
Setelah puas bermain, mereka memutuskan pulang jam 3 sore, sebelumnya Hasna memaksa mencari mushola terlebih dahulu, jangan dibiasakan untuk menunda solat walaupun tampak sulit tapi pasti bisa menemukan mushola atau mesjid.
Jam 4 sore mereka sudah tiba di Jakarta, tiba-tiba Reza memutuskan untuk mengantarkan anak-anak pulang terlebih dahulu, karena Granny nya datang berkunjung. Hasna tidak bisa menolak, sebetulnya dia masih belum siap untuk bertemu dengan keluarga Reza.
Masuk ke daerah kompleks perumahan nya Hasna sudah melihat kalau mereka tinggal di kompleks rumah yang besar-besar. "Hadeuuh ini mah alamat kaya liat rumah sinetron" pikir Hasna.
Dan ternyata betul walaupun bukan kategori rumah yang paling besar tapi rumahnya tetap saja besar kalau dilihat dari depan. Maura langsung digendong oleh Reza saat turun dari mobil, anak koala ini tidur semejak masuk ke mobil, toss maura ternyata kita satu aliran, goyang dikit langsung tepar.
“Ayo masuk’ ucap Reza sambil membawa Maura.. Hasna mengikuti dari belakang, Hujan sudah terlebih dahulu masuk ke rumah saat membuka gerbang.
“Pak… bapak!” ucap Hasna, Reza berbalik menghadapnya
“Bapak pernah makan di warteg?” tanya Hasna
“Maksudnya?” Reza merasa bingung dengan pertanyaan Hasna
“Selama ini saya selalu bertanya-tanya, apakah orang yang tinggal di kompleks rumah yang besar seperti ini pernah makan di warteg” ucap Hasna kalem
“Maksud kamu gimana sih, kok aneh-aneh pertanyaannya” Reza berkerut sambil berjalan ke dalam rumahnya.
“Yah dijawab saja pernah makan di warteg atau belum?” Hasna masih bersikukuh
“Belum” jawabnya singkat sambil masuk ke dalam rumah.
“Akhirnya saya bisa tidur nyenyak” Hasna masuk sambil duduk di ruang tamu, ini ruang tamunya sama dengan ruang keluarga di rumahnya, banyak dipasang foto-foto Hujan dan Maura saat kecil. Disudut ruangan Hasna melihat foto Reza bersama dengan seorang perempuan muda yang cantik dan putih. Tampaknya ini foto lama karena Reza tampak masih muda. Ternyata sejak muda sudah muka serius dan tidak tersenyum, dan wanita itu… wanita itu sama dengan yang Hasna lihat dalam mimpi.
Hasna langsung ingin menangis melihat foto itu, bukan rasa cemburu atau marah melihat foto ini. Ia memang belum memiliki perasaan apapun pada Reza, tapi melihat wanita itu Hasna merasa diingatkan kembali pada mimpinya.
Baju terusan berwarna hijau bunga-bunga, wajah yang cantik, kulit putih dan lembut, tersenyum dengan lebar dan tampak bahagia. Hasna ingat senyuman yang ia lihat dalam mimpinya adalah senyuman yang sedih tapi dalam foto ini senyumannya tampak bahagia. Tanpa terasa air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
Untung sebelum air mata menetes dia mendengar keributan di ruang tengah, suara ibunya Pak Reza yang tampak mendominasi rumah itu.
“Ada Hasna… waaah Mama beruntung bisa bertemu dengan Hasna lagi, kenapa tadi Reza gak bilang kalau Hasna mau kesini”
Hasna segera mengusap sudut matanya, ia tidak mau orang jadi bertanya-tanya dan salah paham.
“Selamat sore ibu.. Apa kabar?” Hasna langsung menghampiri dan memberikan salamnya.
“Waaah jangan panggil Ibu rasanya seperti ada jarak gitu loh” Ibunya Reza langsung memeluk Hasna.
“Habis main darimana, Mama senang anak-anak ada yang menemani sekarang, kasian kalau hanya sama Reza, dia anaknya kaku kasian sama anak-anak” ucap Mama Berta
“Maksudnya apa Ma.. selama ini anak-anak baik-baik saja kok kalau jalan dengan aku” Reza langsung menimpali mendengar ibunya.
“Tadi menemani Hujan mencari buku di Pameran Buku di daerah Sentul” jawab Hasna
“Owh iya ya Mama dengar itu katanya Pameran Buku terbesar se Asia. Dapat buku apa Hasna di sana?” tanya Mama Berta
“Saya tadi tidak sempat mencari buku... menemani anak-anak saja, nanti saya bisa kesana lagi gampang” jawabnya
“Mau kesana lagi kamu sama siapa?” tanya Reza langsung
“Eh engga Pak, kalau nanti punya waktu luang saja, masih belum ada rencana” jawab Hasna cepat, manusia yang satu ini agak gampang curigaan. Heran padahal kan gak akan ngapa-ngapain.
“Tuh kamu orangnya suka bicara seperti itu? Bicara baik-baik dong, kan bikin nak Hasna kaget” Mama Berta langsung melengos.
Hasna sebetulnya langsung ingin mengadu pada Mamanya Pak Reza tapi melihat muka Pak Reza yang sudah sangar malas rasanya untuk berargumentasi.
“Mama minggu depan ada waktu luang untuk bertemu dengan keluarga Hasna di Bandung?” tanya Reza
“Ehh kok main bikin janjian saja… “ pikir Hasna… “Pak maaf jangan membuat janji apapun dulu, saya belum bicara dengan keluarga” ucap Hasna
“Kamu memang ada rencana apa?” Mama Bertha langsung bertanya melihat kebingungan Hasna dan sikap Reza memaksa.
__ADS_1
“Nak Hasna kita ngobrol yuk sama Mama di depan, kamu jangan ikut Reza, kalau ada kamu suka mengganggu”
“Mbak Jumi… tolong siapkan cheese cake dan teh yahh, buat Ibu dan Nona Hasna” Mama Bertha memanggil pengurus rumah.
“Sini duduk dengan Mama… maaf yaa jangan kaget kalau Mama pengen bertanya sama Nak Hasna”
“Apakah Reza sudah melamar Hasna untuk menikah dengan dia?” tanya Mama Bertha langsung.
“Iya Bu sudah sejak 2 minggu yang lalu” jawab Hasna singkat
“Pak Reza meminta saya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya” tambahnya lagi
“Dan jawaban Nak Hasna bagaimana? Mama Bertha tampak sangat antusias
“Awalnya saya tidak terlalu memikirnya Bu tapi kemudian Pak Reza ke rumah dan bertemu dengan orangtua saya, hanya sekedar berkenalan, tapi karena Pak Reza sering melakukan kontak dengan saya diluar dari urusan kantor akhirnya orang-orang di kantor jadi curiga dan membuat berita yang tidak benar”
Hasna tidak menceritakan soal ulah Nenek Sihir kepada Mama Bertha takut membuat permasalah kembali rumit.
“Akhirnya saya berdoa memohon petunjuk pada Allah untuk diberikan jawaban akan masalah saya, dan saya mendapatkan jawabannya melalui mimpi”
Hasna kemudian menceritakan mimpi yang dialaminya kepada Mama Bertha, saat Hasna menceritakan mimpi itu air matanya kembali mengalir terutama ia melihat foto Mitha yang diruang tamu itu.
Mama Bertha langsung menangis mendengar cerita Hasna, tangisnya menjadi keras dan memeluk Hasna
“Saya masih bingung awalnya, tapi saya semakin yakin saat melihat foto itu, mukanya dan baju hijau bunga-bunga yang dipakainya sama dengan saya lihat dalam mimpi” ucap Hasna.
“Owhh Ya Allah Mithaaaa….. Mithaaaa…. Maafkan mama… seharusnya dulu Mama banyak menemani kamu dulu….. Owhhhh…..” Mama Bertha terus menangis sambil memeluk Hasna.
“Ibu… ibuu….Tuan..tuan itu ibu tuan…. Ibu menangis” ucap Mbak Jumi saat mengantarkan makanan dan teh ke ruang tamu, ia bergegas memanggil Reza ke ruang kerjanya.
“Mama … mama kenapa?” Reza berlari mendengar tangisan ibunya di ruang tamu.
“Reza…. Mama bersalah… dulu seharusnya Mama menemani Mitha saat hamil, tapi Mama malah pergi ke Singapur… seharusnya Mama tidak jalan-jalan, seharusnya Mama menemani dia selama hamil….. Maafkan Mama Mitha...Maafkan Mama”
Hasna hanya menggelengkan kepalanya, ia bingung, ia tidak menyangka kalau efek dari ceritanya membuat Mama Bertha tampak menjadi sangat terpukul.
Reza langsung membawa Mama Bertha ke kamar, Hasna hanya bisa termangu melihatnya, ada perasaan bersalah muncul pada dirinya, mungkin seharusnya dia tidak usah menceritakan mimpinya itu. Tapi kalau dia tidak ceritakan, orang akan merasa aneh kenapa dia memutuskan untuk menikah dengan Reza.
Akhirnya Hasna memutuskan untuk solat Ashar saja, rumah ini tampak besar tapi ternyata di dalamnya menjadi sangat sepi. Maura pasti dibawa ke kamarnya untuk ditidurkan sedangkan Hujan pergi entah kemana.
“Mbak maaf saya bisa ikut sholat Ashar, apakah ada mushola disini?” tanya Hasna pada Mbak Jumi
“Owh ada Non, di dekat ruang kerja Tuan, mari saya antar” ucapnya ramah, selama ini jarang sekali ada tamu yang numpang ikut sholat di rumah.
Ternyata mushola nya nyaman dan terawat dengan baik, syukurlah terkadang rumah besar tapi tidak menyediakan mushola di rumahnya.
Setelah selesai sholat dilihatnya Reza sedang duduk di sofa ruang tengah, begitu melihat Hasna dia langsung berdiri.
“Setelah saya sholat saya antar kamu pulang” ucapnya singkat
“Saya bisa pulang sendiri pak, pakai mobil online” jawab Hasna, ia tidak ingin membebani Reza dengan kewajiban mengantarkannya pulang.
“Jangan banyak membantah tunggu saja, saya tidak akan lama” Reza langsung beranjak pergi ke kamarnya. Ternyata posisinya di ujung ruangan keluarga, rumah ini ada 2 lantai dari tangga terlihat ada pintu kamar di atas, tampaknya itu kamar anak-anak.
Sepuluh menit kemudian Reza muncul di ruang tamu, ia sudah berganti pakaian, tapi mukanya tampak serius dan dingin. Tampaknya kejadian Mamanya menangis cuma berpengaruh pada dirinya.
“Kamu gak usah pamit pada Mama, sekarang dia lagi tidur setelah minum obat, mama punya darah tinggi jadi gampang terpicu tekanan darahnya” ucapnya sambil berjalan ke pintu.
“Anak-anak masih tidur, nanti aku bilang pada mereka kalau kamu pulang saat mereka tidur” sambungnya lagi.
Diperjalanan Hasna tidak berani memulai percakapan, kejadian tadi cukup membuatnya kaget. Akhirnya Reza yang memulai percakapan.
“Apa yang kamu ceritakan pada Mama sampai dia menangis?” tanya Reza
__ADS_1
Hasna diam, dia bingung harus menjawab apa.
“Kenapa diam, jelaskan pada saya atau saya tidak akan mengantarkan kamu pulang” ancam Reza
“Bapak tidak mengantarkan saya pulang juga, saya bisa pulang sendiri, tidak usah mengancam saya, gak akan mempan” jawab Hasna ketus.
Reza menarik nafas, dengan perempuan ini tidak mudah untuk diintimidasi, segalanya harus rasional dan masuk akal.
“Sudah hentikan mobilnya di depan saya mau turun” Hasna langsung menunjuk Mart yang ada di depan mobil.
Reza terdiam, ia menyadari sikap kerasnya tidak akan mempan pada perempuan ini.
“Maaf saya tidak bermaksud mengancam kamu, saya bingung melihat Mama tadi menangis keras seperti itu sambil memanggil-manggil Mitha di depanmu, kamu tidak mengenal Mitha sama sekali” ucap Reza, akhirnya dia menghentikan mobil di pinggir jalan.
“Saya mohon ceritakan apa yang kamu bicarakan dengan Mama tadi?” Reza memegang tangan Hasna yang akan membuka seatbelt.
“Saya tidak ingin kamu turun dan pulang sendiri, saya cuma ingin bicara sebentar makanya saya berhenti” tangan Reza masih menggenggam tangan Hasna
“Lepaskan tangan saya.. “ ucap Hasna tegas, ia menghela nafas dan terdiam. Kalaupun ia tidak menceritakan sekarang nanti pun Mama Bertha akan menceritakan pada Pak Reza.
“Saya menceritakan alasan saya kenapa saya menerima lamaran Bapak” ucapnya singkat
“Karena kamu sayang pada anak-anak kan? Kenapa Mama sampai menangis?” Reza merasa heran selama ini ia merasa sudah mengetahui alasan Hasna.
“Bukan, itu tidak menjadi alasan yang cukup kuat bagi saya untuk menikah dengan Bapak” jawabnya.
“Saya mau menikah dengan Bapak karena Mbak Mitha”
“Kamu tidak kenal dengan Mitha” potong Reza
“Tidak… saya memang tidak kenal, bahkan saya belum pernah melihatnya. Tadi saat ke rumah Bapak saya melihatnya lagi… di foto di ruang tamu”
“Lagi? Kapan kamu pernah bertemu dengan Mitha?” tanya Reza
“Dalam mimpi saya, Mbak Mitha menemui saya selama 3 kali dalam mimpi saya” jawab Hasna, kemudian ia menceritakan petunjuk Allah lewat mimpinya setelah sholat Istiqoroh kepada Reza, air matanya masih saja menitik saat menceritakannya.
Reza diam, selama mendengarkan Hasna bercerita, dia hanya diam dan memandang keluar jendela mobil. Mukanya tampak dingin.
“Itu alasan saya kenapa saya mau menikah dengan Bapak”
“Bukan karena saya menyukai bapak, juga bukan hanya karena saya menyukai anak-anak Bapak, tapi juga karena permintaan Mbak Mitha agar saya menerima anak-anaknya”
“Mungkin ini adalah cara Allah untuk memberikan saya petunjuk, tapi dalam mimpi saya, semuanya terlihat nyata”
“Termasuk muka dan baju yang dikenakannya, hanya saja rambutnya lebih pendek dari yang difoto”
“Mitha dulu menyukai rambut pendek sebahu, tapi saya tidak suka dan memintanya untuk memanjangkan rambut” jawab Reza, Ia menghela nafas panjang, diusapnya muka dengan kasar dan kemudian melajukan kendaraan kembali.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang memulai percakapan. Baik Hasna maupun Reza merasa tidak mampu untuk membicarakan apapun saat itu. Beban perasaan yang ditanggung oleh keduanya terasa menyesakkan. Kenangan akan seseorang yang bahkan tidak dikenal oleh Hasna telah membelokkan semua rencana kehidupannya yang dulu telah disusun dengan mudah. Entah apa yang akan dihadapinya sekarang, semuanya terasa rumit dan membingungkan.
Reza… yang bikin rumit itu kamu!
*****************************
Ini sudah saya kasih bonus buat bangun bobo, jangan minta nambah-nambah terus yah, da gak akan pernah cukup. Semoga semuanya tetap sehat dan produktif... Terima kasih yang sudah memberi kopi sehingga malam-malam begini saya melek untuk bikin story, jadi curiga ngasih kopi nya modus supaya bisa bikin story terus yah...hehehehe daripada kasih kopi mendingan kasih vote, like dan komen aja deh biar naik peringkatnya. Terima kasih ya semuanya atas dukungan dan doanya... Saranghaeee....
******************************
__ADS_1