Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Odong Odong Emran


__ADS_3

Reza POV


Sudah lebih dari 3 hari manusia berotak setengah itu mengirimkan cerita dan video untuk Maura, kadang sore hari atau bahkan malam hari. Hari kemarin dia mengirimkan pesan tidak bisa bercerita karena pulang terlambat jadi hanya mengirimkan lagu dengan video gerakannya, dan sama seperti ceritanya lagu yang dibawakannya juga absurd.


Cerita kedua yang dia kirimkan adalah tentang Burung Gagak, kalau di buku cerita burung gagak diceritakan sebagai mahluk yang suka mengambil barang orang lain, sehingga kesimpulan ceritanya adalah jangan suka mengambil barang tanpa ijin dari yang punya. Dia membuat cerita Gagak Pahlawan Bertopeng, yang membantu binatang lain yang membutuhkan. Mana ada burung memakai topeng, aneh-aneh saja, seperti cerita Robin Hood versi binatang.


Cerita ketiga adalah tentang Gajah, kalau dalam cerita di buku Gajah diceritakan sebagai binatang setia kepada teman-temannya dan selalu saling membantu. Tapi anak dengan otak setengah itu beda lagi ceritanya, dia menceritakan kenapa Gajah belalainya panjang. Itu terjadi karena gajah terlalu sering berbohong sehingga hidungnya terus memanjang. Memangnya cerita Pinokio sampai hidungnya memanjang terus.


Maura sampai mau melihat foto gajah dan percaya kalau memang hidung gajah memanjang karena suka berbohong. Haduuh bagaimana lagi anak itu bisa punya ide pikiran yang aneh, walaupun sebetulnya memang cerdas pikirannya. Aku sampai searching apa yang menjadikan belalai gajah panjang. Ternyata belalai gajah panjang karena dia tidak bisa makan dan minum terhalang oleh gadingnya.


Aku ingin membantah ceritanya tapi melihat rasa senang dan pembelajaran tentang tidak boleh berbohong menjadikan aku menunda menceritakan alasan mengapa belalai gajah panjang kepada Maura.


Hari ketiga dia mengirimkan video lagu, videonya ia kirimkan jam hampir jam 8 malam. Di videonya dia bilang minta maaf tidak bisa mengirim cerita karena sibuk seharian dan baru pulang malam. Dalam video aku bisa melihat kalau dia terlihat lelah dan mengantuk, tapi masih berusaha membuat nyanyian. Dia tidak berpikir kalau kita bisa melihat isi kamarnya dari video.


Tampak dia menyimpan tas di kasurnya, ada tumpukan pakaian dari laundry yang belum dibuka di bawah kasur, dan buku yang masih terbuka. Buku yang kemarin aku belikan masih dia baca. Smart girl.


Video lagunya tentang pisang. Dia menirukan lagu dengan membuat gerakan tubuh. Maura tertawa-tawa dan ikut bernyanyi, ia terus menirukan gerakan dan lagu itu sampai hapal. Ternyata mengajarkan lagu pada anak harus dengan gerakan. Aku tidak pernah mengajarkan lagu pada Maura.


Akhirnya aku mengirimkan pesan untuk tidak lagi mengirimkan cerita kalau dia sibuk atau merasa lelah, aku sudah memahami cara membuat cerita yang absurd. Ternyata anak-anak menyukai cerita yang memiliki khayalan yang sudah menghilang dari imaginasi manusia dewasa.


Tadi sore Aswin menjelaskan rencana kegiatan Employee Gathering yang akan diselenggarakan di Bandung. Ia meminta kepastianku untuk bisa hadir karena akan dihadiri oleh seluruh karyawan di kantor pusat dan perwakilan. Kupikir menyenangkan juga bisa keluar bersama anak-anak, sudah lama sekali tidak pernah jalan bersama, tinggal memastikan Hujan supaya mau ikut.


"Ka.. Sabtu ini mau ikut main ke Bandung yuks, Papi ada acara kantor, kita nginap semalam” tawarku pada Hujan


"Hmm... ngapain aja disana?"


"Yah main lah.. Maura bisa naik kuda, kaka bisa berenang, Papi bisa liatin karyawan yang punya kegiatan disana..."


"Kalau mau berenang aku bisa di rumah Granny.. ngapain jauh-jauh ke Bandung" jawab Hujan matanya tidak lepas dari handphone


"Mola mau naik kuda, atut sendili....musti sama Kaka"


"Gak mau... Kaka udah gede kasian kudanya entar.. Maura naik kuda aja sendiri.. kamu udah gede sekarang udah bisa pegangan" tungkas Hujan


"Uwaaaaahh Mola mau naik kuda tapi atut sendili" Maura sudah mulai meyek-meyek mau nangis


"Ya sudah nanti sama Papi saja naik kudanya" jawabku daripada panjang trus menangis


"Ga mau Papi udah duedeee nanti kudanya syakit" ehhh katanya mau ditemani


"Ya nanti ditemani sama Ka Hasna mau?" jawabku.. terserah nanti siapa yang mau menemani yang penting jangan nangis lama lagi nanti tidurnya.


"Iya iya mahu..." Mola langsung loncat-loncat


Dan ternyata acara Employee Gathering berlangsung sukses, semuanya tampak gembira dan menikmati kegiatan. Dan seperti sudah kuperkirakan Maura langsung mencari-cari Hasna, begitu melihat perempuan otak setengah itu langsung menangis ingin ke panggung bersamanya. Semakin ditahan malah akan mengamuk, akhirnya aku antarkan Maura ke panggung.


Untungnya perempuan itu tampak senang menerima Maura, entah kenapa dia selalu berhasil menarik perhatian Maura. Mereka bertiga bernyanyi seperti sudah latihan sebelumnya, ternyata selain pandai bercerita anak itu pintar juga bernyanyi. Maura terlihat senang bersamanya, jarang ada perempuan yang bisa menarik perhatian Maura seperti dia. Tapi memang tampaknya dia gampang dekat dengan siapapun termasuk dengan laki-laki yang bernyanyi dengannya itu.


Maura kalau sudah bertemu dia sampai lupa sama Papi dan Kakanya, asyik saja berjoged, baguslah. Tapi apa itu mengajarkan Maura untuk mengucapkan sarange... pada laki-laki yang itu lagi. Arghhhh.. harus dikasih tahu jangan seperti itu


Author POV


Esoknya Hasna sudah langsung bersiap untuk pulang, karena acaranya bebas, sebagian karyawan ada yang memilih untuk menghabiskan weekend dengan berjalan-jalan di daerah Bandung ada pula yang memilih untuk langsung pulang ke Jakarta. Sebelum sarapan Hasna langsung telepon adiknya Emran untuk menjemputnya.


Emran ternyata datang lebih cepat, begitu Hasna selesai sarapan Emran sudah mengirim pesan kalau ia mengunggu Hasna di area Mart dekat pintu masuk. Dan betul saja Emran tampak sedang asyik mengobrol dengan anak perempuan terlihat dari belakang.


Hasna mendekati Emran dari belakang terdengar adiknya sedang mulai mengeluarkan gombalan kelas kambing.


"Dingin yah daerah ini"

__ADS_1


"Hmm"


"Sering main kesini"


"Engga lah"


"Koq kaya yang kenal sering ketemu gitu.. tinggalnya di Bandung daerah mana?"


"Engga bukan di Bandung"


"Masa sih... kaya sering lihat deh SMA mana di Bandung?"


"Masih SMP"


"Eh... seriusan.. kaya udah gede anak SMA"


"Cantiknya tuh cantik anak Bandung, katanya kalau di Bandung tuh cewe jalan 8 yang cantiknya 10...." Emran sibuk menggombal gak jelas


Daaaan...


Keeemplaaak....


"Awwwww... Teteh.. apaan sih main gaplok gini"  Emran memegang-megang kepalanya yang barusan dipukul Hasna


"Kamu apaan sih .. ngegombal gak jelas sama anak kecil... paedofil tauk! Bilangin sama Mama kamu ngegangguin anak kecil" Hasna melotot


"Aku gangguin apa coba cuma ngajak ngobrol sambil nungguin Teteh...ihhh..."


"Kamu tuh ngobrol yang bener jangan ngegombalin gitu... pake nyebut cantik-cantik segala"


"Eh da emang cantik yah Neng" kata Emran sambil cengar cengir.


"Jangan suka ngobrol fisik kalau sama cewe, ngobrol yang akademis, tanyain kelas berapa? sekolahnya dimana... kaya gitu" ucap Hasna


Hujan tersenyum melihat interaksi kaka beradik itu, ia mengenali Hasna yang semalam bermain dengan Maura. Ternyata dia orang yang menarik tidak menjaga image dan terlihat lebih spontan. Baru saja Hasna akan memukul Emran terdengar suara Maura.


"Ka Hassyynaaa.... Mola cali-cali....."


"Alamaaak anak koala udah datang dari mini market dengan bapak beruang.. hadeuuh ini gara-gara si Emran gangguin anak cewe jadi aja kepergok" Hasna langsung tersenyum lemah.


"Molaaaa... unyuk-unyuuuuk lutuna pake baju kelinci" Hasna langsung merubah mode bahasa tubuh.


"Mola mau naik kuda dicana... sama Ka Asna"


"Ka Hasna takut sama kuda ... sama adik ka Hasna aja yah" Hasna langsung mendorong Emran


"Ihhhh teteh apaan sih.. aku gak kenal ntar nangis lagi... kmarin juga anaknya Bi Tantan nangis sama aku" Emran mundur


"Ehhh... teteh takut naik kuda nanti jatuh lagi kaya dulu" Hasna mundur mendorong Emran


"Itu kan teteh pas lagi kecil, pantatnya masih belum segede sekarang" Emran balik mendorong Hasna


"Apaan sih kamu nyebut pantat Teteh gede" langsung Hasna memukul Emran


"Ihhhhh ya iyalah dibandingkan waktu kecil pasti gedean sekarang"


Hujan langsung tertawa melihat kakak adik itu terus saling mendorong, Maura tampak bengong melihat mereka berdua.


"Udah Teteh sana naik entar anaknya nangis lagi... malu ih udah gede takut sama kuda" Emran mendorong Hasna kearah tukang kuda.

__ADS_1


"Awas kamu, kalau gangguin lagi anak cewe" Hasna mengacungkan kepalan tangan


"Pak maaf itu adik saya diawasi.. eh ini kakaknya Maura yaaah... waaah pantesan cantik" Hasna baru menyadari kalau Hujan yang digodain sama Emran adalah putrinya Reza


"Tadi bilangin gak boleh muji fisik.. kaka sendiri bilang cantik... kalau aku salah... weeuuh dasar.. cewe ababil" gerutu Emran


"Udah cepetan sana naik kuda, yang bener duduknya biar gak jatuh lagi" ucap Emran sambil mendorong kakaknya


Hasna akhirnya menemani Maura untuk naik kuda, pengalaman buruknya naik kuda terpaksa dilupakan karena harus menemani Maura


"Maaf Om... kakak saya orangnya cerewet" Emran tidak menyadari kalau Reza adalah atasanya Hasna, ia menyangka kalau Reza adalah teman kerja Hasna


"Kaka tinggal dulu yah, nanti kalau ketemu lagi kita ngomongin rumus matematika biar kaya Jeremy Pollin" Emran pamit  pada Hujan untuk mengambil motornya.


Hujan langsung tertawa cekikikan mendengar Emran memanggil Reza dengan sebutan Om, terlihat kalau Papinya terlihat tua. Reza hanya tersenyum, ternyata kaka dan adik sama absurdnya, saling berbagi otak kayanya.


Begitu selesai main kuda Maura tidak mau lepas dari Hasna, Emran sudah menunggu di atas motor, Hasna sudah bingung karena Maura malah menangis keras. Dipangku oleh Reza pun tidak mau. Akhirnya Hasna ada ide


"Maura mau puter naik motor kaya Oscar Raja Racing?" tanya Hasna


"Iya Oscar kan bisa menangkap gagak karena cepat, Maura sudah pernah naik motor?" tanya Hasna


"Mola mau mola mau"


"Tapi nanti setelah Maura jadi Raja Racing gak boleh nangis yah kalau Kak Hasna pulang"


"Iya boyeeeh... tapi nanti Kak Hasna halus celita lagi di Hape Papi" tawar Maura


"Iya nanti Kak Hasna kirim cerita lagi yaaah"


"Pak boleh yah Maura ikut sama saya sebentar keliling keliling naik motor" tanya Hasna meminta ijin kepada Reza.


Reza mengangguk, yang penting nanti Maura mau berpisah dengan Hasna dan tidak menangis lagi, ia merasa tidak enak melihat Hasna kerepotan karena harus menenangkan Maura


"Jangan ngebut hanya keliling saja sebentar” ucap Reza


"Beres boz"


"Emran... ayokk muter 1 keliling sama anak koala" ucap Hasna sambil menaikan Maura ke motor Emran


"Haaah apaan sih Teh .. emangnya aku odong-odong muter-muter bawa anak kecil"


Kemplaaaak... helm Emran langsung dikeplak Hasna


"Udah kamu jangan banyak protes ntar nangis lagi" tungkas


"Kak Hasna ga boyeh pukul pukul itu jeyek" ucap Maura dengan melotot.


"Ehhhh Kak Hasna gak mukul... itu ada lalat di helmnya Om Emran"Hasna ngeles... hihi lupa tidak boleh mencontohkan kekerasan di depan anak kecil.


"Tuh anak kecil aja tau... Teteh mah sama adik sendiri galak bilangin sama Mama” Emran manyun


Dan akhirnya Odong-odong Emran melakukan perjalanan berputar-putar di sepanjang area hotel, tidak cukup satu kali tapi sampai tiga kali putaran dengan iming-iming voucer belanja untuk Emran.


"Staf Papi lucu orangnya daripada sama Tante Semplak" ucap Hujan...


 Reza menoleh ehh.. siapa lagi Tante ******


*****************

__ADS_1


Gurlz n Boyz maaf baru bisa up story, hari ini kerja full book sampai margib... butuh energi gede buat nulis... tapi ngeliat permintaan up... saya perkenalkan tokoh Emran Cool Guys and Tante Semplak musuh Bebuyutan... Ditunggu selalu komennya, dan jangan lupa ngasih vote n like yaaaah... Terima kasih sudah menunggu


*****************


__ADS_2