Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Wangi Aroma Intim Berdua


__ADS_3

Pagi itu Hasna bangun dengan perasaan lebih santai, tadi malam Arkhan mengirimkan pesan kalau ia sudah menyelesaikan analisis dan telah mengirimkan perbaikan draft tesis kepada pembimbing. Ia merasa sudah melunasi hutang budi pada kakak kelasnya, terkadang dalam hatinya ia suka merasa bersalah telah menolak Arkhan dulu, tidak pernah memberikannya kesempatan untuk menjalin hubungan lebih jauh dengannya. Setelah pernah merasakan patah hati walaupun hanya sesaat Hasna merasa lebih mengerti sakitnya perasaan ditolak. Tapi itulah takdir, memang mereka tidak pernah ditakdirkan untuk bisa bersama pikir Hasna.


Tapi ia senang melihat suaminya dan Arkhan bisa akrab satu sama lain, tidak  pernah menyangka setelah hampir enam bulan Arkhan bekerja bersama Reza masih terlihat betah bekerja bersama-sama. Pernah Hasna bertanya pada Arkhan kenapa masih mau bekerja dengan Reza padahal kan perjanjiannya dengan Papa Felix hanya tiga bulan. Arkhan hanya bilang lebih enak digaji sama orang lain daripada digaji oleh orang tua sendiri, lebih fair jawabannya. Yah apapun alasannya yang penting semua rukun dan berbahagia.


“Bunaaa kata Papi nanti malam aku tidurrr sama glanny.. Buna nda apa-apa Mola tinggalin” Maura tampak meminta persetujuan Hasna untuk bisa menginap bersama Mama Bertha. Hasna berkerut kenapa tiba-tiba Reza menyuruh Maura menginap disana.


“Boleh sudah lama kita tidak menengok Granny.. Sama Kaka Hujan juga?” tanya Hasna, Maura mengangguk. Ia harus menanyakan kenapa anak-anak diajak menginap kesana. “Pakaian kalian masih ada di rumah Granny kan?” Maura mengangguk cepat.


“Baju Mola banyak sekali disana. Ada satu lemarrri penuh” Hasna tersenyum mendengarnya, sekarang Maura sedang berlatih menyebut kata rrrrr dengan penuh penekanan. Ia tidak mau disebut cadel oleh teman-temannya sehingga terus berlatih menyebutkan huruf R dengan penuh semangat.


Saat anak-anak sudah pergi ke sekolah, Hasna menanyakannya pada Reza saat ia bersiap pergi ke kantor. “Mas … kenapa anak-anak pada disuruh menginap di rumah Mama, ada acara apa disana?” Hasna khawatir dia terlupa acara keluarga sehingga tidak mempersiapkan diri. Reza tersenyum diusapnya kepala Hasna. “Mama udah lama pengen ketemu anak-anak, jadi aku tadi bilang supaya mereka menginap di Granny. Besok kan jumat jadi mereka bisa long wiken di rumah Mama” Hasna mengangguk, yah wajar kalau mereka ingin menginap di rumah Mama Bertha dan Papa Ardy.


“Hmm kita jadi bisa berduaan deh… nanti malam kita keluar yah, dinner di luar” ajak Reza sambil tersenyum lebar. Hasna mengangguk, sudah lama mereka tidak pernah quality time berdua. “Mas Reza nanti pulang jemput aku atau ketemuan dimana?” tanya Hasna, Reza memandang kesal.


“Suami macam apa aku, masa istri hamil disuruh pergi sendiri. Setelah solat Magrib siap-siap aku jemput” Hasna mengangguk patuh, beberapa hari belakangan ia sering merasa kondisi badannya naik turun,  terkadang segar tapi tidak berapa lama kemudian langsung lelah. Biasanya setelah istirahat yang cukup ia kembali merasa segar. Pagi ini ia bangun dengan perasaan segar, ada rasa siap bertempur menghadapi minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran bayi. Tiba-tiba ia merasakan pergerakan yang sangat kuat. “Aduuuuh… pelan-pelan de..jangan terlalu keras. Sempit yaa disana?” Hasna mengusap lembut perutnya yang tampak jadi miring ke kiri. Reza tersenyum beberapa hari ini ia melihat bayi kembarnya sangat aktif.


“Pelan-pelan sayang.. Kasian Bunanya kalau kalian main bola di dalam” Reza mengusap jendolan di perut Hasna, terasa langsung bergerak dengan cepat “Adududuhh…”Hasna meringis. Reza tampak cemas “sakit banget… mau diperiksa aja?” ia terus memegang perut Hasna pelan, perlahan benjolan di perut mulai seimbang. Hasna menarik nafas lega.. Tiba-tiba matanya melotot.. Perutnya berkontraksi..”Maaaass mmmmmaaass…..” tangannya langsung mencengkram erat tangan Reza yang merasakan perut istrinya mengeras seperti batu. Ia memandang Hasna dengan cemas, kontraksi berlangsung beberapa detik. Tak lama kemudian langsung kembali normal.. Huffftt… Hasna langsung menarik nafas lega.

__ADS_1


“Kenapa? Sudah mulai kontraksi… apa sudah mau melahirkan? Kita ke rumah sakit sekarang?” Reza tampak cemas. Hasna tersenyum lemah dan menggeleng “Gak usah dari kemarin suka beberapa kali kayak gini, katanya rahimnya lagi latihan berkontraksi untuk mencari jalan lahir. Namanya Braxton Hicks kalau aku baca,  kemarin aku sudah telpon sama dokter dan ia bilang itu adalah gejala yang normal. Artinya memang sebentar lagi aku akan segera melahirkan" ucap Hasna sambil mengusap-usap perutnya.


“Perlengkapan bayi untuk melahirkan sudah ada kan? Tasnya apa sudah kamu siapkan?” Reza berjongkok di depan istrinya yang duduk di tempat tidur. Hasna mengangguk, tangannya menunjuk pada koper yang tampak di sudut ruangan. “Ok aku masukan sekarang ke mobil jadi kalau ada apa-apa kita tinggal berangkat, supaya gak ketinggalan” Hasna kembali mengangguk. Ini adalah pengalaman dirinya yang pertama melahirkan sehingga masih terasa membingungkan.


“Kamu mau aku telepon Mama Merin sekarang?” tanya Reza, Hasna menggelengkan kepala. “Katanya dari kontraksi pertama ke proses melahirkan agak lama, jadi ada waktu nanti. Kasian Mama kalau dari sekarang mesti menunggu aku. Aku udah gak apa-apa kok.. Ayo aku antar ke depan, Mas mau berangkat ke kantor sekarang?” Reza tampak terdiam ia jadi ragu meninggalkan istrinya dengan kondisi seperti ini.


“Heiii kwaencana …. Don't worry aku sering mengalami ini” Hasna menggelayut pada tangan suaminya. Hari ini Reza tampak gagah dengan kemeja biru muda dan celana biru tua, tidak ada yang bisa mengalahkan tampilannya sekarang. Ia tidak butuh pria yang masih muda dan imut-imut kalau melihat suaminya. “Mas keliatan ganteng banget hari ini heheheheh” Hasna tersipu malu sambil mengatakannya.


“Gantengan mana sama G Dragon mu itu?” Reza tersenyum sinis. Semalam gara-gara mendengar Hasna memilih G Dragon saat di surga nanti, ia sampai googling membaca tentang kehidupan suami istri di akhirat menurut Islam, dan ternyata apa yang diceritakan Hasna berbeda. Laki-laki karena diperbolehkan poligami ia akan tinggal bersama istri-istrinya, sedangkan apabila perempuan ia akan hidup bersama laki-laki terakhir yang bersamanya atau yang paling soleh diantara mereka. Dasar… suka memutar balikan pilihan. Pasti gara-gara gak mau dipoligami jadi bikin alasan mau tinggal sama G Dragon.


“Hmmm aku orangnya realistis, yah gantengan Mas Reza lah.. Ada di depan mata, bisa disentuh, bisa dicium-cium, bisa dicubit-cubit, bisa disayang-sayang” ucapnya sambil mencubit pipi Reza dengan gemas. Reza tersenyum mengejek. “Bagus kalau sudah sadar, aku kira masih berhalusinasi seperti kemarin” Hasna hanya bisa nyengir, dari kemarin Reza tampak kesal saat ia menyebut akan tinggal bersama G Dragon di surga.


Seharian Hasna memutuskan untuk melakukan Me Time, dimulai dengan menggunakan masker untuk kepala dan muka, scrubbing badan dengan menggunakan produk yang kemarin dibelinya bersama Hujan. Anak itu lebih update sekarang untuk produk-produk perawatan tubuh. Dengan dibantu Asti sehingga bisa scrub seluruh badannya,  tidak terasa merawat tubuh ternyata menghabiskan waktu juga sampai menghabiskan waktu seharian.


Sorenya Hasna bersiap dengan memilih-milih pakaian yang bisa dikenakannya, sudah lama ia tidak keluar. Baju-bajunya sudah disimpan kembali di rumah lama, tapi kalaupun ada, tidak mungkin ia pakai karena ukuran badannya sekarang sudah berubah. Akhirnya Hasna memilih baju yang terakhir ia beli, Reza memaksanya membeli baju ini, katanya kalau ada acara pesta harus disiapkan walaupun Hasna sempat menolak karena merasa sayang tidak akan terpakai lama.Ternyata sekarang terasa manfaatnya kalau menuruti apa kata suami.


Jam lima sore kembali Reza mengingatkan untuk bersiap setelah magrib, ada apa sih kenapa sampai bersemangat seperti ini. Padahal mereka pernah beberapa kali makan berdua keluar tapi tidak sampai seistimewa ini. Hasna kemudian mengingat-ingat apakah ada hari istimewa hari ini, dan ia langsung melotot. “Owh ya allah… kok bisa sampai lupa” ia langsung mencari-cari tas berisi dokumen, yaah.. disimpan di rumah lama. Apakah sekarang tanggal pernikahannya? Kok dia tidak ingat menikah dulu tanggal berapa yah.

__ADS_1


Menjelang Magrib Hasna sudah berdandan cantik, ahhh ini apaan sih kaya mau kencan, sampai sibuk mlintir-mlintir kerudung mencari berbagai gaya kekinian dengan tutorial di youcube. Akhirnya lebih nyaman memakai model yang biasa dipakai. Asti hanya tertawa setelah melihat akhirnya Hasna memakai model kerudung biasa, soalnya ia melihat bagaimana perjuangan Hasna dalam mencari gaya berhijab terkini.


“Mbak Hasna itu sudah cantik, mau pakai model apapun tetap kelihatan cantik. Katanya kalau hamil bawaan ibunya cantik biasanya bayinya perempuan, tapi ini yaa laki-laki semua ya Mbak” Asti tampak memandang Hasna dengan lekat. Hasna hanya tersenyum, baby B sampai sekarang belum ketahuan jenis kelaminnya apa, tapi ia merasa kalau bayi yang kedua juga laki-laki. Tak berapa lama Reza datang, ia tampak tergesa.


“Ohh syukurlah kamu sudah siap, dari tadi aku telpon kok gak diangkat” ia tidak menunggu jawaban Hasna tapi langsung ke kamar mandi. Melihat Reza sudah datang, Asti langsung pamit, biasanya ia sudah pulang siang-siang saat Hasna menjemput Maura. Tapi karena pesan Reza untuk menemani Hasna sampai ia pulang, Asti dengan senang hati menemaninya. Baginya Hasna seperti kakak perempuan, yang selalu memberikan semangat untuk maju, awalnya Asti tidak berniat untuk melanjutkan sekolah, tapi karena dorongan Hasna akhirnya ia mau melanjutkan sekolah lagi.


“Mas… kita mau kemana? Kok kayaknya gaya banget sampai pakai jas lagi. Makannya di tempat yang mahal yah? Diih biasanya  di restoran mahal, makannya cuma sedikit terus suka digaya-gayain jadi gak kenyang” Hasna semakin penasaran melihat model pakaian Reza, tidak casual seperti biasanya kalau keluar. Reza hanya menaikan alis ke atas, sambil tersenyum samar. Hasna langsung cemberut sudah mulai terbiasa dengan sikap suaminya yang suka berahasia.


“Mas...hmmm kalau tanggal pernikahan kita tuh tanggal 11 atau 10 yah? Aku tuh setelah hamil kenapa jadi lemot begini yah daya ingatnya” Hasna tertunduk, ia sudah siap untuk dimarahi karena sampai lupa tanggal pernikahan sendiri. Reza menarik nafas panjang. “Kalau diantara kita yang sampai lupa tanggal pernikahan mestinya aku, soalnya aku sudah dua kali menikah. Lupa atau tertukar tanggal pernikahannya wajar. Kamu yang menikah pertama kali mestinya ingat” jawab Reza. Hasna hanya bisa cemberut sambil menunduk yah namanya juga lupa. Ia berusaha mengingat dengan melihat kalender malah tambah bingung karena lupa bulannya.


“Kita sudah sampai” ucap Reza, ternyata restaurant yang terlihat privat, hanya tampak 5 mobil di sana dan ini seperti rumah tua yang dialihfungsikan menjadi restoran. Tampak nyaman dengan tanaman dan bangku-bangku vintage. Hasna belum pernah makan ditempat ini. Saat ia dan Reza masuk ke dalam tampak ada 4 pasangan yang sedang makan dengan suasana yang romantis. Ternyata di dalamnya luas juga, malahan ada panggung kecil tempat live performance dengan piano dan gitar akustik serta drum kecil. Para pemainnya tampak sedang bersiap-siap, memang belum jam makan malam, tapi tempatnya memang sangat cozy, Hasna langsung menyukai tempat ini.


“Woow ternyata Mas Reza pintar memilih restoran, aku suka tempatnya romantis banget” Hasna tersenyum senang. Dari tadi ia merasa tidak enak perut saking stresnya, khawatir datang ke tempat yang ramai, sekarang ia tidak menyukai tempat yang terlalu banyak orang. Reza memilih tempat duduk yang dekat dengan panggung. Aneh biasanya dia kan tidak suka dengan keramaian. “Mass jangan terlalu dekat, agak belakang sedikit” Hasna menarik Reza untuk memilih meja yang di belakangnya.


“Aku sudah reserve duduk dekat panggung supaya gampang request lagu” Hasna langsung mengerutkan dahi, aneh kok tumben sampai mau request lagu segala. Akhirnya ia mengalah dan duduk di meja yang di dekat panggung.


************

__ADS_1


Jadi curiga duduk dekat panggung Mas Reza mau duet kayaknya 😁🎶🎵🎹🎺🎷🎼🎸🥁🎤🎤


************


__ADS_2