
Reza masih duduk di sofa dengan bersender santai sambil mengacung-acungkan body lotion pemberian Hasna.
“Ayo aku udah mandi kok tinggal perawatan, enak nih kayanya setelah seminggu kerja lembur bagai kuda” mulai keluar senyam senyum menyebalkan lagi.
Maura malah pergi lagi ke kamar ingin menunjukkan kepada Hujan perlengkapan mep-ap nya.
“Sebetulnya itu aku beli bukan buat Mas Reza tapi buat aku sendiri” Hasna langsung membuat alasan.
“Trus kalau itu punya kamu aku gak boleh pakai? Ya sudah kalau gak boleh pakai” Reza langsung menyimpan handbody itu dimeja.
“Ehh gak gitu juga, kok kaya yang ngambek gitu” Hasna gak enak hati segera diambilnya handbody yang disimpan Reza di meja. Reza berusaha menahan senyumannya dengan mencoba memejamkan mata seperti sedang mencoba tidur.
“Sini tangannya” Hasna langsung meraih tangan Reza dan dituangkannya lotion di tangan Hasna dan dicium aromanya.
“Hmm enak banget harumnya” ucap Hasna, karena terlalu lama menunggu Hasna menuangkan lotion dan menikmati aroma lotion membuat tangan Reza pegal dan dijatuhkan di pangkuan Hasna. Hasna langsung terlonjak kaget.
“Pegal tangannya ngacung terus ke atas” jawab Reza santai. Hasna langsung gelagapan pahanya disandari tangan Reza. Duh muka Hasna langsung merah. Diraihnya tangan Reza dan dioleskannya lotion. Hasna tidak berani menatap muka Reza, dia sudah terlalu gugup.
“Hmmm… menurut panduan refleksi di tangan, ada beberapa titik yang biasa dipijat untuk menghilangkan rasa lelah” Hasna akhirnya bersuara untuk menutupi kegugupannya.
“Naaahh… ini namanya keberuntungan dalam hidup, dapat istri sekaligus punya pemijat refleksi pribadi” Reza langsung menggeser-geser mendekati Hasna.
“Gak usah deket-deket juga lagi iiih malu.. Nanti keliatan sama Maura” Hasna langsung menjauh.
“Mau dipijat gak? Kalau gak aku cuma olesin aja lotionnya” Hasna masih menunduk malu, Reza semakin merasa di atas angin, dirubahnya posisi menjadi rebahan di sofa.
“Ehhh kok malah tiduran?” Hasna langsung kaget dan duduk menggeser.
“Kan katanya mau mijit refleksi tangan, biar bisa keliatan muka tukang pijetnya” Reza memindahkan posisi kepalanya miring dan menatap Hasna. Merasa sedang digoda oleh Reza, Hasna langsung menatap dengan cemberut.
“Udah atuh ahhh… “ Hasna melirik ke arah Reza sebentar betul saja memang sedang menatapnya, ia langsung mengalihkan pandangannya terlalu gugup untuk bertatapan dengan keintiman seperti ini.
“Ehmmm daerah ini sakit gak? Kok agak kenceng gini ototnya” Hasna memijit bagian bawah ibu jari…
“Arggg… agak senut-senut dikit” Reza meringis.
“Ini kata Ayah bagian lambung dan usus. Kalau perut kembung karena magh, dulu suka dipijat bagian ini sama Ayah” Hasna dengan serius memijat bagian tangan Reza.
“Nah tapi kalau sakit kepala bisa dipijat daerah ini…” Hasna mengencangkan satu titik antara ibu jari dan telunjuk yang terasa kencang ototnya.
“Arghhhhhh ini bukan senut-senut lagi sakiiiit..” Reza mengerang tangannya langsung ditarik. Hasna tersenyum melihatnya, tidak ada lagi senyuman menggoda di muka Reza.
“Dieeem mau sembuh engga. Tahan dikit ih.. Cengeng banget.. Orang lain mah ikut perang” Hasna menarik kembali tangan Reza, dia sudah mulai bisa mengendalikan permainan.
“Jangan keras-keras adddooow sakittt” Reza berteriak meringis kesakitan.
“Tahan lama-lama juga gak akan sakit… tenang… jangan terlalu dipikirin, pikirkan hal-hal yang indah dalam kehidupan” Hasna berusaha menahan tangan Reza.
“Sudah-sudah gak kuat...gak usah di refleksi ...aku nyerah-nyerah” Reza menarik tangannya tapi ditahan dan ditekan oleh Hasna pada bagian yang sakit. Reza semakin meraung dan menarik tangannya tapi Hasna tidak menyerah akhirnya saling tarik menarik tangan. Yang satu berusaha untuk melakukan pengabdian dengan pijat refleksi sedangkan yang satunya lagi mengakui sebagai prajurit yang kalah perang dan memilih tiarap. Sampai akhirnya tarikan tangan Reza menarik Hasna hingga jatuh tersungkur di badan Reza.
__ADS_1
“Ah….” Hasna langsung kaget, badannya menimpa Reza, sejenak dia terdiam kaku, nafasnya seperti berhenti tapi terasa detak jantungnya berdegub keras...dug..dug..dug… Reza tersenyum.
“Bilang aja kalau udah gak tahan, gak usah pura-pura mau pijat refleksi” Reza tersenyum matanya menatap bibir Hasna yang terlihat gugup. Hasna berusaha menarik badannya tapi Reza menahannya, Ia semakin gugup, giginya menggigit bibir bawahnya.
“Lepas Mas, nanti gimana kalau anak-anak turun disangkanya kita lagi ngapain” Hasna berusaha menarik badannya, tapi tangannya dicengkram oleh Reza.
“Memangnya kita lagi ngapain, bilang saja lagi pijat refleksi pakai badan” Reza semakin puas menggoda Hasna yang tampak semakin gugup saat mendengar pintu kamar Maura terbuka dan terdengar suara.
“Lipesetik Molanya habis nanti sama Buna diisyi lagiih”
“Kalo kaka mau nanti Mola minta yang banak sama Buna” terdengar suara Maura di lantai atas yang berbicara di pintu kepada kakaknya.
“Mas lepas masss...lepas” Hasna menarik-narik tangannya dari genggaman Reza, yang masih menahan tubuh Hasna.
“Cium dulu baru saya lepas..” Reza semakin merasa di atas angin, dia tidak merasa malu kalau anak-anaknya melihat dia sedang bermesraan dengan Hasna.
“Masss lepasssin ihhhh” Hasna menarik badan dan tangannya, tapi percuma kekuatan tubuhnya tidak bisa mengimbangi Reza.
“Cium dulu baru saya lepas, pilih mana cium atau malu sama anak-anak?” Reza membasahi bibirnya dengan penuh rasa kemenangan.
“Mana coba Kakak mau lihat Buna bikin lipstik kamu dari apa” terdengar suara Hujan dari atas. Hasna semakin panik. Tanpa berpikir panjang dengan cepat diciumnya bibir Reza dengan harapan bisa segera terlepas dari cengkraman tangannya. Tangan Reza segera menahan kepala Hasna dan sehingga ciuman yang semula diniatkan hanya sekedar kecupan menjadi ciuman yang panjang dan lama yang terhenti saat terdengar suara Maura di ujung tangga atas.
“Nanti kita minta lipesetik yang banak buat Kaka sama Mola” Hasna langsung menjatuhkan diri ke samping tanpa bisa ditahan Reza sehingga kepalanya terantuk pada ujung meja, dan lotion di meja jatuh mengelinding.
“Gedubraakk….”
“Aduuuuuh….” Hasna langsung tersungkur ke bawah meja saat kepalanya membentur meja.
“Bunaaaa kenapa?” Maura dan Hujan yang baru turun tampak bingung melihat Hasna yang menundukkan kepalanya di bawah meja.
“Heheheheh gak apa-apa Buna kejedot meja mau ngambil lotion jatuh” Hasna mengusap-usap pelipisnya yang terantuk ujung meja. Matanya langsung melirik tajam ke arah Reza yang tampak menahan senyuman.
Hujan hanya menatap keduanya dengan tatapan tajam dan kemudian mengalihkan pandangan pada Maura.
“Buna tadi membuat lipstik Maura dari bahan apa? Kok banyak bintik-bintiknya trus gak nempel warnanya?” Hujan melihat muka Hasna yang masih tampak pucat dan panik, bibir Hasna tampak bengkak.
“Buna kenapa? Kok kayak yang kaget?” Hujan menatap Hasna dan kemudian mengalihkan pandangannya ke Reza yang kemudian merubah posisinya menjadi duduk di sofa.
“Ehmmmm...Papi mau tanya siapa teman kamu yang menjual peralatan makeup ini?” Reza berusaha mengalihkan fokus perhatian pada Hujan.
Hujan langsung mendengus.
“Aku sebutkan namanya juga Papi gak akan tahu percuma”
“Buna aku mau buatin Maura liptint lagi, dia tadi mau nyoba make yang punya aku terus karena punya dia habis” Hujan mengambil wadah liptint milik Maura.
“Buna buat dari buah naga, ada di kulkas… hancurkan saja sampai halus pakai choper. Jangan dikasih air, soalnya sudah mengandung air, tapi yang sisa tadi juga masih ada kok Kak tinggal dituangin, Buna ambilkan di kulkas” Hasna langsung beranjak pergi.
“Biar sama aku saja… ayo de” Hujan kemudian menarik adiknya pergi.
__ADS_1
“Buna selesaikan saja urusan sama Papi” sambungnya.
Hasna langsung tersenyum kecut tampaknya Hujan mengetahui ada sesuatu antara dia dan Reza.
“Kamu tuh Mas gimana sih…” Hasna langsung mendelik.
“Sejak kapan dia memanggil kamu Buna?” Reza berdiri dan mengambil air minum
“Waktu di BK tadi kan ada guru yang menyangka aku Tantenya Hujan, makanya aku tadi langsung kodein dia supaya manggil aku Buna, untung dia ngerti…. Eh ternyata dia terus manggil aku Buna ….hehehehe” Hasna lupa kecanggungannya dengan Reza saat menceritakan soal kejadian di ruang BK tadi.
Reza menyodorkan air minum ke Hasna, Hasna bengong kenapa disuruh minum.
“Minum!... muka kamu pucat gitu kaya baru ketangkep Hansip aja” Reza tersenyum menggoda melihat Hasna.
Hasna langsung cemberut, diambilnya air minum dari Reza.
“Awas nanti aku bales” Hasna langsung meneguk air minum di gelas sampai habis.
“Dicium segitu aja langsung haus banget yah, gimana kalau lebih dari itu, kayanya kamu akan minum air segalon” Reza berjongkok di depan Hasna
“Udah ah nyebelin kirain kalau udah tua gak nyebelin kaya si Emran, ternyata laki-laki semuanya sama nyebelin” Hasna langsung berdiri dan akan menyusul Hujan dan Maura.
“Papi tadi kata Buna… walaupun Papi udah tua tapi lebih cakep dari guru BK aku. Katanya cakepnya Papi itu jauh bumi dan langit dibandingin Pak Rudi, padahal Pak Rudi itu guru aku yang paling muda loh Pi” mendengar Papinya disebut sudah tua Hujan langsung teringat pujian Hasna kepada Papinya.
“Kakakkkkkkk Buna kan udah bilang jangan bilangin sama Papi iiiihhhh” Hasna langsung menjerit, bakalan panjang urusan ini sih.
“Siapa Pak Rudi, kenapa tadi di cerita kamu gak ada guru namanya Pak Rudi cuma Bu Lisda saja guru BK nya” Reza langsung berdiri dan mendekati kedua anaknya.
“Gak ada apa-apa Mas… cuma guru kenyes-kenyes yang masih belajar bersikap”
“Belajar bersikap dari mana … dia tuh setiap ada cewe cakep dikit aja, hadeeuuh langsung aja tebar pesona, apalagi Buna tadi ke sekolah kan sendirian gak pake kerudung, jadi keliatan beda banget sama perempuan-perempuan yang ada di sekolah”
“Kamu tadi gak pakai kerudung ke sekolah Hujan?” Reza langsung naik satu oktaf.
“Laah aku kan memang gak pakai kerudung Mas tiap hari juga masa tiba-tiba aja pakai kerudung cuman gegara mau ke sekolah kaya mau ke pengajian aja, tapi aku tadi pakai baju sopan kok”
“Kakak kamu tuh iseng banget sih suka manas-manasin Papi… awas Buna gak akan ngajak kamu we time lagi” Hasna langsung menarik tangan Hujan yang tertawa-tawa melihat Hasna panik.
“Pak Rudinya kayanya naksir Pih sama Buna, soalnya pas kita pulang masih sempet-sempetnya ngajak ngomong Buna di gerbang”
“Kaaaakkaaaaa….. Buna mau pulang aja ke Bandung mau bilangin sama Om Emran kalau kamu pengen diajak main ke kebun binatang lihat Gajah”
“Ahhhhhh gak mau…… gak ..aku gak akan cerita apa-apa lagi… jangan ngomong apa-apa sama Om Emran”
“Buna please….. Bunaaaaa” Hujan mengejar Hasna yang naik pergi ke atas.
“Bunaaaaaa”
Tinggallah Reza dan Maura yang bengong berdua memikirkan Pak Rudi dan Gajah di Kebun Binatang… ada apakah hubungan diantara mereka berdua……
__ADS_1
**************************
Selamat bermalam minggu Gurlzzzz..... awas kalau yang belum sah gak boleh pijat refleksi berdua... banyak syaiton ikut minta dipijatin...hahahahahhaha... Jaga pandangan dan jaga tangan dan sudah pasti jaga jarak... banyak minum air putih aja ... segalon bila perlu... Terima kasih atas dukungannya, komentar, like dan vote nya... membuat saya terhura.. Stay Safe yaaa... .. Love u all