
Aswin yang baru datang dari lantai tiga tersentak mendengar teriakan yang saling bersahutan dari ruangan Reza. Ia tahu kalau itu adalah suara Hasna dan Reza, ia sudah merasakan gejala tidak beres saat melihat Arcy menyusul Reza ke lift untuk mencari Hasna, tapi karena ada dokumen yang harus segera diserahkan kepada pihak vendor ia harus bertemu langsung dengan manager bagian pengadaan.
Ia langsung tercekat saat melihat Hasna yang keluar dari ruangan Reza dengan penuh airmata dan muka yang pucat, belum pernah ia melihat perempuan itu dengan tatapan putus asa seperti ini. Hasna hanya menatap Aswin dengan nanar, kepalanya rasanya berdengung terasa kosong sehingga ia seperti orang linglung.
“Mas Aswin…. Aku orang bodoh” Hasna tersenyum getir sambil berjalan, Aswin langsung menahannya jangan sampai ia masuk lift dalam kondisi seperti ini. Apalagi kalau sampai bertemu dengan Arcy atau Prita, ia langsung menarik Hasna berbalik menuju toilet di ujung lantai sembilan. Hasna mengikuti dorongan tangan Aswin dengan langkah gontai tidak menolak seperti orang yang bingung.
“Mbak Hasna… kalau mau pulang ada baiknya membersihkan muka dulu supaya terlihat lebih segar” Hasna memandang Aswin dengan bingung, mukanya seperti yang tidak mengerti kenapa ia harus melalukan itu. “Hmmm saya tunggu diluar sini… jangan khawatir” Aswin mengetuk pintu toilet memastikan tidak ada orang di dalam, toilet itu memiliki dua bilik sehingga perlu dipastikan tidak ada perempuan lain di dalam. “Kosong … masuk dulu bersihkan mukanya supaya tidak terlihat berantakan dan habis menangis”
“Habiss menangis?” Hasna masuk ke dalam toilet dengan gontai, lama tidak terdengar suara tapi kemudian Aswin tiba-tiba mendengar suara tangisan dari dalam. “Aaaaaaaaahhhh Mamaaaa…...maaamaaaaa” Aswin belum pernah mendengar suara perempuan dewasa yang menangis begitu sedih memanggil manggil Mamanya. Aswin melirik kekiri khawatir ada orang yang akan masuk ke toilet. Tak lama ia kemudian mendengar suara perempuan yang muntah, ia langsung masuk ke dalam.
“Mbak Hasna tidak apa-apa?” ia melihat Hasna sedang membungkuk ke wastafel, rupanya akibat menangis terlalu keras perempuan itu jadi muntah pikir Aswin. Ia langsung membawakan tissue untuk dipakai Hasna, yang masih terisak. “Ada baiknya sekarang Mbak Hasna segera pulang sebelum sakit saya akan panggilkan Pak Agus” ia kemudian bergegas keluar untuk mengambil handphone. Hasna berjalan mengikuti Aswin tampak bingung seperti anak ayam kehilangan induk tapi saat melewati ruangan Reza tiba-tiba muka Hasna langsung tegang. Ia langsung berjalan ke lift.
Aswin yang melihat Hasna ke lift langsung mengejar, “Mbak Hasna mohon ditunggu sebentar, saya sudah meminta resepsionis untuk meminta Pa Agus segera ke Lobby” Hasna seperti tidak mendengar, kebetulan saat ia memijit lift langsung terbuka sehingga langsung masuk. Aswin langsung panik, resepsionis belum memberikan jawaban konfirmasi ia langsung berlari mengejar menuju lift khawatir kalau di Lobby orang akan mengenali istri GM dalam kondisi menangis, dengan perasaan tidak sabar Aswin memijit-mijit tombol lift. Akhirnya ia bisa turun, di kejauhan ia bisa melihat Hasna berjalan keluar seperti orang yang putus asa dengan tas yang terjulur ke lantai.
“Mbak… mana pak Agus” Aswin berteriak pada resepsionis di depan, “baru jawab barusan Pak katanya tadi makan siang, sekarang sedang mengambil mobil dulu di basement” Aswin langsung mengejar Hasna ke depan, Aswin langsung membelalak melihat Hasna menghentikan taksi dan sudah masuk ia langsung berlari dan memanggil satpam memberikan tanda untuk menghentikan taksi.
“Mba Hasna” Aswin langsung membuka pintu penumpang tapi terkunci. Ia langsung membuka pintu penumpang depan. “Mbak… Pa Agus sedang mengambil mobil di basement… mohon turun dulu” Aswin memberikan tanda kepada supir taksi yang terlihat bingung. “Pakk… jalan saja saya sudah ingin pergi sekarang” Hasna memberikan perintah dengan lemah. “Maaf ini bagaimana..” supir taksi terlihat bingung. “PAK JALAAAAAN” tiba-tiba Hasna berteriak histeris. Aswin dan supir taksi langsung kaget, “Astagfirullah… iya mbaa… hadeuuuh kok tiba-tiba teriak bikin kaget” supir taksi langsung memasukan gigi mobil. “Mas… tutup pintunya kalau mau masuk.. Kalau engga turun aja… saya takut nanti teriak lagi” supir taksi tampak panik.
Aswin yang masih syok mendengar teriakan Hasna langsung masuk dan duduk, ia tidak menyangka kalau Hasna bisa histeris seperti itu. Saat meraba sakunya Aswin langsung panik, handphone nya tertinggal di meja, tadi sedang ia charge. Bagaimana ia bisa menghubungi orang-orang di kantor kalau saat ini ia sedang menemani Hasna di taksi. Perhatiannya langsung teralihkan kembali mendengar tangisan Hasna di belakang. “Heeuuuuuuuu...heuuuuu...heuuuuuu” suara tangisan Hasna terdengar menyayat hati. Ia hanya bisa bertatapan dengan supir taksi yang tampak sama-sama bingung.
“Hmmmm…. Ini ada tissue mba di atas kalau perlu” supir taksi berusaha memecah kesunyian karena hanya terdengar suara isakan di belakang. “Maaf ini mau kemana yaaa… saya belum dikasih arah tujuan” supir taksi baru ingat kalau ia belum menentukan arah. “Ke Kompleks Ligamas Pak” Aswin langsung menetapkan tujuan rumah Reza. “JANGAN KESANA…. SAYA TIDAK MAU PULANG KESANA” kembali Hasna berteriak, supir taksi langsung kembali tersentak mereka berdua langsung bertatapan. “Jaaaangan Mas… diikutin aja… bahaya kalau lagi ginih gak diikutin” supir taksi yang usianya terlihat sudah tua memberikan kode pada Aswin untuk tidak melawan, Aswin hanya mengangguk lemah, ia bingung harus gimana.
“Saya puter-puter dulu saja yaaa di daerah yang banyak pohon biar adem perasaan” supir taksi mencoba menarik simpati Hasna yang hanya menyenderkan kepalanya ke pintu mobil dan memejamkan matanya. “Kenapaaaa…. Bertengkar sama istri Mas?” supir taksi berbisik kepada Aswin yang langsung menggelengkan kepalanya. “Beliau bukan istri saya Pak.. istri bos” supir taksi langsung membelalakan matanya.”Waduuuh istri bos datang ke kantor trus nangis… itu sih alamat ngeliat bos nya lagi anu-anuan sama sekertarisnya” Aswin langsung mendengus kesal.
“Pakkk bicaranya dijaga…” belum selesai Aswin bicara Hasna sudah kembali menangis, ucapan supir taksi tadi mengingatkannya pada lipstik di baju dan bibir Reza “Heuuuuuuu….heuuuuuu.. Maamaaaa” supir taksi langsung terlihat kesal. “Tuhh betul perkiraan saya… wahhh bosnya kurang ajar… ini istri segitu cantik dan mudanya masih main-masih sama sekertaris…. Wong edan… sedih saya dengernya juga” dia terlihat kesal dan memandang Aswin dengan pandangan menuduh.
__ADS_1
“Jangan membela mentang-mentang bosnya situ… saya punya anak perempuan bisa merasakan perasaan teraniya kalau anak saya diperlakukan seperti itu” supir taksi sepertinya betul-betul berempati dengan Hasna. “Sudaaaah Mba wis jangan dipikirkan…. Rugi sampeyan nangisan laki-laki bledos kaya gitu… sampeyan masih cuantik muda… masih banyak yang mau… jangan karena hartanya banyak trus sampeyan mau dienyek-enyek sampai nangis kaya gitu…. Jangan nangis rugiiiii…” supir taksi berbicara dengan suara yang meyakinkan kepada Hasna, Aswin hanya bengong melihatnya.
“Ingeet… sampeyan dibesarkan sama Bapak Ibu supaya jadi manusia yang bergunaa… disekolahin supaya pinterrrr…. Dikasih makan supaya sehat dan bisa cantik kaya sekarang…. Dari laher sampai gede seperti ini… siapa yang ngegedein….bapak ibu sampeyan bukan orang lain… jadi jangan sedih sama orang lain yang gak kenal sebelumnya…. Kalau sampeyan mau nangis yang boleh bikin nangisss ya bapak ibunya…. Bukan sama laki-laki yang bergunaaa” supir taksi masih terus menghibur Hasna.
“Nahhhhh getooh jangan nangis … sayang toh air mata dihabisin buat nangisin buaya… ini minum air dulu… saya belum buka baru beli tadi… minum supaya air matanya ngisi lagi…. Sudah yaaa jangan nangis lagiii… Bapak juga punya anak perempuan sebesar mbak… iki kok hatene jadi kebawa sediiih denger Mbaknya nangis… nanti Bapaknya si Mbak di rumah jadi kerasa ikut sedih” supir taksi memberikan air mineral kepada Hasna untuk diminum, tapi saat mendengar ucapan supir taksi Hasna malah menangis lagi “Ayaaaaaaaaahhhhhh…. Ayaaaahhhh….” supir taksi langsung kaget. “Ealaaah malah inget sama bapaknya… salah ngomong aku” supir taksi memukul bibirnya merasa salah.
“Sudah pakkk… biarkan dulu” Aswin akhirnya berusaha menengahi. “Iku mbaknya sampun makan belum Mas… supaya gak nangis terus harus diajak makan saja, keliatane mukanya pucet belum makan” supir taksi melirik Hasna dari spion mobilnya. Aswin langsung menyadari kalau siang ini ia juga belum makan. “Saya juga belum makan Pak sampai lupa” supir taksi langsung melirik sinis pada Aswin. “Kamu gak makan seharian juga gak akan apa-apa toh Mas gak bakalan sakit” Aswin langsung melengos, supir taksi itu hanya memperhatikan Hasna.
“Di depan itu ada tempat makan yang enak kayanya Mas… banyak orang suka kesana, kalau jam segini biasanya gak terlalu penuh” supir taksi menunjukkan restaurant yang ada di depan. Aswin terlihat bingung ia tidak tahu apakah Hasna mau makan atau tidak. “Mbaakk… pasti belum makan kan… makan dulu yaaah nanti sakit lagi… kasian orangtua mbaknya kalau sakit… saya suka sedih kalau anak saya sakit…. Makan yaaa nduk…” supir taksi berusaha membujuk Hasna.
“Nanti biasanya kalau perut sudah diisi perasaan bakalan lebih tenang...lebih bisa berpikir jernih yaaa… makan dulu yaaa nanti bapak tungguin sampai beres makan … nanti bapak anterin mau kemana” Hasna tersenyum sedih. “Makasih yaaa Pak… maaf jadi merepotkan… ini maaf tissuenya jadi habis sama saya” dengan serak Hasna menjawab. “Bapak jangan nungguin nanti bapak capek… saya gak apa-apa kok” Hasna mencoba tersenyum lebar, tapi bibirnya seperti sulit untuk tersenyum terasa berat ditambah dengan mata yang bengkak.
“Ini pak…” Aswin menyodorkan uang dua ratus ribu ke supir taksi yang langsung ditolak. “Ehhh ndak usah gak apa-apa Bapak ridho nganterinnya… ndak apa-apa” ia masih menolak. Aswin langsung memaksa “ambil pak sudah rezeki bapak… matur nuwun yaa Pak”. Aswin langsung membuka pintu penumpang untuk mengajak Hasna keluar dari taksi. “Dijaga yaa Mas… anggap sama adik sendiri, jangan sampai ada knapa napa” supir taksi masih mewanti-wanti soal Hasna kepada Aswin yang langsung mengangguk dengan hormat. Jarang sekali ada orang yang sangat peduli pada orang yang asing dengannya.
Hasna berjalan pelan mengikuti Aswin di belakang, matanya seperti akan menutup karena bengkak, ditambah dengan perasaan mengantuk yang datang tiba-tiba. Aswin meminta kursi yang agak private dan tidak terlalu terlihat dari orang banyak. Ia terus mengarahkan Hasna untuk mengikutinya. Begitu sampai di kursi ternyata posisinya lumayan tersembunyi dan Hasna bisa menyenderkan kepalanya ke dinding.
“Saya pesankan orange hangat dan makanan pasta dan krim sup yaa kayanya enak” Aswin menawarkan beberapa pilihan makanan. Hasna hanya melirik ke daftar menu “Sama pizza…” ia menunjuk pizza yang terlihat menggiurkan. “Owh iyaa hahaha betul juga ini katanya best choice.. Pintar bisa tahu aja makanan yang enak.. Sebentar yaa saya pesan dulu. Aswin langsung berdiri memanggil waiter datang menuliskan pesanan mereka.
“Mbak Hasna bisa menunggu disini dulu yaa sebentar saya mau ke pertokoan di depan sambil menunggu makanan… bisa?” Aswin menatap Hasna dengan permohonan. Hasna menatap lemah dan mengangguk. Ia langsung berdiri dan kemudian berbicara pada waiter sambil menunjuk Hasna yang tidak peduli dan hanya menyandarkan kepalanya ke dinding sambil memejamkan mata. Hari ini ia merasakan kelelahan yang amat sangat baik batin maupun fisiknya, Hasna tertidur dan terbangun saat Aswin telah datang kembali dengan membawa kantong kertas di tangannya
“Saya beli kacamata di depan supaya tidak terlihat bengkak matanya, dan ini ada masker supaya mukanya tidak terlihat sembab juga... kita seperti sedang undercover yaa”. Aswin menyodorkan kacamata berbingkai tebal dan masker yang ia beli dari pertokoan di depan. “Ini lemon juice nya gak diminum.. “ Aswin mendekatkan minuman yang sudah diantarkan. Hasna hanya melirik, “Aku mau minum hot choclate yang itu boleh?” rupanya ia lebih tertarik pada minuman yang dipesan Aswin. “Ohhh boleh-boleh ..ternyata kesukaan kita sama” Aswin langsung menukarkan minumannya.
“Saya dulu suka sama Mas Aswin orangnya suka tertawa dan tersenyum.. Saya suka takut kalau dulu ke lantai sembilan, tapi kalau ingat ada Mas Aswin saya jadi berani” ucap Hasna pelan. “Hahahah oya saya baru tahu… pantesan saya lihat kalau Mbak Hasna ke lantai sembilan suka keliatan takut makanya saya ajak ketawa” tiba-tiba Aswin teringat akan dosa dia dulu membuat skenario membohongi Hasna agar membuat cerita untuk Reza.
“Hmmm Mbak Hasna saya mau minta maaf dulu saya pernah membohongi Mbak Hasna waktu bekerja tentang kesalahan yang dibuat untuk TOT sehingga Mbak Hasna harus membuat cerita untuk Maura selama satu minggu” Aswin menunduk ia selalu ingat membuat skenario gagal yang membuat Hasna menangis dimarahi Reza. Hasna memandang Aswin dengan pandangan tidak mengerti. “Saya minta maaf sebetulnya pekerjaan Mbak Hasna tidak ada masalah, tapi Pak Reza membutuhkan cerita dari Mbak Hasna karena Maura meminta cerita terus” dengan perasaan bersalah Aswin menatap Hasna.
__ADS_1
Hasna menghela nafas, ia ingat sekarang saat dimarahi oleh Reza kedua kalinya dengan alasan TOT yang dibuatnya asal. Airmatanya kembali mengalir, perasaan kesal dan sedih yang dulu pernah muncul kembali terekam dalam memorinya. “Heuuuuuuu...heuuuuuuu” Hasna kembali menangis. Aswin langsung kaget, ia sama sekali tidak berniat untuk membuat Hasna menjadi sedih kembali. “Maaf...aduuuuh maaf saya sama sekali tidak bermaksud membuat Mbak Hasna sedih… aduh maaf” Aswin memegang meja dengan erat, ia betul-betul bingung.
“Aku memang orang bodooooh… selalu dibohongin sama orang..heuuuuuu” Hasna kembali menangis. “Ehhhh justru karena Mbak Hasna pintar bercerita membuat orang jadi sangat tergantung dan membutuhkan Mbak Hasna… Pak Reza sama sekali tidak bisa bercerita jadi dia membutuhkan Mbak Hasna untuk bisa terus bercerita untuk Maura” Aswin mencoba menghibur dan menguatkan.
“AKU GAK MAU BICARA SOAL ORANG ITU…. JANGAN SEBUT SEBUT NAMA DIA” tiba-tiba Hasna berteriak, Aswin langsung terlonjak kaget, waiters yang sedang menuju meja dan mengirimkan makanan hampir saja terjengkak karena kaget akan teriakan Hasna. “Ma...maaf Pak ini makanannya” sambil menunduk dan melirik Hasna diam-diam ia menyimpan pizza dan krim sup di meja. “Tinggal pastanya ya Pak ...mohon ditunggu” dengan penuh kehati-hatian dia bergerak meninggalkan Hasna dan Aswin, teriakan Hasna membuatnya menjadi waspada.
“Hmmm sekarang makan dulu… ini pizza nya memang terlihat enak” Aswin menyodorkan pizza kedepan Hasna yang tampak penuh dengan amarah dan kekesalan diantara linangan air mata dipipinya. Hasna langsung mengambil satu potong pizza dan dimakan dengan lahap. Jam sudah menunjukkan dua empat puluh menit jadi sangat wajar kalau ia sudah sangat merasa lapar. Hasna makan dengan kecepatan penuh, setelah habis dua potong pizza ia langsung mengambil krim sup dan memakannya dengan cepat, Aswin yang baru menghabiskan satu potong pizza hanya bisa memandangnya dengan prihatin, rupanya dari tadi perempuan ini sudah kelaparan pikirnya. Mereka berdua makan dalam diam, diliriknya minuman cokelat panas sudah habis diminum Hasna.
“Mau pesan minum apa? Cokelatnya sudah habis?” Hasna menggelengkan kepala tapi ia melirik pada orange juice yang diminum Aswin. “Saya pesankan orange juice juga yaa, enak segar dan manis tidak memakai gula” ia langsung memesankan minuman tambahan. Saat pasta datang Hasna langsung memakannya tanpa banyak bicara, semuanya seperti digelontorkan ke dalam perutnya tanpa dikunyah lama, Aswin hanya memperhatikan dengan diam betapa cepatnya Hasna makan, ia baru habis setengahnya saat Hasna sudah menghabiskan makannya.
“Mau pesan apa lagi Mbak” Aswin langsung menawarkan buku menu, Hasna langsung melirik tajam dengan tatapan marah “Saya bukan sapi yang bisa makan terus tidak berhenti… saya mau pu..lang” Hasna tercekat saat menyebutkan kata pulang. “Aku gak punya rumaahh….” air matanya langsung keluar kembali mengalir. Aswin langsung mengambil tissue, dia khawatir Hasna kembali berteriak. “Rumah Mbak Hasna kan di Jakarta dengan Pak....ehmmmm” dia bingung harus berbicara apa, ia tidak boleh menyebutkan kata Reza atau nanti akan ada ledakan lagi. “Itu bukan rumah akuuu…. Itu rumahnya Mbak Mitha… aku mau pulang kemana?” Hasna terlihat bingung, air matanya terus mengalir.
“Aku mau pulang ke Bandung..” tiba-tiba Hasna menatap Aswin yang langsung kaget. “Ehhh ini sudah sore Mbak mau sebentar lagi malam, saya khawatir kalau Mbak Hasna pulang sekarang yang di rumah akan bingung… orangtua pasti akan sedih melihat Mbak Hasna sekarang” sebetulnya Aswin bingung bagaimana kalau Hasna betulan nekad pulang ke Bandung. “Maura dan Hujan pasti sekarang sedang menunggu Mbak Hasna di rumah” Aswin melihat jam tangannya sudah jam 3 lebih. “Kita belum sholat dari tadi sampai terlewat sholat dhuhur”. Hasna menghela nafas mukanya seperti terlihat kebingungan. Tiba-tiba ia langsung berdiri, Aswin langsung meloncat kaget.
“Mau kemana Mbak..” Hasna meloyor pergi “Aku mau pulang ketempatku” ia pergi meninggalkan Aswin, “Sebentar Mbak saya membayar makanan dulu” ia langsung berlari menuju kasir, sesekali melihat Hasna yang sudah berjalan keluar. “Mbaa ini kembaliannya silahkan ambil… tapi tolong telepon no hp ini bilang hp saya tertinggal di kantor dan saya saat ini sedang menemani istrinya” Aswin langsung berlari meninggalkan kasir ia khawatir Hasna pergi meninggalkannya dan ia tidak tahu kemana perempuan itu pergi.
Dan betul saja Hasna sudah menghentikan taksi, Aswin langsung berteriak-teriak “Mbak… tunggu..” Hasna langsung masuk dan menutupkan pintu,
“Mbaaak….”
Lari Mas Aswinnnn…. gak kekejar bakalan menghilang dari dunia persilatan Hasnanya...
__ADS_1