
Sepanjang perjalanan Hujan tidak berbicara sedikitpun, sebetulnya secara karakter sikap Hujan hampir sama seperti Reza, tidak banyak bicara dan cenderung tertutup. Itu sebabnya dibutuhkan orang yang mampu menjadi mediator diantara mereka berdua, dan Hasna menjadi orang yang paling bisa berkomunikasi diantara keduanya.
Perjalanan ke Lippo Mall memakan waktu 30 menit, saat tiba di parkiran Reza baru terpikir dimana mereka akan bertemu dengan Hasna.
“Kita janjian ketemuan dimana?”
“Aku yang mau ketemuan, tadi Buna gak bilang mau ketemu sama Papi” Hujan menjawab dengan cemberut ia masih kesal dengan sikap Papinya tadi siang.
“Kamu tuh kenapa sih Ka… nanti kalian pulang gimana kalau sudah malam” Reza mencoba mencari alasan untuk bisa bertemu.
“Ada Om Angga, lagian belum tentu juga Buna mau bertemu dengan Papi” Hujan kemudian keluar dari mobil meninggalkan Reza. Ia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anaknya yang sudah betul-betul berkiblat pada Hasna.
Reza mengikuti Hujan dari belakang, ia sudah tidak mau lagi berargumentasi dengan putrinya, semua yang dikatanya pasti salah. Dan Reza menyadari kalau sikapnya siang tadi memang keterlaluan pada Hasna dan anak-anaknya menyadari itu.
Saat lift berhenti di lantai 3 Hujan keluar dari lift dengan tergesa, Reza segera mengikutinya. Dalam hati ia ingin sekali marah pada putrinya, tapi saat ini ia sama sekali tidak memiliki nilai tawar. Bisa tahu dimana posisi Hasna saja Reza sudah sangat bersyukur.
Ternyata Hujan masuk pada Arena Permainan Keluarga, karena hari ini Malam Minggu jadi cukup ramai dipenuhi oleh keluarga dan pasangan muda yang tampak mencari hiburan. Mata Reza harus awas memperhatikan pergerakan Hujan karena tadi meleng saja sebentar langsung menghilang. Ternyata Hasna di lokasi tempat bermain Basketball dengan ditemani Angga. Saat Hujan menghampiri Hasna, Angga tampak mengedarkan pandangannya mencari seseorang, rupanya ia mencari Reza.
“Sudah lama?” tanya Reza, Angga mengangguk
“Ya dari setelah magrib, dia pengen main ke Time**ne katanya tadi” Angga memandang dengan penuh pengertian pada adiknya yang masih melanjutkan battle basket dengan Hujan.
“Maaf jadi merepotkan kamu” Reza mengucapkan dengan nada rendah ia merasa malu bertemu kembali dengan Angga saat adiknya sedang sedih.
“Tadi dia tiba-tiba telepon, untung aku lagi di Jakarta, coba kalau lagi di Bali mau kemana dia” Angga mengucapkan dengan kalimat pendek dan tajam.
“Gak ada angin ga ada apa tiba-tiba datang ke kantor dengan pakaian seperti itu, teman-teman semuanya jadi ribut, disangkanya aku punya pacar, begitu ku bilang adik malah makin ribut gangguin dia” bisa dibayangkan kalau kantor Angga adalah Perusahaan Arsitektur yang banyak pegawai laki-laki daripada perempuan.
Reza hanya diam melihat Hasna yang tertawa-tawa dengan Hujan, tidak tampak muka sedih seperti tadi siang. Dia memakai jaket Angga kayanya karena terlihat kebesaran tapi paling tidak menutupi tangannya sehingga tidak terlalu menarik perhatian.
“Hasna gak biasa dimarahi, terakhir dia dimarahi sama Ayah gara-gara berbohong karena menginap di kampus. Kebetulan aku libur jadi disuruh jemput pagi-paginya ternyata dia bukan menginap di rumah temannya malah di ruang himpunan banyakan dengan teman-temannya” tiba-tiba Angga membuka pembicaraan, rupanya Hasna sudah bercerita pada kakaknya.
"Maaf tadi saya memang memarahi dia" ucap Reza pelan.
“Hehehe sama aku juga dulu marahi dia… ehh ada anak laki temannya membela main nyolot langsung aku hajar … menyebalkan soalnya gayanya”
“Iya masih menyebalkan sekarang juga” jawab Reza, Angga langsung menatap Reza
“Maksudnya laki-laki yang tadi Hasna ceritakan tadi Arkhan teman kuliahnya dulu?” Angga langsung kaget.
“Hahahahahhaa…. Pantesan...anak itu gayanya memang menyebalkan …” Angga langsung memahami kenapa Reza marah-marah.
“Ya tadi saya salah juga marahnya agak berlebihan” Reza menarik nafas dia bingung bagaimana harus mulai menyapa Hasna, yang tampak tidak memperdulikan dirinya dengan Angga.
“Dia kalau sakit hati suka lama, aku juga sampai dicuekin lama sama dia, gak ditanya gara-gara aku ngadu ke Ayah”
“Yang paling parah si Ayah dimarahin sama Mama dan Tante Ai… hahahaha” Angga jadi ingat bagaimana Ayah menjadi musuh keluarga gara-gara memarahi Hasna
“Ya saya juga sekarang dimarahi Hujan dan Mama di rumah, belum nanti kalau Maura bangun dan tidak menemukan Bunanya” Reza menarik nafas, dia bingung bagaimana caranya berbaikan dengan Hasna.
“Aku pulang duluan sekarang, masih ada kerjaan yang belum selesai di kantor”
“Hasna anaknya sensitif, dia sudah peka dalam segala situasi kecuali pada laki-laki. Dia gak pernah ada hubungan spesial dengan siapapun karena saya selalu menjaga dia... khawatir dipermainkan laki-laki”
“Termasuk kalau sekarang. Walaupun dia sudah berumahtangga saya akan selalu menjadi kakaknya. Kalau ada orang bilang darah lebih kental daripada air. Untuk saya darah lebih kental daripada ikatan pernikahan Mas” Angga menepuk-nepuk pundak Reza. Walaupun nadanya terdengar bersahabat tapi Reza tahu kalau ucapan Angga adalah mengingatkan ia untuk tidak mempermainkan adiknya.
“Jangan khawatir saya tidak pernah bermaksud untuk menyepelekan istri saya, saya hanya masih belajar memahami hubungan kami” Reza berkata lirih.
“Mas Reza sudah pernah menikah, saya belum pernah menikah bahan pacaran pun tidak jadi saya tidak berpengalaman dalam hubungan dengan perempuan”
“Hansa itu sangat simple dia suka memberikan perhatian, kalau kita menerima perhatian darinya dia akan sangat senang, tapi kalau dia merasa kita tidak menghargai perhatian darinya maka dia akan menarik semuanya tanpa kecuali”
__ADS_1
“Oya jangan suka membandingkan dia dengan orang lain, dia paling tidak suka” ucap Angga sambil beranjang pergi menuju adiknya. Tampak memeluk adiknya dan mengusap rambutnya dengan sayang, hubungan mereka ternyata sangat dekat.
“Kakak… jaketnya ini gimana? Kaka nanti masuk angin naik motor” Hasna langsung mengejar Angga yang beranjak pergi meninggalkannya
“Jangan kamu pake aja, baju kamu tangannya pendek nanti masuk angin lagi. Nanti jangan lupa makan” Angga menolak jaket yang disodorkan adiknya.
“Pakai lagi jaketnya” ucapnya sambil pergi.
Hasna memakai jaket yang diberikan Angga, diliriknya Reza yang tengah menatapnya. Lirikan maut tanpa senyuman dan ekspresi. Kalau ada aliran listrik kayanya voltage yang paling tinggi yang membuat orang terjengkang.
“Hasna .. “ ucapan Reza seperti dianggap angin olehnya. Hasna menghampiri Hujan untuk berpindah permainan pada alat game Dance Battle dan Pump it. Untuk kedua permainan ini mereka hanya mengandalkan skor dari setiap game. Mereka harus menunggu giliran karena ternyata banyak yang menyukai permainan ini.
Reza hanya bisa mengawal dua orang gadis miliknya, untung saja permainan battle dance antriannya panjang, hanya pump it yang kosong. Reza perhatikan pump itu hanya mengandalkan permainan gerakan kaki saja. Mereka berdua seperti adik kaka yang sedang bermain asyik berdua.
“Buna, ini saja deh.. Yang battle dance males aku.. Ngantri banget” Hujan langsung menarik Hasna ke permainan pump it. Bersamaan dengan mereka tampak tiga orang laki-laki yang juga akan memainkan permainan itu, kalau dilihat dari umurnya mereka sekitar anak sma atau kuliahan.
“Waaah mau dong main bareng sambil pegangan tangan juga” satu orang laki-laki mulai menggoda-goda.
“Kalau mau main silahkan duluan” Hasna langsung menjawab singkat. Mukanya tampak datar, melihat anak-anak seumuran Hujan yang sudah berani menggoda-goda membuatnya malas bicara.
“Ladies first dong.. kita temenin dari belakang” ucap anak laki-laki satu lagi.
“Ayo ka… kita coba dulu 1 kali.. Nanti lanjut battle nya di rumah aja, sekarang banyak cecunguk” ucap Hasna.
“Kurang aja… kita disebut cecunguk… ngerasa cantik yah” anak laki-laki yang paling besar tiba-tiba merangsek kearah Hasna seakan mau menempelkan badannya. Reza yang berdiri agak jauh langsung waspada, hadeuuh ini malah jadi ribut dengan laki-laki lain lagi.
“Jangan dekat-dekat nanti kamu menyesal” ucap Hasna pada laki-laki itu ia langsung mendorong Hujan ke belakangnya.
“Memangnya bisa apa? Coba pengen liat haaah..haaah” laki-laki sotoy yang satu lagi langsung merangsek mendekat menempel pada Hasna yang langsung didorong dengan dengkul ke arah pangkal paha. Langsung tersungkur sambil memegang pangkal pahanya.
“Berengsek… dibilang jangan macem-macem” Hasna langsung menjaga jarak.
“Bikin ribut saya panggil keamanan disini yah, kalian bakalan dibawa ke ruang keamanan” Reza langsung pasang badan di depan Hasna dan Hujan.
“Hahaaha si Om menang banyak dapat cewe langsung dua” anak laki-laki yang didorong terlihat kesal melihat ke arah Reza.
“Menang banyak soalnya duitnya gede, kalian burung masih kecil udah patangtang petengteng, duit buat main game aja masih minta sama orangtua.. banyak lagak” Hasna langsung nyolot.
“Burung tuh kasih makan … biar gedean dikit baru bisa godain cewe” Hasna masih nyapnyap. Reza memandang Hasna dengan heran, omongan Hasna terdengar porno di telinganya.
“Apa lagi Mas Reza pake liat-liat segala… mau disemprot juga” Hasna langsung beranjak pergi. Keinginannya untuk melakukan battle dance hilang sudah gegara tiga cecungkuk itu. Reza langsung tersenyum miris, sudah dilihat dan diajak bicara saja dia sudah sangat bersyukur paling tidak disemprot dianggap keberadaannya.
“Kak kita main alat Pukulan Tinju aja… “ Hasna langsung menuju alat pukul tinju. Hujan tertawa melihat Hasna yang terlihat masih emosi. Mereka berdua silih berganti mengukur kekuatan pukulan dengan bermain Pukulan Tinju. Ternyata kekuatan Hasna lebih kuat daripada Hujan, faktor umur ternyata mempengaruhi fokus tenaga. Reza hanya mengamati, ia perlu menjaga jarak khawatir pukulan berbalik arah.
Hasna bermain alat pukul beberapa kali sampai akhirnya tenaganya habis. Ia membutuhkan pelampiasan untuk rasa marah yang ada di dalam dadanya.
“Buna udah cukup.. Kita makan yuk aku lapar” Hujan mengajak Hasna untuk mengakhiri acara pelampiasan emosi. Hasna mengusap peluh yang ada didahi dan pelipisnya dengan lengan jaket. Rasanya sangat puas.
“Mau makan apa?” tanya Hujan
“Kita beli ayam saja take away… kasian Maura di rumah sendirian” Hasna mencari-cari lokasi gerai ayam cepat saji di mall.
“Lewat sini..” Reza mendahului, ia melihat di di googling lokasi gerai ayam cepat saji. Hasna dan Hujan mengikuti Reza kekakuan diantara mereka mulai cair semenjak perselisihan dengan tiga cecunguk.
“Take away aja Mas sama aku mau cream sup dan ice cone” ucap Hasna
“Aku juga mau cream sup dan ice cone” timpal Hujan. Kedua gadis ini tampak seperti jadi kembar yang punya hobi dan keinginan yang sama.
Begitu pesanan selesai, Hasna mengikuti Reza di belakang, tidak tampak keinginan untuk berbicara dengan Reza. Begitu sampai di mobil Hasna langsung duduk di belakang bersama Hujan. Reza hanya menarik nafas saja, sudah mau ikut pulang bareng juga dia sudah bersyukur soal posisi duduk sekarang dia seperti supir, sudah tidak ia perdulikan lagi.
Hasna langsung mengambil cream sup dan ayam dari kantong kertas yang disimpan Reza di bangku depan.
__ADS_1
“Buna mau makan sekarang lapar.. Tadi siang ga sempat makan” Hasna langsung membuka cream sup dan memakannya. Hujan langsung mengikuti jejak Hasna, makan langsung di dalam mobil berdua. Sebetulnya Reza paling tidak suka mencium bau makanan di dalam mobilnya, tapi untuk saat ini dia hanya bisa diam dan membiarkan keduanya bertindak sesuka hati.
“Ayamnya kok kerasa lebih enak yah?” Hasna menikmati ayam goreng yang biasa dimakannya bersama Maura.
“Buna laper aja kali, tadi mukulin alat tinjunya pake emosi” Hujan menimpali sambil ikut makan ayam.
“Biar puas mukulnya.. Kalau mukul langsung orang nanti dianggap kekerasan” Hasna menjawab dengan mulut penuh dengan ayam. Reza hanya meringis saat mendengarnya.
“Dulu Buna pernah kelahi?” Hujan jadi penasaran dengan sikap Hasna yang seperti sudah biasa untuk bertarung.
“Suka.. tapi di arena tarung, dulu ikutan silat...pernah juara” jawab Hasna singkat.
“Woaaah hebat, sampai level apa?” Hujan semakin penasaran
“Cuma sampai provinsi.. Pas ikutan training center level nasional keburu mau ujian nasional jadi disuruh berenti sama ayah”
“Woaaah sayang dong Buna… mustinya jadi atlet” Hujan tertawa cekikikan.
“Atlet tukang pukul” jawab Hasna asal.
“Yang penting bisa melindungi diri aja kalau buat perempuan, kaya sama cecunguk tadi”
“Sebenernya kalau tadi sama Papi kamu gak disorongin Buna mau hajar mereka, mumpung ada kesempatan keluarin energi negatif”
“Kamu kalau ada lelaki udah terlalu dekat tinggal tendang selangkangannya atau hajar hidungnya dari bawah pakai telapak tangan” Hasna mengajarkan teknik pukulan jarak dekat kepada Hujan.
“Sakit emang?” Hujan mengkerutkan dahinya, seperti terlalu sederhana.
“Coba aja ini..” Hasna langsung mempraktekkan dengan perlahan.
“Addduuhh sakit Bunaaa…” Hujan langsung mengeluh.
“Ahhh kamu cengeng banget sih ...pelan juga.. Orang lain mah perang” Hasna langsung tersenyum melihat Hujan yang memegang hidungnya. Reza melihat interaksi ibu dan anak itu masih hangat padahal sudah jam 9 malam. Rupanya energi mereka belum habis di ring tinju tadi.
Setiba di rumah Hasna langsung mendahului masuk ke dalam rumah sambil membawa kantong ayam. Dalam pikirannya hanya Maura yang tadi terlihat sedih menangis ditinggalkan olehnya. Dilihatnya tidak ada siapapun di dalam rumah, ia langsung naik disusul Hujan tapi ternyata tidak ada seorangpun di kamar. Kemana Maura?
Belum hilang rasa kagetnya terdengar suara teriakan Reza di kamar.
“SIAPA YANG MASUK KE KAMAR!” Reza berteriak-teriak di ruang tengah. Hasna dan Hujan langsung turun ke bawah dan melihat Reza yang tampak mencari Mbak Jum.
“Mbaaaak SIAPA YANG MASUK KE KAMAR!” teriak Reza… tampak Mbak Jum datang dengan takut-takut menuju Reza.
“Maaf Tuan tadi Nyonya dan Tuan Besar yang masuk ke kamar Tuan, mereka meminta kunci kamar kepada saya”
“Kemana semua foto-foto yang ada di kamar?” Reza berteriak kepada Mbak Jumi
“Tuan dan Nyonya yang mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mobil Tuan”
“Nona Maura juga dibawa sama tuan dan nyonya katanya kasian sendiri kalau ditinggal” Mbak Jumi berkata lirih sambil melirik pada Hasna yang menatap tajam ke arah Reza.
“Maura tadi tidur atau bangun Mba?” tanya Hasna
“Bangun Neng, nangis nyari Neng Hasna makanya dibawa sama Tuan dan Nyonya menginap di sana” jawab Mbak Jum.
Hasna termenung hatinya sedih membayangkan Maura yang masih menangis mencarinya. Dilihatnya Reza yang tampak diam dan pucat. Rupanya Mama Bertha membawa semua foto-foto Mitha yang ada di kamar Reza.
Hasna tidak ingin ikut campur soal foto yang berada di kamar Reza, masalahnya dengan Reza tadi siang juga belum diselesaikan. Ia langsung naik kembali ke kamar anak-anak, sekarang hanya tinggal menemani Hujan dulu sebelum tidur dan ia beristirahat di kamarnya. Hari ini sudah terlalu banyak drama perlu waktu untuk sendiri.
“Arghhhhhh….. Brak” Reza berteriak dan menutup pintu dengan keras. Ia merasa hari ini banyak masalah yang harus dialaminya… semuanya mengesalkan..
Makanya jadi orang jangan suka ngeselin jadi aja di balas dengan cara yang tak terduga… Kamar Pemujaannya Disita oleh Pihak yang Berwenang…..
__ADS_1