Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Anatomi Tubuh Ikan Lele


__ADS_3

Selama ini Reza selalu melihat warung-warung dipinggir jalan yang menjual makanan, kalau dalam perjalanan pulang dari kantor,  ia melihat orang-orang makan di tenda-tenda yang menjual aneka makanan.


Ada yang sendiri, ada pula yang bersama dengan teman atau pasangannya, ada yang mengobrol dengan asyik, ada pula yang sibuk dengan hpnya, atau bahkan ada yang hanya makan tanpa interaksi sama selalu dengan lingkungannya.


Terkadang terpikir apakah mereka memang memilih makan ditempat itu karena enak atau karena harganya lebih murah daripada di restoran atau rumah makan biasa. Dulu waktu ia SMA dan kuliah pun jarang bahkan hampir dikatakan tidak pernah makan di pinggir jalan, karena khawatir tidak higinenis. Tapi kalau ia sekarang menolak harga dirinya merasa dipermalukan oleh senyum ejekan Hasna.


“Ayo, kita coba bagaimana rasanya” ucap Reza


“Eh… bener nih Pak, jangan muntah-muntah yah disana.. Sudah pernah belum makan dipinggir jalan?” Hasna kaget, tidak disangkanya Reza akan meneriima tantangannya, Ia ingat saat Hujan makan cilor ekspresi Reza yang tidak mau mencoba makanan itu seperti takut.


“Maaf, Tuan mau berhenti disini?” Agus terlihat tidak yakin kalau Reza mau makan di warung pinggir jalan, selama ini tidak pernah ia mengantar Reza makan dipinggir jalan.


“Ya berhenti saja” Reza langsung membuka jas dan menggulung tangannya, dia seperti mempersiapkan diri akan berangkat perang.


“Yakin? Awas jangan memalukan nanti disana” Hasna memandang Reza dengan tajam, dia tidak ingin nanti mereka jadi pusat perhatian. Sorot dan gaya berpakaian Reza yang berbeda dengan pria kebanyakan pasti akan menarik perhatian orang.


Reza keluar dari mobil dengan sedikit was-was, Warung Pecel Lele Rizal tertulis di Spanduk bagian depan


“Pa Agus kita makan sama-sama” ajak Hasna dari luar jendela


“Tadi saya sudah makan Non, ada yang ngasih jatah rapat sehingga langsung saya makan khawatir basi kalau dibawa pulang” jawab Agus sambil melihat Reza yang keluar berjalan ke arah Warung Pecel Lele.


“Hmmm tampaknya warung ini laku, sampai lumayan penuh tempat duduknya” Reza memperhatikan tempat duduk di warung itu, kebanyakan adalah orang yang pulang kerja. Ada yang berpasangan dan sendiri, sebagian sedang makan sebagian lagi seperti menunggu pesanannya


“Pak duduknya sebelah sini” Hasna memanggil Reza, ada 2 kursi kosong.


“Bangkunya dari plastik” pikir Reza sambil memandang bangku yang disebelah Hasna.


“Mau makan ayam atau lele?” tanya Hasna


“Ini katanya warung pecel lele kenapa menjual ayam?” Reza bingung


“Hmm.. mulai deh” Hasna langsung menarik nafas


“Ya sudah lele saja kalau begitu, mau tahu tempe lengkap yah dengan nasi uduk” Hasna mencatat pesanan.


“Sayurnya ada pilihan apa saja?” tanya Reza


“Hanya lalapan tidak ada sayuran yang dimasak” ucap Hasna


“Wah koq bukan sayuran yang dimasak, kalau sayuran mentah dicucinya bersih gak” Reza langsung mengerutkan dahinya. Dia kemudian berdiri dan melihat tempat pencucian piring dan sayuran


“Ituuuu.. Dicucinya hanya di ember” teriak Reza, orang-orang mulai memperhatikan mereka berdua.


Hasna langsung ingin menyulam bibir Reza dengan memakai pinsil ditangannya. Sudah ia perkirakan kalau manusia satu ini akan banyak protes.


“Sudah pak duduk, kata saya juga take it or leave it” baru saja Hasna selesai berbicara, Reza melihat tikus got lewat disamping warung dan masuk ke selokan sebelahnya.


“Aku take away… take away….itu ada tikus darimana? bagaimana kalau masuk ke dalam “ teriak Reza sambil menarik tangan Hasna. Semua orang sudah memperhatikan mereka berdua, Hasna langsung menyembunyikan dirinya dibalik tumpukan kerupuk supaya tidak terlihat.


“Ya Allah… ini manusia … gak di kantor gak di jalan bikin malu aku terus… Mamaaaaaa” Hasna menarik nafas… ya sudah jangan dipaksakan, gak akan bisa makan juga.


“Bang ini dibungkus saja yaa..” Hasna menyerahkan daftar pesanan ke penjual. Abang yang jualan melirik ke arah Reza dengan pandangan sinis. Yang dilirik kalem saja karena sibuk memperhatikan arah got khawatir ada tikus keluar dari sana.


“Bapak masuk saja ke mobil, biar nanti saya yang nunggu” ucap Hasna, tangan sebelahnya masih di tarik oleh Reza, bukan genggaman lebih tepatnya cengkraman.


“Saya tunggu disini saja, saya mau lihat proses membungkus makanannya, khawatir ada yang jatuh” ucapnya keras.


“Maksudnya apa lagi ngomong gitu, hadeuuuuh bikin malu” Hasna rasanya ingin mengubur diri bersama kerupuk yang ada di depannya.


“Bungkusannya dibagi 2 pak” ucap Hasna, dia tidak ingin repot lagi mengurusi manusia di depannya ini.

__ADS_1


“Pak ini tangan saya lepasin, baju saya jadi rusak ditarik terus sama Bapak” Hasna berusaha melepaskan tangannya.


“Nanti-nanti kalau sudah keluar, saya khawatir tikus yang masuk tadi memanggil teman-temannya” ucap Reza sambil terus memandang ke arah got.


“Ini Mbak… lain kali kalau gak biasa makan di pinggir jalan, jangan makan disini” ucap penjual dengan pedas.


“Iya Bang maaf, dia kelamaan tinggal di negeri orang, muka lokal tapi kelakuan interlokal” jawab Hasna “Kembaliannya diambil aja Bang, biaya tekanan batin…. “ sambung Hasna


Yang disindir lempeng saja, dan menarik Hasna keluar.


“Nanti saya bayar ongkos makan malam ini, saya lupa harus membayar dengan uang cash, biasanya Aswin yang membayarkan kalau must transaksi cash” Reza langsung menarik nafas lega saat masuk di dalam mobil, rasanya seperti baru lolos dari lubang jarum. Ia ingat pernah menonton film yang memperlihatkan adegan tikus keluar puluhan jumlahnya dari lobang got, mengerikan kalau tadi terjadi seperti itu.


“Gak usah Pak, gantian dulu kan Bapak pernah mengajak saya makan di Mall” Hasna menarik nafas, latihan kesabaran ternyata tidak hanya berlaku untuk anak kecil.


Tak lama perjalanan akhirnya mobil tiba di kost an Hasna, akhirnya tekanan bathin ini segera berakhir.


“Ini pecel lele punya Bapak” Hasna menyodorkan 1 bungkusan plastik kepada Reza.


“Saya akan makan bareng sama kamu di kost-an, untuk apa saya makan di rumah, nanti anak-anak malah ikut makan, belum tentu makanannya higienis” ucap Reza sambil keluar dari mobil


“Eh…. ini kost an putri Pak… laki-laki tidak boleh masuk ke kamar” Hasna langsung keluar sambil membawa plastik makanannya.


“Ada tempat duduk bersamanya kan? Biasanya selalu ada ruang bersama yang bisa dipakai oleh tamu untuk duduk” Reza langsung melangkah masuk ke dalam kost an Hasna.


“Selamat malam Mas! Temannya mbak Hasna yaah, hanya boleh duduk di ruang bersama yah, tidak boleh masuk ke kamar” penjaga kost an langsung menyapa Reza. Dia sudah mengenali kalau Reza bukan keluarga Hasna, karena beberapa kali Angga yangdatang mengantarkan Hasna.


“Bapak mau makan disini? Tapi diruang ini tidak ada AC pak nanti bapak gerah lagi” Hasna belari-lari masuk ke dalam kost an. Untung hanya ada 3 orang yang asyik mengobrol di meja pojok, Hasna tidak mengenal mereka karena kost annya termasuk individual dan tidak terlalu akrab.


“Paling tidak disini bersih dan nyaman, tidak seperti di warung tadi. Udaranya sejuk koq kan pintunya dibuka… ayo pinjami saya piring, saya mau makan… dimana wastafel?” Reza sudah ingin segera makan, tadi dia melihat orang-orang makan dengan lahap.


Hasna langsung mengambil piring ke kamar, diambilnya piring, gelas dan teh celup untuk minum. Disimpannya 4 potong lele goreng, tempe dan tahu pada 1 piring dan diberikannya piring nasi Reza, harumnya nasi uduk langsung tercium.


“Nasi uduk pak, diolah pakai santan masaknya jadi lebih gurih” jawab Hasna singkat


“Sendok garpunya mana?” Reza bingung, dia tidak pernah makan tanpa sendok garpu.


“Pakai tangan biar lebih nikmat” Hasna jawab dengan malas-malas.


“Saya tidak bisa makan kalau tidak memakai sendok garpu” potong Reza


“Hadeeeuuuh…lain kali saya gak mau lagi makan sama Bapak…. NYUSAHIN” ucap Hasna sambil pergi ke kamar untuk mengambil sendok dan garpu.


Dimana-mana juga makan nasi uduk, pecel lele dan sambal itu pakai tangan, baru terasa nikmatnya.


“Ini … jangan minta saya suapin” ucap Hasna


“Saya bukan Maura tidak usah disuapin” jawab Reza.


“Lagian siapa yang mau nyuapin kamu” Hasna menarik nafas, ia benar-benar seperti sedang menjalani ospek di kantor.


“Hmmm ini ikannya aneh yah, saya pernah melihat ikan lele, tapi baru melihat dengan jelas sekarang, ternyata kepala dan badannya tidak proporsional, kepalanya hampir ⅓ dari badannya, kalau manusia itu berarti kepala kita sampai ke bahu panjangnya, langsung nyambung ke badan” Reza mengamati ikan lele dengan pandangan jeli.


Hasna tersenyum, seumur hidupnya baru sekali ini, ada orang yang memperhatikan lele sampai semendetail itu, kebanyakan langsung makan dan menyisakan kepala lele tanpa protes.


“Kenapa badannya lunak sekali tapi kepalanya keras seperti batu yah… mirip kamu” ucap Reza sambil menusuk-nusuk kepala lele dengan garpu


“Eh… maksudnya” Hasna langsung berhenti makan.


“Keras kepala” jawab Reza sambil menggigit lele.


“Hmmmm enak yaaa… gurih dagingnya” Reza langsung melahap ikan lele tanpa berhenti, dia hanya memakan ikannya tanpa diselingi nasi..

__ADS_1


“Ehh… pak nasinya dmakan dong, nanti ikannya habis tapi nasinya masih banyak” protes Hasna.


“Kalau menikmati makanan baru, kita jangan mencampur dengan makannnya lainnya, jadi kita tidak tahu rasa aselinya seperti apa” jawab Reza dan 1 ikan lele pun habis tidak bersisa.


 “Terserah ah..sudah disiksa bathin disebut mirip lele pula” pikir Hasna, seumur hidup baru kali ini ada yang menyamakan dirinya dengan lele.


“Bapak kenapa sih senang menyiksa saya?” Hasna makan dengan pelan.


“Hmmm… ini nasinya juga enak, seperti nasi lemak kalau di Malaysia” pikiran Reza asyik dengan makanan di depannya, seakan tidak mendengar pertanyaan Hasna.


Hasna memandang Reza, orang ini kalau lagi memperhatikan sesuatu ternyata tidak bisa membagi perhatian.


“Ini makan tempenya, sambalnya juga enak… lelenya bapak habiskan saja, saya cukup makan 1 sudah sering koq..”


“Bapak jarang makan lele, anggap aja ini seperti pesta perkenalan pertemuan antara lele hidup dan lele mati”


“Bapak tahu tidak perbedaannya antara lele hidup dan lele mati” tanya Hasna sambil berdiri


“Tidak.. Cuma soal bernafas atau tidak saja kan?” jawabnya cepat,


“Bedanya kalau lele hidup dia bisa  mematil kaya gini” Hasna langsung mencubit tangan Reza dengan sedikit dipelintir.


“Aduuuuuuh arghhhh argghhhhhh… ampun-ampun” Reza berteriak-teriak sambil menahan tangannya


Hasna merasa puas kekesalannya dari tadi sudah terlampiaskan.


“Makanya jangan suka menghina sama aku, belum pernah kena patil lele sih” Hasna tertawa-tawa puas.


Reza mengusap-usap tangannya yang memerah di cubit Hasna, rasanya sudah puluhan tahun dia tidak pernah dicubit, yang dia ingat hanya saat masih SD saat ada teman perempuannya yang suka mengganggunya dulu.


“Sudah hampir jam 9 pak! Kasian anak-anak nanti menunggu Bapak” ucap Hasna


“Tadi saya sudah text Hujan, katanya Maura sudah tidur, saya tadi berangkat siang ke kantor karena menemani Maura dulu” jawab Reza.


“Kamu jangan pikirkan soal Aswin, Arcy dan staf yang lainnya.. Nanti saya bilang pada Aswin  untuk menyampaikan pada mereka kalau saya teman kakak kamu, jadi mereka tidak akan berpikir yang macam-macam” ucap Reza setelah mencuci tangan.


“Saya tidak sedang menyiksa kamu, saya cuma ingin mengenal kamu lebih dekat” ucapnya lagi


“Telinga saya tajam Hasna” Reza tersenyum sambil berdiri, ditepuknya pundak Hasna


“Saya pulang dulu, kamu istirahat yang baik. Kemarin perjalanan pulang dari Bandung pasti masih kurang tidurnya… besok bilang pada Arya kalau saya teman Kakak kamu, saya gak bohong, kemarin kami sudah berteman dengan baik” ucap Reza sambil berjalan keluar.


Hasna mengantar Reza keluar hingga melihat mobilnya pergi menjauh. Sudah terlalu banyak orang yang mengetahui hubungan yang tidak jelas mereka, teman-temannya di Bandung dan hari ini sebagian orang-orang di kantor. Entah berita seperti apa yang tersebar besok, Hasna ingat kalau Prita senang menggosip. Mungkin sudah waktunya Ia bertanya pada yang Maha Kuasa, apa sebetulnya takdirnya ke depan, harus seperti apa ia menyikapi permintaan Reza, karena kalau bertanya pada dirinya sendiri ia sama sekali tidak memiliki gambaran perasaannya pada lelaki itu.


Setelah selesai sholat Isya, Hasna kemudian melakukan shalat Istikharah, dengan penuh ketetapan hati ia memohon kepada yang Maha Kuasa untuk memberikannya petunjuk akan pilihan yang terbaik  yang harus diambilnya, untuk bisa membawanya kepada kebaikan di masa depan.


Ternyata dengan melakukan shalat Istikharah hatinya merasa tenang, apapun petunjuk yang diberikan Allah kepadanya, akan ia terima dengan lapang dada sebagai takdir dalam kehidupannya.


Saat subuh, Hasna terbangun dengan cepat, dia merasa ditarik oleh suara beker, dari mimpi yang sedang dialaminya. Dia terduduk… Huffttt mimpi apa ini, koq terasa seperti berada di dalam masa yang berbeda dengannya sekarang. Hasna duduk termenung, kemudian dia ingat apakah ini merupakan salah satu petunjuk dariNya…. Mimpi itu terasa sangat nyata..


Mimpi itu……


 


**********************


 


Mimpi apa atuuuuuuh… hadeuuuh nyebelin udah nunggu lama-lama malah gak diterusin ceritanya. Ini penulis dulunya kebanyakan nonton drama Korea, suka menggantung cerita di akhir… hahahahaha… anggaplah ini pembalasan atas komentar up...up...up yang selalu menghantui sepanjang siang… aku tuh kerja bukan lagi bobo syantieek… ngeliat permintan up story tuh kaya ngeliat cheese cake di etalase kue.. Pengen tapi gak bisa makan karena kalori tinggi. Pengen nulis story tapi gak bisa karena banyak kerjaan. Pliiizzz nanti juga aku up story yang sabar yaaah… Aku aja sabar liat peringkat dari 10 besar terlempar kembali ke puluhan… hahah tenang saya terus bersyukur atas sumbangan vote nya, hebat banget saya bisa melewati semua episode ini karena pembaca semua. Like your comment and support yaa gurlz and boyz… Love u all


*********************

__ADS_1


__ADS_2