Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Sekali-kali jadi Detektif


__ADS_3

Hasna merebahkan dirinya di tempat tidur perjalanan 7 jam di pesawat terasa sangat melelahkan, belum ditambah dengan bangun lebih awal agar tiba di bandara tepat waktu dan proses check in hingga boarding yang memakan energi. Ia sangat bersyukur kalau selama perjalanan tidak ada keluhan yang berarti hanya kakinya yang bengkak karena terlalu lama duduk.


Mereka tiba jam 5 sore karena mengambil penerbangan pagi. Mereka pulang lebih cepat karena Arkhan harus mengikuti ujian komprehensif besok, sehingga mereka menyesuaikan jadwal penerbangan dengan team leader walaupun sebagian besar masih ingin mengeksplorasi Kota Tokyo. Saat tiba di Bandara mereka langsung berpencar, Hasna yang belanjaannya paling banyak, tas nya sampai jadi beranak dua, yang ketiban rezeki membawakan tentu saja anak laki-laki yang tentu saja tidak bisa protes karena tatapan tajam mata Arkhan.


Arkhan sempat mengutarakan keheranan saat Hasna ikut pulang dengan Ammera.


“Laki lu mana Na?” ia membantu memasukan koper Hasna ke dalam mobil Ammera.


“Hmm lagi keluar kota kang, supir lagi mengantar anak-anak les. Jadi ikut sama Ammera aja” Hasna tersenyum, kebohongan harus diutarakan supaya tidak meresahkan semua orang. Arkhan tidak banyak bertanya, semua orang sudah merasa lelah ternyata tujuh hari di luar negeri betul-betul menguras energi.


Hari ini Hasna ingin beristirahat total, tidak ada lagi energi untuk membuat story untuk Maura, tubuhnya terlalu lelah.


Reza PoV


“Apa yang harus aku katakan kepada anak-anak”


“Kemana dia pergi?”


“Apakah jadi pulang ke Indonesia atau dia benar-benar mengambil winter class”


Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepala sepanjang perjalanan pulang, rasanya otak ini terasa buntu. Harus berpikir tenang dan tidak panik, itu yang kemudian ku ingatkan dalam otakku. Untuk bisa mengikuti winter class artinya tinggal lebih lama dari satu minggu dan dibutuhkan visa khusus, jadi tidak mungkin dia mengikuti winter class mendadak seperti memutuskan liburan saja.


Artinya dia pulang, kalau Hasna pulang mengambil pesawat kemarin pagi artinya tadi malam dia sudah sampai ke Indonesia, dia tidak mungkin langsung pulang ke Bandung dengan kondisi sekarang pasti lelah dan baru akan pulang ke Bandung hari ini. Jadi sekarang aku harus memastikan saja apakah dia pulang ke Bandung atau tidak. Paling cepat adalah mengontak Mama Merin, hanya tinggal memikirkan alasan supaya tidak mencurigakan. Akhirnya kuputuskan mengirimkan pesan dengan pertanyaan menanyakan kabar.


“Assmlkm Mama. Apa kabar? Maaf Reza jarang mengontak agak sibuk kemarin. Bagaimana kondisi Mama dan Ayah semoga selalu sehat. Anak-anak alhamdulillah selama ditinggal kondisinya baik, hanya Maura saja sering kangen sama Buna. Salam untuk keluarga besar di Bandung”. Aku langsung mengirimkan pesan ke Mama, kalau mengirimkan ke Emran bisa panjang pertanyaan tentang Hasna yang sudah pasti tidak bisa kujawab.


Tak berapa lama pesan langsung dibalas oleh Mama.


“Wlkslm.. Alhamdulillah asalnya Mama mau telepon tapi khawatir mengganggu A Reza lagi rapat jadi mama text aja. Mama kaget kemarin dikasih tahu Emran kalau Hasna mau lanjut program Winter Class, dia gak bisa mama hubungi hp nya mati, katanya lupa ga ngidupin roaming internasional. Mama jadi khawatir, trus kasian anak-anak kalau ditinggalkan terlalu lama”


Dari jawaban Mama aku sudah pastikan kalau Hasna tidak pulang ke Bandung, dia sudah berbohong akan mengikuti Winter Class, benar-benar perempuan itu kalau sudah bertekad semuanya akan dilakukan. Semoga saja kondisinya sehat, perjalanan jauh dengan kondisi hamil sangat rentan apalagi dengan kondisi hamil muda sekarang.


Otakku terasa buntu, kemana dia pergi? Kalau melihat video yang dibuat untuk Maura dia duduk di kamar yang lumayan luas, ada tempat tidur ukuran sedang, pantry kecil seperti apartemen tipe studio. Tiba-tiba aku teringat akan janji pertemuannya dengan Ammera di pesan untuk melihat beberapa lokasi. Ammera…. Ammera… kenapa tidak terpikir untuk menelpon anak itu, pasti dia bisa dihubungi. Langsung kulihat Hp Hasna, bodoh sekali tidak terpikir dari tadi.


Tuuuut...tuuuuut….tuuuuut tiga kali na sambung Tuuuuut….Tuuuut.. Klek.. telepon diangkat… Yessss..


“Assmualaikum…. “ kemudian diam mungkin dia bingung karena nomorku tidak dikenal.


“Waalaikum salam … ini dengan Ammera… Saya Reza suami Hasna” lama diam tidak ada jawaban sama sekali.


“Ammera sudah pulang ke Indonesia kan? Bisa saya bicara dengan Hasna” aku yakin kalau dia satu-satunya yang tahu dimana Hasna tinggal. Lama diam tidak ada jawaban tapi sambungan telpon tidak dimatikan, bagus tinggal diyakinkan saja.


“Mas..eh Pak… saya belum sempat berterima kasih sudah memberikan kesempatan saya sehingga bisa mengikuti studi banding ke Jepang. Saya bermaksud mengembalikan uang yang sudah Bapak bayarkan, tapi saat ini saya masih belum punya” perempuan ini malah membahas tentang biaya perjalanan.


“Tidak usah dipikirkan dan tidak usah dikembalikan, saya senang kamu bisa ikut sehingga Hasna ada yang menemani. Sekarang saya perlu untuk bicara dengan Hasna, bisa kamu berikan alamat tinggalnya sehingga saya bisa bertemu” lama terdiam dan sepertinya dia sedang berpikir.


“Maaf Pak saya tidak mengerti Bapak bicara apa, kemarin kan Hasna sudah pulang… maaf Pak saya sedang menyetir jadi tidak bisa bicara terus. Terima kasih sekali lagi atas bantuan bapak” dan sambungan telpon langsung diputus, ternyata dia berteman dengan perempuan tidak tahu  sopan santun, memutus hubungan telepon secara sepihak, tapi kalau mendengar dari ucapannya yang terdengar panik ia tahu dimana Hasna tinggal.

__ADS_1


Kubuka semua pesan antara Hasna dan Ammera di hp, selama ini aku melewatkan petunjuk penting tentang keberadaan Hasna selama ia mengantarkan Maura ke sekolah, kupikir dia pergi ke kampus atau ke tempat kost annya yang lama, ternyata bukan, atau apakah dia pergi ke kostan nya yang lama, tidak ada salahnya dicoba.


“Pak Agus kita langsung ke kostan Bu Hasna yang lama” Pa Agus yang sedari tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Ammera pasti sudah menebak kalau ada suatu yang salah.


“Bu Hasna tidak pulang ke rumah Pak?” dia melihat ke spion dan aku hanya diam, biarkan saja dia menebak-nebak, malas rasanya menjelaskan sesuatu yang untukku sendiri terlalu membingungkan.


Seperti yang sudah kuperkirakan dia sudah memindahkan semua barang-barangnya dari kostan lama, Hasna ternyata sudah merencanakan ini. Ia menitipkan kunci katanya nanti ada teman yang akan melanjutkan tinggal di kostan nya ini. Akhirnya aku putuskan kembali ke kantor, sebelum menemukan titik terang dimana keberadaan dia sekarang aku belum berani pulang bertemu dengan anak-anak.


Aswin tampak menunggu kedatanganku di kantor, dia tidak banyak bicara sudah tahu kalau kondisiku sedang tidak baik.


“Belum ketemu titik terang Pak” akhirnya dia bertanya juga. Aku langsung melirik kesal, kalau sudah ada petunjuk tentu aku tidak akan ada di kantor.


“Tidak ada, teman seperjalanannya sudah saya telpon tapi tidak mau bicara malah pura-pura tidak tahu kalau Hasna belum kembali ke rumah” jawabku.


“Dari pesan-pesannya sudah bapak cek mungkin dia pernah janjian dimana atau mau pergi kemana” aku cuma meliriknya, dari pagi aku hanya makan sedikit badan terasa lemas. Kuberikan hp Hasna pada Aswin “Kamu periksa saja sendiri… mungkin bisa menemukan petunjuk dimana dia sekarang” Aswin langsung mengambil dan terlihat sibuk memeriksa Hp.


“Bapak sudah memeriksa foto-foto yang dikirimkan ini” Aswin menyodorkan beberapa gambar share lock yang dikirimkan oleh Ammera kepada Hasna. Aku menggeleng, pikirku kemarin mereka janjian untuk bertemu karena ada tugas atau lainya.


“Saya cek ya pak di Map… soalnya dalam beberapa pesan mereka seperti janjian untuk mencari sesuatu” Aswin langsung beranjak pergi ke mejanya, aku hanya bisa menyerahkannya pada Aswin untuk mencari informasi. Sejak kemarin aku kurang tidur karena sibuk merapikan kamar Hasna, rasanya istirahat beberapa menit akan mengembalikan energi, semoga bisa bermimpi bertemu dengan Hasna.


Entah berapa lama aku tertidur, tapi cukup membuat pikiranku menjadi lebih ringan dan tenang.


“Win bisa pesankan makan siang” aku lihat sudah jam 3 kurang, pantas saja perut terasa lapar. Kulihat beberapa pesan masuk di Hp selama aku tertidur. Dari Papa Ardy, tampaknya  ada hal yang penting.


“Papa tidak bisa memecat Arcy dari posisi Sekretaris Direksi… Kita hanya punya bukti foto dan tidak menjadi bukti langsung kalau foto kiriman Arcy yang membuat Mitha kena serangan eklampsia”


“Malah bukti hasil visum kalau kamu mencekik Arcy lebih memiliki kekuatan hukum sehingga kamu bisa dituntut”


Aku hanya bisa menarik nafas, sudah bisa diperkirakan. Walaupun kita memiliki saham yang paling besar, tapi ini bukan perusahaan keluarga yang bisa memecat orang karena masalah pribadi. Untuk saat ini jangankan untuk bekerja dengannya, untuk melihatnya saja  malas.


“Paak… tampaknya Bu Hasna mencari apartemen” tiba-tiba Aswin masuk dan membawa beberapa kertas. “Ternyata ini adalah lokasi-lokasi apartemen yang ada disekitar kampus.” Aswin menunjukkan lokasi apartemen. Hmm pintar dia benar-benar tidak ingin ada orang yang mengenalinya.


“Mana lokasinya apartemen yang paling dekat ke kampus tapi lingkungannya nyaman?” semakin kesini aku sudah mengenal selera Hasna dia tidak suka lingkungan yang steril dan kaku, ia pasti akan mencari lingkungan yang family friendly. Aswin kemudian memisahkan beberapa kertas, ternyata ada tiga lokasi yang harus aku cek lokasinya.


“Mana lokasinya?, akan aku lihat sekarang” aku sudah kehilangan minat akan pekerjaan, apalagi setelah membaca pesan dari Papa, baru ku sadari, ternyata selama ini aku bisa bekerja dengan baik dan tenang karena Hasna...hufttt tenang!..semuanya akan baik-baik saja…


Ternyata ketiga lokasi apartemen agak berjauhan tempatnya, sehingga baru jam 9 aku sampai di rumah. Lelah sekali hari ini, aku harus memikirkan bagaimana caranya bisa menemukan dia, semakin dirasa ingin bertemu dan melihatnya semakin menyesakkan dada. Apakah dia merasakan hal yang sama? Bukankan dalam surat kecil yang ia tulis dalam test pack itu dia mencintaiku, apakah perasaan cintanya juga menghilang karena kebenciannya padaku. Bagaimana kondisinya sekarang apakah baik-baik saja? Akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan pesan pada Ammera.


“Malam Ammera.. Aku cuma mau minta informasi apakah Hasna sehat? Aku khawatir dia kelelahan setelah perjalanan kemarin” masih jam 9 lebih mudah-mudahan ia belum tidur. Tidak lama terdengar ada balasan.


“Hasna sehat, Bapak tidak usah khawatir saya akan menjaganya. Berikan waktu untuk Hasna menenangkan diri Pak… Mohon maaf saya tidak bisa banyak membantu”


Aku merasa lega, walaupun dia tidak menceritakan apapun tapi ia memberikan jaminan kalau Hasna baik-baik saja itu sudah cukup bagiku, besok tinggal mencari tahu dimana lokasi dia tinggal sekarang.


Tok..tok…


“Papi aku bisa masuk?” Hujan… anak itu belum tidur?

__ADS_1


“Ya masuk…” dia masuk dengan muka yang terlihat penuh kekesalan, ada apa ini.


“Papi …. Aku minta Papi jujur. Apa Papi dan Buna akan bercerai?” Ini pertanyaan apa lagi kenapa dia berpikir seperti itu


“Ada apa kenapa kamu berpikir seperti itu?” Hujan menunjukkan hp nya dan kulihat dia membuka email dari Hasna.


“Assalamualaikum Kakak… Apa kabar zeyenk? Buna bayangkan Kakak pasti lagi duduk di meja sambil buka-buka youtube, dengerin lagu pake headset… Hmmm kangen sama Kaka to the max.


Hari ini Buna sudah menyelesaikan kegiatan kunjungan akademik Buna senang sekali bisa datang ke sini, negara maju universitasnya memang hebat. Buna berharap nanti Kakak bisa sekolah di luar negeri seperti Papi. Perpustakaannya sangat bagus dan lengkap, sayang bukunya dalam bahasa Kanji jadi Buna gak bisa baca. 


Selama lima hari disini, Buna melihat banyak hal dan belajar banyak hal juga, mereka ternyata bisa maju karena orang-orangnya sangat fokus tidak banyak ngobrol yang gak penting kaya kita. Yah tapi itu memang karakternya, jadi kita tidak bisa menganggap kalau bangsa kita buruk. Bukankah orang Indonesia terkenal karena keramahan dan senyumannya yang tulus. Disini Buna jarang melihat orang tersenyum dan tertawa. Buna merasa sepi dalam keramaian…


Kakak Buna minta maaf, kalau Buna belum bisa pulang sekarang. Buna masih harus belajar dan banyak yang harus diselesaikan. Buna janji akan pulang secepatnya, Buna minta Kakak bersabar dan menemani Ade dulu yah… Buna nanti akan belikan oleh-oleh yang banyak buat Kakak, termasuk merchandise BTS kesukaan Kakak…


Love u always Kaka Hujan


Buna


Dia rupanya sudah mempersiapkan segala hal, sampaikan mengirimkan email pemberitahuan pada Hujan, padahal aku sengaja pulang lebih malam supaya tidak usah menjelaskan pada anak ini.


“Sekarang aku minta Papi jujur… Papi selingkuh sampai Buna pergi dari rumah?” Anak ini selalu saja menganggap aku sebagai pihak yang membuat masalah.


“Kenapa Kakak menganggap Papi sampai sejauh itu?” aku tidak mengerti kenapa dia sampai berpikir seperti itu.


“Beberapa minggu kebelakang Papi selalu marah-marah sama Buna dan dirumah seperti selalu kesal, teman aku cerita kalau Ayahnya juga bersikap seperti itu dulu dan kemudian ternyata selingkuh dengan teman kerjanya dan sekarang orangtuanya bercerai… aku sudah bilang sama Buna tapi Buna gak percaya”


“Sekarang Buna pergi dari rumah… aku tahu alasan pergi ke Jepang hanya supaya tidak bertemu Papi, kemarin-kemarin aku lihat Papi seperti orang yang bersalah dan Buna tidak mau bicara sama Papi… Papi pasti selingkuh dan ketauan” anak ini sepertinya terkontaminasi oleh cerita-cerita di sinetron.


“Papi tidak selingkuh. Papi dan Buna memang sedang ada masalah tapi kami tidak akan bercerai… cuma masalah komunikasi saja” aku tidak tahu harus bicara apa sama anak ini, tidak mungkin menceritakan semua masalah pertengkaran.


“Sekarang Buna dimana?” itu lagi yang ditanyakan… kalau tahu juga sudah ada sekarang di rumah.


“Papi lagi cari… besok kesana” jawabku kesal. Anak ini susah sekali dibohongi.


“Carinya dimana?” ingin rasanya memiliki anak yang penurut dan tidak memaksakan kehendak seperti dia.


“Ada tiga apartemen yang tadi sudah Papi lihat” jawabku pendek.


“Jadi Buna sudah pulang ke Indonesia? Kapan?” aduuuuh anak ini...aku langsung menatapnya kesal.


“Kalau Papi tahu kapan pulangnya Papi gak akan nyari seperti ini pasti langsung menjemput di Bandara” dia langsung duduk di kursi didepanku.


“Kenapa Buna sampai gak mau pulang ketemu kita? Ada masalah apa sama Papi” aku langsung mendengus “Ini urusan orang dewasa, kamu tidak akan mengerti.. Sekarang kamu tidur sudah malam” Dia langsung bangkit dan menyimpan tangannya di meja dan menatapku dengan lekat.


“Besok aku ikut mencari Buna… aku sudah gak percaya lagi sama Papi” aku hanya bisa menggelengkan kepala… siapa yang mengajari anak ini lancang bicara.


***************************

__ADS_1


Maap yaa Mas Reza... kan sudah tahu kalau sifat Kaka Hujan turun dari bapaknya kalau mukanya mirip ibunya jadi jangan banyak protes. Ini juga deterzen jangan banyak protes... bulan Desember itu masa-masa laporan project, ceu author sibuk bikin laporan... dunia halusinasi mohon bersabar yaaa...


***************************


__ADS_2