
Malam itu aku tidur dengan Mama seperti mengulang cerita 20 tahun yang lalu, saat Ayah masih kuliah S3 di luar kota, setiap malam tidur dipeluk Mama. Kak Angga tidur disebelah kiri Mama, masing-masing dari kita sudah punya posisi masing-masing.
Itu adalah masa-masa terakhir sebelum kemudian setahun kemudian Emran lahir dan jatah tidur dengan Mama pun berakhir.
Mama pulang keesokan sorenya, pagi-pagi diisi jalan-jalan di sekitar kost an, Mama asyik mencari sarapan khas Jakarta. Padahal aku pikir sih sama-sama saja, akhirnya kita beli tiga macam makanan, mulai dari nasi uduk, ketupat sayur dan laksa. Hadeuuuh ampun deh Mama tuh, padahal biasanya aku cukup sarapan di warteg.
Siangnya Mama mengajakku jalan-jalan, kata Mama mau coba naik Busway keliling-keliling karena kalau pergi dengan Ayah pasti naik mobil kemana-mana, akhirnya aku jadi pengawal mama. Termasuk melewati kost an Kak Angga dan gedung tempatku bekerja.
Mamah pulang memakai kereta jam 5 sore, katanya supaya tidak terlalu malam pas sampai di Bandung. Tidak mau diantar ke stasiun takut nanti aku jadi sedih. Jadi kita berpisah di depan kost an, mama pulang di antar mobil online, hmmm benar juga kalau seperti ini tidak terasa terlalu sedih.
Luka di pelipis sudah tidak terasa sakit, mungkin karena hati sudah tenang jadi tidak berdenyut lagi. Hanya bekas kuku yang di bahu yang masih terlihat merah. Perempuan gila itu memang harus diwaspadai, lain kali harus benar-benar menjaga jarak atau siapkan kepalan tangan buat menjotos. Aku tidak main-main sekarang, berani lagi dia mendekat akan ku pukul langsung.
Malamnya kembali Pak Reza mengirimkan pesan menanyakan kondisiku, sebetulnya aku malas untuk menjawab, “lagi gak mood” kalau kata anak sekarang sih tapi kalau tidak dijawab rasanya tidak sopan juga akhirnya aku hanya membalas dengan menulis “Baik. Terima kasih”
Tapi ternyata tak berapa lama dia langsung telepon. Hmm sudah jam 8, untuk apa dia telepon. Aku malas menjawabnya dan kubiarkan saja. Kemudian dia mengirimkan pesan.
“Maura ingin bicara, tolong diangkat saya sudah bilang kalau kamu sakit, tapi dia berkeras untuk telepon”
Huuffft anak koala ini selalu saja muncul saat aku mau tiarap. Akhirnya aku pijit tombol telepon. Baru satu kali nada sambung langsung telepon diangkat.
“Halooow….halooooow….. Papi gak ada sualaanya” terdengar suara Maura diujung telepon
“Halo Maura ini Kak Hasna… kenapa Maura mau telepon Kak Hasna?” terbayang anak koala itu seperti biasa riweuh dengan keinginannya.
“Ka Asnaaa kata Papi satit… apa yang satit badannya panas… kepala satit” Maura langsung memberondong pertanyaan.
“Papi gak kedengel suala apa-apa.... Ka Asna nya satit” kembali terdengar suara Maura sibuk bicara dengan Papinya
“Sebenar Papi hidupkan pakai speaker” terdengar suara Pak Reza. Aku jadi sibuk mendengarkan kesibukan Maura dan Pak Reza di ujung telepon.
“Tuh kan gak ada soala apa-apa” terdengar kembali suara Maura
*Hehehehe…. Baaaaa… ini ada Kakaknya” jawabku sambil tertawa….
“Aduuuuh aku tadet… ahahahaha Ka Asna nakal mau cembunyi cembunyi di telepon“ Maura berteriak.
*Maaf yaa Kak Hasna nya lagi gak enak badan, tadi tiduran teyussss… kepalanya atitttt musti minum obattttnya banaaaakkkk… bantuin sama Maura yah minum obatnya?” jawabku iseng dengan mengikuti gaya cadel Maura.
“Mola ga syuka minum obat, kemalen kan Mola udah satit dikasih dali Ail teljun… Ka Asna minum ail teljun bial cepet cembuhnya” Heuuu dia masih inget rupanya waktu di infus kemarin.
*Kak Hasna gak suka sama Air Terjun sukanya minum air sumur aja biar sehat” jawabku asal
“Papi apa itu ail sumul” terdengar Maura bertanya pada Pak Reza.. lama terdiam rupanya Pak Reza sedang berpikir.
“Air sumur itu air kolam… Tante Hasna nya suka minum air kolam kaya Ikan… nanti kirim cacing Tante nya biar cepet sembuh” terdengar suara Hujan dari kejauhan… Duh itu anak main nyamber aja kasih jawaban asal.
“Kak Hasna mau cacing?” Maura langsung bertanya, waduh ini gimana jawabnya..
*Kak Hasna gak suka cacing… Cacing itu sukanya di dalam tanah … gara-gara gak mau pakai baju”
“Mola mau dengel celita cacing” dan anak koala itu langsung nyamber pengen diceritain tentang cacing. Meeeh malah musti cerita, gimana ini padahal aku jawab asal.
“Hmmmm… musti sekarang ceritanya? Memangnya Maura mau tidur*?*” tanyaku sambil berpikir alur cerita tentang cacing… membayangkannya saja sudah geli.
“Iya Mola syudah minum syusyu telus sudah gosok gigi” jawabnya cepat.
“Ya boleh bentar.. Kak Hasna minum dulu yah, haus tenggorokannya kering… Mauranya pipis dulu sebelum bobo biar gak ngompol” ucapku.
“Kata Papi juga tadi minta Maura pipis dulu sebelum bobo… ayo sana pipis dulu” terdengar ucapan Pak Reza di telepon
__ADS_1
“Sebentaaayy Mola pipis duyuuuu” itu anak pasti mendekatkan mulutnya ke handphone bikin telingaku berdenging… kalau gini ceritanya aku mendingan pakai speaker aja.
Sambil mengambil air minum, aku berpikir apa cerita tentang cacing yang bisa aku dongengkan sekarang, yang terbayang soal cacing adalah licin dan menggeliat-liat iiih geli liatnya juga, paling gak kalau ulat ada motifnya kalau cacing kan cuma cokelat dan glowing kaya pakai pelembab… hehehehe tiba-tiba terpikir satu ide di otakku”
“Molaa uddaaah pipiiiiis” Anak koala itu kembali grasak grusuk di dekat hp.
“Ya… dengarkan cerita Kak Hasna yaaa” *
“Ceritanya adalah tentang kenapa cacing tinggal di dalam tanah. Maura tau gak kenapa cacing tinggal di tanah” tanyaku
“Ga tauuu” terdengar suara Maura dengan polos, kemudian terdengar suara Hujan seperti berbisik-bisik”
“Bilangin soalnya cacing mesti ngasih makanan tanaman” bisik Hujan
“Kenapa tanaman makan sama cacing” terdengar suara Maura bertanya pada Hujan, aku langsung menahan tawa mendengar pertanyaan Maura
“Bilangin aja ah kamu tuh” kata Hujan
“Supaya cacing ngasih makanan tamaman” ucap Maura kemudian terdengar lagi kegaduhan,
“Kakak… akunya kedepiiit…” suara Maura
“Adenya geseer aku mau ikut tiduran disini… Papi tidurnya geserrr kesana aku mau tiduran cape” suara Hujan
“Kaka tiduulnya di kasullll aku mo dengelin celitaaa… “ Maura terdengar suara manja merengek-rengek
“Ehhh ini mah malah ribut gimana sih” pikirku
*Jangan ribut dong Kakak sama Ade.. nanti Kak Hasna gak lanjut ah ceritanya, Maura jangan suka nangis… nanti cacingnya ngumpet… digeser-geser muat kok buat semuanya… belum pernah naik angkot yah… ditumpuk aja kaya ikan pindang” ucapku, jadi ingat pas lagi sekolah naik angkot dipadatkan sampai tidak bisa bergerak.
“Iya ini Papi lagi malah tidur disini” terdengar lagi suara Hujan marah-marah
Terbayang dalam pikiranku 3 orang tidur tumplek dalam 1 kasur, hehehe lucu juga.
“Syudah… sekalang mo dengelin celita cacing nya” terdengar suara Maura yang penuh pengharapan, deuuh kasian juga anak koala ini bikin kangen.
“Judul ceritanya adalah Cacing yang Tidak Suka Pakai Baju”
“Haaaahhh kok gak pake baju” ucap Maura, yaiyalah masa mau nyebutin Cacing Bugil ntar aku diprotes lagi pikirku.
“Udah ade dengerin aja.. Jangan protes melulu” terdengar suara Hujan
“Dahulu kala… cacing hidup dan tinggal di atas daun bersama dengan ulat dan ular. Mereka memiliki tugas yang diberikan oleh Raja Pohon.
“Tugas ulat adalah menjadi kupu-kupu yang cantik supaya bisa menyirami bunga-bunga yang ada di tanaman”
“Tugas ular adalah menjaga tanaman supaya tidak ada yang suka mengganggu tanaman supaya mereka bisa tumbuh besar”
“Sedangkan tugas cacing adalah memberi makanan tanaman supaya mereka bisa tumbuh besar”
“Setiap binatang diberikan pakaian kerja supaya mereka bisa bekerja dengan baik. Karena ulat harus menjadi kupu-kupu yang cantik Raja Tanaman memberikan baju-baju yang paling bagus untuk ulat, ada baju titik-titik, garis-garis berwarna coklat, merah, hitam dan orange. Semua warna diberikan bahkan sering pula sang Raja memberikan bulu-bulu supaya ulat terlihat seperti sedang memakai baju musim dingin” Hasna bercerita sambil membayangkan warna ulat. Ihhh geli membayangkan ulat hitam yang berbulu wqwqwqwq….
“Sedangkan Ular karena harus masuk kedalam semak-semak sang Raja memberikan baju yang licin dan kuat, baju ular membuatnya tidak akan luka tertusuk duri ataupun ditusuk oleh musuhnya. Warnanya pun berbeda-beda. Ular yang tinggal diatas pohon dia diberikan baju berwarna hijau sedangkan ular yang tinggal di tanah diberikan baju yang berwarna coklat garis-garis supaya tidak terlihat saat bersembunyi untuk menyerang musuhnya”
“Bagaimana dengan cacing, apakah baju yang harus dipakainya, ternyata karena cacing harus sibuk menggali tanah, supaya badannya tidak kotor sang Raja memberikannya baju yang tebal dan keras dan sayap.. Supaya bisa mengangkat makanan dengan cepat. Warnanya pun hanya coklat supaya tidak gampang kotor.
“Cacing pun protes ia tidak terima, “Radja… aku tidak mau memakai baju ini, warnanya hanya coklat dan tebal aku lelah dengan memakai baju ini” ucap Cacing sambil melemparkan baju pemberian Raja kepadanya”
“Cacing kamu harus memakai baju ini supaya kamu bisa bekerja dengan baik. Terimalah kalau kamu tidak menerimanya maka baju ini akan aku berikan pada kumbang” Ucap Raja dengan kesal
__ADS_1
“Aku lebih baik tidak memakai baju saja daripada memakai baju yang keras seperti itu” Cacing menantang sang Raja, ia tahu kalau Raja sangat membutuhkan dirinya. Kalau tidak ada cacing yang bekerja maka tanaman tidak akan tumbuh dengan baik”
“Kami tidak bisa melihatmu berkeliaran tanpa baju, kalau kamu tidak memakai baju lebih baik kamu tinggal saja di dalam tanah jadi kami tidak harus melihatmu berkeliaran di luar” ucap Raja dengan keras.
“Baik saya tidak takut.. Saya akan tinggal di dalam tanah, tapi saya minta keistimewaan karena saya tidak memakai baju maka badan saya akan gampang terluka dan terpotong… saya meminta Raja untuk memberikan kehidupan kalau badan saya terpotong sehingga potongan diri saya akan datang membantu” tawar Cacing.
“Mola gak ngelti” tiba-tiba Maura memotong cerita
“Iya jadi cacing itu kan gak pakai baju jadi dia suka luka badannya kepotong dua sama cangkul petani atau kena batu.. Nah potongan badannya gak mati tapi tetap hidup malahan jadi bantuin si cacingnya” ucap Hujan… heheheh lumayan ada asisten yang membantu menjelaskan pikirku.
‘Owhhhh iya telusin celitanya” kembali suara Maura terdengar keras, kayanya mulutnya langsung teriak di hape.
“Ya diterusin lagi yah… karena cacing meminta badannya supaya tetap hidup Raja berpikir sangat keras. Hmmmm kata raja bagus juga kalau semakin banyak cacing yang bisa membantu di dalam tanah”
“Baiklah kata Raja… aku akan memberikan keistimewaan kepadamu dengan memiliki banyak nyawa pada bagian badanmu supaya bisa memberikan manfaat bagi tanaman.
“Terima kasih Raja… saya akan banyak membantumu dari dalam tanah”
Sejak saat itu cacing tingga di dalam tanah, itu sebabnya kalau cacing terpotong dia akan tetap masuk di dalam tanah karena dia bisa tetap hidup” Hasna mengakhiri ceritanya
“Mola nda mahu hidup di dalam tanah, mola mau pakai baju aja.. Mola takut kalau badan mola potong-potong nanti gelak gelak cendili” ucap Maura sambil dahinya berkerut.
“Hahahahahah Mola kan kaya kupu-kupu bajunya banyak dan berwarna-warni seperti Mikey” ucap Hasna
“Bukan Mikey tapi Miney” jawab Maura
“Itu bukan Mike tapi Minnie” ucap Reza bersamaan
“Hahahahahaha iya-iya Miney miney lah… meni sensi” sahut Hasna sambil tertawa-tawa.
“Sudah yaaa… Maura sekarang tidur dulu.. Kak Hasna sudah ngantuk besok mau kerja, selamat bobo Maura, selamat bobo Kakak Hujan… semoga mimpi indah. Selamat malam untuk Pak Reza juga”
“Assalamua alaikum” Hasna mengakhiri teleponnya, ia tidak mau lagi berpanjang lebar, matanya sudah mulai susah dikondisikan gara-gara obat terakhir yang diminumnya.
Tak berapa lama kemudian terdengar ada suara pesan masuk. Ting-ting
“Terima kasih sudah memberikan cerita untuk Maura. Ceritanya bagus”
“Ya pak sama-sama”
“Besok apakah sudah akan bekerja? Kondisi sudah baik”
“Sudah pak, insya allah besok saya kerja”
“Hari sabtu depan kita ke Pameran Buku dengan anak-anak, kamu mau ikut kan?
“Ya pak lihat kondisi saja nanti” jawab Hasna diplomatis
Lebih baik tidak banyak memikirkan banyak hal, siapkan saja energi untuk besok bekerja. Semangat bekerja.
*****************************
Terima kasih sudah bersabar menunggu up story dan doa dari semuanya. Semoga sehat semuanya yah.. Love u all
*****************************
__ADS_1