Ibu Untuk Anakku

Ibu Untuk Anakku
Ya! .. Saya hanyalah istri untuk menjadi ibu dari anak-anakmu


__ADS_3

“Hasna Humaira Putri”


“ibu dengan dua orang anak perempuan”


Hasna menuliskan itu dalam buku catatan hariannya, dia tersenyum.. dilihatnya kedua anak perempuan yang tengah tertidur lelap. Ia masih belum bisa tidur sehingga ia memutuskan mencatat semua hal yang terlintas di kepalanya saat itu.  Saat itu jam menunjukkan 9 malam, Hujan telah tidur begitupula dengan Maura. Jangan ditanyakan keberadaan Reza masih di kantor, pesan terakhir yang dikirimkannya adalah


“Jangan menunggu saya makan malam, masih sibuk menyiapkan dokumen” itu pesan yang dikirimkan jam 7 malam tadi. Barusan ada pesan lagi yang dikirimkannya.


“Kemungkinan tidak akan pulang menginap di hotel malam ini” sampai segitunya bekerja, pikirnya. Sempat berpikir untuk bertanya dengan siapa dan di hotel mana. Tapi untuk apa, hanya akan menambah beban pikirannya dan dampaknya apa. “Sudah berpikir positif saja, doakan supaya pekerjaannya lancar” pikir Hasna.


Akhirnya dia hanya membalas dengan pesan “ Semoga lancar dan diberikan kemudahan. Jangan lupa makan.. Jangan kebanyakan minum kopi. Fighting” kemudian dia kirimkan foto Hujan yang sedang tidur dan Maura yang tidur nemplok di guling kesukaannya.


“Terima kasih sudah menemani anak-anak”


“Dont worry aku barengan Aswin” 


Hasna langsung tersenyum membaca pesan itu, si abang sudah mulai bisa membaca pikirannya, untung aja dia gak kirim pesan pertanyaan tadi, widih kebayang gengsi banget.


Hasna turun untuk mengambil air minum, ruangan keluarga masih terang benderang tapi rumah terasa sepi. Rumah ini besar dengan banyak kamar. Di lantai bawah ada 3 kamar: kamar tamu, kamar Reza dan ruangan kerja Reza. Sedangkan di atas ada 2 kamar yaitu kamar anak-anak dan kamar yang sekarang ditempati Hasna. Hasna kemudian mematikan satu lampu di ruang keluarga, lampu ruang makan tidak ia matikan, terlalu mengerikan kalau gelap.


Sesaat dia melihat kalau kamar Reza masih hidup lampunya, celah di bawah pintu memperlihatkan cahaya lampu. Hasna belum pernah masuk ke kamar Reza, selama ini ia hanya melihat Reza keluar masuk untuk berganti pakaian atau beristirahat di kamarnya, tidak pernah ada keinginan untuk masuk karena ia merasa belum sedekat itu dengan suaminya. Entah kenapa hari ini dia merasa ingin tahu ada apa di kamar Reza.


Perlahan dipegangnya handle pintu, apakah dikunci? Ternyata tidak. Didorongnya perlahan, kenapa perasaannya seperti berdebar seperti ini.. Seperti mau masuk ke ruangan berhantu di wahana permainan anak-anak. Ternyata kamarnya besar lebih besar dari kamar anak-anak di atas. Hasna berdiri mematung di pintu kamar, ia seperti masuk ke masa lalu di rumah ini.


Di dinding kamar terdapat foto pernikahan Reza dan Mitha yang besar, dibawahnya ada meja rias besar dengan kaca berbentuk oval dengan model vintage berwarna putih. Ada banyak foto disana, Hasna melangkah perlahan ke dalam kamar. Sempat ia berpikir apakah ia boleh masuk ke dalam kamar ini, tapi Reza tidak pernah melarangnya, tapi juga dia tidak pernah mengajaknya masuk.


Perlahan ia melangkah ke meja rias yang menjadi pusat perhatiannya saat masuk. Foto pernikahan Reza terlihat sangat berbeda dengan pernikahannya kemarin, pernikahan Reza dan Mitha memakai Adat Jawa, artinya keluarga Mama Isna adalah keturunan Jawa, pantas saja tutur katanya sangat halus dan lembut. Muka Reza terlihat masih muda, usia 23 atau 24 tahun pikir Hasna kalau tidak salah saat ia menikah dulu. Hmm lebih muda daripada aku sekarang, hebat sekali laki-laki semuda itu memilih menikah muda agar ada yang menemani saat kuliah di luar negeri.


Bukankah kebanyakan laki-laki yang melanjutkan kuliah di luar negeri ingin merasakan kebebasan saat kuliah, jangankan menikah kayanya pacarpun bisa-bisa diputuskan. Mitha tampak cantik seperti pengantin jawa pada umumnya, kelembutan mukanya tidak bisa disembunyikan walaupun mengenakan riasan yang tebal.


Di meja rias, kalau pemilik kamar masih hidup mungkin akan dipenuhi oleh makeup dan parfum mahal. Tapi 3 tahun lebih telah berlalu, semua alat make up tidak ada, meja ini malah dipenuhi oleh foto-foto Mitha yang sendiri ataupun bersama Hujan dan Reza. Ada 6 foto di meja ini tampak cantik dan ditata dengan indah. Hasna tersenyum tipis mengapa dia merasa sedih yah.


Akhirnya Hasna menegakkan badannya, “Jangan berpikir terlalu jauh wajar dia masih menyimpan foto-foto istrinya, hampir setengah dari kehidupannya dihabiskan bersama Mbak Mitha” ucap Hasna. Namun saat ia berbalik pemandangan yang luar biasa membuatnya tercengang. Di dinding belakang pintu ternyata tampak seperti galeri foto.


Hasna mendekat ke tempat tidur di sisi tempat tidur ada 2 meja kecil dan itu juga diisi oleh foto dari Mitha. Ada lampu tidur dan hiasan meja yang sangat feminim, tampak tergeletak buku yang terlipat tampaknya buku yang sedang dibaca Reza. Hasna memalingkan wajahnya ke dinding sebelah kanan, dinding ini tampak benar-benar seperti galeri foto Mitha. Semua foto berwarna hitam putih. Hasna mendekat ke arah dinding, tampaknya ini adalah foto hasil bidikan Reza, karena foto Mitha sejak remaja ada disana. Dengan seragam SMA, foto dengan jas almamater kuliahnya, foto saat hamil, foto sedang menyusui, foto sedang bermain dengan Hujan yang masih kecil, foto Mitha sedang tidur, foto...foto…. Ini seperti  galeri foto pemujaan.


Mata Hasna terasa sudah berair, apa yang sudah ia lakukan disini, kenapa dia masuk ke kamar ini. Tidak terasa air matanya menetes, mengalir menyusuri pipinya, semakin ia melihat foto-foto di dinding semakin dia merasakan pemujaan yang dirasakan Reza kepada istrinya. Semua foto-foto itu tampak hidup dan penuh dengan energi kebahagian, photograper dan modelnya merasakan kebahagian yang sama. Hasna tahu itu karena ia memiliki hobi fotografi juga. Foto bagus itu akan bisa didapatkan kalau keduanya memiliki ikatan yang kuat.


Dilihatnya lemari pakaian, ada 2 lemari pakaian di kamar ini, rasa penasaran Hasna semakin menjadi, didekatinya lemari pakaian yang paling terlihat feminim di kamar ini. Lemari ini cukup besar hingga memiliki 4 pintu, diusapnya air mata di pipinya, Hasna menarik nafas dan membuka lemari pakaian.


Lemari ini masih tertata rapi dengan pakaian perempuan di dalamnya, tercium aroma parfum yang Hasna kenal. Ini adalah aroma parfum yang dulu pernah Reza belikan untuknya.


“Owh… Ya Allah aku memakai parfum yang sama yang dipakai oleh Mba Mitha… apa-apaan ini, kenapa dia membelikan parfum yang sama” Hasna merasakan seperti ada yang menusuk di ulu hatinya.


Dibukanya satu persatu pintu lemari pakaian itu, semuanya tertata dengan rapi dan harum, semua pakaian sepertinya selalu dibereskan di rapikan. Kalau berpikir secara logika 3 tahun berlalu tanpa pemilik lemari mestinya isi lemari sudah bau apek. Hasna menarik nafas dia perlu mengatur pikirannya agar kembali jernih.


Kemudian ia duduk di sisi tempat tidur matanya menangkap benda berwarna krem di sisi tempat tidur, sandal kamar perempuan. Reza masih menyimpan sandal Mitha seperti pemiliknya masih ada disana. Ini luar biasa…. Hasna menemukan sisi lain dari Reza yang selama seminggu ini terasa seperti menjadi seseorang yang spesial untuknya.


Hasna berdiri, ia melangkah ke kamar mandi yang terletak di sisi kiri kamar, selama 3 tahun kebelakang apakah kamar mandinya telah menjadi kamar mandi laki-laki. Perempuan paling menyukai kamar mandi sebagai tempat privat dimana ia akan menyimpan semua penanda kepemilikannya. Hasna menghidupkan lampu kamar mandi, dan pemandangan yang sudah ia perkirakan ternyata benar adanya.

__ADS_1


Kamar mandi ini sangat feminim, semua sampo, sabun, pembersih muka dengan merk ternama untuk perempuan tampak bersama dengan sampo dan sabun laki-laki di kamar itu. Sisir dengan model untuk perempuan tampak bersama perlengkapan skincare untuk perempuan. Ini gila… semua produk skincare ini masih penuh tampak masih baru. Hasna masuk dan melihat semua produk skincare dan perlengkapan mandi, semuanya tampak baru dan belum kadaluarsa artinya Reza membeli semua produk ini setelah Mitha meninggal.


Ternyata selama ini dia masih membuat seakan-akan semuanya tidak berubah, interior kamar, pakaian dan perlengkapan kamar mandi semuanya mengesankan kalau pemilik kamar masih ada disana. Hasna merasakan kesedihan yang luar biasa, dia tidak pernah mengenal dengan baik Reza, mereka tidak pernah bercerita apapun tentang masa lalu mereka berdua. Reza pun selalu menolak kalau diajak bicara tentang Mitha.


Hasna segera menutup pintu kamar mandi, dimatikannya lampu. Ia mendekati tempat tidur yang tadi ia duduki dirapi kannya kasur itu agar tidak terlihat diduduki oleh orang lain. Dihapusnya air mata yang masih ada di pipinya. Jangan sampai ada orang lain yang melihatnya. Hasna segera keluar dari kamar, rencananya untuk mematikan lampu ia batalkan, ia khawatir Reza mengingat kalau dia belum mematikan lampu kamar. Hasna tidak ingin kalau Reza tahu bahwa ia telah masuk ke kamar itu.


Menyesakkan itu yang ada dalam pikiran Hasna saat ini, kenapa hobi yang selama ini ia juga suka lakukan yaitu photographi menjadi suatu hal yang ia tidak ingin dia ingat lagi. Minggu ini ia berpikir untuk pulang ke Bandung membawa semua perlengkapan kamera yang ia simpan di kamar. Selama bekerja di kantor project dan di Jakarta kemarin ia hampir tidak punya waktu untuk berburu mencari objek-objek yang menarik. Kemarin dengan luangnya waktu yang ia miliki ia berpikir untuk memulai kembali hobi lamanya.


Malam itu Hasna kembali ke kamar, Maura tampaknya tidak akan terbangun malam ini, ia sudah pipis sebelum tidur. Dikuncinya pintu kamar, kalaupun Maura bangun pasti akan memanggilnya dia akan langsung mendengar. Yang tidak ingin Hasna temui malam ini hanyalah laki-laki yang menyimpan altar pemujaan di kamarnya.


Dan ternyata memang Reza tidak pulang malam itu, saat pagi hari Hasna bangun dilihatnya tidak ada tanda-tanda kedatangan Reza, saat ditanyakannya pada Mbak Jumi ternyata memang tidak ada mobil Reza di garasi.


“Tuan ndak bilang sama Neng Hasna kalau tidak pulang malam ini?” Mbak Jum tampak seperti bingung saat Hasna menanyakan apakah Reza pulang atau tidak.


“Bilang mbak, tapi saya khawatir  ternyata pulang malam-malam saat saya sudah tertidur, yah tidak apa-apa sedang sibuk banyak yang harus diselesaikan” jawab Hasna. Tiba-tiba terpikir olehnya siapa yang suka membersihkan kamar Reza.


“Mbak … kalau yang suka membersihkan kamar Mas Reza siapa?” tanya Hasna.


“Ehmm….ehmmm….” Mbak Jum tampak seperti bingung.


“Gak apa-apa saya cuma mau tanya aja, soalnya saya tidak berani masuk kalau gak ada Mas Reza”


“Ohhh… iya jangan masuk Neng, biar saja Mbak yang bersih-bersih, nda banyak kok cuma mengepel dan mengganti seprei saja” Mbak Jumi menjawab dengan cepat, ia seperti melindungi sesuatu. Hasna tersenyum bisa dimengerti kalau Mbak Jum bersikap seperti itu.


“Pakaian Mas Reza siapa yang membereskan?” Hasna ingin tahu siapa yang selalu merapihkan lemari Mitha.


“Pakaian bersih Tuan saya saya yang rapikan dan masuka tapi yang lainnya saya dilarang untuk menyentuh apapun di kamar,  biasanya Tuan yang suka merapikan sendiri”


“Kalau kamar mandi Mbak cuma diminta membersihkan menyikat dinding dan kloset sama tempat berendam, sisanya Tuan yang mengatur, saya nda boleh membereskan apapun”


“Owh… Mas Reza orangnya masih sempat yah mengatur sendiri.. Saya jadi gak ada kerjaan kalau jadi istrinya...hehehhehe” Hasna mencoba tertawa berbasa basi, terasa hambar dan kering.


Hasna tidak ingin menanyakan soal lemari Mitha, kalau dia bertanya ia akan ketahuan kalau semalam ia masuk ke kamar itu. Tapi sudah bisa ditebak kalau yang membersihkan dan mengatur lemari dan kamar mandi adalah Reza sendiri.


Pagi itu setelah Hujan berangkat sekolah, Hasna kemudian merapihkan kamar anak-anak. Dia sudah mulai mengenal perlengkapan Hujan dan Maura. Kebiasan mereka dalam menyimpan barang dan hal yang tidak mereka sukai untuk dirubah tempat penyimpanannya. Maura sedang asyik menonton TV Show anak-anak kesukaannya, kalau sudah menonton acara itu bisa 2 jam dia asyik sampai kemudian mencari Hasna.


Terdengar suara ramai di bawah, tapi Hasna tidak terlalu memperdulikan, pikirannya masih dipenuhi oleh haru biru perasaan saat masuk ke kamar Reza. Terdengar pintu terbuka, ternyata Reza pulang pagi ini.


“Aku cari-cari kirain pergi kemana” Reza tersenyum saat melihat Hasna tengah merapihkan perlengkapan di meja belajar Hujan. Hasna membalas tersenyum tipis, ia tidak mau melihat wajah Reza.


“Tadi malam dokumen kontrak masih banyak yang harus direvisi, kalau dibesokkan lagi khawatir malah molor waktunya, soalnya jam 12 sekarang mau dirapatkan untuk final” Reza berusaha menjelaskan alasannya tidak pulang semalam. Dia duduk di kasur Maura dan memandang Hasna yang berdiri membelakanginya.


“Tidur jam berapa tadi malam?” Reza kembali bertanya, dilihatnya Hasna seperti tidak tertarik untuk berbicara dengannya, di dekatinya perempuan itu yang masih membelakanginya.


“Hmmm….” Hasna berusaha berpura-pura sibuk.


“Kenapa kamu, gak enak badan” Reza merasa heran biasanya Hasna selalu antusias dan penuh tawa saat ia ajak bicara.


“Gak apa-apa, cuma gak enak badan aja, biasa kalau lagi menstruasi suka agak lemes” jawab Hasna pendek. Reza memegang dahi Hasna, yang ditepis halus dengan memalingkan wajahnya ke pinggir

__ADS_1


“Agak hangat, kamu istirahat aja, jangan beraktivitas dulu. Memang biasa seperti ini? Agak demam?” dipegangnya bahu Hasna. Hasna menarik nafas, ia tidak bisa bersikap terlalu drastis bisa-bisa Reza curiga.


“Gak apa-apa Mas… mau dibuatkan apa? Sudah sarapan belum?” Hasna akhirnya menguatkan diri menatap Reza.


“Gak usah, aku cuma mau ganti pakaian aja, soalnya nanti mau rapat finalisasi kontrak setelah makan siang”


“Tadi sudah sarapan di hotel” sambungnya


“Pakaiannya mau aku siapkan?” tanya Hasna sambil menatap tajam


“Euuu gak usah, aku sudah biasa menyiapkan sendiri” jawab Reza cepat. Hasna tersenyum tipis.


“Syukurlah ternyata menjadi istri Mas Reza aku tidak memiliki tanggung jawab terlalu banyak kepada suami” Hasna tersenyum sambil menunduk.


“Ya.. aku butuh bantuanmu untuk mengurus anak-anak. Itu yang paling penting” jawab Reza enteng, tidak terpikirkan olehnya kalau jawabannya semakin menusuk perasaan Hasna.


“Ya saya adalah istri untuk menjadi ibu dari anak-anak” jawab Hasna pendek.


“Haaah…” Reza menatap Hasna dengan bingung.


“Saya buatkan minuman cokelat yaa..” Hasna beranjak dan melangkah keluar kamar, terlalu lama bersama laki-laki itu membuatnya khawatir menjadi emosional.


Hasna membuatkan minuman coklat dan satangkup roti panggang gandum yang kemarin dibuatnya. Terserah mau dimakan atau tidak, yang penting ia merasa sudah melakukan sedikit kewajiban sebagai istri. Reza keluar dari kamar, telah berganti pakaian, ia memang tampak selalu rapi dan menarik dengan pakaian model apapun. Kalau dibandingkan saat mudanya dulu, pertambahan usia membuat Reza tampak semakin matang sebagai laki-laki.


“Rotinya aku bekal saja, aku harus mengecek dulu dokumen sebelum di tandatangani saat rapat nanti” Reza melirik roti yang dibuatkan oleh Hasna, diminumnya cokelat hangat yang sudah dibuat.


“Kenapa bukan kopi?” tanya nya sambil mengernyit, ia tidak terlalu suka minuman manis.


“Tadi malam kan sudah kurang tidur, kalau ditambah kafein jelek nanti dampaknya untuk tubuh” jawab Hasna singkat. Reza mengangguk membenarkan, tadi saat sarapan dia sudah minum kopi, terlalu banyak kopi bisa membuatnya sakit kepala.


“Maura …. Kiss dulu Papi” Reza menghampiri Maura yang tampak asyik menonton, Maura mencium Papinya dengan cepat tanpa mengalihkan pandangan dari TV.


“Aku berangkat dulu, salim” Reza mendekat kearah Hasna. Hasna meraih tangan Reza dan mencium tangannya tanpa berusaha menatap wajah Reza. Reza masih berdiri di depan Hasna.


“Masih ada yang kurang, sesuai perjanjian kemarin” Reza menyodorkan pipinya ke arah Hasna. Hasna menatap laki-laki itu. Ia merasa tidak ada keinginan untuk sekedar berseteru soal perjanjian bodoh kemarin. Diciumnya pipi Reza dengan cepat tanpa ada ucapan apapun, kemudian di berikannya bekal roti bakar yang dibuatnya.


“Ini…” ucapnya sambil melangkah menjauh untuk kemudian  menuju Maura.


“Maura ayo kita antar Papi berangkat” berusaha meminimalisir percakapan sampai perasaannya kembali normal.


Reza tertegun, rasanya ada sesuatu yang aneh dengan sikap Hasna, tidak seperti biasanya ia melakukan perintahnya tanpa perdebatan. Tidak ada sikap malu-malu malah terasa dingin dan tanpa perasaan. Ah…. mungkin karena tidak enak badan. Akhirnya Reza mengacuhkan rasa bingungnya. Kesibukan dan fokus pada persiapan rapat membuatnya harus bergerak cepat.


Reza berangkat dengan diantar oleh Hasna dan Maura yang sibuk melambai-lambaikan tangannya dengan penuh semangat, sangat kontras dengan muka Hasna yang tampak diam dan tidak berekspresi sama sekali.


“Kenapa dia…. Aneh tidak seperti biasanya bersikap seperti itu” Reza mengerutkan keningnya, sikap Hasna betul-betul dirasakan berbeda.


 


Aneh yah…. Yang aneh itu kamu Reza….

__ADS_1


 


 


__ADS_2