
Masa-masa kehamilan bisa dilewati Hasna dengan baik, tidak banyak keluhan berarti yang dialaminya. Kesibukan membantu menyusun tugas penelitian Arkhan ternyata benar-benar bisa mengalihkan perhatian Hasna sehingga memiliki kesibukan setelah menyelesaikan kegiatan di rumah. Asti keponakan Mbak Jumi datang membantu setiap hari. Reza tidak mengijinkan Hasna membersihkan rumah terutama pekerjaan yang menuntut aktivitas fisik.
Hampir setiap hari Hasna ikut Reza ke kantor, dipaksa ikut lebih tepatnya. Alasan Reza adalah daripada mengerjakan di rumah lebih baik mengerjakan di kantor nanti pulangnya bisa menjemput Maura. Akhirnya dalam seminggu minimal tiga kali Hasna ikutan ngantor bersama Reza, orang-orang di kantor pun sudah terbiasa melihatnya. Walaupun seringkali Hasna ditinggalkan rapat berjam-jam tapi tidak pernah protes karena paham akan kesibukan Reza.
Ternyata pertimbangan Reza untuk melibatkan Hasna dalam tugas akhir Arkhan menjadi win win solution. Hasna terbantu memiliki aktivitas yang ia sukai, Arkhan pun bisa menyelesaikan tugas akhirnya, sambil fokus mengerjakan pekerjaan kantor. Yah walaupun terkadang seringkali Hasna dibuat kesal karena Arkhan tidak menyelesaikan analisa tesis yang Hasna minta untuk dibuat Arkhan sendiri.
Bukan apa-apa, Hasna ingin Arkhan tetap memahami penelitian yang dilakukannya, ia hanya mengkompilasi dan menyusun data hingga bisa dibaca, tapi penting untuk pembuat tesis memahami roh penelitian yang dibuatnya.
“Kalau seperti ini namanya penelitian bodong. Aku gak mau terlibat dalam upaya pembohongan, masa bikin analisa gini aja Kang Arkhan gak bisa” Hasna langsung marah saat ia menagih hasil analisa data yang diminta untuk dikerjakan Arkhan tapi masih saja belum dikerjakan. Sudah lebih dari dua hari dari target yang mereka sepakati.
“Aduuuh Na.. aseli aku gak punya waktu buat ngerjainnya, udah seminggu ini aku pulang malem trus ...nyampe ke rumah udah cape banget langsung tidur… laki loe tuh kerja kaya rodi aja.. Pulang tiap hari sampe malam” Arkhan menggaruk-garuk kepalanya, dia tampak pusing saat dimarahi Hasna karena selalu mangkir dalam memberikan bagian pekerjaannya.
“Ya sudah aku gak mau bantu lagi.. Kerjakan sendiri” Hasna langsung memasukan laptopnya ke dalam tas. Selama ini ia selalu bekerja di meja rapat di ruangan Reza, lebih nyaman untuk duduk disana sehingga tidak mengganggu kalau Reza ada tamu.
“Ehhh… jangan Na… please tolongin aku, kemarin aku udah di acc buat bimbingan bersama dulu, kalau sekarang kamu mundur siapa yang bantu aku… beneran aku sama sekali gak ada waktu” Arkhan tampak putus asa. Semua bab sudah selesai hanya perlu penambahan analisis seperti permintaan Prof Jatmiko.
“Mas…. tesis nya Kang Arkhan sudah mau selesai. Kasih waktu buat dia bisa mengerjakan tugas. Kalau ini tidak dia kerjakan sendiri, nanti pas sidang tesis tidak akan paham, kan memalukan” Hasna langsung menyerang Reza yang tampak asyik sendiri di meja kerjanya sambil senyam senyum melihat ke laptopnya.
“Massss….liat apa sih” Hasna jadi kesal karena Reza seperti tidak memperhatikan apa yang ia bicarakan. Hamil besar membuat perut Hasna susah keluar dari meja untuk berdiri, melihat Hasna yang akan beranjak ke mejanya Reza segera menutup laptopnya dan berjalan ke arah meja rapat dengan terburu-buru.
“Liat apa di laptop...kenapa musti buru-buru di tutup. Mencurigakan” Hasna langsung melotot, beberapa hari ini sikap Reza terlihat aneh, jadi lebih banyak bergaya di depan kaca. Senyam senyum sendiri membuat Hasna menjadi was-was. Dengan tubuh yang semakin gemuk kepercayaan dirinya menjadi berkurang, sering merasa tidak menarik. Walaupun begitu Reza masih saja memujinya dan mengatakan kalau dia semakin menarik beberapa hari belakangan ini.
Bukankah kalau orang melakukan suatu kesalahan cenderung menutupinya dengan bersikap baik. Pikiran buruknya entah kenapa sering mendominasi belakangan ini. Tapi ia tetap berusaha berpikir positif, tidak mungkin kalau suaminya berkhianat saat ia sedang hamil besar seperti ini. Apalagi ia hampir tidak pernah menolak kalau Reza memiliki keinginan untuk intim, Hasna selalu mengingat pesan Mbak Jumi untuk selalu memberikan makan kucing supaya tidak tertarik ikan diluar. Tapi bagaimana kalau ikannya mahal dan keliatan enak.. Ah akhirnya dia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.. Sebodo amat pikirnya dosa-dosa dia kalau sampai melakukan hal yang tidak benar.
“Kang Arkhan harus menyelesaikan bagian analisisnya, dari kemarin dia belum menyelesaikan, alasannya Mas Reza ngasih kerjaan terlalu banyak sampai pulangnya malam terus. Ngerjain apa sih emang sampai pulang jam 10 terus setiap malam” Hasna langsung menatap Reza tajam. Sudah tiga hari ini Reza juga selalu terlambat pulang.
“Ahhh aku yang pulang sampai malam. Abang kan pulll….” belum sempat Arkhan menyelesaikan kalimatnya, Reza keburu memukul kepala Arkhan “ Awww… apaan sih Bang” Arkhan memegang kepalanya yang dipukul tiba-tiba oleh Reza. “Nyamuk gede banget… kok ada nyamuk masuk ke kantor yah…. Panggil OB sana suruh bawa semprotan serangga, bahaya nanti kalau nyamuk DB ngigit kamu Ra..” Reza mengibas-ibas tangannya ke udara seakan-akan mengusir nyamuk di dekat Hasna. Dengan malas Arkhan beranjak keluar memangil OB sambil mengusap-usap kepalanya.
Hasna langsung memandang Reza dengan kesal, sudah jelas kalau ia sedang menyembunyikan sesuatu sehingga melarang Arkhan untuk berbicara.
__ADS_1
“Kamu tuh lagi berbohong ya Mas? Jangan pura-pura, aku tahu kalau kamu lagi acting” Hasna membereskan laptopnya. Reza langsung panik melihat Hasna marah, paling susah memang kalau berhadapan sama istrinya tahu saja apa isi pikirannya. Reza sering merasa heran, berulang kali ia ingin meminta sesuatu pada istrinya tapi belum juga mengucapkan sudah langsung dilakukan atau dipenuhi oleh Hasna. Kadang ia merasa kalau istrinya punya indra ke enam.
“Mau kemana? Ini kan baru jam sebelas. Maura pulangnya masih dua jam lagi” Reza menahan tangan Hasna yang akan mengambil tas berisi laptopnya.
“Mentok aku diem di sini, laki-lakinya gak bener semua. Yang satu suka berbohong satunya lagi gak bisa menepati janji” Hasna menarik nafas, daripada meributkan kelakukan suaminya, lebih baik ia pulang ke rumah atau jalan-jalan ke mall, mencari pakaian bayi atau hal lain yang bisa menyenangkan hati. Bulan ini usia kandungannya sudah delapan bulan lebih, sudah 34 minggu, perkiraan dokter ia akan melahirkan antara minggu ke 34 -36. Saat ini ia sudah sulit untuk bisa tidur nyenyak di malam hari, sehingga harus sering menyempatkan diri untuk tidur siang.
“Aku mau pulang cape… pokoknya kasih waktu dalam minggu ini supaya Kang Arkhan bisa mengerjarkan tesisnya, jadi minggu depan dia sudah bisa mengajukan ujian” Hasna mengangkat tas yang berisi laptop. Saat Arkhan datang dengan office boy yang membawa semprotan serangga ia langsung kaget melihat Hasna akan pergi.
“Nana kamu mau kemana? Aku kan belum selesai ini ngerjain analisisnya, tungguin lah satu jam saja. Nanti aku kasihkan ke kamu biar bisa kamu baca dulu sebelum aku setor sama Pembimbing” Reza menggelengkan wajahnya, ia sudah bisa melihat kalau Hasna terlihat lelah. “Aku nganterin dulu Hasna kerumah.. Kamu bisa kerjakan analisis datanya sambil aku pergi, kalau sudah selesai emailkan saja sama Hasna. Kita lanjutkan diskusi projectnya setelah aku pulang makan siang” Arkhan mengangguk paham.
“Nanti aku bawain lagi buah Kiwi yah kesukaan kamu biar kamu nya segar lagi, kan kiwi banyak vitamin C nya” ucap Arkhan berusaha membujuk Hasna supaya tidak ngambek karena ia tidak memenuhi tugas yang diberikan Hasna padanya. Hasna hanya menggelengkan kepala dengan lemah. “Belikan vitamin DHA aja, minum sama akang biar cerdas biar bisa menganalisis dengan cepat” Reza langsung tersenyum lebar mendengarnya, semakin kesini istrinya semakin jenius dalam membuat sindiran yang telak.
Sepanjang perjalanan pulang Hasna tidak banyak bicara, saat diajak untuk belanja ke Mall menolak, ia sudah tidak bersemangat untuk berjalan-jalan. Moodnya langsung rusak saat dikantor Reza tadi.
“Kenapa kok diam saja dari tadi, masih marah? Sama aku atau Arkhan?” Reza menarik nafas, ia sudah tahu kalau Hasna sampai diam artinya kesalnya sudah di atas rata-rata. Hasna menggelengkan kepala. Kepalanya terasa berat, rasanya sangat mengantuk sehingga ingin tidur sesaat.
“Kamu mau nengok rumah Bintaro gak sekarang? Mumpung aku lagi gak banyak kerjaan” tawar Reza karena Hasna masih membelakangi dan tidak bicara apapun dari tadi. “Kalau gak banyak kerjaan kenapa pulangnya malam terus” jawab Hasna masih membelakangi Reza. Reza tersenyum sudah ia perkirakan kalau Hasna marah padanya.
“Kan aku musti ngecek rumah di Bintaro, perjalanan kesana sering macet. Kalau gak di cek nanti speknya gak sesuai dengan yang aku inginkan” sebelah tangan Reza mengusap-usap lengan Hasna, duh kalau dia tidak menyetir ingin rasanya memeluk istrinya erat. Kalau sudah ngambek gayanya mirip dengan Maura, entah Maura yang meniru gaya Bunanya tapi makin kesini ibu dan anak ini semakin saling mengcopy gaya bicara dan sikapnya.
Sesampainya di rumah Reza menemani Hasna dulu tiduran di kamar, setelah melihat Hasna tidur ia langsung berangkat lagi ke kantor. Ada banyak rencana yang sudah ia susun untuk istrinya. Mumpung masih belum melahirkan ia ingin memberikan banyak perhatian dan kenangan dengan istrinya. Reza sudah bisa membayangkan kalau sudah ada bayi pasti akan sangat sulit untuk memiliki quality time berdua.
Malamnya ia berusaha pulang lebih cepat, tidak ingin Hasna kembali merajuk. Jam delapan malam ia sudah sampai di rumah, dilihatnya Hujan dan Maura sedang bermain di meja ruang tengah. Kedua anak ini semakin akur dan jarang bertengkar mungkin karena sebentar lagi akan punya adik. Memikirkan anak kembarnya sampai sekarang mereka sulit untuk mengetahui apa jenis kelamin bayi yang kedua, karena berbeda dengan baby A yang tidak mau diam, baby B cenderung anteng dan tidak banyak mau bergerak.
Oya setelah sekian banyak kontroversi nama panggilan, akhirnya yang memenangkan nama panggilan untuk bayi adalah Maura, dan seperti sudah di duga Maura akan memilih nama A dan B untuk nama bayinya, pada mulanya Maura bersikukuh harus ada Baby C supaya cocok namanya ABC tapi kemudian disepakati kalau Baby C adalah Papi.
“Mas kok cepat pulangnya” Reza hanya bisa meringis, pulang malam diprotes sekarang dia pulang lebih cepat juga masih kena protes.
“Iya mau nemenin Buna, tadi keliatan gak semangat gitu.. Aku mandi dulu yah” Reza sangat menjaga kebersihan, tidak akan mau menyentuh anak-anak dan Hasna kalau belum membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah mandi dilihatnya Hasna sudah merebahkan diri di tempat tidur.
__ADS_1
“Sudah mau tidur? Anak-anak juga?” Hasna mengangguk. “Sekarang mereka suka tidur lebih awal, jam delapan sudah pada tidur malah biasanya, katanya cape” Hasna membaringkan tubuhnya miring menghadap Reza yang sudah berpakaian kaus rumah dan celana pendek untuk tidur.
Meskipun memakai baju yang sederhana, ia terlihat lebih muda dari usianya. Hasna malah merasa kalau Reza memakai baju kerja dengan jas lengkap membuatnya terlihat lebih tua, karena berkesan serius dan galak. Tapi kalau sudah memakai baju rumah atau celana jeans dengan kaus Reza akan terlihat berbeda 3-4 tahun lebih tua darinya. Hal yang aneh dan mengesalkan kadang-kadang.
“Mas bulan depan Aurel mau nikah.. Aku bisa gak yah hadir di acara nikahannya?” Hasna nampak melamun membayangkan kemungkinan untuk bisa datang ke Bandung di acara nikahan Aurel. Setelah lulus kuliah dan bekerja, ia langsung memutuskan untuk menikah dengan Steven, memang sudah lama mereka pacaran jadi wajar kalau mereka sekarang memutuskan menikah.
“Tinggal Gina yang belum punya pacar, dia sekarang sibuk kerja di Bank pulangnya malam terus. Aku jadi khawatir nanti dia keasyikan kerja, kaya yang gak berminat kalau kita mau ngenalin dia sama teman laki-laki” keluh Hasna. Reza menatap istrinya, dia selalu saja memikirkan teman-temannya. Jarang memikirkan dirinya sendiri, kalau nanti melahirkan mau bagaimana, apakah akan normal atau di sesar. Padahal Reza sudah bingung dan khawatir, tapi Hasna tampak tenang-tenang saja.
“Kemarin aku baca di internet kalau suami istri itu saat di akhirat kelak akan dipertemukan kembali dengan pasangannya di dunia. Aku gak bisa bayangin nanti gimana muka Mas Reza pas ketemu di akhirat trus ada Mbak Mitha sama aku barengan...hehehehehe” Reza tampak diam mendengar ucapan Hasna.
“Katanya kalau pasangan itu salah satunya meninggal lebih dulu, dan pasangan yang lainnya menikah lagi dengan orang lain. Maka diakhirat dia akan dipasangkan dengan pasangannya yang terakhir. Ikh… aku gak bisa bayangin kalau Mbak Mitha jadi gak ada pasangannya gegara aku nikah sama Mas Reza. Jadi aku gak apa-apa kalau Mas Reza nanti di akhirat berpasangannya sama Mbak Mitha… jangan khawatir karena katanya di akhirat itu tidak ada orang yang menjomblo atau single mereka pasti akan memiliki pasangan”
“Nah kalau seperti itu akan akan minta sama Allah supaya aku bisa dipasangin sama GD Oppa..hehehe bolehkan?, aku akan bilang sama Allah. Kalau GD Oppa walaupun bukan muslim dia sudah banyak menghibur manusia di dunia, jadi ampunilah dia” Reza hanya diam dan menatap istrinya lekat. Hasna masih bersemangat bercerita, ia tidak memperhatikan ekspresi Reza yang tampak menggelap.
“Trus aku akan minta sama Allah supaya ia juga memberikan ampunan untuk TOP Oppa supaya dia bisa jadi Kepala Pelayan di Istana Aku, terus aku pengen Taeyang Oppa jadi Kepala Keamanan di Istana aku, terus aku...heheheh aku juga akan minta Daesung Oppa untuk jadi supir pribadiku… senang kayanya kalau punya supir pribadi kaya dia banyak ngajak ngobrol di jalan sambil ketawa-ketawa.
“Kalau TOP Oppa itu kan serius dan sangat menjaga kebersihan jadi cocok jadi Kepala Pelayan, trus Taeyang Oppa sangat bugar dan garang heheheh cocok jadi Kepala Keamanan. Ehhh satu lagi hihihihi aku pengen Honggi Oppa jadi Kepala Urusan Perbelanjaan dan Fashion..hehehe asyik kayanya nanti kutekan bareng sama dia, trus belanja ngomongin fashion terkini. Hmmm tapi urusan fashion GD Oppa lebih ok….” Hasna tampak terus berhalusinasi. Reza menatapnya dengan penuh rasa sayang dan memeluknya.
“Kalau di surga nanti kita berpapasan, kamu tidak akan kangen dan ingin memeluk aku” tanya Reza pelan.
Hasna hanya diam, lama tidak menjawab
“Yah sedih pasti.. Tapi aku lebih sedih kalau ketemu sama Mbak Mitha dan dia melihat Mas Reza yang barengan sama aku dengan tatapan sedihnya, aku pasti merasa bersalah” ucapnya pelan. Reza menarik nafas panjang. “Sudah sekarang kita tidur, besok hari yang panjang” ucapnya. Hasna langsung tengadah dan bingung.
“Memangnya besok mau kemana? Aku besok gak akan ikut ke kantor lagi, tesisnya Kang Arkhan sudah selesai, dia udah menyanggupi untuk memperbaiki sendiri” Reza membenamkan kepala Hasna dipelukannya.
“Tunggu saja besok … sekarang istirahat supaya besok segar”
Besok ada apa sih…? Jadi penasaran
__ADS_1