Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Seharusnya Namanya.. Mendung


__ADS_3

"Papi lagi apaaa" teriak Hujan


"Eh... Kaka sudah datang... Salam dulu dong sama Granny.. gak kangen? gak pengen oleh-oleh? Padahal Granny bawa banyak oleh-oleh loh buat Kakak" Neneknya Hujan langsung menyambut cucunya yang paling besar.


Hujan langsung menyalami kedua neneknya dan langsung melihat ke arah Papinya. Reza yang kaget melihat Hujan langsung menghampiri.


"Kamu tau dari mana Maura sakit, tadi diantar sama siapa?" tanya Reza langsung


"Ya dikasih tau sama Oma lah, kalau di rumah gak ada siapa-siapa dan Maura dirawat" mata Hujan langsung melirik tajamnke arah Hasna


"Kakak tolong Kak Hasna, kaki Kak Hasna kram... ini tolong Mauranya gak mau bangun, bisa bantu Kak Hasna" Hasna tidak memperdulikan aura permusuhan yang dikeluarkan oleh Hujan, kakinya terlalu sakit seperti mati rasa.


Hujan mendekati Hasna dan tanpa diduga adalah


"Dek bangun... woy... itu kasian Tantenya... woy bangun"


Hasna bengong dan langsung tertawa .. ini anak santuy banget adiknya lagi sakit malah dibangunin.


"Kakak heeeh gimana malah adeknya dibangunin" ucap Reza..


"Ya trus mau gimana lagi kan kasian juga Tantenya" Uhuuuuk Hasna langsung merasa tertohok dipanggil Tante.. Memangnya mukanya setua apa.


Maura menggeliat bangun mendengar keributan di dekatnya. Begitu terbangun yang dirasanya adalah rasa pegal di tangannya dan dibebat oleh perban dan infus.


"Wuaaaaah syaaakiit... aaaaa... " suara Maura langsung memenuhi ruangan kamar.


"Tuuuh kan kamu tuhh aaah... gimana sih" Reza langsung menggendong Maura.


Hasna langsung mencoba bangun dan turun tapi kakinya terlalu kaku untuk digerakkan. Dia masih mencoba bersender di sisi tempat tidur sambil meringis. Rupanya ia tidur terlalu lelap sampai tidak menggerakkan kaki selama diduduki oleh Maura.


"Bagaimana bisa digerakkan?" tanya Reza khawatir, Maura sudah mulai terbangun tapi masih setengah tertidur, hanya diam dan mengamati kamarnya.


"Sudah pak cuma belum bisa dipakai jalan, sebentar pak.. sedikit-sedikit" Hasna mencoba menjejakan kakinya sedikit demi sedikit. Belum pernah ia merasa seperti ini.


"Pegang tangan aku" ucap Hujan


"Eh.. iya maaf ini sulit jalannya" dipegangnya tangan Hujan dan perlahan Hasna mencoba berjalan dan bisa mulai terasa mengalir darah ke telapak kakinya.


"Sudah kak ... makasih ini mulai bisa jalan normal" setelah berjalan satu balikan dengan sedikit terpincang


akhirnya Hasna mulai bisa berjalan.


"Saya ijin mau shalat dulu Pak, tapi waktu duhurnya saya terlewat" Hasna sambil mengambil tasnya.


"Tasnya ditinggal disini saja Nak Hasna.. berat kayanya bawa laptop yah, Ibu bawa mukena pakai saja mukena ibu ini" Oma Hasna menawari mukenanya


"Owh iya Bu terimakasih saya pinjam dulu ya bu, tadi saya gak sempat bawa mukena biasanya solat di kantor"


diambilnya dompet dan pergi keluar.


Tidurnya tadi terasa sangat lelap sampai tidak sadar sama sekali selama dua jam, sekarang waktu sudah hampir jam 4 sore, terpaksa harus menjamak solat. Dicarinya mushola sambil bisa membersihkan mukanya di toilet, tidak terbayang mukanya tadi saat tidur. Hasna punya kebiasaan tidur mangap.. arghhh malunya pasti tadi tidurnya mangap kalau posisinya duduk, ah biarlah pikirnya.


Setelah shalat Hasna kembali ke kamar untuk mengambil tas, saat dilorong rumah sakit dilihatnya Hujan sedang celingukan mencari sesuatu.


"Mencari apa Ka?" tanya Hasna


"Eh... engga.. aku cari cafetaria, tadi belum sempat makan" jawabnya singkat.


"Ayo bareng Kak Hasna ... Kakak juga belum makan siang dari tadi malah ketiduran sama Maura di kamar" Hasna kasian melihat Hujan hanya sendirian di tempat umum.


"Ya udah terserah" diikutinya Hasna yang mendahului karena saat akan ke mushola dia melewati kafetaria rumah sakit.


"Kakak mau makan apa?" tanya Hasna


"Gak tau makanan disini enak gak?" Hujan agak berkerut dilihatnya makanan yang disajikan tidak mengundang seleranya.


"Nasi goreng seafood mau? tuh lihat kayanya enak" tanya Hujan, selera anak-anak biasanya tidak jauh dari ayam


goreng, nasi goreng, bakso dan spagetti.


"Ya boleh deh" jawab Hujan singkat.


"Pakai sayur capcay yah, kita split berdua sayurnya" tawar Hasna, anak-anak harus dipaksa makan sayur.

__ADS_1


"Terserah" jawabnya


Hasna langsung memesan makanan dan minuman air mineral.


"Koq air mineral" tanya Hujan


"Biar sehat, makanannya kan digoreng" jawab Hasna singkat


Hujan hanya mengerutkan bibirnya, "Ini uangnya" sambil menyodorkan uang kepada Hasna


"Sudah tadi Kakak bayar" jawab Hasna


"Aku gak minta ditraktir" Hujan menungkas sambil menyodorkan kembali uangnya


"Gak traktir koq... itu kan uang dari Papi kamu" jawab Hasna sambil menolak uang Hujan


"Kapan Papi ngasih uang sama Tante" Hujan langsung bertanya


"Setiap bulan"


"Hah setiap bulan? untuk apa Papi ngasih uang setiap bulan sama Tante" Hujan langsung curiga


"Yah kan Kakak kerja di kantor Papinya..Kakak.. setiap bulan dibayar ..hehehe" jawab Hasna sambil nyengir


"Huhhh...Itu sih gaji bukan dikasih uang dari Papi" Hujan langsung cemberut.


"Yaaa sama aja kaliii... masa Kakak dibayarin sama anak SMP ...heheh gengsi dong"


"Udah ah jangan banyak protes" Hasna mengakhiri konflik diantara mereka.


"Namanya siapa? kenapa manggil aku Tante... panggil Kak Hasna aja kaya Maura" Hasna merasa terlalu tua


dipanggil Tante


"Yah masa aku dipanggil Kakak trus tante juga dipanggil Kakak kan gak pantes, cocoknya juga jadi tante aku, bukan kakakaku" Hujan menjawab cepat


"Tapi itu Maura manggil Kakak Kak Hasna" tungkas Hasna


"Anak seumur Maura gak bisa berpikir logika, semua orang yang badannya pendek akan dia panggil kakak disangka seumuran" Hujan tersenyum mengejek.


"Kamu namanya harusnya bukan Hujan tau gak... mustinya Mendung" kata Hasna gak mau kalah


"Apaan mendung" Hujan mengkerut


"Soalnya suka ngomongnya pedes kaya petir suka nyambar... jedeeer jeedeerr.." balas Hasna kesal..


"Hahahah... idenya bagus" Hujan malah tertawa. Tidak pernah ada orang yang menyebutnya suka menyambar kaya petir, biasanya mereka suka menyebut dia galak dan judes.


"Namanya koq aneh Hujan... pasti lahirnya pas lagi Hujan gede" Hasna masih kesel.


"Memang... kan di Inggris hujan terus" jawabnya singkat


"Woooaaahhh lahirnya dimana Kak?"


"Edinburgh... waktu papi kuliah disana"


"Weiiis keren.. pas nulis tempat tanggal lahir kan gaya... Edinburg, January 28.... weiiiss"


"Coba Kak Hasna kalau nulis tempat lahir Bandung, 8 September.... ehhh orang Bandung pantesan cantik soalnya


Peyempuan" Hasna mulai nyerocos gak jelas


"Maksudnya?" Hujan tidak mengerti


"Iya... tau kan peuyeum makanan khas kota Bandung... diplesetkan jadi Peyempuan" Hasna cemberut.


"Hehehe baru denger aku" Hujan tertawa.


"Nama lengkapnya apa kakak?" tanya Hasna lagi


"Raina Safira Rafa"


"Haaaah koq gak ada hujan-hujannya?" Hasna heran

__ADS_1


"Kan itu dari kata Rain tapi katanya Papi gak suka dipanggil dengan nama Rain jadi dipanggil dirumah Hujan... aneh aku juga"


"Udah ah nanya melulu aku lapar" Hujan langsung menyambar nasi goreng yang baru datang, mereka berdua langsung makan dengan lahap. Yang satu sedang dalam masa pertumbuhan sedang yang satu gagal tumbuh tapi tetap berkembang.


Selesai makan mereka berdua langsung menuju kamar, waktu sudah menunjukkan jam 5, Hasna bergegas akan pamit pulang saja karena Pak Reza sudah datang.


"Pak saya pamit, mau menyelesaikan laporan di rumah saja, supaya besok bisa diserahkan pada Bu Rika" ucap Hasna


"Besok saya sepulang dari kantor akan kesini lagi menemani Maura pak, kasian pasti tidak nyaman" janji Hasna


"Ehh tidak apa-apa tidak usah merepotkan" tungkas Reza


"Aahhhh Mbak Hasna bisa kesini lagi besok yaaaa, terima kasih sekali loh.. nanti sama Ibu dimintakan ijin sama Pak Reza pasti boleh" Neneknya Maura langsung menyambar


"Hehehe iya bu insya allah nanti saya kesini lagi... saya pamit dulu bu" ucap Hasna sambil membungkuk hormat


"Sekalian saja sama Reza dan Hujan nak Hasna ... Reza mau bawa baju ganti dan Hujan harus pulang supaya bisa istirahat dirumah" Oma Maura langsung menyuruh Hujan pulang, karena besok masih harus sekolah.


"Gak usah bu saya bisa pakai busway hanya ganti 3 kali dari sini saya tadi sudah lihat rutenya" Hasna menolak ia


tidak nyaman kalau diantar pulang oleh atasan. Apa kata dunia nanti kalau ada yang melihatnya masuk mobil Pak Reza


"Tidak apa-apa ayo sekarang mumpung Mauranya tidur..kalau sudah bangun pasti nanti menangis" Reza mendorong Hasna keluar, dia teringat saat di Lembang Maura menangis keras karena ditinggalkan Hasna


"Ayo Kak cepat" Reza mengajak Hujan untuk segera bergegas keluar kamar. Ia akan berganti pakaian dan membawa bekal untuk baju ganti besok ke kantor. Malam ini ia akan menemani Maura di rumah sakit.


Di depan mobil Reza, Hasna diam mematung dia bingung musti duduk dimana, saat akan masuk ke pintu sebelah supir, Hujan mendahuluinya membuka pintu dan duduk dengan cepat. Hasna melongo itu berarti dia harus duduk di sebelah Pak Reza. Haduuuuh canggung pastinya, akhirnya dia berkata.


"Saya pakai ojek online saja pak, jadi bapak bisa langsung pulang ke rumah tidak repot mengantar saya" Hasna segera membungkuk dan beranjak pergi.


"Masuk... kost an kamu dekat kantor kan, itu searah dengan rumah saya" tungkas Reza cepat.


Haduuh.. aroma kekuasaan keluar, Hasna akhirnya membuka pintu belakang mobil dan duduk di sisi pintu.


Reza hanya melirik heran melihat kelakukan Hasna, dipikirnya Reza mahluk haus perempuan mungkin, dasar manusia otak setengah. Masa dia akan berlaku tidak sopan di depan supir dan anak-anak.


Sepanjang perjalanan Reza menanyakan tentang proyek TOT di Tangerang, sibuk menjelaskan membuat Hasna tidak sadar mulai duduk dengan nyaman dan bergeser ke tengah. Ternyata mengalihkan perhatian perempuan ini gampang, tinggal tanyakan soal pekerjaan maka fokusnya akan teralihkan, Reza hanya tersenyum dalam hati.


Dekat kantor Hasna meminta diturunkan sebelum Halte Busway, dari sana dia hanya tinggal jalan sedikit di kost nya. Segera Hasna turun dan mengucapkan terima kasih. Tapi sesaat mobil beranjak pergi tiba-tiba Hasna mengejar mobil dan berteriak.


"Paaaak lupaaaa..." teriak Hasna. Orang-orang langsung melihat Hasna yang terlihat mengejar mobil


"Paaaakkkk..." teriak Hasna.. Untung supir melihat ke arah spion dan langsung menghentikan mobil.


Hasna mengetuk-ngetuk jendela Rezaa...


"Paaak saya lupaa haaaayaaam... haaaaaah" Hasna terengah-engah


"Ayam?" Reza bingung


"Iyaaaahhh... Maura minta dibelikan ayam goreng... nanti khaaaalau bangun pasti minta ayam.. hampir saja lupha...haaahhh" Hasna sambil beranjak pergi.


"Hahahahahahah... " Hujan langsung tertawa..


"Kirain kakak, tadi ada yang ketinggalan ... ternyata pesan ayam... hahahaha" Hujan tadi sampai terdorong kedepan karena Pak Supir berhenti mendadak karena dikejar Hasna


"Padahal kan bisa kirim pesan sama Papi...hahahahahha" sambung Hujan tertawa..


"Dasar manusia otak setengah.." Reza tersenyum, dia heran dengan tingkah laku Hasna..


Hasna....Hasna... kirain mau ngajak beternak anak ehh beternak ayam..


 


 


**********************


Ini saya kasih bonus track biar besok gak banyak yang komen minta up up teyuss.. ganggu konsentrasi kerja tau.. bikin aku tuh keingetan sama kalian, tapi kelian gak suka inget ngasih vote, like tapi rajiiiin aja komeen... hehehe dasar deterjen.. Terima kasih yah atas komentarnya.. Semangat trus stay safe and keep productive


**********************


 

__ADS_1


 


__ADS_2