
Ternyata kondisi Reza membaik keesokan harinya, tapi Hasna tetap memaksanya minum perasan air kunyit dan makan bubur dulu untuk sementara waktu, karena sudah merasakan manfaatnya Reza tidak banyak mengeluh langsung meneguk tanpa banyak komentar.
“Kenapa Pi..” Hujan melihat Reza yang masih memakai baju rumah di pagi hari saat makan di meja untuk sarapan.
‘Sakit Papinya… magh nya kambuh gegara kena racun sambal” Hasna menjawab sambil menyimpan piring berisi bubur di depan Reza.
“Mau ke kantor hari ini Mas?” Hasna memastikan terlebih dahulu apakah Reza akan berangkat kerja atau tidak.
“Agak siangan, setelah ini aku mau tiduran dulu sebentar” jawab Reza setelah menghabiskan bubur buatan Hasna kemudian kembali ke kamar.
“Papi makan sambal apaan emang? Biasanya juga gak pernah makan sambal” Hujan tampak heran.
“Hehehe sama Buna makanannya Papi dikasih sambal, maaf gak tau Bunanya” tiba-tiba Hasna teringat dia tidak tahu kebiasaan dan kesukaan Reza.
Hujan hanya tertawa, ia tidak tau drama tadi malam saat Reza datang dengan pucat pasi.
“Chargernya udah ketemu Bun?” tanya Hujan
“Ketemu dimana? Emangnya Buna udah lama tinggal disini” ucap Hasna sambil cemberut. Diusapnya bibir Maura yang belepotan dengan bubur gandum, semakin pintar makan sendiri.
“Sudah pesan online nanti siang datang kata sellernya” Disiapkan bekal Hujan
“Buna bekalnya jangan pakai hiasan kaya anak TK aku diketawain sama temen-temen” Hujan melihat bekalnya, nasi berbentuk Panda dan sayuran yang seperti rumput.
“Heheheh lucu lagi… ya sudah nanti dibikin yang bentuk normal, Maura sebentar lagi sekolah, hiasan bekalnya buat Maura saja” Hasna tertawa melihat ekspresi Hujan yang kesal. Ahhh bersyukur akhirnya semua berjalan dengan baik.. Meskipun masuk ke kantornya terlambat tapi kondisi Reza tampak sudah normal.
Ternyata memang paket charger datang siang menjelang ke sore, Hasna yang sudah tidak sabar seharian ini, memutuskan untuk tidak pergi keluar, hanya belajar dengan Maura, dan menyiapkan kelengkapan Maura untuk sekolah.
Perlahan Hasna menyambungkan hape untuk di charge, pas.. Fuiih untung gak salah beli, ditunggunya beberapa menit apakah hidup, 2 menit, 3 menit dan 5 menit tiba-tiba muncullah lambang baterai tercharge… alhamdulillah yesss… masih bisa hidup. Disimpannya handphone dan kemudian ia pergi menjalankan sholat Ashar, Maura masih tidur siang dan Hujan belum pulang karena hari ini harus mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan ujian akhir.
Setelah sholat dilihatnya hape sudah mulai terisi setengah cepat juga, indikator baterai sudah mulai melemah, cepat terisi, cepat juga habis biasanya. Perlahan Hasna memijit tombol power, mudah-mudahan tidak memakai pasword. Dan ternyata aaargggghhh memakai pasword… angka pula bukan pola… hadeuuuh musti tanya sama siapa, tidak mungkin menanyakan pada Mas Reza pikirnya, Hujan pun masih kecil waktu itu. Ia harus memikirkan beberapa kemungkinan pasword
Hasna memikirkan tanggal lahir hujan, tanggal pernikahan Reza Mitha, tanggal lahir Mitha, tanggal lahir Reza… ah itu yang dia ingat tanggal lahir Reza yang dibalik. Tapi masa seniat itu sih pasword handphone sendiri menggunakan tanggal lahir suami, hmmmm tak ada salahnya dicoba. Hasna langsung memijit nomor kombinasi itu dan….. YESSSSSS…. Betul ya ampunnn Mbak Mitha secinta itukah kau pada suamimu, Hasna menjadi sedih.
Hal yang pertama kali dilihatnya adalah galeri foto, ia berjanji akan memperlihatkan foto-foto Mitha pada Maura, dilihatnya pada bagian kamera ada banyak foto disana… ahhhh sayang ternyata Mitha bukan tipe orang yang suka selfie, kebanyakan adalah foto Hujan dan malah foto-foto Reza yang candid.. Ya ampun ternyata Mitha suka diam-diam memfoto suaminya.
Hasna melihat kumpulan foto-foto itu dengan sedih, ini seperti kembali ke masa lalu, rumah ini ternyata tidak banyak berubah, hanya Hujan yang terlihat banyak berubah, mukanya dulu masih tampak seperti anak-anak belum remaja seperti sekarang. Muka Reza tidak terlalu berubah sudah terlihat serius dan dingin seperti sekarang. Banyak juga foto-foto Reza yang candid tampaknya Mitha sangat mengagumi suaminya, yah memang terlihat keren dan ganteng. Hufftt… kenapa gak merasa cemburu tapi lebih ke terasa sedih yah pikir Hasna.
Kemudian Hasna berpindah ke bagian ikon pesan, hmm boleh gak yah membuka pesan orang lain… hmm kalau aku mau memperlihatkan handphone ini pada anak-anak dan Mas Reza jangan sampai ada hal yang menyedihkan pikir Hasna.. Ok diniatkan baik saja pikirnya, dengan perlahan Hasna mengklik tombol pesan. Ternyata masih banyak pesan yang belum terbuka artinya dulu handphone ini belum pernah ada yang buka lagi.
Hasna perlahan melihat satu persatu pesan yang ada.. Papi.. ini artinya nama panggilan Reza di handphone Mitha, Mama… ini pasti Mama Isna… Mama Bertha…. Kemudian ada beberapa grup yang dengan ribuan pesan di dalamnya. Nomor handphone ini pasti sudah tidak aktif lagi artinya ini adalah pesan yang masuk saat handphone masih aktif.. Kemudian ada beberapa nomor yang tidak dikenal...tanpa nama.
Perlahan Hasna membuka pesan dari Reza. Ada beberapa percakapan yang baru terbuka.
Mitha: Papi kenapa sampai seperti ini… kamu sudah berbohong
Reza: Ada apa? Aku baru selesai bertemu dengan investor baru dari Surabaya, jangan berpikir yang aneh-aneh kasian ade kalau kamu sedih, nanti aku telepon lagi… dont cry baby love u
Reza: Tadi telepon, maaf aku harus rapat lagi, nanti malam aku langsung telepon
Reza: Mit… jangan lupa minta ditemani Mama.. love u
Reza: Mit… Mit bisa angkat telepon… barusan mama telepon katanya kamu ke masuk RS
Reza: Mit… maaf aku dalam perjalanan ke Bandara… bertahan yang sayang..love u always
Hasna menangis, ya Allah artinya Mbak Mitha berusaha menghubungi Mas Reza untuk menanyakan apa, kenapa ia bertanya seperti itu dan menyebut Mas Reza berbohong.. Hasna semakin bingung. Ada yang aneh disini.
Dibukanya pesan pada Mama Isna ternyata kebanyakannya adalah kegundahan Mbak Mitha karena kehamilan yang terasa lebih melelahkan dan menyulitkannya. Mbak Mitha mengirimkan beberapa pesan yang ingin pulang tinggal di rumah bersama Mama Isna karena merasa sepi Reza jarang pulang cepat dan sering pergi keluar kota. Beberapa pesan juga meminta Mama Isna untuk menemaninya periksa ke dokter kandungan karena Reza yang terlalu sibuk sehingga tidak bisa menemani ke dokter. Hasna semakin merasa sedih, kalau saja dia ada disana saat itu ingin rasanya memukul suaminya dengan sandal. Istri lagi hamil malah sering ditinggalkan dan tidak ditemani.
Dibukanya pesan dari Mama Bertha kebanyakan hanya pesan untuk menjaga diri dan kesehatan, jawaban dari Mbak Mitha hanya terima kasih dan mendoakan Mama Bertha selalu sehat. Rupanya Mbak Mitha bukan tipe menantu yang suka bercerita dan curhat pada mertua, ia sangat santun dan menjaga sikapnya.
Pesan-pesan dalam grup berisi ucapan duka cita atas kematian Mitha, rupanya banyak pesan masuk saat Mitha meninggal dan beberapa foto-foto saat Mitha SMA dari grup SMA dan foto-foto Mitha saat kuliah, banyak juga rupanya teman Mbak Mitha pikir Hasna. Sampai akhirnya Hasna masuk pada pesan-pesan dari nomor yang tidak dikenal. Kenapa banyak sekali nomor tidak dikenal ini.
__ADS_1
“Dasar perempuan udik, cuma bisa ngurus rumah tapi pengen punya suami kaya” aaarghhhh apa ini… pikir Hasna pesan ini seperti surat kaleng, ternyata ada banyak.
“Makanya kuliah dong biar bisa jadi istri yang membanggakan” ini adalah pesan dengan nomor yang berbeda, dikirim di hari yang sama
“Cantik gak jadi jaminan suami bakalan suka, laki sekarang suka cewe cantik berotak” ...arghhh Hasna ingin membanting handphone ini melihat pesan itu, masih ada lagi pesan dibawahnya.
“Laki loe butuh perempuan yang badannya bagus kaya gue.. Loe hamil gak menarik” dan ini adalah pesan yang paling menjijikan dengan foto. Jantung Hasna serasa mau copot melihat foto itu… perempuan yang mengambil foto ini mengambil dengan sengaja dari belakang lelaki.
Kalau melihat bentuk kepalanya dari belakang seperti Mas Reza Hasna memperhatikan sampai di zoom iya ini seperti kepala Mas Reza, sedang apa dia dengan perempuan yang mengambil foto. Hasna mencoba menebak nebak apakah sedang berciuman karena muka perempuan tidak terlihat hanya rambutnya saja yang tampak sebagian, tapi kalau berciuman kok tampak terlalu rendah. Hasna kemudian menggeser foto lagi ternyata ada dua foto dan….. BERENGSEEEEEKKKK….
Hasna langsung melemparkan handphone itu, nafasnya terasa tersengal-senggal. Tiba-tiba dia menangis..bagaimana perasaan Mbak Mitha yang sedang hamil melihat foto itu, aku saja yang istrinya yang baru mau 2 bulan menikah merasa sakit dan pedih… apalagi perempuan yang sedang hamil melihat suaminya berpelukan dengan perempuan, dan kurang ajarnya perempuan itu tersenyum pada foto yang diambil candid.
Arcy benar-benar perempuan yang berengsek... Hasna mencoba mengendalikan dirinya, rasanya muncul kebencian dan amarah melihat foto itu. Foto kedua adalah foto Arcy sedang memeluk Reza, yang tidak sadar sedang difoto dari belakang oleh Arcy, yang menyebalkan adalah ekspresi mukanya yang seperti penuh kemenangan dan puas dalam foto. Hasna ingin memaki dan menjerit ...menyebalkaaaaann… Mbak Mithaaaa ya Allah maafkan aku gak ada disebelah kamu… coba kalau aku dulu sudah tau sudah aku banting perempuan itu.
Hasna menghapus airmatanya tepat saat Maura masuk ke kamar.
“Bunaaa aku mau pipis” Maura tampak menahan pipis sambil mendekati Hasna, dengan cepat Hasna menyimpan handphone itu, jangan sampai Maura tahu foto ini, dia pasti mengenali Papinya.
“Buna nangis?” Maura mengusap air mata yang tersisa di ujung mata Hasna
“Engga tadi Buna bersihin meja ada debu jadi perih” Hasna memeluk anak koala kesayangannya, Mbak Mitha anakmu akan aku jaga, jangan khawatir tidak akan kulepaskan jangan sampai jatuh ke nenek sihir itu.
Sore itu pikiran Hasna berkecamuk penuh dengan rasa galau dan kesal, ingin segera bertemu dengan Reza, ingin melihat bentuk kepalanya dari belakang. Tapi kalau sudah bertemu rasanya ingin memukulinya tapi kalau ia marah maka Reza akan tahu kalau dia membuka handphone Mitha.
“Buna gimana hpnya bisa jalan?” tiba-tiba Hujan bertanya saat makan malam, untung saja Reza belum datang dari kantor, tidak terbayang alasan seperti apa yang harus disiapkan kalau Reza bertanya tentang handphone itu.
“Engggga jalann… kayanya kelamaan mati, nanti Buna mau bawa ke pusat servis dulu. Mudah-mudahan bisa diselamatkan” Hasna tidak ingin Hujan melihat pesan dan foto-foto yang ada di hp itu. Jiwanya masih terlalu muda untuk bisa mengerti permasalahan orang dewasa. Ia bisa syok dan kecewa tanpa memahami duduk masalah yang sesungguhnya.
Ok… Hasna menarik nafas dia adalah manusia dewasa, harus berpikir lebih terbuka dan tidak terbawa emosi. Perempuan adalah mahluk dengan 99 emosi dan 1 akal tapi dengan 1 akalnya dia bisa mengendalikan 99 emosi yang ada di dalam dirinya. Waras Hasna…. Kamu musti eling dan tetap waras…. Jangan terbawa emosi. Hmmm musti minum air 1 liter dulu sebelum Mas Reza pulang pikir Hasna.
Sampai jam 8 Reza masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang, mungkin karena tadi masuk siang sehingga banyak pekerjaan yang tertunda. Akhirnya Hasna pasrah dan mengajak anak-anak untuk tidur. Maura harus dibiasakan untuk tidur awal karena minggu depan sudah mulai belajar di taman bermain.
Jam 9 lebih Hasna mendengar suara di ruang bawah, sengaja ia tidak menutup pintu kamar anak-anak agar bisa mendengar kalau Reza datang dari kantor. Ia bergegas turun ke bawah, anak-anak sudah tidur semua.
“Engga hanya sesekali terasa perih, tadi aku makan bubur lagi sore-sore, sekarang bisa minum air kunyit lagi gak sebelum makan?” rupanya dia sudah mulai ketagihan sama air kunyit.
“Ya aku buatkan sebentar, Mas Reza ganti baju aja dulu” Hasna langsung bergegas ke dapur. Dalam pikirannya berkecamuk berbagai jenis pertanyaan yang ingin ia tanyakan sekaitan dengan foto yang ada di hape Mitha. Bagaimana caranya dia bertanya tanpa membuat Reza curiga, pusing...hadeuuuh pusinggg…. Ayo Hasna berpikir cerdas… dulu kamu jago debat jadi pasti ada pertanyaan yang bisa memancing ke arah itu.
“Aku kan tidak mungkin bertanya Mas dulu pernah tidur dengan Arcy? Aaah itu terlalu vulgar dan terlalu to the point” Hasna mengetuk ngetuk kepalanya mencoba berpikir.
“Kenapa neng .. mukanya seperti yang puyeng mikirin oppo?” Mbak Jumi tiba-tiba muncul di dapur membuat Hasna kaget.
“Hadeuuuh mbak bikin kaget aja…” Hasna langsung mengusap-usap dadanya untung saja tadi sudah mencuci tangan kalau tidak bajunya sudah berubah menjadi kuning.
“Mbak … kalau kita mau tau laki-laki itu selingkuh atau engga gimana nanyanya?” Hasna langsung nembak Mbak Jumi, dia kan lebih expert secara umur lebih tua.
“Laah siapa yang selingkuh Tuan Reza? Yahhh ndak lah… tuan orangnya setia kok sama istri” euuhhhh dasar si Mbak sudah cinta mati sama majikan.
“Bukan mbak teman aku dia lagi hamil, trus suaminya jarang pulang, dia pengen ngecek suaminya selingkuh gak..gimana cara nanyanya” tanya Hasna mendingan bikin studi kasus diluar daerah rumah deh daripada disangka nuduh suami sendiri.
“Owww… yaaa kalau laki-lakinya bener sih nda akan selingkuh wong istri lagi hamil kok malah selingkuh” ehhhh ari si Embak… ya iya atuh kalau suami bener mah gak akan selingkuh apalagi istri lagi hamil… Hasna hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya… untung saja memasak bubur tidak berbentuk.. Jadi bisa melampiaskan kekesalan dengan sampai menghancurkan menjadi bubur. Terbayang kalau sambil ngobrol ngegoreng kerupuk...bisa-bisa kerupuk hancur dibikin bubuk saking keselnya.
“Iyaaa maksud aku gimana caranya ngeceknya?” tanya Hasna dengan penuh kesabaran tingkat dewa.
“Gampang toh mba.. Beginih biasanya kucing suka maling kalau lapar dan ada kesempatan, kalau kucing dirumah dikasih makan yang cukup ndak akan kemana-mana biasanya tidurrr aja lenyeh-lenyeh di rumah”
“Laki-laki juga begitu… dirumah kalau dkasih makan batin yang cukup nda akan liat atau nyari-nyari keluar Neng Hasna… mau hamil atau nda hamil… hamil juga masih bisa ngasih rantang bathin malah perempuan hamil suka terlihat lebih cantik… cuma masalahnya diluar suka ada yang nawar-nawarin iikkaaan… nah biasanya kucing suka mainin ikaaaan… nah supaya kucingnya gak makan ikaaaan… kasih makan yang kenyang di rumah … jadi kalau liat ikan cuma dilempar-lempar…. Digigit gigit tapi gak akan dimakan wong udah kenyang… udah ga ada yang bisa dikeluaariiiin” Mbak Jumi memberikan contoh dengan memakai anggota tubuh dan logat yang kental seperti pemain sinetron.
“Owh jadi kalau ada ikan diasongin paling digigitin aja yah Mbak?” tanya Hasna,
“Iyooo makanya bilangin sama temennya Neng Hasna, suaminya dikasih bekal bathin yang banyak, jadi pas pergi keluar udah gak pengen makan lagi… udah melenyos” ucapnya sambil beranjak keluar dari dapur.
“Mbaak itu Bapake gimana bekal bathinnya kalau Mbak Jumi lami disini” goda Hasna saat Mbak Jumi berjalan keluar dapur.
__ADS_1
“Si Mbak udah gak khawatir, bapaknya sekarang sudah tua… liat ikan bawal, ikan gurame sama ikan bandeng juga udah gak mau gigit lagi ...udah melenyosss...hahaha” Mbak Jum tertawa-tawa sambil keluar dapur, enak banget ngetawain suami pikir Hasna sambil tersenyum.
Jadi kesimpulannya laki-laki harus dibekali bekal rantang banthin yang cukup supaya bisa menghadapi ikan diluar. Hadeuuuh apalagi kalau ikannya kaya Arcy kaya ikan piranha pikir Hasna. Cuma apakah foto itu betul hanya pelampisan Mas Reza untuk mempermainkan ikan sekedar digigit-gigit saja karena terus digoda atau sampai dimakan...pikiran Hasna semakin pusing.
Dilihatnya Reza sedang menunggunya di sofa, saat ia mendekat Reza langsung mengambil gelas yang berisi air kunyit.
“Euhhh sampai segitunya pengen segera minum air kunyit, sebentar belum aku kasih madu, jadi masih getir” Hasna kaget melihat Reza yang langsung menegak air kunyit.
“Lama-lama jadi terbiasa sama rasanya, gak segetir waktu pertama” jelas Reza dengan ekpresi penuh kegetiran, Hasna jadi ingin tertawa melihatnya mirip muka Maura kalau dikasih jeruk yang asam.
“Tunggu dulu sebentar, baru makan bubur” ucap Hasna sambil berjalan ke belakang Reza, diambilnya hape dan mencoba memotret Reza dari belakang.
“Kamu lagi apa sih?” Reza melihat apa yang dilakukan Hasna dari pantulan cermin yang di dinding.
“Engga lagi ngecek bentukan kepala Mas Reza dari belakang kaya gimana, katanya ada ramalan bentuk kepala menentukan nasib seseorang” jawab Hasna asal, masa iya harus menjelaskan foto itu.
Sambil melihat Reza makan bubur Hasna mengingat apa yang dikatakan oleh Mbak Jum, kalau diluar rumah pasti ada saja ikan yang menarik untuk dilihat dan mungkin ditawarkan. Hmmm ..terbayang gaya berpakaian Arcy yang seksi sehingga mengekspose anggota tubuhnya, seperti ikan yang siap untuk diterkam.
“Mass….” tanya Hasna sambil menatap suaminya, Reza hanya asyik mengamati pertandingan di TV
“Massss….”
“Hmmmm”..
“Selama 3 tahun gak punya istri apa gak ada keinginan hasrat laki-laki gitu… untuk itu …. Itu” Hasna menggerak-gerakkan tangannya keluar seperti yaaah ituuu…
“Maksudnya?” Reza menoleh kepada Hasna, pertanyaan yang aneh apalagi pikirnya.
“Yaaah kan ...setiap hari melihat perempuan memakai rok pendek, duduk terbuka pahaaa kemana-mana… apakah tidak menimbulkan hasrat yaaaah untuk melakukan ituuuu...ituuu” ucap Hasna sambil terus menggerak-gerakan tangan kanannya di depan dada seperti kondaktor yang melambaikan musik untuk mengalun. Reza tersenyum….
“Itu apaaa? Sex? Susah amat ngomongnya” Reza tersenyum sinis.
“Yahhh ngerti ajaaa dong..gak usah disebutin juga” Hasna cemberut.
“Siapa perempuan yang memakai rok pendek Arcy maksudnya?” tanya Reza sambil tersenyum menatap Hasna.
“Ya salah satunya lah… masa tiap hari disuguhi tontonan paha mulus gak tertarik buat megang atau meraba gitu” Hasna mulai agak emosi mengingat foto yang ada di hape Mitha.
“Dia bukan selera aku” jawab Reza pendek..dihabiskannya bubur yang dibuat Hasna.
“Mulai besok aku sarapan jangan roti lagi tapi bubur gandum cream sup saja” ternyata Paduka Raja menyukainya..
“Gak selera tapi peluk-peluk” gerutu Hasna pelan.
“Apaaa?”
“Enggaa….” jawab Hasna…”.Ehhh.. Coba tadi difoto kaya yang ciuman, beneran ciuman gak sih, coba kalau direka adegan” tiba-tiba Hasna berpikir untuk melakukan reka adegan yang seperti berciuman.
“Mas sebentar coba berdiri” Hasna langsung menarik Reza berdiri, hadeuuuh masalahnya tinggi badan Arcy hampir sama dengan Reza sedangkan Hasna beda 10 cm lebih dengan perempuan itu.
Hasna langsung mengambil kursi belajar Maura yang pendek. Disimpannya di depan Reza dan kemudian ia naik dan berdiri di depan Reza, dilingkarkannya tangannya ke belakang kepala Reza dengan handphone posisi on camera.
“Bentar Mas aku mau reka adegan” ucapnya dengan serius, Reza tampak bingung mengapa tiba-tiba Hasna terlihat begitu agresif memeluknya.
“Wah masih kurang tinggi...musti jinjit dikit” ucap Hasna sambil terus menarik Reza ke dalam pelukannya.
“Kamu mau apa?” Reza tertawa melihat ekspresi Hasna yang serius tapi tidak memperlihatkan upaya menggoda.
“Diem dulu bentar… ini kepalanya gak pas musti agak muntir dikit.. Coba jejrek dulu kalau kepalanya jauh” Hasna memiringkan kepala Reza dan mengambil beberapa gambar. Ia tidak sadar kalau mukanya sudah dekat dengan Reza.
“Kamu mau menyombongkan foto untuk teman-teman kalau kamu ciuman sama suami? Musti yang benar dong fotonya… Seperti ini…..Hmmmmmppp” Reza langsung mengambil kesempatan untuk mencium Hasna.
Hasna dalam batas kesadarannya langsung mengambil beberapa foto saat berciuman dengan Reza…. Hmmmmmpppppppp
__ADS_1
Evidance is important… sisanya bonus..