Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Modus Ramalan Garis Tangan


__ADS_3

Malam itu Hasna memutuskan tidur lebih cepat, perasaannya campur aduk, seperti habis naik roller coster. Ada perasaan kaget, berdebar, takut, senang dan malu bercampur menjadi satu. Pantas saja teman-temannya dulu suka bilang jangan pernah memulai melakukan kontak fisik dengan lawan jenis, nanti akan susah untuk berhenti.


Mulai dari pegangan tangan, habis pegangan tangan peluk, habis peluk cium pipi, dan sekarang sudah cium bibir. Dan ini kenapa bibir terasa bengkak, Hasna memang paling mudah terkena alergi, kadang-kadang tidak jelas pemicunya tapi yang paling sering alerginya mudah kambuh kalau dia sedang datang bulan. Dulu dokter bilang pengaruh hormonalnya besar, tergores sedikit saja akan bengkak dan gatal.


Malam ini Reza yang akan menemani Maura tidur karena Maura merasa lama ditinggalkan Papinya, dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Hasna untuk tidur lebih awal. Rasanya badannya seperti remuk mungkin karena menstruasi hari pertama, pas akan sholat magrib eh ada flek. Setelah makan malam Hasna langsung masuk ke kamar dan menikmati masa tenang di kamar sendiri.


Ternyata memiliki anak itu seperti kehilangan identitas diri, tidak ada lagi waktu untuk diri sendiri. Hanya saat mandi saja yang bisa sendirian, itu pun masih suka diketok-ketok dan ditanya masih lama tidak. Sudah hampir 3 minggu menjadi ibu dan langsung tancap gas mengurus semuanya sendiri. Kalau dipikir-pikir aneh juga tidak ada masa transisi sama sekali, untung aja Hasna tidak mengalami jetlag atau mungkin tidak diberikan kesempatan untuk jetlag.


Hasna sudah masuk di langit ke 5 saat dirasakannya ada pergerakan di kasur, ada yang memegang dahinya dan kemudian menyentuh bibirnya. Hasna tidak pernah tidur dalam kondisi kamar yang gelap total, ia terlalu takut untuk tidur sendiri. Perlahan dibukanya mata dan tampak Reza yang sedang duduk disamping tempat tidurnya.


“Sudah tidur?” Reza masih belum melepaskan tangannya dari dahi Hasna


“Hmmm… ada apa Mas? Maura mau ditemani aku?” Hasna mencoba untuk bangun tapi matanya masih seperti menempel kena lem.


“Gak anak-anak sudah tidur kok, aku cuma mau ngecek kamu aja, tadi yang terantuk meja masih sakit gak kepalanya?” Reza mengusap-usap jendolan di kepala Hasna.


“Engga apa-apa.. Sakit kalau ditekan tadi aku udah kasih salep buat benturan besok juga udah kempes lagi” Hasna mengusap-usap benjolan di dahinya.


“Mau ada apa lagi? Aku ngantuk” Hasna berusaha membuka matanya yang masih terasa terpejam.


“Itu bibir kenapa masih bengkak juga, perasaan tadi ciuman aku gak kencang-kencang amat, nyedot dikit wajar lah” Reza tertawa melihat ujung bibir Hasna yang terlihat bengkak seperti digigit nyamuk.


“Aku tuh kalau lagi mens trus kena benturan atau goresan suka alerginya kambuh...udah ahh jangan diliatin terus aku tuh malu” Hasna langsung berbaring dan menutup kepalanya.


“Hahahaha… ya udah aku gak akan ganggu cuma mau ngobrol aja bentar”


“Coba kamunya geser dikit” Reza mendorong tubuh Hasna untuk bergeser memberikannya ruang di tempat tidur.


“Mau ngapain? aku lagi mens… gak boleh ngapa-ngapain kalau lagi mens” Hasna langsung membuka selimut yang menutupi kepalanya.


“Siapa yang mau ngapa-ngapain.. aku kan cuma mau ngobrol sambil berbaring sama kamu, masa gak boleh” Reza memaksa menggeser tubuh Hasna, terpaksa Hasna langsung bergeser karena tidak ingin berhimpitan dengan Reza.

__ADS_1


“Selama dua minggu kebelakang gimana ada kesulitan gak dengan anak-anak?” Reza berbaring miring dan menatap Hasna yang tidur terlentang dengan selimut menutup penuh tubuhnya hanya terlihat kepala saja di bantal.


“Engga.. Semuanya baik-baik aja, Kaka Hujan baik gak neko-neko cuma gak pernah cerita apa-apa. Aku baru sadar gak banyak tahu tentang Kaka waktu tadi mau kesekolah, aku gak tau dia kelas apa dan alamat sekolahnya dimana”


“Aku gak tau teman dekatnya siapa dan dia itu suka apa”


“Kemarin lebih banyak ngobrolin soal main gitar, cordnya trus soal sekolahan di Bandung, kalau aku tanya soal teman-temannya dia kaya yang ngehindar gitu… jawabnya yahhh gitu deh”


“Hee memang dia seperti aku gak akan banyak cerita kalau merasa belum kenal” jawab Reza


“Kalau Maura gimana?”


“Anak koala itu mah jangan ditanya, nempel trus namplok. Gak bisa gak keliatan pasti dicariin”


“Padahal lagi asyik nonton tv begitu ada iklan atau selingan acara langsung celingukan teriak-teriak… Buna...bunaaa kemana”


“Mandi juga masih aja diketokin, kadang akhirnya mandi bareng”


“Beruntung kenapa?” Hasna bingung


“Bisa mandi bareng kamu, aku tidur bareng juga belum” Reza langsung tersenyum.


“Ihhhh apaan sih, ya udah ga usah diterusin lagi cerita anak-anaknya” Hasna langsung menutup selimut dan membalik membelakangi Reza.


“Ahhh kamu tuh gampang ngambekan banget sih digodain dikit juga, kalau ngegodain orang lain suka, tapi digodain suka gampang ngambek” Reza menarik pundak Hasna agar berbalik kembali.


“Tau ah..sebel” Hasna masih jual mahal


“Kalau ngebelakangin gitu terus aku tuh suka pengen meluk dari belakang jadinya” Reza mulai hapal dengan sifat Hasna, tidak bisa dipaksa malah suka berontak, tapi kalau dibujuk atau pura-pura kondisi melemah dan teraniaya Hasna akan cepat berbalik arah.


“Ehhhh … mau diterusin gak ceritanya… makanya jangan suka motong cerita gak perlu” Hasna langsung berbalik. Hari itu ia sudah tidak mau lagi naik roller coster.

__ADS_1


“Hehehe ya terusin sampai aku ngantuk” Reza menarik nafas panjang dan memandang Hasna yang asyik bercerita dengan penuh semangat apa yang dilakukan oleh Maura setiap hari. Rasa ngantuk Hasna menjadi hilang karena fokus dengan cerita membuat kue dengan Maura sehingga mengisi toples biskuit hingga penuh dan langsung habis saat Kakak Hujan pulang.


Reza POV


Perempuan ini bercerita dengan penuh semangat tentang Maura dan Hujan tanpa terlihat terbebani, padahal dia baru mengenal mereka kurang dari 2 bulan kebelakang. Bibirnya tampak lucu sedikit bengkak karena ciumanku tadi, kalau saja tadi tidak ada anak-anak ingin rasanya memeluk lebih lama lagi. Mukanya terlihat sangat malu saat memegang tangan, aneh kok bisa ada perempuan yang tidak pernah memegang laki-laki sebelumnya. Dia tidak pernah pacaran padahal kalau aku lihat mukanya sangat menarik, dan banyak juga laki-laki yang terlihat tertarik padanya.


Aku tidak mau membuatnya ketakutan karena itu kita berdua memang harus mengenal lebih dahulu, terutama Hasna yang harus terbiasa dengan kedekatan fisik. Dia masih gampang terkejut kalau disentuh pada bagian tertentu di tubuhnya. Memang harus sering disentuh kalau seperti ini. Perlahan ku pegang tangannya yang berada di luar selimut.


“Ehh… “ dia langsung kaget dan berusaha menarik tangannya.


“Daripada refleksi bikin sakit, mending kamu aku ajarin tentang ramalan dari garis tangan” ku pegang tanggannya yang sebelah kiri.


“Tangan yang mana yah, soalnya tangan kanan sering dipakai beraktivitas jadi banyak garis baru yang bukan bawaan dari asal”


“Mas Reza bisa meramal dari garis tangan?” matanya langsung terbelalak tidak percaya


“Hmmm yaa aku dulu belajar dari teman orang India yang pernah kuliah Astrologi, jadi ilmu ramalan ini katanya berasal dari India, Cina dan Israel Kuno”


“Ilmu meramal garis tangan itu disebut Palmistry” kurasakan badannya mendekat kearahku tanpa harus ditarik, hmmm iya aku lupa dia lebih mudah mendekat kalau membicarakan sesuatu yang menyenangkan untuknya.


“Palmistry… mungkin dari kata palm yah telapak tangan” matanya menatap penuh dengan rasa ingin tahu, hufffft rasanya ingin menciumnya lagi.


“Jadi ada yang bilang harus dilihat dari tangan yang paling dominan, kalau perempuan itu tangan kanan sedangkan laki-laki tangan kiri”


“Mana tangan kanannya?” Ia langsung menggeser memberikan tangannya kepada Reza tanpa banyak bicara, sekarang badannya sudah menempel ...hehehe dasar perempuan lugu.


“Telapak tangan kamu itu bentuknya oval dan jari-jarinya panjang jadi kamu masuk pada kategori tangan air, orang dengan tangan air cenderung sulit mengendalikan diri saat stress, dia akan lebih banyak mengikuti perasaannya daripada berpikir logis, kemudian dia tidak suka pada situasi konflik serta memiliki sifat yang artisitik.


“Haaaaahhh… kok bener sih Mas… ahh keren-keren. Aku paling gak bisa stress, suka panikan kalau stress, trus kalau ribut sama temen suka ngehindar. Trus aku tuh senang sama musik dan ngegambar atau bikin video animasi” mukanya langsung penuh kekaguman, badannya langsung miring dan menatapku seperti melihat dewa yang turun dari langit.


“Terusin lagi… aku mau denger” haduuuuh ini dada nya malah nempel lagi ke tangan, bikin susah konsentrasi.

__ADS_1


Haduuuh lanjutin jangan ini…. Kok jadi ikut degdeg an


__ADS_2