Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Teori Kepribadian Hello Kitty


__ADS_3

Hasna sibuk cekikikan melihat komentar-komentar yang muncul saat ia mengupload foto di instagremnya. Reza yang asyik menikmati makanan akhirnya tidak tahan untuk tidak berkomentar.


“Ngelihat apa sih seperti bahagia banget?” siapa yang tidak akan penasaran kalau melihat ekspresi orang lain sebegitu bahagianya.


“Hahahahaha… teman-teman aku kan pas nikahan kemarin gak diundang semua, mereka tau aku nikahnya sama duda dua anak… trus aku belum sempat posting foto nikahan juga kan belum sempat ambil di WO nya… pas aku upload foto barengan Mas Reza barusan mereka tanya.. Duda nya yang mana? Hhahahahahahah” Hasna tertawa bahagia. Reza mengerutkan dahinya tidak mengerti.


“Mereka bingung… iiihhh lelet banget mas. Dalam pikiran mereka dudanya udah tua...hahahaha” Hasna kembali tertawa bahagia. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya tidak lucu mentertawakan soal status. “Ihhh gak ngerti aja, mereka pas ngeliat foto Mas Reza bingung, kenapa aku berfotonya kaya sama yang umurnya ga jauh gitu...anak fresh graduate  mana mereka bilang.. Ada yang bilang kerja dimana...hahahahahha” Hasna tertawa dengan renyah.


“Si aurel penuh kebanggaan bilang di komen kalau fresh graduate nya udah punya anak SMP...ahahahahah pada ribut..hahahaha” Hasna benar-benar menikmati kehebohan yang terjadi di instagramnya.


“Whahahaha… ada yang bilang Mas Reza ikut pesugihan...hahahahh ini-ini ada yang komen lagi mungkin suka nyelem di sumur awet muda ...hahahahahha” Reza ingin membekap mulut Hasna yang terus saja tertawa, yang walaupun tidak keras tapi mulai menarik perhatian orang, suara tertawanya membuat orang lain ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Sudah diam..kamu ketawanya mengganggu orang lain” Reza mulai berkerut keningnya, ia paling tidak suka dengan orang yang berisik dan mengganggu orang lain. “Ehmmm… kalau mereka liat Mas Reza sekarang pasti mereka bingung kok beda sih… yang difoto keliatan anak kuliahan tapi yang duduk sama Hasna mirip banget sama om-om yang suka anak abg” Hasna langsung membalas dengan menjulurkan lidahnya.


“Kamu kalau ngomong terus seperti itu, nanti malam gak akan dikasih tidur lagi mau?” ancaman Reza langsung membungkam mulut Hasna yang langsung sibuk makan. Ia langsung meletakan hapenya dengan senyuman tidak lepas dari mulutnya. “Mas Reza gak punya instagram?” Hasna tidak pernah melihat Reza bermain sosial media. Reza menggelengkan kepala, sosial media yang ia miliki hanya twitter itupun bukan pengguna aktif lebih mengikuti perkembangan informasi yang lebih cepat update daripada lewat media cetak online.


“Mas Reza itu hidupnya steril yah, gak banyak ngegibahin orang tapi kayanya sering digibahin orang lain terutama cewek-cewek” Hasna masih sibuk berimaginasi sambil mengunyah. Reza hanya menyimak sambil sesekali menimpali dengan ucapan ehmm...ehmmmm saja.


“Gak bosan Mas?” tanya Hasna tiba-tiba Reza berpaling memandang istrinya ia bingung “Bosan soal apa?” tanyanya. “Gak bosan hidup tenang tidak bergelombang… flat aja kayanya” ucap Hasna sambil mencomot satu taco yang tersisa di piring Reza. Yang punya piring hanya memandang taco yang sedang dinikmatinya melayang di depannya. “Flat gimana kan sekarang hidup kaya seperti naik roller coster sama kamu… naiiikkk turun daataaar miringgg” Reza mendengus.


Hasna langsung tersenyum, muka cemberut Reza terlihat lucu karena perpaduan antara kesal, sedang dan marah. “Ucuk..ucuk Maura gede nyampe cemberut kaya ginih… makin gemesin dilihatnya… auto lebih mirip jadi kakak kelas daripada suami” Hasna mengusap-usap pipi kiri suaminya. Tangan kanannya penuh dengan saus sehingga harus ia jilati.


“Ayo kita ke ION Orchad dulu mumpung masih belum terlalu sore” Reza rupanya ingin membeli beberapa barang mumpung ia pergi ke Singapura.

__ADS_1


“Gak akan jemput anak-anak dulu?” Hasna menagih janji untuk bisa pergi dengan anak-anak. “Ya setelah dari sana ada yang mau aku beli dulu penting, kalau bawa anak-anak akan fokus pada kebutuhan mereka” Hasna mengangguk, ia memang tidak pernah membelikan barang keperluan Reza, selain tidak terlalu mengenal baik seleranya ia juga khawatir salah, dengan seperti ini ia bisa lebih mengenal selera suaminya.


Dengan berbekal thetering ke handphone Reza Hasna bisa menghidupkan internetnya, saat Reza memaksa untuk menghidupkan paket roaming Hasna tetap menolak, untuk apa nanti bisa main internet di wifi hotel ucapnya. Reza langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, ternyata ia memiliki istri yang sangat gemar menabung.


Pada saat Hasna googling ternyata ION Orchad berada di atas stasiun MRT, pantas saja Reza memilih untuk pergi kesana, di dalam reviewnya dijelaskan kalau Mall ini menyediakan brand-brand terkenal dunia, walaupun menurut Hasna di Jakarta pun barang-barang branded sudah sangat banyak di Mall yang mevah, hanya saja ia sampai sekarang belum memiliki kebutuhan untuk membeli satu barangpun.


Reza masuk ke area pakaian laki-laki, Hasna hanya mengikutinya saja di belakang, ia melihat kalau suaminya sudah terbiasa membeli pakaian dengan merk itu. Dilihatnya ia memilih beberapa jaket yang berjajar dengan berbagai model.  “Ayah suka dengan warna seperti ini?” tanya Reza mengacungkan 1 jaket dengan warna kalem kepada Hasna, yang langsung diikuti tatapan Hasna yang melotot. Dihampirinya suaminya


“Katanya mau beli buat sendiri, kenapa beliin buat ayah juga...Mihil inih” bisik Hasna dengan bibir yang mengerenyit ke atas, Reza tertawa melihat ekspresi istrinya.


“Saya yang beli kamu yang ribut, ukurannya satu size diatas saya yaa?” Reza meminta kepada waiters yang mendampingi untuk mencarikan ukuran jaket yang dicari. Hasna hanya memandang pasrah, tak terbayang akan senang hati Ayah dibelikan jaket bagus oleh menantunya. “Kamu mau perlu beli apa?” Reza menatap istrinya yang tampak sibuk melihat-lihat koleksi yang ada, Reza tidak tahu kalau Hasna bukan ingin membeli tapi mengecek harga pakaian yang langsung membuatnya mulas.


“Mas jiwa misqueen ku bergetar melihat harga disini” ucap Hasna sambil berbisik-bisik. “Harus sering-sering jalan sama MisterKing supaya MissQueen nya hilang” bisik Reza ketelinga Hasna. Awalnya Hasna tidak mengerti butuh 2 detik untuk bisa memahami jawaban Reza. Begitu ia mengerti langsung memukul lengan Reza “Geuleuh ihhh kamu tuh sekarang jadi suka ngebodor garing” ucap Hasna sambil cemberut. #Sebel sekarang jadi suka bercanda gak lucu"


“Setiap orang itu memiliki kelemahan dan kelebihan… aku gak biasa terlalu banyak bicara mungkin itu sisi kelemahan aku” jawab Reza serius. “ Hmm gak apa-apa itu kan personality nya Mas Reza jadi orang akan memahami itu” tidak terbayang oleh Hasna kalau menikah dengan orang yang sama-sama ramai dalam berbicara dijamin perdebatan panjang atau ghibah berjamaah sepanjang pernikahan.


“Aku pernah baca kalau manusia itu pasti memiliki sisi kelemahan dan kekuatan dalam personalitynya.. Dan saat seseorang mengetahui kelemahan yang dia miliki dia akan berusaha memperbaiki kelemahan itu dan melupakan kekuatan yang telah menjadi potensi dia” Hasna mencoba mengingat-ingat materi perkuliahan yang dulu ia ikuti.


“Sehingga sepanjang hidup dia terus saja berupaya agar sisi lemahnya tidak lagi terlihat sehingga ia tidak mengasah kekuatan atau kelebihan dia yang sebetulnya akan menjadikan dia pribadi yang unik yang berbeda dengan yang lain… bukankan kita suka cenderung memperbesar masalah dan melupakan kelebihan atau capaian kita” ucap Hasna, Reza memandang istrinya dengan tersenyum, seperti biasanya dia akan melakukan analisa akan segala yang mereka diskusikan. Ada saja bahan pembicaraan di dalam otaknya.


“Mas Reza itu karakternya seorang achiver.. Hmmm seseorang yang memiliki stamina yang tinggi dan kepuasan hidupnya dari keberhasilan yang dicapai” Hasna menyenderkan badannya pada rak pakaian sambil memandang suaminya yang sedang duduk dan tersenyum memandang dirinya. “Ow… sekarang kamu sudah mengakui kalau suamimu memang memiliki stamina yang tinggi” Reza langsung tersenyum “Ok… lanjutkan analisanya”


“Bukan stamina yang ituuu...ihhh gimana sih” Hasna langsung cemberut malu. Untung saja mereka berada di Singapura jadi orang tidak akan terlalu paham bahasa Indonesia walaupun mirip dengan bahasa Melayu. “Ayo lanjutkan ...apa yang kamu lihat dalam personality aku selama hampir empat bulan ini menikah” Reza berdiri dan melipat tangannya di dada.

__ADS_1


“Hmm mana sih mbaknya kok lama nyari jaketnya..apa gak ada size nya yah” Hasna celingukan khawatir hadiah jaket untuk Ayah gak jadi dibelikan. “Ayo lanjutkan aku mau dengar apa pendapat anak psikologi tentang seorang Reza… jangan khawatir soal jaket ayah kalau gak ada nanti kita belikan model lain” rupanya Reza menjadi penasaran dengan analisa Hasna.


“Beliin yang bagus dan mahal yaah” Hasna langsung mengajukan syarat mumpung bisa tawar menawar dengan suaminya. Reza mengangguk, dengan senang hati ia membelikan barang untuk mertuanya yang sedang sakit. “Mas Reza adalah seorang analytical, tidak menerima rumor kecuali fakta, sehingga akan mencari sebab musabab suatu hal” Reza mengangguk-angguk setuju. Ia memang tidak suka kalau ajuan suatu project hanya didasarkan asumsi tanpa riset pasar yang jelas. “Lanjut..” ucapnya “Kemudian comand alias suka memerintah, memaksakan keinginan pendapatnya gak akan berhenti sampai puas. Aku salah satu korbannya” sambung Hasna karena kalau dipikir-pikir betul juga ia seperti diperintahkan untuk menjadi istrinya.


Pembicaraan mereka terhenti oleh waiters yang membawakan jaket yang diinginkan Reza, ternyata ukurannya dan warnanya memang pas sesuai dengan keinginannya. Reza langsung memintanya untuk disatukan bersama dengan jaket dan celana yang dibeli untuk dirinya. “Kita sambung setelah aku bayar” rupanya tuan pemaksa ketagihan untuk dianalisa.


Sambil berjalan Reza menggenggam tangan Hasna. “Lanjutkan lagi…” pintanya. “Kita mau kemana dulu ini sudah mau magrib” Hasna menolak ingin kepastian mau kemana mereka berjalan. Tadi sholat ashar sudah dijamak, sholat magrib pun bisa dijamak ke Isya karena mereka sedang menjadi musafir, tapi kalau sekiranya menemukan mushola Hasna memilih untuk sholat magrib terus bertemu dengan anak-anak.


“Aku mau beli barang buat Emran, penting buat dia supaya bisa memperkuat pusat dan mencari cabang” jawab Reza sambil tersenyum. “Apa sih udah mulai ketularan Emran deh” Hasna menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sambil mau beli barang buat kamu kalau ada” Reza memutar kepala mencari barang yang dicarinya. “Ahh sebelah sana…” Reza menunjuk satu arah di depan ada toko elektronik.


Reza kemudian menyambung ucapannya “Kamu tahu pendapat aku tentang kamu… kamu adalah seorang yang Positivity senang menularkan semangat pada orang lain, kemudian kamu seorang Relator menikmati suatu hubungan dengan individu dengan baik, kamu bisa memiliki hubungan yang hangat dan manis dengan Maura dan menjalin hubungan yang istimewa dengan Hujan, dan yang terakhir kamu punya kemampuan Restorative yaitu memiliki sifat tertantang untuk memperbaiki dan mengembalikan sesuatu untuk berfungsi dengan baik.. Terutama untuk aku.. Hmmm satu lagi kamu juga seseorang yang self assurance yang tinggi… tahu arah yang akan kamu tuju dengan mengikuti instuisi kamu sehingga kamu merasa yakin kalau keputusan kamu benar” ucap Reza cepat sambil tersenyum…


“Woaaaahhh debaaakk… Mas Reza cerdas banget kok bisa hapal dan tahu karakter manusia juga… keren keren tahu dari mana” Hasna membelalakan matanya tidak menyangka akan mendapat analisa yang lengkap akan dirinya oleh Reza. “Hmmm seperti yang kamu bilang aku seorang analytical jadi segala sesuatu selalu aku amati dan analisa.. Sebelum aku memutuskan untuk dekat dengan kamu aku sudah tahu banyak hal tentang kamu”


Reza berhenti di depan satu toko yang tampak menarik dengan tampilan etalasenya. Hasna langsung melotot. “Maksudnya dari tadi itu mau nyari toko yang kaya gini” Hasna langsung menarik tangan Reza untuk pergi, tapi tenaganya kalah kuat oleh tarikan tangan Reza yang langsung menariknya masuk ke toko. Hasna langsung membaca nama toko La Senza “comfortable, romantic and sensual” exquisite lingerie is designed to make every woman feel like a million bucks. Hasna langsung menarik nafas melihat modelnya. Reza menatap Hasna dan tersenyum “Sudah saatnya Hello Kitty pensiun”....


“Hello Kitty….. Hello Hello Kitty…...


 


**********************


Terima kasih atas kesabarannya menunggu kelanjutan cerita, selain kesibukan dalam pekerjaan yang memakan energi yang sangat besar karena banyak, saya juga mengalami kelelahan mental sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih akan alur cerita. Untuk itu mohon bersabar kalau dalam hari-hari kedepan saya lebih lambat dalam update story... tetap semangat dan salam sehat untuk semuanya... love u all

__ADS_1


**********************


__ADS_2