Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Aliran Senggol Bacok


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan 3.30 saat anak-anak masuk. Hasna ingin segera pulang dan mandi, makeup dimukanya terasa sangat lengket dan badannya terasa penat.


“Kaka Hujan tolong bantu dong melepaskan asesoris di kepala, ini terasa pusing” Hasna mengeluh.


“Mau dipanggilkan petugas hotel untuk membantu melepaskan asesoris di kepalanya?” tanya Reza.


“Aku bisa kalau cuma sanggul dan veil seperti ini sih” ucap Hujan sambil mencermati kepala Hasna.


“Tantenya duduk coba biar gampang” Hujan langsung memcoba melepaskan kaitan penguat veil di rambut Hasna.


“Papi kalau mau mandi, Tante biar sama aku aja” sambungnya.


“Mola juga mau bantuin copotin” Maura langsung nimbrung.


“Susah kamu tuh, nanti nusuk ke kepala Tante Hasna nya” Hujan langsung menolak dan menepis tangan Maura.


“Molaaa mauu bantuuuu” anak koala ini langsung merengek mau menangis.


“Ini..ini Maura bagian nyimpenin jepit pengaitnya aja, masukin kesini...nih masukin ke gelas, begitu Kaka cabut langsung Maura ambil” Hasna langsung memberikan gelas bekas minumnya kepada Maura, kepalanya sudah keleyeng-keleyeng kalau mendengar anak menangis dijamin akan copot.


Reza tersenyum melihat kedua anaknya yang asyik menggarap rambut Hasna, sedangkan yang punya rambut tampak mengantuk dengan mata memejam saat kepala tertarik kekiri dan kekanan.


Reza memutuskan mandi terlebih dahulu, penat rasanya tubuhnya seharian ini memakai jas, bersalaman dengan ratusan orang. Saat ia keluar dari kamar mandi dilihatnya Hujan sedang mengaduk-aduk isi kopernya.


“Mencari apa Ka?”


“Kaos untuk Tante Hasna, kasian baju pengantinnya sudah basah oleh keringat. Kalau mandi masa pakai baju itu lagi. Baju aku gak muat ternyata”


Reza mendekati kopernya dan diambilnya kaos katun yang suka dipakainya untuk tidur.


“Ini coba kasihkan mungkin cukup gak terlalu besar”


“Papi mau ganti baju dulu” ucapnya sambil mengambil pakaian yang santai. Ia harus mengantar Hasna pulang mengambil pakaian dulu.


Saat keluar terdengar suara tertawa-tawa di kamar mandi yang ada di tengah ruangan. Suara Maura.


“Hihihihi…. Bunaanya budilll….hihihihi buna budil kala limau”


“Hushhh… udah diem, sini buka baju dulu Mauranya”


“Ade mau mandi barengan Tante katanya...dasar anak kecil” Hujan asyik memindah-mindahkan channel TV sambil tiduran di sofa.


“Kak pesankan minuman hangat coklat dan kopi sama makanan ringan ke hotel” ucap Reza


“Buat siapa?” Hujan mengerutkan dahi


“Adik kamu sama Tante Hasna pasti nanti mandinya lama, kasian suka kedinginan adenya”


Benar saja sudah hampir 30 menit Hasna dan Maura di kamar mandi. Sampai akhirnya Reza mengetuk pintu kamar mandi.


“Hansa, Maura jangan terlalu lama di kamar mandi nanti masuk angin”


“Iyaaa bentar, ini sambil berendam”


“Sebentar lagi keluar”


Kemudian saat mereka keluar pemandangan lucu adalah Maura yang memakai handuk kebesaran dan Hasna dengan kaos yang kebesaran yang bawahannya dengan memakai bawahan kebaya pengantin.


“Ini kaos siapa? Kok gede banget?” tanya Hasna


“Kaos punya Papi soalnya aku gak bawa kaos yang longgar”


“Hehehe maaf Mas, kaosnya saya pinjam dulu, ini lengket banget soalnya badan akunya” Hasna cuma cengengesan melihat kearah Reza yang seperti bingung melihatnya.


“Kamu itu gak pakai dalaman” Reza berkerut.


“Ehhh keliatan yah… hehehe nanti aku tutupi dengan handuk saja”


Reza hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan memalingkan mukanya, perempuan ini benar-benar melatih kesabarannya, dia benar-benar tidak berpikir panjang.


“Kalau gak salah di barang seserahan, aku liat underwear deh” ucap Hujan, dia langsung berdiri dan berjalan ke tumpukan barang seserahan yang disimpan dipojokan kamar.


“Ihhhh Kakak cerdas banget, dari tadi gak kepikiran liat barang seserahan” Hasna langsung menghampiri Hujan yang sedang mencari-cari di kotak barang seserahan.


“Nih ini” Hujan memberikan kotak berwarna gold yang transparan.


“Ih lucu banget kotaknya… ini underwear emang?” Hasna tampak bingung melihat kemasan yang di dalamnya.


“Kok warnanya gini amat” Hasna bingung melihat underware yang dikemas berwarna merah dan hitam.


“Coba buka Tante aku mau liat? Aku juga aneh bentuknya gak normal, tapi tadi Aunty ngelarang aku megang-megang kotak ini” Hujan tampak bersemangat.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua membuka kotak yang berisikan underwear sambil melihat isi dari dalam kotak.


“Arrghhhhh… ini CD nya apaan kok cuma tali semua, muat dimananya” Hasna langsung bingung.


“Whahahaha… aku udah pernah liat underwear begini punya Aunty” Hujan tertawa-tawa melihat muka bingung Hasna.


Saat mereka berdua asyik melihat-lihat underwear, Reza keluar dari kamar bersama Maura yang baru memakai baju lengkap.


“Buna agi apaah?” Hasna langsung kaget dan menyembunyikan underwear yang dipegangnya.


“Kenapa” Reza merasa heran melihat ekspresi Hasna.


“Ini siapa yang membeli barang-barang seserahan?” ucap Hasna dengan ketus.


“Isyana.. Kan kamu minta tolong sama dia, aku mana sempat beli barang kecuali sepatu waktu sama kamu dulu, kenapa emang dia salah beli?” tanyanya


“Coba lihat dia beli apa?” Reza mendekat


“Gak-gak usah liat-liat aku mau ganti baju dulu” Hasna langsung berlari ke kamar.


“Hahahahahahah” Hujan tertawa-tawa melihat ekspresi Hasna yang tampak panik melihat Papinya.


“Kenapa dia” Reza heran dan kemudian melihat Hujan.


“Hahahaha… Aunty membelikan Tante Hasna underwear yang hanya tali-tali saja, tadi dia bingung melihat modelnya”


Reza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mana mungkin dia membeli pakaian dalam seperti itu. Kurang ajar memang Isyana kenapa tidak membelikan pakaian dalam yang normal saja.


Saat Hasna keluar dari kamar yang terdengar adalah pertanyaan Hujan.


“Gimana Tante muat? Bisa pakenya….hahahhaaha” Hasna langsung melotot, dan cemberut melihat anak petir itu mentertawan dirinya.


“Sudah ini minum dulu coklat hangatnya. Kita ambil dulu pakaian ke rumah. Mumpung Maura tidur, biar dia ditemani Hujan disini sambil ngerjain PR” Reza memberikan coklat hangat yang langsung disambut oleh Hasna.


“Terima kasih… duh tau aja aku kedinginan” Hasna menikmati coklat hangat sambil duduk di sofa.


“Siapa suruh mandi sampai 30 menit lebih” Reza menggeleng-gelengkan kepalanya diberikannya cake yang tadi datang bersama minuman panas.


“Tadi kan memandikan Maura dulu gak mau diam banget kalau pas mandi trus setelah itu berendam, soalnya badan aku pegal banget” Hasna menyambut kue manis yang diberikan Reza kepadanya.


“Kamu itu gak kemanisan coklat dan cake?” Reza heran melihat Hasna dengan penuh semangat memakan cake dengan satu suapan penuh.


“Kemoanisan gimana? Enak cakenya.. Bagus untuk meningkatkan gula darah..biar gak gampang cape” ucap Hasna dengan mulut penuh mengunyah kue.


“Ini aku makan cepat-cepat, makanya langsung disuapin semua!”


“Gak usah pasang muka prihatin gitu.. Aku juga tau mustinya makan dikit-dikit”


“Ayo katanya mau nganterin ke rumah… kalau engga aku mau pakai mobil online”


“Kakak pengen sesuatu gak?”


“Gak… cepetan aja, nanti kalau ade bangun suka berisik nyariin” Hujan tampak asyik dengan laptopnya.


Di perjalanan saat Hasna akan mencari posisi tidur yang enak di mobil, Reza langsung bertanya soal teman-temannya tadi.


“Tadi tuh kakak kelas kamu?”


“Iyalah beda 1 dan 2 angkatan”


“Kalau Arkan beda berapa angkatan?”


“2 angkatan dia menjabat agak lama sebagai Ketua soalnya ada perubahan struktur organisasi”


“Dekat kamu sama dia?”


“Yah gitu aja kalau Ketua sama Sekretaris kan selalu ada dalam setiap rapat, saling backup aja seperti biasa”


“Pacaran kamu sama dia?”


“Enggak… males banget pacaran sama dia.. Suka marah-marah terus gak sabaran… pusing aku jadinya”


“Marah-marah gimana?”


“Yah gitu deh.. Suka otoriter dalam pembagian kerja dan toleransinya rendah.. Kita jadi suka berantem trus.. Tapi kalau lagi baik nyenengin”


“Baik gimana”


“Iya suka cerita berbagai hal, wawasannya bagus luas, aku suka aja dengerin dia rencanyanya dia makanya jadi ketua BEM Fakultas dia tuh narator yang unggul”


“Kenapa gak pacaran aja sama dia?”

__ADS_1


“Ehhh diulang-ulang lagi nanya yang sama.. Males ah jawabnya… udah nikah juga masih nanyain hal yang gak penting”


“Dah ah mau tidur aja” Hasna langsung mengambil posisi wuenak


“Eehhhh… jangan tidur dulu ini tinggal satu belokan lagi, kamu kalau tidur suka lama.. Bangunn hayooo” Reza langsung menggoyang goyangkan tubuh Hasna untuk bangun…


“Ihhhh meni gak ngasih napas banget sih” Hasna langsung bangun dan duduk.


“Awas jangan nanyain lagi Kang Arkan… tanyain GD Oppa kek”


“Siapa GD Oppa?”


“G Dragon.. Anggota Big Bang”


“Oh yang posternya di kamar kamu...hahahaha”


Tidak terasa mereka berdua sampai ke rumah. Hasna langsung masuk ke dalam rumah, tanpa menunggu Reza terlebih dahulu, yang ada dalam pikirannya hanyalah ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur.


Reza hanya bisa kembali menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya, kalau dengan anak-anak ia sangat perhatian dan tapi kalau dengan dirinya seperti pasangan Tom and Jerry.


“Nak Reza ehhh… kirain tadi Hasna sendirian, sampai ditinggalin di luar disamakan seperti sama sodaranya saja, masuk nak… Hasna sudah kekamar ngambil pakaian katanya… masuk saja” Mama langsung menyambut Reza di teras.


“Makasih Ma… aku langsung ke kamar Hasna kalau begitu” Reza langsung masuk ke kamar dan dilihatnya Hasna berbaring di kasur menghadap ke dinding.


“Ehh katanya mau ngambil baju kok malah tidur”


“Aku mau nge charge energi bentaaaar aja ngantuk banget… gak lama janji maksimal 30 menit”


“Kepala kerasa keleyeng-kleyeng gini” ucap Hasna tanpa berusaha merubah posisi tidurnya.


“Geser… aku juga mau rebahan cape” Reza merebahkan badannya ke sebelah Hasna, badannya terasa penat.


“Ehhh.. jangan tidur disini atuh, sana di kamar Emran”


“Kamu tuh gimana masa di kamar Emran nanti malah jadi pertanyaan orang-orang… sana geser.. Minta bantalnya satu” Reza menarik 1 bantal dari kepala Hasna.


Hasna sudah merasa terlalu lelah untuk berdebat, kepalanya sudah terasa seperti mengambang di air karena tadi malam ia kurang tidur dan harus bangun subuh-subuh. Kalau sekarang disuruh untuk bertarung mode on maka Hasna akan mengalah saja memilih jadi tawanan.


Tak lama keduanya sudah langsung tertidur. Reza yang sudah terbiasa tidur di hari Minggu merasakan kepenatan yang luar biasa, sehingga melihat Hasna yang tidur nyaman dikasur mendorongnya untuk melakukan hal yang sama.


Lama mereka berdua tidur hingga melewati waktu Magrib sehingga Mama menyuruh Emran untuk membangunkan Hasna agar sholat dan bersiap untuk berangkat ke acara makan malam.


“Teh...tehh…” Emran mengetuk pintu dan tidak terdengar jawaban, sehingga Emran langsung masuk dan mendekati tempat tidur Hasna.


Emran bingung melihat ada lelaki yang tidur membelakanginya, ini bukan Kak Angga yang tidur di kamar tetehnya.


“ASTAGFIRULLAH … si teteh udah tidur aja berduaan meni gak di kunci kamarnya… gimana kalau ade masuk Tetehnya lagi yesno yesno” Emran berteriak saat menyadari bahwa laki-laki yang tidur dan tengah memeluk Hasna dari belakang adalah Reza.


Hansa yang kaget mendengar suara Emran langsung terbangun. Ia kemudian melihat bahwa ada tangan sedang memeluk pinggangnya dan saat eilihat di belakangnya tampak Reza sedang tertidur.


“Arrgghhhhhhhh Bapaaaak kenapa tidur di kamar sayaaah… ini kenapa tidur memeluk sayaaah” Hasna menjerit dan mendorong Reza hingga jatuh terjengkang.


“Aaaaaaaww….. “ Reza hampir saja jatuh terjengkang dari kasur kalau saja tidak ditahan oleh Emran tapi tetap saja dia jatuh kebawah kasur karena dorongan Hasna yang sangat kuat.


“Haduuuuh Teteh meni sampai didorong gitu galak banget sama suami” Emran langsung membantu Reza berdiri.


“Suami siapa suami……” Hasna langsung duduk dengan bingung.


“Hahahahahahah euceu sudah menikah tadi pagi ijab kabul…. Woyyy sadar teeh…hahahahahaha” Emran langsung tertawa-tawa sambil keluar kamar.


Reza menggaruk-garuk kepalanya, kesadarannya belum pulih benar, karena ia tadi tidur sangat lelap dan tiba-tiba di dorong Hasna hingga jatuh dari kasur.


“Maaff Mas…. saya lupa… saya bingung kenapa Mas Reza tidur dan memeluk dari belakang”


“Kamu tuh jadi perempuan keterlaluan banget sih… jangan main tendang gitu dong… kasar banget” Reza langsung marah, dia masih belum sadar sepenuhnya.


“Ini mas tidur lagi aja… “ Hasna langsung menyodorkan bantal kepada Reza.


“Gaakkk … enaknya saja kepala saya pusing ini, tiba-tiba bangun dan didorong jatuh”


“Saya pijit ya Mas… kata Ayah pijitan saya paling enak dan bertenaga” Hasna langsung berusaha membujuk Reza yang terlihat masih marah.


Reza mendengus dia masih merasa kesal. Tiba-tiba tangan Hasna terasa memijat pundaknya, ternyata memang pijatannya terasa bertenaga dan pas.


“Enak kan… hehehehe makanya jangan gampang marah, nanti cepat tua”


“Siapa suruh coba tadi Mas Reza peluk-peluk pinggang dari belakang, wajar tadi saya kaget”


“Kamu tuh pantesan gak punya pacar”


“Kesenggol dikit, main bacok aja” Reza mendengus, dia benar-benar harus banyak bersabar.

__ADS_1


“Mendingan senggol bacok daripada senggol-senggolan… kaya penyanyi dangdut dong..heheheheh”


“Gak lucu”.... Beuhhh galak deh yang kena bacokan


__ADS_2