Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Wow Fantastic Baby


__ADS_3

Reza POV


Rapat kerjasama merger berlangsung lancar, Komisaris dan Dewan Direksi tampak puas dengan pencapaian kerjasama di tahun ini. Ekspansi keluar walaupun berjalan lambat tapi telah mulai dilakukan dan perusahaan telah siap menjalankannya. Jam 3 sore  rapat diakhiri dan semuanya mengucapkan selamat. Tinggal nanti menyiapkan Celebration Party sebagai penanda kerjasama antara 2 perusahaan.


“Selamat Reza sudah bisa menyiapkan perusahaan untuk merger dengan baik” salah seorang anggota Dewan Direksi datang menyalamiku.


“Ya tidak sia-sia kita memilih kamu untuk memimpin perusahaan” Firdaus ayah Arcy mendekat dan juga menyalamiku.


“Terima kasih Om kami berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kerjasama tim yang solid yang memungkinkan ini terjadi” aku berusaha mencoba menjawab diplomatis, memang kenyataan seperti itu, tidak mungkin semua kulakukan sendiri.


“Daddy aku kok gak dikasih selamat, aku juga yang membantu Reza sampai berhasil seperti ini” Arcy mendekat dan tangannya langsung bergelayut pada tanganku. Perempuan ini selalu saja mengambil kesempatan


“Hahahaha kamu tuh selalu ingin terlihat selalu bersama Reza. Awas nanti ada yang cemburu, dia sudah menikah sekarang” ayahnya langsung memperingatkan mungkin ia melihat raut tidak nyaman di mukaku.


“Pernikahan itu hanya berlaku  dirumah Daddy, kalau di kantor itu still single” Arcy terus saja menempelkan dadanya ke lenganku. Aku mencoba tersenyum dan menjaga jarak tapi Arcy tidak mau mengalah ia terus menempel dan menggesek-gesekkan dadanya. Shiits.... perempuan ini benar-benar berengsek.


“Arcy… hati-hati istri Reza itu meskipun kecil tapi buas, Reza saja baru mengenal 2 bulan langsung Knock Out sama dia” untung terdengar suara Papa yang memegang bahuku dan Arcy dari belakang. Aku langsung merasa lega, tidak enak kalau menepis langsung Arcy di depan ayahnya.


“Kamu Ardy sudah tahu kalau Arcy suka pada anakmu malah menikahkan dia dengan orang lain, kamu kan tahu kalau mereka menikah kekuatan perusahaan ini akan semakin hebat dengan penggabungan saham dari kita berdua” Om Firdaus tampaknya masih tidak menerima saat mendapatkan kabar tentang pernikahanku dengan Hasna.


“Hahahaha kita hidup di jaman milenial Mas. Jodoh itu diaturnya sama yang Maha Kuasa, bukan sama kita” Papa bagus sekali bahasanya, sangat ngena. Om Firdaus tampak tersenyum kecut.


“Buat aku Mas Reza sudah menikah atau belum gak jadi masalah, toh waktunya sebagian besar dihabiskan sama aku” perempuan ini malah mulai memegang pinggangku. Kurang ajar ini harus dihentikan. Aku tepiskan tangannya yang sudah mulai merayap kemana-mana, benar-benar perempuan yang tidak tahu malu di depan orang banyak berani sekali menyentuhku.


“Maaf saya harus menyapa Pihak dari CosmoAir terlebih dahulu” aku segera beranjak melepaskan diri dari jeratan perempuan ini.


“Aku temani Mas” hufttt ini perempuan benar-benar tidak tau diri.


“Tolong saya untuk handle  Komisaris dan Dewan Direksi, mungkin mereka ada informasi yang dibutuhkan sehubungan dengan merger ini” aku langsung memintanya untuk melakukan tugas, supaya tidak mengikutiku. Aku hanya segera menyelesaikan acarana ini dan pulang ke rumah.


CosmoAir dan Aelono Corp sangat kondusif dalam pertemuan hari ini, mereka sudah tidak lagi mengajukan keberatan dan permintaan yang aneh-aneh. Kemarin malam negosiasi isi kontrak sangat alot sampai baru bisa selesai tengah malam. Mereka sangat mendetail akan isi kontrak hingga kata perkata ditelaah karena khawatir akan merugikan di masa depan.


Berbeda dengan orang Indonesia yang cenderung menganggap enteng isi kontrak, seringkali tidak dibaca dengan seksama dan langsung menandatanganinya tanpa mempertimbangkan apakah isi kontrak akan merugikan dirinya atau tidak.


Tepat jam 5 akhirnya bisa pulang ke rumah, aku lupa kalau hari ini Hasna tiba-tiba pergi ke Bandung, kenapa lagi dia, sikapnya itu benar-benar unpredictable. Berjalan bersama dia tuh seperti harus siap dengan perubahan arah angin, dari sepoi-sepoi hingga pitung beliung bisa terjadi kapan saja.


Contohnya hari minggu sore  kemarin dia berhasil membuat angin ****** beliung saat aku bangun tidur siang, aku heran kenapa anak-anak tumben tidak membangunkan dan minta main keluar, hanya terdengar suara musik KPop dari kamar anak-anak. Hasna pun tidak terlihat menonton TV di bawah. Akhirnya aku penasaran dan melihat ke kamar anak-anak dan ternyata mereka sedang battle dance dengan menggunakan ninted** w**. Tampak Hasna dan Hujan yang sedang battle berdua, aku melihat mereka seperti  kakak beradik bukan ibu dan anak, mereka berdua memakai celana pendek olahraga.


Tidak ada yang sadar aku masuk ke kamar, semuanya asyik menirukan gerakan di TV, tampaknya mereka bermain sudah cukup lama sehingga terlihat berkeringat dan kaosnya sudah basah. Maura mengikuti gerakan di depan mereka. Sesekali Hujan tampak mengganggu Hasna dengan menyenggol dan mendorong, anak itu sudah mulai belajar licik. Hasna seperti tidak peduli ia terlalu fokus memperhatikan gerakan di TV.


“Hahahahaha menang 3-1” Hujan langsung meloncat kegirangan saat hasil akhir memperlihatkan hasil battle.


“Licik… Buna gak hapal lagu BTS… ganti lagu yang terakhir dengan BigBang” perempuan itu merebut remote game dari Hujan, mereka benar-benar tidak sadar aku memperhatikan mereka.


“Hahaha Buna udah tua gak akan menang lawan aku” Hujan menertawakan dia,


“Kalau sekarang beneran kalah, Buna harus ngaku udah tua, tapi kalau sekarang menang kita battle di tim* zon* disana lebih akurat” Hujan tampak mengibas-ibas badannya karena keringat.


“Diam … Buna yang pilih lagu” dia langsung memijit-mijit tombol remote. Perempuan itu terlihat sexy dengan memakai celana pendek dan kaos yang sudah basah menempel di badannya.


“Fantastic Baby” ucapnya sambil tertawa


“Kakak pasti bakalan gak bisa” dia langsung bersiap. Keduanya sudah penuh dengan keringat.

__ADS_1


Musiknya dimulai dengan irama electropop, model di video memulai dengan meliuk-liukan badannya yang diikuti oleh para dancer amatir di kamar ini. Entah karena efek baju yang basah sehingga menempel ke badan dan celana pendek yang baru kulihat dipakai olehnya,  menjadikan perhatianku menjadi lebih fokus pada badannya. Perempuan ini tidak sadar kalau gerakkan menjadi sangat sensual di mataku.


Dan ternyata memang benar, dia sangat menguasai lagu itu, gerakan tangan yang bergerak seperti helikopter dan setiap kata “Wow Fantastic Baby” dia selalu berhenti dan melafalkannya dengan jelas ke depan Hujan.  Saat kata Bom Shakalaka disebutkan berulang tubuhnya meliuk-liuk seperti penari erotis. Gila perempuan ini seperti penari profesional, Hujan tentu saja tidak bisa mengimbanginya. Anak itu badannya bongsor tapi tidak lentur, kalau dia bergaya seperti Hasna akan kumarahi dia.


“Hahahahahah Buna menang, kan sudah dibilang, tadi kalah karena gak hapal lagu BTS” dia langsung berbalik dan tampak kaget melihatku.


“Mas… eh sudah lama?” dia tampak canggung saat aku melihatnya dengan tajam, seluruh kaosnya terlihat basah sehingga menempel ke badannya, dadanya tampak membusung.


“Kita lagi olahraga, jadi pakai baju pendek...Heeee” dia tampak seperti rikuh dan kebingungan


“Aku mau ganti baju dulu” dia langsung lari keluar dari kamar, kalau saja tidak ada anak-anak yang memperhatikan sepertinya aku tidak akan bisa menepati janjiku untuk menahan diri waktu itu.


Dan sekarang saat tiba di rumah, langsung terasa sepi yang kurasakan. Biasanya jam habis magrib seperti ini Hasna akan mengirimkan video Maura sedang belajar mengaji Iqro dengannya, dan Hujan mengaji Quran. Aku sama sekali tidak menyangka Hujan akan menurut untuk mengaji dengannya, aku kira memang atas keinginannya sendiri. Setelah kutanyakan pada Hasna, ternyata mereka membuat perjanjian, kalau Hujan menyelesaikan 1 juz maka Hasna akan membelikan produk makeup atau skincare yang diinginkan Hujan. Artinya kalau Hujan bisa menamatkan Al Quran ia bisa memiliki 30 produk makeup, dan aku tidak setuju itu sehingga aku protes. Ternyata dia sudah menyiapkan strategi


“Jangan khawatir Mas, produk kecantikan itu beraneka ragam, untuk masker saja ada beberapa jenis, untuk pewarna bibir ada lipstik, lipbalm, lip tint, untuk blush on juga ada yang bubuk dan krim belum lagi yang lainnya”


“Aku bisa membelikan dia tissue pembersih wajah, itu kan masuk kategori skincare. Yang penting dia tamat baca Quran”


itu alasan dia, yah syukurlah aku yakin dia banyak ide. Saat makan Mbak Jumi terlihat sedih melihatku makan sendiri.


“Kalau di rumah ndak ada orang sepi sekali rasanya Tuan, sudah terbiasa ada Neng Hasna rumah terasa ramai dan hangat, biasanya jam segini mereka pada ribut membuat makan malem”


“Neng Hasna iku pinter sekali loh membujuk anak-anak makan masakan rumah”


“Biasanya dia bikin apa memang Mbak” beberapa minggu belakangan aku memang tidak pernah ada di rumah.


“Kadang suka bikin mie spageti, kadang bikin krim sup atau pernah juga loh Tuan bikin pizza harumnya sama kaya beli”


“Weeh anak-anak sueneng ee… cuma suka jadi berantakan saja di dapur ne, tapi yah si mbak senang ngeliatnya”


“Ya Allah, si Mbak lupa ya, sesudah menyimpan pakaian Tuan, trus keluar kamar membawa pakaian kotor, niatnya mau balik lagi ke kamar mengunci pintu tapi yo kok lupa”


“Ada yang masuk ke kamar?” tanyaku


“Si Mbak sih nda lihat, cuma pagi-pagi Neng Hasna memang agak aneh, tumben-tumbennya nanya siapa yang suka bersihin kamar Tuan”


“Dia nanya apa lagi?” aku langsung kaget, kamarku selalu dikunci


“Neng Hasna tanya siapa yang suka merapikan pakaian Tuan, trus katanya jadi istri tuan itu bikin dia gak punya kerjaan, semuanya dilakukan sendiri sama Tuan”


“Hmmm apakah dia masuk ke kamar yah?” aku langsung merasa bersalah, kalau dia masuk ke kamar dia akan melihat semua barang-barang milik Mitha.


Hingga saat ini aku masih belum bisa berpisah dengan barang-barang milik Mitha, aroma parfum di bajunya, foto-foto yang kuambil sejak dia masih SMA. Aku merasa seperti mengkhianati dan menyingkirkan Mitha. Aku masih belum sanggup melakukannya. Itu sebabnya aku merasa tenang saat dia memilih untuk tidak sekamar denganku paling tidak memberikan aku waktu.


“Mbak melihat dia masuk ke kamar?” tanyaku lagi


“Tidak tuan, tapi waktu tadi pagi Neng Hasna kelihatan diem gitu loh, ndak banyak cerita atau nyanyi-nyanyi kaya sebelumnya”


“Trus tiba-tiba saja bilang sama si Mbak mau pulang ke Bandung, mukanya itu koyo sedih”


“Ya gak apa-apa Mbak, lain kali jangan lupa untuk selalu mengunci pintu kamar, kalau dia atau anak-anak meminta kunci kamar, bilang saja diambil saya” aku tidak mau Mbak Jumi merasa bersalah karena masalah yang aku ciptakan sendiri.


Saat hampir jam 8 malam, aku menelepon Hujan dan menanyakan kabarnya, rupanya tadi sore ia diantarkan langsung ke rumah Mama Isna. Memang sudah lama mereka tidak bertemu dengan Iyangnya. Kalau Maura saat Hasna datang ke Jakarta diajak bertemu dengan dengan Mama Isna.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan 8 malam lebih tapi perempuan itu  masih saja belum memberikan kabar, katanya tadi akan mencoba untuk pulang malam ini, tapi kenapa masih belum mengirimkan pesan.  Akhirnya aku putuskan untuk menelepon dia, kalau pulang terlalu larut kasian nanti Maura.


Agak lama sampai terdengar jawaban di telepon. Suaranya terdengar jernih seperti biasanya, tidak seperti tadi pagi terdengar gloomy. Ternyata memang tidak jadi pulang dengan alasan habis berbelanja untuk Hujan dan kasihan pada Maura kalau pulang terlalu malam. Pintar juga dia mencari alasan. Hanya aku merasa tersentak saat dia menjawab kalau dia merasa lebih bahagia saat di Bandung, artinya selama ini dia tidak merasa bahagia. Kalau tidak bahagia kok bisa berdansa erotis seperti kemarin, …. Aneh.


Dia langsung memberikan handphone pada Mama Merin, ternyata kemampuan membuat suasana ceria diturunkan dari Mamanya. Dimulai dari cerita kalau Maura semakin lucu, dan kemudian meminta izin supaya Hasna diperbolehkan tidur 1 malam di Bandung karena mereka masih kangen. Hanya ada protes darinya, ia meminta supaya Hasna harus sering diingatkan makan, karena terlihat kurus, dan  pipinya sudah sulit lagi di jembel, apa itu dijembel mungkin maksudnya di cubit. Aneh perempuan sebesar dia masih suka dicubit pipi oleh orangtuanya seperti Maura saja.


Mama Merin juga  mengingatkan satu hal tentang Hasna, bahwa perempuan itu tidak punya pengalaman dalam hubungan laki-laki dan perempuan sehingga harus dimaklumi kalau bersikap kekanak-kanakan. Hmmm agak aneh apakah dia menceritakan sesuatu kepada ibunya. Soalnya Mama bercerita sambil berbisik-bisik, seperti tidak ingin terdengar oleh Hasna. Di akhir obrolan Mama Merin bercerita soal kebiasaan perempuan yang tidak bisa menceritakan isi hati, tapi ingin dimengerti oleh laki-laki. Ada bahasa aneh yang baru aku tahu.


“Jadi begini yah A.. Mama gak akan panggil Mas yah ..asa sama Emas tukang baso langganan Mama soalnya” aku hanya mengiyakan saja dengan tersenyum, sudah 30 menit sejak terakhir Mama memulai bicara.


“Aa musti ngerti kalau perempuan itu suka tara kedal soal keinginannya” aku langsung bingung apa itu kedal


“Maksudnya tara kedal itu apa Ma?... Hasna ingin makan kadal?” aku langsung ingin tertawa, bahasa sunda itu rasanya kok lucu sekali.


“Eh maenya makan kadal… garila liatnya juga”


“Tara kedal itu tidak betus… aduuh apa atuh yah betus Bahasa Indonesianya” terdengar suara Mama yang seperti semakin bingung. Apa itu betus?


“Betus itu ketus Mah?” tanyaku sambil tertawa.


“Eh ari Aa malah nyengseurikeun Mama sok semakin ngalilieur" Mama terdengar makin bingung mencari padanan kata betus.


“Sebentar nanya sama ayah, Hasnanya udah ke kamar ngeboboin Maura” kemudian terdengar suara teriakan Mama, ternyata keluarga ini hobi berteriak di dalam rumah.


“Ayah ari betus bahasa indonesia nya apa” Mama terdengar bertanya kepada ayah, tampaknya ayah sedang duduk di sofa dan Mama duduk di meja makan.


“Betus maksudnya apa” terdengar jawaban ayah.


“Ehh dasar aki-aki ditanya kalahkah malik nanya” terdengar suara Mama yang menggerutu, aku jadi semakin terhibur.


“Eta betus itu gak bisa menjelaskan maksud hati” akhirnya Mama malah menjelaskan sendiri. Hahahah aku benar-benar terhibur, gara-gara bertanya kepada Ayah, Mama jadi bisa menjelaskan arti kata itu sendiri.


“Ahhhh jadi bisa ketemu… masih pinter Mama daripada ayah ternyata, jadi gini A … Hasna suka gak mau ngomongin kalau lagi ngerasa kesel, Aa Reza musti ngerti kalau Hasna lagi kesel, biasanya suka jadi irit ngomong, mukanya galaw… nah Mama sudah hapal kalau Hasna begitu artinya lagi ada yang dipikirkan tapi gak bisa diomongin, tara betus” kembali kata betus terdengar.


“Iya Ma, Reza mengerti, tadi kebetulan ada rapat penting di kantor jadi gak bisa ngobrol banyak dengan Hasna”


“Iya syukur atuh kalau Aa sudah mengerti mah, soalnya dia tuh kalau sudah pundung suka agak lama, dulu juga waktu dimarahin sama Ayah gara-gara ketahuan ngebohong nginep di kampus sampai ngambek lama nginep dirumah Tante Ai gak mau pulang seminggu”


“Atuda si Ayah juga marahin meni kacida sampai dibilang gak usah pulang sekalian, ehhhh itu mah betulan pergi kerumah Tante Ai…” apalagi itu kata kacida.


“Sampai disusul sama Angga kesana… suka drama dia mah, abong-abong bogohna ka GD Oppa cenah….ehhh.. Jangan cemburu sama yah G Draggon da eta mah oppa-oppa korea” sekarang muncul lagi kata abon, ngobrol dengan Mama memang membuat rooming.


Mamah bercerita tentang Hasna sampai hampir satu jam, baru berhenti saat hp nya sudah habis batre. Dan ternyata dari cerita Mama walaupun sering rooming, ada banyak hal yang belum aku ketahui dari perempuan itu. Hingga akhirnya aku masuk ke kamar Hasna, terakhir aku masuk ke kamar ini saat sepulang dari Surabaya. Ternyata memang sudah ada meja belajar yang diperlihatkan saat video call waktu itu.


Kulihat sekeliling kamar tidak terlihat banyak perubahan, hanya ada 1 baju yang terlipat d kasur. Aku baru sadar tidak banyak barangnya di kamar ini, aneh seharusnya perempuan menyimpan banyak barang di kamarnya. Kamar ini masih seperti kamar tamu yang ditempati sesekali oleh Mama Isna.


Kubuka lemari pakaian, kulihat di dasar lemari barang-barang seserahan masih belum dibuka semuanya, pakaiannya juga tidak banyak hanya ada 5 pakaian yang digantung dan tidak sampai setengah lemari terisi oleh pakaian yang dilipat.


Saat aku akan keluar kulihat banyak kertas catatan tentang aplikasi menggambar dan hasil gambaran, rupanya dia sedang belajar membuat animasi. Mataku terkunci pada satu barang di tempat sampah, parfum pemberianku kepadanya. Kuambil parfum itu apakah sudah habis, cepat sekali habisnya tapi kulihat parfumnya masih tampak penuh hanya berkurang ¼ nya. Kenapa dia membuangnya?


Hmmm memang ada yang aneh, akhirnya kuputuskan besok pagi aku harus ke Bandung, bagaimana kalau dia tidak pulang karena marah seperti pada ayah dulu sampai satu minggu, tidak bisa kubayangkan diam sendirian dirumah tanpa ada teman selama satu minggu. Apalagi sekarang Maura tidak mau lepas darinya, aku yakin kalau Maura disuruh memilih pasti akan memilih untuk tidur dengan Hasna daripada denganku sekarang.


Selepas subuh akhirnya aku berangkat ke Bandung, hanya memakan 2.5 jam perjalanan karena masih pagi. Setibanya di depan  rumah aku melihat dia sedang bermain bersama Maura, kuputuskan untuk diam di dalam mobil melihat aktivitasnya bersama Maura, dia tampak seperti gadis rumahan yang sedang menyuapi adiknya. Sangat sederhana dengan rambut diikat kebelakang dan baju rumah. Aku baru menyadari perasaan senang dengan hanya melihat mukanya saja. Terakhir kemarin pagi aku melihat mukanya yang tampak murung dan kesal. Sekarang kemurungan tidak tampak lagi sudah kembali menjadi Hasna yang ceria. melihatnya dengan pakaian rumah jadi membuatku teringat saat dia melakukan battle dance dengan Hujan.

__ADS_1


Rupanya perempuan ini memang fantastic baby…. Uhuuuw.... I wanna dance ..dance...dance...


__ADS_2