
“Aku lebih setuju Hasna berhenti bekerja disana.. “ tiba-tiba ada suara laki-laki dari pintu belakang
“Kakak udah curiga dari sejak awal, masa ada pimpinan selevel GM di perusahaan segede itu mau keluar makan sama leveling staf masih krucukan kaya dia..” Angga langsung berargumen sambil menyimpan tas di atas sofa.
“Kak… jangan main nge gas dong, datang-datang tuh salam, tanya kabar Ayah dan Mama, main langsung nimbrung aja” ucap Hasna
“Nih minum dulu, ntar dehidrasi lagi, liat nih Mama bikin puding Mangga kesukaan kakak, pantesan aku tuh heran kok Mama masaknya banyak banget gak taunya anak kesayangan Mama pulang” Hasna langsung sibuk menyiapkan puding kesukaan Kak Angga. Hawa panas jangan dilawan panas lagi.. Musti kesejukan dari dalam biar nyessssss….
“Tadi malam Kakak bilangnya gak bisa pulang, gak dapat tiket?” kata Mama
“Tuh kan… ini putra mahkota datang pasti gara-gara mama telepon hadeuuh” pikir Hasna
“Kakak kebetulan ada teman anak travel di hotel, trus dia tadi nyariin, kebetulan katanya ada yang cancel flight tadi malam” jawab Angga sambil sibuk mengunyah
“Kak.. mukanya sampai kebakar ginih jadi item? Gak pake sunblock yah selama disana” tanya Hasna
“Waduuuh Kakak ini komedo sampai nempel beginih di hidung? Gak cuci muka selama disana” Hasna sibuk terus mengomentari muka Angga, upaya pengalihan topik masih terus dilakukan.
“Udaaaahhh ah diem… suka mengalihkan perhatian… tau kaka juga.. Kebiasaan kamu” Angga langsung mendorong kepala Hasna
“Ihhhh…. Jahad banget sih sama aku..” Hasna langsung cemberut.
“Udah mendingan kamu lanjut kuliah aja daripada Kakak jadi gak tenang kepikiran kamu bakalan ada apa-apa selama kerja disana.”
“Kemungkinan mulai bulan depan Kakak musti stay di Bali selama setahun untuk mengawasi proyek, artinya kamu di Jakarta sendiri” Angga langsung pada inti permasalahan.
Tadi malam saat Mama telepon Angga langsung mengecek jadwal penerbangan ke Bandung, tapi karena pesannya mendadak jadi tiket sudah habis, akhirnya Angga mengontak temannya yang mengelola travel di Bali. Dia hanya bilang siap-siap saja tapi tidak menjanjikan apapun, dan untungnya ada penumpang yang membatalkan pergi sehingga Angga bisa langsung pulang.
“Memangnya aku anak kecil Kak musti ditungguin, selama ini aku kan gak pernah bikin masalah” ucap Hasna lirih, dia merasa sedih karena dianggap tidak bisa menjaga diri.
“Gak pernah kelayapan malam, gak pernah pergi sama orang yang gak bener, kuliah beres tepat waktu, gak pernah pakai narkoba… apa coba alasan Kak Angga buat gak percaya sama aku” tambah Hasna.
“Kalau aku emang punya niat gak bener, walaupun aku tinggal disini aku bisa aja main gila sama orang” jawab Hasna kesal
“HASNA… Kalau bicara jangan sembarangan” ucap Mama keras
“Ya soalnya aku juga kesal Ma… bukan masalah aku pengen tetap di Jakartanya tapi ketidakpercayaan sama akunya loh” jawab Hasna
Angga hanya diam, kekhawatiran yang berlebihan pada Hasna terjadi karena dia banyak menyaksikan pelecehan dan tindakan asusila yang banyak dialami oleh perempuan di dunia kerja. Saat Hasna memutuskan untuk pindah kerja, sebetulnya Angga merasa khawatir karena Jakarta lebih banyak cobaanya daripada bekerja di kota kecil. Tapi karena Hasna sangat bersemangat dan tantangan pekerjaannya lebih baik untuk membuat adiknya berkembang akhirnya Angga mengalah.
“Kakak bisa setahun pindah ke proyek Bali ‘Na.. kost an juga kemungkinan gak akan diperpanjang bulan depan tuh, kamu sanggup jaga diri kamu sendiri?” tanya Angga sambil menghela nafas.
“Insya Allah bisa Kang Mas… aku udah 2 bulan di Jakarta, udah bisa pakai busway, kost an juga deket ke kantor, temen main aku gak pernah ngajak main ngelayap keluar. Sekali-kalinya aku keluar jalan ke Mall sendirian itu pas kakak nemuin aku di Sensi.. Emang apes aja akunya” jawab Hasna
“Huuuh… bukan apes emang kudu musti ketauan.. Udah jalan Allah tau bisa kamu diingetin” ucap Angga sambil menjewer Hasna.
Angga langsung membongkar tasnya dan mengeluarkan sejumlah barang, ternyata bawa oleh-oleh dari Bali.
“Mana si Ade… itu anak teleponin trus minta dibeliin kaos Hard Rock Bali.. masih kuliah udah banyak gaya… dasar” Angga mengeluarkan beberapa barang dari tasnya.
Panjang umur Preman cap Kampung Gajah Duduk turun dari kamarnya karena mendengar suara Kak Angga
“Kakak kapan pulang? Kenapa gak telepon ade padahal tadi dijemput ke Bandara?” Emran langsung pasang status cari muka mode on depan Kak Angga.
“Nih kaos pesanan kamu” Angga melemparkan kaos kepada Emran
__ADS_1
“Wuiiihhh Kakak beliin 2… asyeekkk” dia langsung lari ke atas.
“Dari kemarin tuh 'Yah dia malakin kita terus… kemarin teteh ngasih dia voucher belanja 500rb dibeliin celana balet sama dia.. Sekarang dibeliin kaos sama Kak Angga.. Mahal lagi merek itu tuh” adu Hasna pada Ayah
“Yaaah ayah bersyukur kalian udah bisa menghasilkan uang, bisa berbagi kebahagian dengan saudara sendiri di saat ayah gak bisa membelikan barang-barang yang mahal buat kalian dulu” jawab Ayah bijak.
“Iyaaa… sama Mama gak ada yang inget ngasih voucher belanja atau beliin baju Bali.. padahal yang masakin makanan pas kalian sekolah kan Mama” ucap Mama sebagai Pundung 1 memotong-motong Ikan dengan penuh kekuatan seakan menyalurkan semua kegalauan pada pisau di atas piring.
“Ehhhhh…. Kakak beliin koq Ma… ini heheheh baju yang motif Bali… dingin katanya kalau dipakai siang-siang kata yang jualnya” Angga langsung mengaduk-aduk tasnya kembali.
“Hehehehehehe Mama pundung gegara gak dikasih voucher belanja, aku juga sama Ma gak kebagian, Mama dikasih mentahnya aja yaaaa” Hasna langsung memijat-mijat pundak Mama, menjaga pisau agar tetap pada tempatnya.
“Mama aja yang diingat padahal Ayah yang bayarin kalian SPP, nyariin kalian uang buat makan gak ada yang ingat” Pundung 2 langsung menyambung demi mendapatkan sesajen.
“Ayah mah sama Teteh nanti dicuciin lagi mobil lagi aja yah supaya kinclong keliatan ganteng sama kaya yang punya nya” Hasna langsung beralih mijitin pundak ayah.
“Naaaah setelah mobilnya kiclong Ayah bisa pake kacamata hitam ini yah, kemarin aku dikasih sama vendor yang supply barang ke kantor aku” Angga langsung memberikan kacamata hitam kepada Ayah. Sebetulnya kacamata itu untuk Angga tapi karena Pundung 2 sudah naik panggung harus segera disiapkan amunisi sebelum nembak lagi.
“Wuiiiis ganteng begini Yah… Pak Reza juga kalah gantengnya sama Ayah” puji Hasna saat ayah memasangkan kacamata pemberian Kak Angga.
“Yaaaah udah gak pantes pake kacamata kaya gitu keliatan kaya Om Om… nanti Mama marah, udah itu buat aku aja … liat nih matching sama celana dari Teteh dan kaos dari Kak Angga” Si Kuya turun datang dengan memakai celana balet dan kaos barunya.
Syuuuuuut…. Langsung sambitan sandal dari 2 arah mengarah pada Emran, untuk kekesalan yang satu ini ternyata Angga dan Hasna sepakat kalau adiknya itu Kuya gak tahu diri.
Ting..ting suara pesan masuk di hape Hasna. Dart Vader
“Bagaimana sudah dipikirkan?”
Hasna langsung menghela nafas, belum dicapai kesimpulan dari diskusi dengan Ayah, Mama dan Kak Angga
“Jadi kesimpulannya ini gimana? Aku ini barusan nerima pesan dari dia nanya jawaban” ucap Hasna sambil mengacungkan hapenya.
“Yah terserah Teteh lah yang nanti akan menjalani… Ayah sih selama dia seiman, bisa menafkahi keluarga, mencintai anaknya dan menghormati orangtuanya itu menjadi indikator kalau dia lelaki yang baik”
“Kan katanya sudah bisa memilah dan memilih… sekarang Teteh coba buktikan bisa tidak berpikir dengan dewasa” jawab Ayah dengan bijak
Kak Angga dan Mama hanya diam dan tidak memberikan respon apapun, tampaknya mereka sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Ayah.
Akhirnya Hasna menjawab pesan.
“Lagi dibicarakan dengan keluarga dulu” jawabnya singkat
“Kamu dimana memangnya” balas Reza
“Disuruh pulang ke Bandung, Mama kaget” kembali Hasna menjawab singkat
“Coba aksi dulu sodara-sodara supaya dia percaya kalau Teteh lagi diskusi soal lamaran dia ke Hasna… Teteh mau kirim fotonya” “ 1…. 2…”
“Bentaaaar teh…. Ehhh ade belum masuk gimana, sebagai maskot masa gak difoto” Emran langsung loncat di depan meja makan
Hadeeuh itu celana ketat masih aja nempel kaya pemain balet.. Matak Ngerakeun “Memalukan”
Hasna cuma bisa tarik nafas
“1… 2….3” Jengkreeek
Dan terkirim lah foto dengan gaya Mama memegang pisau, Ayah memakai kacamata hitam, Kak Angga melirik sambil cemberut dengan muka mengkilap hitam penuh komedo, sedangkan Emran selonjoran di depan meja dengan bergaya pantai memamerkan celana ketatnya… Bagus… benar-benar potret keluarga idaman.
__ADS_1
Reza POV
Sabtu ini aktivitas weekend dilalui seperti biasa, mengantarkan Hujan untuk latihan softball dan menemani Maura ke main ke playground di Mall setelahnya. Tadi Hujan memisahkan diri karena ingin ke toko buku untuk mencari novel kesukaan dia. Sambil menemani Maura aku melihat di sekitar arena Playground, banyak ibu muda yang menemani anaknya, ada juga yang ditemani oleh suaminya, tapi tidak ada yang sepertiku duduk sendiri tanpa pasangan.
Tadi malam aku mengirimkan lagi pesan pada Hasna, pasti perempuan itu berpikir kalau ucapanku hanya mimpi bagi dia, terlihat dari ekspresi bodohnya saat dia tersadar akan pertanyaan yang aku lontarkan.
Dan sampai sekarang dia masih belum memberikan respon. Aku bisa membayangkan ekspresinya saat menerima pesanku tadi malam, pasti kaget. Jangankan dia, aku sendiri merasa kaget mengapa tiba-tiba seberani itu mengajukan pertanyaan itu pada dia. Perempuan yang masih belum terlihat matang secara emosional. Tapi entah kenapa tiba-tiba muncul rasa tenang dan keyakinan kalau apa yang aku lakukan sudah benar.
Mama beberapa kali menelepon menanyakan tentang Hasna setelah Maura keluar dari rumah sakit, pernyataannya yang mengungkapkan kalau Mama merasa kalau Hasna adalah perempuan yang baik dan bisa menjadi ibu untuk Hujan dan Maura, membuatku memikirkan hal ini berulang kali. Ditambah dengan Ibu mertua yang terus menceritakan betapa sangat terbantu oleh Hasna selama di rumah sakit seakan-akan memberikan pesan untuk mengambil langkah kedepan.
Akhirnya aku mengirimkan kembali pesan untuk menanyakan jawabannya atas pertanyaanku tadi malam.
Jawabannya sedang di Bandung dan mendiskusikan dengan keluarganya. What!... mengapa main diskusi dengan keluarga, yang aku tanyakan kan jawaban dia bukan jawaban keluarga, benar-benar perempuan yang aneh, memangnya tidak bisa berpikir sendiri.
Dan dia kemudian mengirimkan foto, dan baru aku mengerti dari mana asal usul ketimpangan gen sehingga otaknya tidak lengkap. Ayah yang memakai kacamata hitam di meja makan, ibu yang memegang pisau seperti hendak membunuh, kakak yang muka penuh amarah dan adik yang bergaya di memakai celana ketat seperti kaki belalang. What a family!
“Papi liat apa kok seperti yang kaget?” tanya Hujan yang datang dengan membawa tas pelastik berisi buku-buku
“Apa ini terlihat seperti keluarga yang normal?” tanyaku pada Hujan, kuberikan kepadanya, dia mungkin bisa melihat dari kacamata yang berbeda.
“Hahahahahahah…. Ini siapa Pi?” tanya Hujan sambil tertawa-tawa
“Keluarganya Hasna” jawabku singkat
“Hahahahaha… pantesan orangnya aneh ternyata keluarganya juga sama” lanjut Hujan
“Kamu suka sama dia?” tanyaku, Hujan pasti mengerti arah pembicaraanku
“Aku gak bisa bilang suka… biasa aja cuman yang pasti gak benci lah… Granny kemarin bilang beberapa kali kalau Papi musti menikah lagi karena harus ada yang merawat kita”
“Aku udah gede gak usah ada yang ngerawat … gak masalah Papi gak usah khawatir, tapi Maura musti ada… Oma juga bilang begitu, kasian Oma sudah sakit-sakitan” jawab Hujan pelan. Ia tidak mau memandang ke arah Papinya
Ku usap kepala Hujan, bagaimana mungkin anak dengan usia remaja seperti Hujan menjadi anak yang penuh pengertian, kalau mendengar dan membaca cerita di berita usia remaja adalah usia yang penuh dengan penolakan dan egoisme. Tapi anak ini memikirkan adiknya daripada perasaannya sendiri.
“Kamu gak masalah kalau Papi menikah lagi” tanyaku pelan
“Gak apa-apa kalau Papi mau… tapi jangan mengharapkan aku akan bersikap jadi anak yang baik pada perempuan itu” jawab Hujan.
“Yah.. kita lihat saja dulu.. Papi akan sangat menghargai pendapat kaka… karena dia akan menjadi keluarga kita nantinya”
“Memang Tante Hasna mau jadi istri Papi?” tanya Hujan
“Belum jawab ini.. Malah dia disuruh pulang sama keluarganya.. Papi jadi gak enak karna belum bertemu” jawabku
“Ya udah kita ke Bandung saja… kita lihat seperti apa keluarganya…” usul Hujan
“Seaneh apa mereka….hahahah” Hujan tertawa sambil meninggalkan Reza mendekati adiknya yang asyik bermain di playground.
Hmmm… Baiklah kita lihat sampai sejauh mana ini bisa berjalan. Reza kemudian menuliskan pesan di hpnya.
“Besok pagi saya ke Bandung untuk bertemu dengan keluargamu”
Uyuuuuug…. Hasna kamu mau digerebek… Tolong Emran “diamankan” dulu masukin ke dalam sarang atau bius sedikit biar gak terlalu liar.
***************************
__ADS_1
Terus terang buat aku keluarga adalah tempat yang paling nyaman untuk pulang, seaneh apapun keluarga kita, mereka yang membuat kita menjadi manusia seperti sekarang, tempat dimana kehidupan kita dimulai dan cinta yang tidak pernah habis. Lope pisan pokoknya sama keluarga aku… seperti aku lope sama kalian semuah… Lope juga sama komen and like kalian apalagi sama vote yang sudah digelontorkan… hahahah. Stay safe and keep productive yaa Bro and SIs… Love u all...
****************************