
Di perjalanan Hasna tidak bertanya lebih jauh, terlalu kekanak-kanakan kalau mempertanyakan kenapa harus honeymoon, lah memang mereka sudah menikah. Jadi sangat wajar kalau mereka mengikuti tradisi seperti orang lain, mengkhususkan waktu untuk menikmati waktu berdua. Ternyata Steve mengantar mereka ke hotel di pusat kota, hotel yang mereka tempati ternyata hotel yang sangat besar bersebrangan dengan Marina Bay Sand. Awalnya Hasna mengira mereka akan menginap disana, secara hotel itu sangat terkenal dan ada banyak wahana yang menarik untuk anak-anak.
Saat melakukan proses check in di hotel, Hasna tidak bisa menahan rasa penasarannya, toh Steve sudah tidak ada, langsung pulang karena nanti harus menjemput mereka lagi ke tempat Venue.
“Mas aku kira menginapnya di Marina Bay Sand disana kan aku googling banyak tempat main buat anak-anak” Hasna bersender di meja repsesionis sambil memandang pemandangan Lobby Hotel yang sangat indah. “Tapi ini hotelnya bagus banget yaah, megah gitu… aku belum pernah liat hotel sebagus ini” lebih baik jujur pikir Hasna daripada sok iye.
“Hmmm… kita kan menginap bukan mau main ke area bermain anak tapi quality time” jawab Reza pendek, ia sedang mengisi data untuk check in. “Kenapa Mas Reza gak bilang sama aku kalau cuman kita berdua yang menginap di hotel?” Hasna menunduk tidak kuasa menyebut menginap untuk honeymoon mendengarnya saja sudah degdegan.
“Kamu suka banyak akalnya nanti ngacir lagi jadi mendingan di kasih surprise sama JURIG” Reza langsung tersenyum sinis sambil melengos, rupanya dia masih kesal gara-gara nama Jurig di hape Hasna. Malam itu mereka sampai meributkan nama jurig itu, karena Hasna tidak mau mengakui apa artinya. Hasna bersikeras kalau nama itu adalah singkatan dari Juragan Ganteng atau bos yang tampan, tapi Reza tidak percaya itu karena Hasna menjelaskan sambil tertawa-tawa. Akhirnya ia googling mencari kata jurig ternyata adalah hantu.
Sampai sekarang Hasna tidak mau menjelaskan kenapa menyebut Reza dengan istilah hantu. Akhirnya Reza tidak mempermasalahkan, yang terpenting melihat Hasna kembali tertawa karena Reza kesal dengan panggilan nama itu. Walaupun kemudian rasa kesal muncul di hatinya karena foto itu masih ada karena ternyata Arkhan sudah menyimpan copyan nya.
Reza menggamit tangan Hasna untuk mengikutinya menuju kamar yang telah mereka pesan. Hotel ini benar-benar amazing, bahkan karpet yang mereka injak terasa empuk padahal ini adalah area umum. Yang ada dibayangan Hasna betapa merepotkan harus memvacum karpet setebal dan sebanyak ini di area selasar, karena di area lobby hanya marmer yang sangat mengkilat berwarna krem sehingga memantulkan kemewahan.
Nafas Hasna semakin tersekat saat melihat kamar tempat ia menginap.
“Ughhh… masya allah kamarnya bagus banget...haaaaadeuuh” Hasna langsung melotot melihat di kamar itu ada ruang tamunya, mini kitchen dan ruang kerja disudut. Hasna masuk ke kamar ia kembali tercekat “Uwaaaaahhh Masss Masya Allah pemandangannya bagus banget, Hotel Marina Bay Sand nya keliatan dari sini...keren hahahahhaha” kamar tidurnya memiliki 4 jendela yang sangat luas memperlihatkan pemandangan Marina Bay atau Teluk Marina, karena mereka masuk ke kamar sudah sore menjelang malam maka pantulan sinar matahari di air dan gedung bisnis perkantoran tampak seperti cahaya keemasan.
“Kita check in di saat yang tepat, aku kemarin lihat di webnya foto saat sore hari, jadi kayanya pas buat kita ambil beberapa foto sekarang, daripada kita menginap di sana lebih baik kita melihat pemandangan ke arah hotel itu lebih dapat ikon Singapuranya… mana kamera kamu?” Reza langsung teringat niatnya untuk mengambil foto saat sore hari di hotel. Hasna langsung membongkar tasnya, ia simpan di ransel supaya mudah dan aman. Ia melihat Reza sangat mahir melakukan pengaturan kamera DLSR. Ia mengatur bukaan dan iso yang pas untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal. Beberapa kali melakukan pengambillan foto sampai Hasna mulai kesal.
“Aku yang bawa kamera malah Mas Reza yang asyik foto, kenapa kemarin gak bawa kamera sendiri” Hasna kesal, dia juga ingin mengambil foto yang bagus, kapan lagi mendapatkan golden moment seperti ini. Ini yang dinamakan datang disaat yang tepat dan di tempat yang terbaik. Reza melihat ke arah Hasna dan langsung tersenyum. “Sini kamu aku foto..” ia langsung menarik Hasna untuk berdiri di dekat jendela membelakangi pemandangan yang menakjubkan di luar.
__ADS_1
“Gak mau… dibilangin aku gak suka difoto aku sukanya fotoin aja” Hasna langsung menahan diri, mematung tidak mau berpindah. “Asshhhh suka gak nurut kalau disuruh sama suami” Reza mendorong dan menyeret Hasna agar berdiri pada titik yang dianggap bagus. “Senyummm… jangan manyun gitu jelek” Reza langsung mencoba beberapa pengambilan foto, “Yah atuda muka akunya herang gini… musti di make up in dikit” Hasna langsung cemberut dan melihat hasil foto yang tidak terlihat tidak natural sama sekali.
“Hapus aahh..,jelek gitu..gak bisaeun photographernya… sini coba aku yang ambil foto.. Mas Reza kesana buruan mumpung cahayanya masih bagus” Hasna mendorong Reza ke tempat tadi ia berdiri. “Dagu nya angkat ke atas sedikit, kepalanya miring sedikit kekiri.. Ok trus tatapan ke arah teluk.. “ Hasna langsung mengambil beberapa foto dari beberapa posisi, dilihatnya hasilnya lumayan bagus. “Ganti pose...sekarang lihat ke kamera” beuuh gayanya pengen ngelempar pake sepatu pikir Hasna melihat Reza dengan percaya dirinya duduk dan memandang kamera.” Ganti lagi posisi sekarang, berdiri tapi nyender ke jendela… bentar itu kemejanya buka 1 kancingnya” Hasna jadi teringat model-model oppa korea di instragem.
“Argh apaan sih kamu, jadi kaya laki-laki penggoda kalau buka kemeja” Reza langsung menolak. “Ehhh dieem ah… aku yang lihat jangan khawatir aku bisa bikin foto yang santun tapi menjual” Hasna memaksa Reza membuka 1 kancing kemejanya.. Dirapihkannya tampilan kemudian langsung diambil beberapa foto. “Hadeeeuuhh hahahhaha keren beginiih… Nenek sihir pasti langsung ngiler liat foto Mas Reza kaya ginih” Hasna terkikik kikik melihat foto hasil jepretannya.
Reza langsung melihat foto-foto yang diambil Hasna, luar biasa memang terlihat alami dan menonjolkan sisi modelnya. Anak ini punya bakat jadi photographer pikirnya. “Hmmm lumayan bagus, mungkin karena modelnya yang menjual dan photogenic jadi terlihat keren fotonya” Hasna langsung melotot. “Mau ganteng kaya Hyun Bin juga kalau photographernya buluk hasil photonya bakalan kaya Kim Jong Uun” direbutnya kamera dari tangan Reza. “Aku mau jual sama cemcem an Mas Reza tuh Nenek Sihir Buluk.. Kali aja dia mau beli mahal...lumayan buat nambah-nambah beli makeup” ucap Hasna sambil selonjoran di kasur.
“Siapa Nenek Sihir Buluk?” Reza bingung disebut punya cemceman. Hasna langsung melengos sebal, “pura-pura gak tau weeek… itu yang setiap hari pake rok mini angkat kaki tebar pesona” Reza langsung tertawa melihat gaya Hasna yang mengangkat kakinya menirukan gaya Arcy “ Hahahahhaha … dia kalau tau disebut Nenek Sihir Buluk pasti makin benci sama kamu” Reza merebahkan dirinya disebelah Hasna, perempuan ini selalu memiliki istilah yang aneh untuk orang lain.
“Cemcem an aku kan cuma satu yang dirumah Nona Pelipur Rara” hmm Hasna langsung beringsut ini sudah mulai rayuan gombal. “Gak mempan gombal-gombal sama aku mah apalagi datang dari jurig kaya Mas Reza” nah ini pas momen untuk klarifikasi. “Nahhhh ketauan sekarang jurig bukan singkatan” Reza langsung memegang tangan Hasna yang langsung akan kabur. “Eheheheheh salah bukan-bukan bgitu..” Hasna langsung beranjak bangun, ia tidak sadar mengungkap alasan nama jurig.
“Diemmm kamu disini...sekarang kamu gak bisa kemana-mana..jelasin dulu apa maksudnya nyebut aku HANTU” Reza menarik Hasna kembali berbaring. “Ehhhh … hehehehehe aku bilang juga juragan ganteng… Mas Reza kan boz yang ganteng” Hasna masih bersikukuh ngeles. “Memangnya aku Maura bisa kamu bohongin, jelaskan sekarang atau aku gak akan lepasin pitingan” Reza langsung memeluk Hasna dari belakang supaya diam.
“Jurig soalnya Mas Reza itu suami tapi gak kaya suami… mahluk kasat mata… suka mengganggu tapi ga bisa disentuh… heheheheh kaya hantu” Hasna langsung menutup mukanya takut dimarahin Reza. “Kemarin foto-foto aku dihapusin… padahal Mas Reza sendiri punya foto Mbak Mitha… punya dunia sendiri… aku gak pernah bisa masuk ke dunia Mas Reza… kita punya dunia yang berbeda...aku manusia… mas mahluk astral ...hihihihi” Hasna langsung cekikikan.
Reza hanya diam ucapan Hasna membuatnya menjadi termenung. “Jurig itu kan suka mengganggu manusia tapi manusia gak bisa mengganggu Jurig” Hasna tersenyum kemudian dia beranjak bangun untuk bersiap. Tapi sebelum sempat ia turun dari kasur badannya kembali ditarik Reza hingga terlentang di tempat tidur, Reza menahan tubuh Hasna di bawahnya ada jarak sehingga membuatnya bisa melihat seluruh muka istrinya. Hasna langsung kaget ia menyangka kalau Reza akan marah.
“Hehe maaf aku cuma main-main nanti aku ganti namanya jadi Juragan..Tuan...Boz Besar” Hasna berusaha mendorong Reza supaya tidak berada di atasnya, tapi seperti sudah ia perkirakan tenaganya tidak berarti apa-apa. “Jadi itu yang ada dalam pikiran kamu selama ini.. Saya hanya jadi mahluk pengganggu… kita tinggal di dunia yang berbeda?” tanya Reza menatap lekat mata Hasna.
“Ehhmm…”Hasna langsung memalingkan matanya, ia tidak pernah bertatapan sedekat itu dengan Reza, ia merasa sangat canggung. “Kamu tidak pernah berpikir kalau kamu sudah mengganggu dunia saya… tapi kamu seperti tidak perduli sudah mengganggu saya” ucap Reza sambil mengusap anak rambut di dahi Hasna. “Kamu sudah membawa anak-anak saya pindah ke dunia kamu… tapi kamu tidak pernah ingat untuk mengajak saya ikut pindah”
__ADS_1
“Kamu sudah mengacak-acak dunia saya tinggal tapi kamu bukannya merasa bersalah malah kamu merasa marah karena saya yang tinggal disana” Reza menatap Hasna tajam.. “Wajar saya tidak menyukai semua orang yang menyukai kamu… karena saya tidak mengerti harus bagaimana menyingkirkan orang dunianya sudah ada dengan kamu sejak dulu” Reza menarik nafas “Kamu terlalu cepat mengacak-acak duniaku”. Disentuhnya dengan lembut bibir Hasna yang sedari tadi terlihat pucat.
“Maafff……” Hasna menjawab dengan tercekat, dia tidak menyangka ungkapan iseng darinya membuat Reza memberikan jawaban yang sangat dalam. Suaminya memang tidak pernah banyak bicara tapi sekalinya bicara membuatnya tidak bisa berkutik. Reza menarik nafas panjang, dikecupnya lembut bibir istrinya dan kemudian dia bangun. “Sekarang kamu bangun dan segera mandi… kalau sekarang kamu gak segera mandi, aku jamin kamu tidak akan pernah melihat lagi Boy Band idaman kamu seumur hidup” Reza bangun dari kasur dan berjalan ke arah meja kerja.
Hasna langsung bangun dengan cepat, bayangan tidak akan melihat konser BigBang padahal ia sudah tinggal selangkah lagi terlalu mengerikan untuk dibayangkan. “Uwwwooooooww… Masss kamar mandinya segede kamar aku di Bandung hahahahahhaahah” terdengar teriakan Hasna di kamar mandi. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepala, kelakuan perempuan itu membuatnya selalu bisa tersenyum. Ia menarik nafas, kalau tadi ia tidak bisa menahan diri rasanya sudah ingin memeluk perempuan itu dan tidak melepaskannya.
Selama sisa waktu yang tersisa Reza terus mengingatkan kalau mereka harus bersiap satu jam kedepan, tapi ternyata untuk hadir dalam konser ini Hasna butuh waktu lebih lama, untuk berdandan yang biasanya hanya 15 menit ia telah menghabiskan waktu lebih dari 30 menit untuk memakai makeup, pakaian yang terus berganti-ganti keluar masuk toilet sampai Reza pusing karena ia tidak bisa mandi. “Kamu memakai lipstik hitam pun tidak akan terlihat oleh laki-laki rambut berkucir itu, terlalu jauh untuk bisa dikenali” jawab Reza saat Hasna berulang kali menanyakan warna lipstik apa yang cocok dia pakai.
Akhirnya Reza menyeret Hasna untuk segera memakai sepatu, karena ternyata Steve dan Hujan sudah menunggu di Lobby hotel. “Sekarang atau kita batalkan saja nonton konsernya” saat Hasna mengeluh merasa baju yang dipakainya terlalu biasa. Otaknya suda terasa mau meledak, Reza memandang Hasna dengan kesal. Hasna langsung tersenyum dan berdiri dengan tegak.
“Terima kassssiiihhhh … aku gak pernah bayangin bisa nonton konser BigBang secepat ini… terima kasih sudah mewujudkan semua impian aku… bisa kuliah S2 dan bisa bertemu dengan GD Oppa” Hasna berdiri di depan Reza yang sedang berkacak pinggang karena kesal. Muka Reza yang merengut kesal hanya menatapnya dengan dingin. Hari ini istrinya berdandan dengan cantik hanya untuk bertemu dengan pria lain, untuk melihat laki-laki yang sudah dipastikan tidak akan melihatnya, ia sampai jungkir balik makeup dan bingung melakukan apa. Mau cemburu pun terlalu memalukan, ia malah merasa malu dengan kelakuan istrinya yang seperti remaja labil saat ini.
Reza masih merengut kesal saat Hasna memegang tangannya. “Aku janji mulai sekarang aku akan membawa Mas Reza tinggal di dunia aku…. Hehehehe udah atuh jangan marah terus… aku suka jadi gemes pengen nyium” goda Hasna. “Ya cium dulu… biar hilang marahnya” ucap Reza dengan hidung kembang kempis. “ Iya sini atuh…. Muacchhhhhh… dah aku udah cium duluan suami… biar nanti kalau ketemu GD Oppa dia cuman dapat bekasnya aja” ucap Hasna santai. Diciumnya Reza dengan sepenuh hati dan dipeluk dengan penuh perasaan.
Reza terperangah menderngar ucapan Hasna yang terakhir, “Heeeeeeehhh…. Awaasss kamu berani-berani nyium diaa” Reza langsung teriak…Hasna tertawa-tawa...Hadeuuuh dasar laki-laki pikirnya... akal 99 bisa kalah sama emosi 1… kan tadi sudah bilang gak bakalan keliatan warna lipstik juga… gimana mau nyium coba keliatan juga kagak. Ia bergegas berjalan ke lift jangan sampai anak petir menunggu terlalu lama di lobby bisa rusak moodnya.
“Bunaa lama banget sih, aku udah nungguin 15 menit nanti kita ngantri lama kata Uncle Steve” Hujan sudah cemberut dan melipat tangan di dada. “Wahahahahha dandan nya niat banget sampai pakai maskara segala...hahahha gak akan keliatan juga sama GD Oppa” Hujan mentertawakan Hasna yang berdandan lengkap malam itu..”Hihihihi tapi gak apa-apa Buna keliatan cantik deh… gak kalah sama Cici cici Singapura” Hasna langsung mendelik, usahanya untuk tampil maksimal malah ditertawakan Hujan.
“Kaka… ini impian Buna sejak kuliah bertemu dengan GD Oppa.. kamu jangan ngerusak imaginasi … nanti gak akan ditemani nonton konser BTS tau rasa kamu” Hasna langsung mengancam. “Hahahahahha iya-iya aku kan gak bilang Buna jelek tapi niat banget...hahahaha” Hujan langsung menggandeng Hasna untuk berjalan keluar, dia tahu kalau Hasna cuma bisa gertak sambal saja kalau marah.
Steve tersenyum melihat tingkah laku ibu dan anak itu, ia kemudian berpaling memandang Reza dan tersenyum lebih lebar. “The honeymoon has already started I think… you’ve got lipstick on your lips” Steve tertawa meninggalkan Reza yang kebingungan, diusapnya bibir yang tadi dicium Hasna, rupanya perempuan itu meninggalkan lipstik saat mencium tadi.
__ADS_1
“Arghhhhh… dasar.. Awas kamu nanti sepulang konser, aku habiskan semua lipstiknya” Reza langsung menghapus bekas lipstik yang menempel di bibirnya…..
Hasna mendingan jangan pulang ke hotel deh… ikut aja sama GD Oppa ke Korea