
Reza baru selesai solat subuh saat teringat kalau ia harus sering melihat instragram untuk bisa melihat istrinya, mana tahu anak yang gak jelas namanya itu membuat live story lagi. Dan ternyata benar sudah ada siaran live. Reza melihat jam kalau di Jepang artinya sudah jam 7.15 ternyata mereka sudah bersiap untuk berangkat.
Reza melihat suasana ruang makan di hotel Jepang tampaknya hotel yang bersih dan suasananya terlihat banyak orang Jepang juga yang sarapan tapi kaum pekerja yang ditunjukkan dengan pakaian kerja Jas yang dikenakannya. Orang Jepang memang terkenal menjunjung tinggi etos kerja dengan selalu memperlihatkan keseriusan dalam bekerja. Tiba-tiba Reza langsung memicingkan matanya ia melihat Hasna dan temannya masuk ke ruang makan, ternyata temannya yang menyadari Hasna masuk ke ruang makan.
“Eittss ternyata Bidadari baru pada turun buat makan mari kita lihat reaksinya dengan menu sarapan ala Jepang” terdengar call_me_dy mengomentari Hasna dan Ammera.
“Hahahahah ekspresi ibu hamil keliatan mual.. Kita aja yang gak hamil udah terasa mual pas makannya apalagi yang hamil hihihihi” Reza langsung merasa prihatin mendengar ucapannya teman Hasna, jangan sampai istrinya tidak bisa makan karena tidak cocok dengan makanan yang disediakan.
Dan ternyata apa yang diperkirakan benar adanya, ingin rasanya Reza memindahkan sendiri kamera dari Ferdi karena kemudian ternyata Ferdi malah mengalihkan fokus pada temannya yang duduk disebelahnya, mereka terdengar mendebatkan soal kacang fermentasi yang diambil. Temannya yang bernama Mark sedang dipaksa untuk merasakan natto kacang yang difermentasi sehingga tampak seperti makanan basi tapi terkenal sebagai makanan dengan protein tinggi.
Kemudian tiba-tiba kamera berpindah posisi dan tampak mendekati Hasna. Ia menawarkan makanan dalam kemasan kepada Hasna. Istrinya terlihat langsung tersenyum dan terdengar suara yang ia rindukan selama beberapa hari ini
“Terima kasih Ferdi” muka Hasna terlihat bahagia melihat tawaran makanan kemasan itu, Reza ikut tersenyum melihat Hasna tersenyum rasanya seperti senyum untuk dirinya sendiri
“Kalau nanti kamu pulang, aku tidak akan membuat kamu menangis seperti kemarin lagi Ra… aku janji kamu akan lebih banyak tersenyum kaya tadi” Reza menggumam melihat istrinya di hp.
“Papiiiii… Mola nda akan syekolah hali ini mau belajal sama Buna di video” tiba-tiba Maura masuk ke kamar dengan membawa guling kesayangannya.
Hujan mengikuti dari belakang dengan muka cemberut.
“Dari tadi aku ajak mandi gak mau, aku nanti terlambat ke sekolah, sama Papi aja” ia langsung berbalik dan menuju ruang makan. Reza menghela nafas, Maura sudah mulai membuat aturan sendiri.
“Video yang dibuat Buna khusus ditonton Maura kalau pulang sekolah, barusan Papi liat kalau Buna sudah buat video lagi tapi buat nanti” Reza semalam mengecek kalau Hasna membuat video baru di Youtube.
“Mola mau liat ...Mola mau liat” Reza langsung menyimpan handphone “Gak bisa dibuka videonya kalau belum jam 12 siang setelah Maura pulang sekolah”
“Buna bilang kalau Maura harus rajin sekolah nanti dikasih video yang banyak” Reza kembali membujuk, Maura tampak cemberut dan seperti tidak ingin berbicara. Rupanya perempuan latihan merajuk sudah dilakukan sejak kecil.
“Papi yang antar Maura ke sekolah yaaa dan nanti diantar sampai masuk ke kelas gimana?” Maura langsung menengok ke Reza seperti mempertimbangkan tawaran itu.
“Bekal sekolahnya kita beli donut kesukaan Maura gimana?” dan Goooong ternyata itu menjadi kunci dari pintu masuk sekolah. Maura langsung mengangguk gembira, anak ini seperti tampilan pipinya yang bulat memang penggemar donut.
“Molaa mau Mola mau… donut yang banyak kacang dan misesnya” Reza mengangguk memberikan persetujuan, untuk satu minggu kedepan ia akan melanggar aturan dengan memberikan bekal makanan yang disukai asalkan Maura mau pergi sekolah dengan gembira.
__ADS_1
Hari ini dimulai dengan baik, pagi-pagi melihat wajah istrinya di sosial media mengobati rasa rindu, Maura yang mau berangkat sekolah tanpa ada drama dan Hujan yang banyak membantunya dengan menyiapkan adiknya, hari ini Reza siap menghadapi tantangan di kantor terutama dengan perempuan itu.
Sesaat setelah mengantarkan Maura ke dalam kelas Reza mendapatkan panggilan telepon. Papa Ardy.
“Dimana kamu?” dari nada suaranya Reza tahu ada masalah
“Baru pulang mengantar Maura ke sekolah, ada apa Pa?” mendengar suara Papa Ardy Reza bisa memperkirakan kalau Arcy sudah mulai bergerak.
“Ke rumah sekarang” dan telepon langsung ditutup. Reza menarik nafas, tidak jadi masalah cepat atau lambat masalah ini akan terungkap.
Sesampainya di rumah Reza langsung menuju ruang kerja Papa, Mbak Ina yang bekerja di rumah langsung memberi tahu kalau Papa Ardy sudah menunggu di ruang kerja. Mama Bertha rupanya sedang di Singapura Reza tidak bisa membayangkan kalau Mama Bertha ada di Indonesia dan mendengar soal kejadian di kantor kemarin.
“Masuk” terdengar suara Papa Ardy saat Reza mengetuk pintu. Papa Ardy tampak duduk di meja kerja dengan muka yang serius. Begitu Reza masuk ia membanting berkas dokumen yang dipegangnya dan berdiri.
“Apa-apaan kamu sampai melakukan hal yang memalukan seperti itu pada perempuan. Papa tidak pernah mendidik kamu bertindak kasar dan hilang kontrol” Reza menarik nafas, sudah ia perkirakan pasti Arcy sudah mengadukannya.
“Papa mendapatkan kiriman laporan visum bahwa Arcy mengalami tindak kekerasan dan sekarang Papanya menuntut agar kamu bertanggungjawab atas tekanan mental dan fisik yang dialami anaknya. Kalau kita tidak mengikuti apa yang mereka inginkan mereka akan menyerahkan laporan hasil visum kepada pihak kepolisian” Papa Ardy tampak menahan marah. Reza mendekat ke meja dan duduk di kursi didepannya.
“Papa dengarkan dulu cerita aku” Reza menarik nafas, ia sebetulnya tidak ingin membicarakan masalah ini lagi terlalu menyakitkan untuk dirinya.
“Arcy mengirimkan foto-foto ke Mitha yang mengesankan kalau aku sedang berselingkuh dengan dia” Reza menunduk bibirnya mengatup geram. Papa Ardy langsung menoleh dan melihat Reza dengan tatapan penuh keheranan.
“Apa? Kamu berselingkuh dengan Arcy” ia langsung mendekat ke Reza dan mencengkram lengan anaknya.
“TENTU SAJA TIDAK PAPA! Papa pikir anak papa sebejad apa sampai mengkhianati istri yang sedang hamil” Reza langsung merasa marah dituduh seperti itu.
“Arcy menjebakku dan membuat foto seakan-akan sedang berciuman dengan dia, dan berpelukan kemudian dia masuk ke kamar dan mengirimkan foto dari kamar seakan-akan aku tidur dengan dia, aku memang sempat memeluk dia tapi karena dia seperti akan jatuh.. Aku menyesali itu tapi hanya itu Just it!” Reza berteriak dengan kesal.
Papa Ardy tampak berkerut ia seperti tidak percaya. Reza langsung mendengus kesal.
“Papa tidak percaya, lihat ini dia mengirimkan foto ini pada Mitha… itu sebabnya Mitha mengalami serangan echlampsia dan Mitha meninggal Papa….. Gara-gara melihat foto itu” Reza langsung mengeluarkan handphone Mitha dari tangannya, matanya sudah merah penuh dengan air mata. Penyesalan yang tiada ujung kembali muncul di hatinya.
“Perempuan itu berengsek.. Dan bodohnya aku tidak tahu kalau Mitha sangat menderita melihat foto-foto ini, aku malah sibuk bekerja dan rapat di Surabaya tidak memperdulikan saat dia menelepon dan mengirimkan pesan karena Arcy menyimpan handphone ku dengan alasan jangan mengganggu rapat”
__ADS_1
ANAK PAPA YANG BODOOOH… PAPA TAHU... GARA-GARA ANAK PAPA YANG BODOH INI… MITHA MENINGGAL” Reza meluapkan amarah pada dirinya di depan Papa Ardy yang terdiam dan melihat foto-foto yang didalam hp Mitha.
“Papa tidak tahu… kapan kamu tahu foto-foto ini?” Papa Ardy tampak terpukul melihat foto-foto yang dikirimkan Arcy dan pesan yang dikirimkan kepada Mitha.
“Kemarin..” jawab Reza pendek. Ia tidak kuasa menceritakan kalau handphone itu ditinggalkan Hasna.
“Kenapa selama ini kamu tidak tahu kalau Arcy mengirimkan foto-foto ini?” akhirnya kekhawatiran Reza akan keingintahuan Papa Ardy pada masalah itu terucap juga.
Reza bingung harus memulai dari mana, lama ia terdiam akhirnya ia memilih menceritakan kebodohannya pada Papa Ardy, di akhir cerita sebuah pukulan telapak tangan menghantam kepalanya. Keplaaaak…..
“BODOH KAMU! Bisa-bisanya kamu menyebut istri kamu piala bergilir hanya karena dia berbicara dengan laki-laki lain” Reza mengusap-usap kepalanya ia pasrah menerima pukulan itu. Keplaaak… satu lagi pukulan menimpa kepalanya hingga ia melindungi dirinya.
“Bisa-bisanya kamu membandingkan Hasna dengan Mitha… Papa gak mengerti punya anak bodohnya berkali-kali lipat seperti kamu” ditendangnya kaki Reza yang ada di depannya. Reza langsung mengangkat kakinya ke kursi, anggota tubuh yang paling ia harus lindungi adalah kaki karena pernah patah dulu.
“Paa ampun jangan tendang kaki aku, nanti retak lagi” ia langsung menyembunyikan kakinya di bawah meja.
“Kalau ketahuan sama Besan kamu berbicara seperti itu Papa malu” Papa langsung mendorong kepala Reza dengan sepenuh hati. Reza hanya diam ia memang sudah tahu dirinya salah. Papa Ardy menarik nafas panjang ternyata masalahnya tidak sesimple itu, perbuatan Arcy yang mengirimkan foto kepada Mitha dan Hasna membuatnya marah, sedangkan soal kepergian Hasna kesalahannya lebih banyak dari Reza anaknya.
“Kirimkan foto-foto yang dibuat Arcy yang dikirimkan pada handphone Mitha dan Hasna ke Papa, kamu tidak usah ikut campur nanti malah jadi makin berantakan masalahnya. Papa tidak terima oleh sikap Arcy tapi kamu juga disini punya andil salah. Kesalahan kamu yang terbesar tidak bisa mengendalikan diri kemarin jadinya mereka menjadikan ini sebagai bukti kejahatan”
“Tapi jangan khawatir Papa akan membuat mereka membayar semua kejahatan yang dibuat pada Mitha” Papa Ardy tampak mengambil handphonenya dan menatap Reza.
“Kamu sana istirahat saja, pikirkan bagaimana caranya bisa membawa istrimu kembali pulang. Papa tidak mau kehilangan menantu lagi” Papa Ardy mengusir Reza keluar dari ruang kerjanya. Reza keluar dengan lemah lunglai hari ini ia merasa menjadi orang kalah karena tidak bisa mengatasi permasalahannya sendiri. Tapi pada akhirnya hanya kepada orangtua seorang anak bisa mengadukan permasalah hidupnya, perhatian dan perlindungan yang diberikan Papa Ardy menunjukkan kalau kasih orangtua tidak akan pernah habis walaupun anak telah dewasa.
Dikamarnya yang dulu Reza merasa menemukan ketenangan yang beberapa hari ini menghilang pada dirinya, hari ini ia memutuskan untuk tidak masuk kantor dulu. Papa Ardy melarangnya masuk kantor hari ini sampai mereka mengambil langkah taktis untuk mengatasi masalah tuntutan dari keluarga Arcy dan bagaimana mereka membuat Arcy untuk membayar atas perbuatannya kepada Mitha.
Reza membaringkan tubuhnya di kasur jam sudah menunjukkan 10.20 artinya sudah jam 12.20 di Jepang, apakah istrinya sudah sampai di kota tempat mereka melakukan studi banding. Reza jadi ingin tahu, kalau bisa ia hanya ingin tahu apa yang dilakukan istrinya sekarang. Saat membuka instagram, harapannya menjadi kenyataan anak laki-laki itu kembali membuat live story. Sepulang nanti mereka ke Indonesia ia ingin memberikan penghargaan pada anak laki-laki itu karena sudah membantunya bisa melihat Hasna setiap hari.
“Welcome to Sendai ….” terdengar teriakan Ferdi, Reza jadi ingat namanya sejak Hasna menyebutkan nama itu saat diberi rendang.
“Wowww akhirnya kita sampai juga kesini … teman-teman gimana ada yang berencana tinggal melanjutkan studi kesini” Ferdi nampak mengarahkan kamera pada teman-temannya. Semuanya mengangguk, wajah penuh optimisme dan semangat untuk meraih masa depan.
“Ibu hamil bagaimana mau kuliah juga di kota ini? Tohoku University adalah salah satu dari 100 universitas terbaik di dunia” Reza melihat Hasna mengenakan jaket tapi rasanya jaket itu kurang tebal istrinya terlihat sudah mulai kedinginan.
__ADS_1
Hasna hanya tersenyum menatap kamera, saat ini ia sudah tidak banyak memiliki angan-angan, sudah bisa datang ke Jepang saja sekarang ia sudah sangat bersyukur. Reza mengusap kamera dengan penuh kerinduan.
“Aku akan datang lagi kesini ...tunggu saja” nafas Reza langsung merasa terhenti... apa maksudnya...