
Semenjak kejadian itu Reza tidak lagi berani mengganggu Hasna, mereka berdua seperti dua orang asing yang terlihat normal di depan anak-anak tapi berusaha menghindar saat sedang berdua.
Pagi itu sepulang mengantar Maura Hasna kembali ke rumah, biasanya ia tidak pernah pulang, langsung menghilang dan baru akan kembali setelah Maura pulang. Muka Hasna terlihat pucat, ia memang belum sarapan, sibuk menyiapkan kelengkapan Hujan yang akan mengikuti pertandingan olahraga di sekolah. Begitu datang ia langsung makan, Reza yang baru akan berangkat ke kantor hanya menatap diam istrinya.
Hasna terlihat makan dengan lahap, begitu fokus dengan sarapannya, sampai tidak sadar kalau Reza menghampirinya, “tadi kenapa gak sarapan dulu sebelum mengantar Maura?” Hasna langsung berhenti menyuap, ia melirik posisi Reza yang ada di dekatnya. “Kamu mau ke dokter gak? Kenapa terlihat pucat terus?” Reza berdiri di sebelah Hasna.
Hasna membereskan piring makan, dan membawanya pergi, ia beranjak dan berjalan menuju kamar. Sikap tubuh yang merasa terganggu saat sedang makan, tidak bicara sepatah katapun. Reza hanya bisa menarik nafas, kalau boleh bicara ia sebetulnya merasa kesal. Sudah hampir dua minggu Hasna mogok bicara dengannya. Kalau mau ada sesuatu yang berurusan dengan dirinya, Hasna selalu menggunakan perantara Hujan atau Maura tidak pernah berbicara langsung.
“Minggu depan aku harus ke Surabaya, Minggu sore berangkat. Agak lama sekitar 4 hari” Reza memberitahu Hasna jadwal kunjungan kerjanya di pabrik baru milik perusahaan. Hasna yang akan naik ke atas tangga berhenti ia seperti ingin berbicara tapi kemudian terlihat ditahan.
“Aku berangkat berdua dengan Aswin, hanya berdua” Reza menekankan kata hanya berdua dengan Aswin seakan mengatakan bahwa tidak ada Arcy dalam perjalanannya ke Surabaya, Hasna meneruskan langkahnya ke atas.
“Tidak bisakah kamu memaafkan aku...aku tahu aku salah” tapi Hasna tidak memberikan komentar apapun, ia masuk ke kamar. Reza hanya bisa menatap dengan sedih. Kejadian 4 hari yang lalu masih terbayang-bayang di matanya.
Reza menyangka Hasna akan kembali memaafkannya setelah ia meminta maaf seperti dulu, tapi rupanya kemarahannya yang sekarang sulit ia redam. Reza mengingat-ingat apa saja ucapannya saat bertengkar dengan Hasna, ia nyaris tidak ingat. Kemudian ia berusaha me-reka ulang semua ucapan Hasna dan ucapannya saat mereka bertengkar.
Ia ingat ada beberapa ucapannya yang memang terasa menyakitkan, menyebut istrinya piala bergilir, membandingkannya dengan Mitha, dan tuntutan pengakuan akan perasaannya kepada Hasna. Reza menarik nafas, sepanjang perjalanan kantor ia mencoba memikirkan perasaannya. Kemarin-kemarin ini ia menjalani kehidupan seperti air mengalir saja, tidak terlalu memikirkan apa siapa dan bagaimana dan semuanya baik-baik saja. Urusan pekerjaan di kantor membuatnya sibuk dan memenuhi semua pikirannya, sehingga tidak pernah ada waktu untuk keluarga.
Hari ini ia harus menyelesaikan semua kelengkapan dokumen dan bahan presentasi. Ada dua pabrik di Surabaya dan satu pabrik di Gersik yang ingin bergabung dalam konsorsium sehingga mereka bisa menggalang investasi luar untuk ekspansi pemasaran produk. Pabrik di Gersik yang paling menonjol dalam penawaran kerjasamanya, dan sudah dua perusahaan luar yang tertarik karena tempatnya berada di Kawasan Industri Jawa Timur JIIPE, keunggulan dari Great Indonesia adalah mereka sudah memiliki pengalaman dalam pengembangan kapasitas produk dan pengontrolan kualitas. Sehingga dibutuhkan partner yang mampu mengimbangi kerjasama ini kedepannya. Pertemuan di Surabaya nanti akan melibatkan investor dari Jepang, ada dua perusahaan yang sudah mengajukan penawaran.
Reza menghela nafas, ia memasuki babak baru dalam kehidupan romansa hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan Hasna. Ia menyukai perempuan itu, ia tidak bisa hidup tanpa dia, selama hampir tiga hari tidak melihatnya saja sudah membuatnya merasa kehilangan dan khawatir, dilanjutkan dengan tidak pernah bisa berbicara dan mendengar perempuan itu tertawa. Praktis hampir dua minggu ia tidak pernah mendengar tawa ceria istrianya, hanya suara Maura yang mendominasi saat mereka bersama-sama.
Reza memijat kepalanya yang terasa pening, dua minggu tidak bisa menyentuh istrinya terasa lebih menyiksa dari waktu tiga tahun tanpa istri. Kadang ia merasa marah dan ingin melampiaskannya, tanpa saat kemarin ia mencoba memeluk dan mencium Hasna hanya rasa sakit yang ia rasakan saat melihat reaksi Hasna. Semua hasrat dan nafsu yang ia rasakan saat mencoba memeluk dan menciumnya langsung menghilang tidak berbekas, yang tertinggal hanya rasa malu akan ucapannya yang diingat oleh Hasna dengan baik.
Saat tiba di kantor ternyata semua dokumen yang diperlukan ternyata belum siap, Reza tidak habis mengerti padahal saat rapat kemarin semua manager dan sub bagian terkait sudah mengerti dan memahami urgensi pertemuan minggu depan.
“Win kamu gimana sih, gak diingatkan memang kalau hari ini semua dokumen kelengkapan sudah harus kita terima” Reza berusaha menahan emosinya, Aswin yang terlihat kebingungan menatap Reza. “Terakhir hari Rabu sore sudah saya ingatkan Pak dan mereka ok, saya juga ini aneh kenapa mereka malah menunda pekerjaan” Aswin tampak kesal.
“Menunda pekerjaan gimana?” Reza berkerut bukankah ini menjadi skala prioritas. “Katanya mereka diminta membuat analisa dampak dari project pak” Reza langsung berkerut “analisa dampak baru dibuat kalau project sudah di acc, siapa yang menugaskan itu?” Aswin kemudian menuliskan pesan di hapenya “Bu Arcy pak” jawabnya sambil menghela nafas.”Apa-apaan maksudnya si Arcy kaya mau sabotase” Reza langsung keluar dari ruangannya menuju ruangan Arcy.
Prita yang duduk di meja depan ruangan Arcy tampak kaget saat melihat Reza datang.
“Bapak mau ke Bu Arcy… maaf pak sedang ada tamu” ia langsung berdiri menghalangi.
“Siapa?” Reza langsung masuk tanpa mengetuk pintu, langsung disuguhi pemandangan yang sangat memalukan.
“Kalau mau melakukan hal pribadi lakukan di rumah ini jam kantor” Reza berdiri menatap Arcy dan seorang laki-laki yang sedang asyik berduaan di ruangan. Arcy segera merapikan dirinya, ia terlihat kaget dan malu melihat Reza masuk ke ruangannya saat ia sedang “beraktivitas”
“Ini Sam teman kuliah aku waktu di US kita sudah lama tidak bertemu” ia berusaha terlihat normal.
“Halo” laki-laki yang bernama Sam terlihat kikuk dan berusaha bersikap sopan dan mengajak Reza bersalaman, yang hanya disambut dengan tatapan dingin Reza, ia tidak mau bersalaman dengan tangan yang dalam pikirannya sudah berbuat kotor.
__ADS_1
“Kenapa kamu memerintahkan divisi ekspor,, keuangan dan produksi membuat analisa dampak? Kamu kan sudah tahu kalau laporan analisa pendahuluan harus dibuat terlebih dahulu untuk bisa menjadi dasar kesepakatan baru kemudian kita membuat analisa dampak” Reza langsung pada inti permasalahan. Arcy langsung terdiam, “Sam nanti sore kita bikin janji dulu yaa, aku mau kerja dulu” ia langsung mengusir laki-laki berjambang untuk keluar.
“Hmmm Reza aku kira studi dampak lebih penting, soalnya kita bisa mengukur berapa keuntungan dan kerugian yang kita bisa dapatkan, untuk studi pendahuluan aku bisa langsung lakukan analisa saat kita bertemu dengan tim klien” Reza tersenyum sinis rupanya ini adalah akal-akalan Arcy agar bisa ikut menyertai Reza dan Aswin ke Surabaya.
“Jangan kamu kira aku tidak tahu rencana kamu. Sekali lagi kamu mensabotase rencana kerjaku, aku tidak segan untuk melaporkannya ke dewan direksi, tidak peduli dengan pendapat ayahmu” Reza langsung pergi meninggalkan ruangan dengan penuh rasa marah.
“Win..suruh ketiga divisi untuk kerja lembur, besok mereka harus masuk. Salah mereka sendiri melanggar komitmen rapat denganku” Reza langsung membuat langkah taktis, ia tidak ingin membawa Arcy keluar kota sudah terlalu banyak permasalahan yang ditimbulkan oleh perempuan itu di rumah dan di kantor. Cepat atau lambat ia harus mengeluarkannya,ia sudah tidak lagi bekerja bersama-sama.
Akhirnya selama dua hari Reza harus memantau secara langsung pekerjaan anak buahnya, project ini terlalu besar nilainya kalau dilewatkan. Investor Jepang memang sangat teliti dan cermat, tapi begitu mereka menyukai dan sepakat dengan pola kerja maka selanjutnya hanya tinggal melakukan koordinasi saja. Untuk itu semua dokumen perencanaan dan analisa produksi harus lengkap dan cermat.
Hari Minggu pagi Reza habiskan untuk beristirahat, kemarin malam ia pulang larut hingga tidak bisa bertemu dengan anak-anak dan istrinya. Jam sebelas siang saat keluar dari kamar, rumah terasa sepi, tidak terdengar suara anak-anak di rumah.
“Mbak.. anak-anak kemana?” Mbak Jumi tampak sedang menyiapkan makan siang.
“Tadi Non Hujan minta diantar membeli perlengkapan sekolah, Tuan tidurnya lelap jadi Bu Hasna minta jangan diganggu, katanya ndak akan lama sebelum ashar sudah akan pulang” Mbak Jumi memandang Reza dengan prihatin, ia sudah tahu kalau Reza dan Hasna sedang ada masalah semenjak Hasna mengunci diri di kamar.
“Mbak..tolong siapkan pakaian untuk empat hari saya mau ke Surabaya” ucap Reza sambil menyantap sarapan sekaligus makan siangnya.
“Sudah disiapkan oleh Bu Hasna kemarin Tuan, ada di dalam koper yang biasa Tuan pakai” Mbak Jumi menunjukkan koper Reza yang tampak sudah siap di sudut ruangan. Reza termenung, rupanya saat ia mengatakan akan pergi Hasna langsung menyiapkan pakaiannya. Sejak kemarin ia ingin berbicara hati ke hati dengan Hasna tapi waktunya tersita oleh pekerjaan.
Jam empat sore mereka baru pulang, dimulai dengan Maura yang langsung ribut mencarinya menunjukkan alat gambar baru yang dibelikan Hasna, stiker tempel pada buku gambar, buku menggambar yang bisa disambungkan menjadi cerita hingga kaos bergambar princes kesukaan Maura.
“Banyak sekali yang dibelinya” ucap Reza singkat, ia melihat Hujan yang sibuk membongkar perlengkapan sekolah.
“Tadi Buna sampai capek duduk telus nyari kulsi soalnya gak nemu-nemu” Maura mengadukan kejadian siang tadi, pantas saja lama pulangnya.
“Mana Buna nya?” Reza melihat ke arah ruang tamu.Tadi ia melihat Hasna masuk tapi langsung menghilang.
“Buna mau tidulan dulu katanya tapek” Maura langsung mewarnai buku gambar barunya, Reza beranjak berdiri sudah hampir sebulan ini Hasna terlihat tidak sehat. Apa dia hamil? Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Reza.
“Papi mau lihat Buna dulu” ucapnya sambil menuju ke atas, Maura langsung menoleh dan berkata.
“Kata Buna dangan didanggu mau tidul supaya cepat syembuh” Reza tersenyum Maura sangat patuh pada ibunya.
“Iya Papi cuma mau lihat saja gak akan ganggu” Reza menenangkan Maura bahwa ia tidak akan mengganggu Hasna.
Perlahan dibukanya pintu kamar, tidak dikunci entah karena terlalu capek biasanya Hasna langsung mengunci kamar. Dilihatnya istrinya terbaring di kasur masih dengan pakaian keluar casual, kakinya disangga oleh dua bantal sehingga ada dalam posisi di atas.
Reza duduk di sisi kasur, rambut Hasna menutupi sebagian mukanya yang tertidur dengan lelap, ia terlihat lelah. Mukanya tidak sekurus tiga minggu kemarin lebih berisi mungkin karena setelah selesai ujiaan semester tidak terlalu terkuras energinya. Reza ingin menyibakan rambut yang menutupi wajah istrinya tapi ia takut kalau Hasna terbangun dan kemudian langsung menjauh darinya. Ini adalah jarak terdekat yang bisa dapatkan selama hampir seminggu setelah Hasna meradang saat dipeluknya.
Hampir setengah jam Reza duduk memandang istrinya sampai kemudian tiba-tiba Hasna terbangun karena kram kaki. “Argggg… “ ia mencoba menggerakkan kaki tapi sulit, Reza langsung kaget mengira Hasna akan marah, sejenak ia berdiri dan melihat sampai mengerti kalau Hasna mengalami kejang otot di kakinya.
__ADS_1
“Kenapa kakinya kram...lemesin” Reza langsung meraih telapak kaki Hasna yang terlihat lurus dan membengkok karena kram. “Arghhh ...ahhh haaaa sakit…” Hasna meringis mencoba menyentuh ujung kakinya, tapi kramnya tak kunjung hilang. “Lemaskan...jangan tegang...lemaskan…” Reza mengusap-usap otot yang tegang dan memijat perlahan dan kemudian kejangnya mulai berkurang hingga telapak kaki yang membengkok kembali normal. Hasna langsung menarik kakinya dari genggaman Reza. Ia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.
“Jangan ganggu..aku mau istirahat” Reza berdiri dan kemudian menarik nafas, diambilnya selimut dan ditutupkan pada tubuh Hasna.
“Ya istirahat saja, jangan dipaksakan untuk bangun dulu, nanti selama aku pergi kalau sekiranya capek jangan memaksakan mengurus anak-anak. Hujan dan Maura bisa ditemani Pak Agus kalau pergi” Reza menatap punggung Hasna, tidak ada jawaban apapun dari istrinya hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar.
Malam ini ia mengambil penerbangan jam 7.10 ke Surabaya, berarti jam 5 harus sudah berangkat dari rumah. Masih ada 1 jam untuk bersiap-siap, ditemaninya anak-anak di ruang keluarga. Reza merasakan waktunya bersama keluarga semakin berkurang, untung ada Hasna yang selalu menemani mereka sehingga anak-anaknya tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang.
Jam lima sore ia telah siap untuk berangkat, selama empat hari kedepan ia tidak akan bertemu dengan anak-anak dan Hasna, entah kenapa ia merasa keberangkatannya kali ini terasa berat, terasa ada mengganggu dan membuatnya tidak tenang.
“Maura temani Papi ke kamar Buna, Papi mau pamit berangkat sekarang” Reza menggendong Maura kalau bersama anaknya Hasna tidak akan bersikap kasar ia sangat menjaga prilaku saat bersama anak-anak. Reza mengetuk pintu kamar...tok..tok...tok
“Buna ...Papi mau pelgi ke Suyabaya” Maura berteriak sambil ikut mengetuk pintu kamar Hasna, memukul mukul pintu lebih tepatnya, tak berapa lama Hasna membuka pintu, bajunya telah diganti dengan baju rumah.
“Aku berangkat dulu… kamu jaga kesehatan jangan terlalu capek.. Nanti sepulang aku dari Surabaya kita general check up..sudah terlalu lama kamu terlihat cape dan lelah” Reza menatap istrinya yang tampak membuang pandangannya tidak menatap Reza langsung.
“Gak akan lama hanya empat hari, titip anak-anak...Aku pergi yah” ditatapnya istrinya yang tampak dingin dan hanya memandang ke arah luar pintu.
“Terima kasih…” tiba-tiba Hasna berbicara saat Reza akan beranjak dari pintu. Reza langsung berhenti dan memandang Hasna, rupanya kemarahannya sudah mencair dan mau berbicara dengannya. Reza menatapnya dengan dalam, tapi mata Hasna tidak memancarkan kehangatan seperti dulu hanya menatapnya dengan tajam.
“Terima kasih sudah memberikan banyak perhatian dan materi pada saya… Jaga diri Mas Reza baik-baik.. Semoga lancar dan diberikan kemudahan kedepan” Hasna mengacungkan tangan mengajaknya bersalaman. Reza mengerutkan dahinya, kenapa terasa sangat formal seperti akan berpisah dengan rekan bisnis dan saling mendoakan.
“Maksud kamu apa, tentu saja sudah jadi tanggung jawabku sebagai suami tidak usah berterima kasih seperti dengan orang lain saja” Reza mentertawakan dengan bingung. Hasna tetap mengacungkan tangannya mengajak bersalaman secara formal bukan untuk mengambil dan mencium tangan suaminya. Reza menatap tangan Hasna...owh ok.. Mungkin harus diawali dengan jabat tangan dulu, disambutnya uluran tangan Hasna dan mereka bersalaman.
Reza menarik tangan Hasna sehingga perempuan itu maju dan terjatuh di pelukannya. Maura yang digendong oleh Reza tertawa…
“Hahahahha….. Buna bepelukan sama Papi sepelti Teletubies...Papi jadi tingki wingki… Buna jadi Lala sekalang Mola mau dadi Poo yang paling tetil…. Belpelukaaan” Maura tertawa-tawa, tidak merasakan kegundahan yang dirasakan oleh Reza saat memeluk tubuh istrinya yang terasa kaku dan tidak memberikan pelukan balik. Hasna hanya berdiri mematung dan tidak merespon pada pelukan, hanya seperti tersentak saat Reza memberikan kecupan pada rambutnya, ia langsung melepaskan dirinya dari pelukan Reza.
“Maura sini digendong sama Buna, Papinya mau berangkat” Ia langsung melepaskan pelukan Reza dan menggendong Maura. Anak koala langsung melakukan proses perpindahan dari pohon ke pohon dengan mudah. Ia paling senang dimanja-manja seperti bayi.
“Jangan digendong sama Buna kamu sudah berat kasian Bunanya sakit...ayo temani Papi ke bawah” Reza menarik Maura dari gendongan Hasna, turun dari tangga dengan membawa anak sebesar Maura membahayakan.
Reza menatap keluarga kecilnya yang mengantarkannya pergi, Maura tampak bersemangat melambaikan tangannya.
“Papi cepat pulang…. Nanti jangan lupa bawa oyeh oyeh yang banaak” ia melambaikan dengan penuh semangat sambil meloncat-loncat.
Hujan hanya melambaikan tangan basa basi, baginya ini adalah kewajiban yang harus ia lakukan sebagai anak.
Hasna hanya menatapnya dengan mematung, tidak ada senyuman yang terpancar dari wajah istrinya, lebih pada tatapan kesedihan dan kehampaan yang terpancar. Hati Reza merasa tercekat hingga akhirnya mereka tidak tampak karena mobil semakin menjauh.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa sebelumnya ia pernah merasakan perasaan seperti ini, rasa sakit saat ia ditinggalkan oleh Mitha. Apakah perempuan itu telah merebut hatinya yang selama ini ia tutup dalam-dalam bersama kenangan bersama Mitha. Reza kembali melihat ke belakang, tapi rumah sudah tidak terlihat lagi, tapi kenapa perasaan sedih dan sakit yang ia rasakan saat meninggalkan Hasna masih mencengkram dalam hatinya. Apakah hatinya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada perempuan yang belum setahun ia kenal...Reza menghela nafas sepulang dari Surabaya ia harus banyak bicara dengannya… menyatakan semua kegamangan dan perasaan yang sekarang sudah membucah dalam dadanya memenuhi pikirannya dan membuatnya buta selama ini….
__ADS_1
Masihkan ada kesempatan baginya untuk bisa mendapatkan kata maaf dari perempuan itu karena saat ia ditanya bagaimana perasaannya pada perempuan itu, ia hanya bungkam dan tak mengucapkan satu patah katapun. Reza kembali memandang ke belakang, tiba-tiba ia merasa terlambat dan kehilangan sesuatu….
Reza… I love you..Good bye