata karyawan yang lain Bu"


"Saya hanya kasian saja pada Hasna, khawatir dia dimanfaatkan secara sepihak oleh Pak GM, dia anaknya kan seperti tidak enak untuk menolak karena Pak GM atasan kita"


Arya hanya diam menatap laptop di depannya, dari kemarin dia sebetulnya ingin mengajukan keberatan karena Hasna seperti dipaksa untuk merawat Maura. Tapi melihat kekhawatiran Hasna kepada Maura, Arya menjadi tidak tega, ia merasa tidak berhak untuk melarang Hasna pergi ke rumah sakit selama seminggu ini.


"Ya saya juga merasakan ketidaknyamanan yang sama, tapi beberapa kali saya pikirkan, bahwa Hasna ke rumah sakit karena kondisi Maura yang tidak ada yang menjaga sedangkan Pak GM harus mengikuti rapat penting di kantor" Rika menjawab keresahan Maytha


"Saya lihat sendiri kondisi Pak GM terlihat kusut kurang tidur, sehingga saya bisa membayangkan kalau anak sedang sakit tapi banyak pekerjaan dan tidak ada yang menemaninya" tambahnya


"Pada akhirnya kepergiaan Hasna kesana untuk kepentingan kantor juga, saya juga menanyakan pada Hasna pribadi apakah merasa terpaksa untuk menemani Maura tapi katanya tidak. Lelah sih iya tapi tidak menjadi masalah masih bisa ditahan katanya"


"Jadi yah kita bantu saja secara pekerjaan, karena saya pribadi memang melihat mereka berdua tidak ada


hubungan khusus" Rika tersenyum kecut.


Arya beranjak dari duduknya, diambilnya berkas yang sudah disimpan di meja Hasna tadi pagi.


"Ini laporan yang sudah dibuat oleh Hasna, sudah saya berikan catatan perbaikan sebetulnya untuk Hasna dan sudah ia perbaiki, dari hasil laporan evaluasi yang dibuat Hasna untuk penyelenggaraan program TOT peserta pelatihan memberikan penilaian baik dan hasil capaian pembelajarannya juga mencapai 78% artinya memenuhi kategori cukup  untuk pemenuhan kompetensinya"


"Tapi ada beberapa perbaikan memang yang harus dilakukan sekaitan dengan penyelenggaraan TOT ini, seperti yang sudah diperkirakan bahan pelatihannya dianggap terlalu berat dan membebani peserta untuk membaca bahan yang terlalu panjang. Mereka menyarankan kalau bahan dibagi saja sesuai topik dan dipisahkan untuk memudahkan mereka membacanya"


"Untuk TOT yang tahap 2 Hasna mengajukan ide untuk membagi materi menjadi seperti buku saku sehingga memudahkan peserta latihan untuk memahami bahan dan bisa mentrasfer pengetahuannya kepada karyawan lain di pabrik. Saya kira ide ini cukup bagus, memang memiliki konsekwensi penambahan biaya karena dicetak terpisah, tapi kita bisa uji cobakan dulu dalam bentuk dummy sehingga tidak memakan biaya banyak"


Arya akhirnya memberikan review yang seharusnya dilakukan Hasna. Ia tidak ingin kondisi yang dihadapi Hasna saat ini menjadi masalah di tempat kerjanya. Akhirnya rapat diakhiri dan semua kembali ke kubikel masing-masing.

__ADS_1


Tapi Maytha tampaknya masih belum merasa puas, ia masih ingin membahas hal yang sama dengan Arya secara pribadi.


"Ya... kalau kamu melihat Hasna apa ada hati sama Pa GM?" tanyanya bisik-bisik ke kubikel Arya


"Tau .. aku kan gak pernah melihat mereka berduaan, mbak aja sesama perempuan tanyaain sana" Arya mencoba


menyibukan diri dengan laptopnya.


"Aku liat si Hasna itu frekuensi otaknya kaya cuman sama anak-anak, gak ngerti kode-kode laki-laki gituh, makanya aku khawatir" Maytha mengangguk anggukan kepalanya penuh pemikiran


"Maksudnya"


"Iya dia mah kaya gak pernah sadar kalau ada laki-laki yang suka sama dia, sadarnya cuman sama anak-anak yang suka sama dia saja" tambahnya


"Siapa memang laki-laki yang suka sama Hasna" tanya Arya langsung menatap Maytha


"Eloe...." jawab Maytha cepat


"Alaaaah suka pura-pura, waktu gathering kemarin emang gak kliatan sama kita, loe nyanyi buat dia, pake tunjuk-tunjuk segala, trus ngeliatin si Hasna kaya gimana gitu" Maytha nyengir membayangkan muka Arya waktu itu.


"Yeeeh itu sih bawaan lagunya aja Mbak ..." Arya cemberut


"Sebelum kamu kesalip di tikungan kamu musti usaha Ya.. jangan pake kode-kodean.. Hasna anaknya beda frekuensi sama kita ... Kalau gw sih udah bisa ngebaca kalau ada lakik suka sama gw.. Lah dia.. loe udah nunjuk-nunjuk juga disangkanya suka si Maura...hahahahaha" Maytha tertawa senang


"Udah ah mbak... rese gw dengernya.. gw bikin kopi dulu ah, nih gelas udah nganggur 5 hari ga ada yang bikinin kopi" Arya kesal karena merasa terpojokan oleh Maytha.


Arya juga sebetulnya merasa heran, ia tidak pernah melihat Hasna memandangnya dengan pandangan seperti perempuan-perempuan di lantai 9 atau teman-temannya di divisi lain. Dia suka membuatkan Arya kopi memberikan semangat, kadang marah-marah sering tertawa-tawa tapi tanpa kedekatan secara pribadi.


Mungkin benar juga apa dikatakan Mita, frekuensi otak asrama Hasna mungkin memang berbeda dengan manusia kebanyakan. Arya jadi penasaran sebetulnya Hasna memiliki kecenderungan untuk menyukai lawan jenis atau belum memiliki kematangan secara seksual. Argh... pikiran yang aneh, gara-gara Matyha siang ini pikiran Arya jadi bercabang tidak jelas.


Hasna POV


Siang ini seharusnya aku ada rapat di divisi dan melaporkan progres laporan dari Project TOT tapi, tadi pagi Omanya Maura telepon, beliau mengeluh kondisi badanya kurang sehat sehingga tidak bisa langsung berangkat pagi-pagi sedangkan Pak Reza harus ada rapat dengan para manager di pabrik di perusahaan cabang terkait peningkatan kapasitas produksi.

__ADS_1


Akhirnya dengan ijin dari Bu Rika aku langsung berangkat ke rumah sakit, setelah menyimpan berkas laporan yang sudah aku perbaiki ke Mas Arya. Rasanya serba salah tapi mau bagaimana lagi, setiap kondisi ada skala prioritas. Kadang merasa bingung saja kenapa jadi terlibat terlalu jauh dengan keluarga Pak GM.


Mungkin kedepannya harus menghindari pertemuan dan kontak dengan Maura, tapi kalau dipikir pertemuan dengan anak koala itu selalu tidak sengaja, yaaah nasib kali. Selama aku tidak melakukan hal yang melanggar aturan rasanya masih bisa dimengerti. Masih teringat pesan dari Mama untuk berhati-hati karena Pak Reza adalah duda sehingga mungkin bisa mengakibatkan salah paham dengan orang lain.


Tapi selama ini tidak pernah ada kejadian yang membuat aku harus bersama dia secara tidak sengaja, yang terakhir hanya saat Maura masuk rumah sakit hanya itu saja. Selanjutnya aku berusaha menghindar dengan cara segera pulang saat Pak Reza datang untuk menemani Maura atau datang ke rumah sakit saat Pak Reza harus pergi ke kantor.


"Oke Hasna everything is undercontrol... semuanya kita kembalikan kepada niat, kalau niatnya baik untuk membantu orang lain, insya allah tidak akan ada terjadi apa-apa" bisikku.


Begitu aku sampai di rumah sakit, aku segera masuk ke ruangan Maura, dan terlihat Pak Reza sudah siap dengan pakaian kerja, ehh baru lihat Pak Reza pagi-pagi dengan baju jas yang rapi. Terlihat sedikit lelah dan kuyu tapi karena baru mandi jadi keliatan ganteng juga...Eghh... "pikiran Hasna mohon dikendalikan .... ini cobaan... gak boleh ngedip Hasna.. kalau ngedip gak boleh diliat lagi si Bapaknya... dosa"  Hasna tersenyum begitu masuk ke ruangan


"Haduh ini mata kalau gak ngedip pedih tapi kalau ngedip nanti dosa lagi" aku mencoba menahan mata supaya tidak berkedip melihat pak Reza.


"Maaf jadi merepotkan terus.. saya juga bingung waktu tadi Oma Maura telepon, mungkin beliau kecapekan juga karena bulak-balik ke rumah sakit terus" ucap Reza


"Kalau tidak ada jadwal rapat dengan pihak luar sebetulnya bisa saya batalkan ke kantor, tapi masalahnya mereka sudah perjalanan dari luar kota untuk hadir dalam rapat ini, jadi saya tidak mungkin membatalka" Reza berusaha menjelaskan kenapa sampai memaksakan harus pergi ke kantor.


"Gak apa-apa Pak, saya sudah melaporkan hasil pekerjaan saya koq tadi pagi untuk bahan rapat siang ini, ini saya juga termasuk membantu perusahaan pak supaya Bapak bisa rapat.. no worry much-much Pak... Fighting"


"Eh Maura sudah tidur lagi Pak?.. padahal baru jam 8" ku lihat Maura tertidur lelap di kasurnya.


"Iya tadi dia bangun dari jam 4, makanya saya mengantuk sekali, sudah sehat sih, dia cuma mengeluh pengen melepaskan infusan. Nanti dokter visit jam 10 untuk bisa memutuskan Maura bisa pulang atau tidak hari ini"


"Tolong nanti ditanyakan dan konsultasikan apa yang harus disiapkan kalau Maura pulang ke rumah, mohon bantuannya yah" Reza menepuk pundakku. Tatapan matanya seperti merasa sangat terbantu dengan kehadiranku.


Terus terang tadi agak tersentak saat disentuh pundak oleh Pak Reza, selama ini tidak pernah ada kontak fisik dengan Pak Reza walaupun secara tidak sengaja, aku selalu menjaga jarak dengannya. Melihat muka Pak Reza yang lelah dan seperti membutuhkan bantuan membuatku merasa berarti.


"Haduuuh ini koq jadi deg-degan beginih" aku meringis, untung gak ada Kak Angga. Bisa-bisa disambit sama sepatu kalau aku cengangas cengenges dipegang laki-laki. "*Beuh ini mah nyetrum... istigfar Hasnaaaa"*pikirku.


************************


Jadi kesimpulan Hasna satu frekwensinya sama siapa yaaaa... hmmm.. Bagaimana deterjen ada komen yang ingin disharing hehehhehe silahkan pijit tombol komen dan berikan suara anda... jangan lupa juga like and vote nya.. Makasih yang bom votenya sampai naik teyus... aku terharu.. jadi pengen bikin 2 episode sehari. Kopi mana kopi... demi para deterjen ... hahahahahahah


************************

__ADS_1


__ADS_2