
Reza tampak terdiam dan kemudian memandang Hasna sambil berkata pelan,
“Dulu aku mengira dia itu anak manja dan tidak punya mental bekerja. Ternyata aku salah, setelah hampir dua minggu aku melihat cara kerja dia, ternyata dia anak yang memiliki kemampuan kerja yang baik dan sikap yang kompetitif”. Hasna langsung menarik nafas lega, ini adalah pujian pertama yang pernah diucapkan Reza kepada Arkhan.
“Dia bisa menempatkan dirinya dengan baik, kalau di depan staf yang lain atau dalam forum resmi dia akan bersikap formal dan memanggil aku Pak, padahal Papa sudah membolehkan dia memanggil aku Abang saja. Tapi kalau lagi berdua dan diskusi dia akan memanggil aku Abang terutama kalau dia merasa ada sesuatu yang tidak cocok atau sesuai. Kadang seperti berdebat sama adik yang tidak mau mengalah sama dia. Aku sering membentak dia akhirnya, soalnya dia seperti tidak mau mengalah terus” Reza tersenyum membayangkan perdebatan terakhir tadi siang.
“Haaah serius Mas Reza membentak dia? Terus dia marah gak?” Hasna menatap kagum, Reza langsung melengos “memangnya kenapa kalau aku membentak dia, aku kan atasannya sudah sewajarnya kalau dia menuruti perintah aku” Hasna langsung menatap dengan tatapan kesal.
“Aku bukan belain Kang Arkhan, cuma nanya Mas soalnya dia itu memang keras kepala dulu juga waktu di organisasi sering bentrok sama yang lain. Ujung-ujungnya suka gak enak soalnya dia gak suka dibantah orangnya, jadi aku sering jadi penengah supaya kegiatan berjalan” Reza akhirnya melanjutkan cerita.
“Yah seperti itu, seperti tidak menerima tapi aku sih fair, kalau memang pemikiran dia bagus aku setuju tapi kalau tidak, dia harus melakukan yang aku perintahkan. Awalnya seperti diam tidak banyak bicara tapi lama-lama dia bersikap biasa lagi. Aku tidak pedulikan, laki-laki itu jangan suka dibiasakan terbawa emosi. Jelek seperti perempuan” jawabnya singkat. Hasna langsung cemberut.
“Maksudnya apa nih nyindir… aku suka kebawa emosi gitu” ucap Hasna cepat, Reza langsung terbelalak, ia tidak bermaksud menyindir istrinya.
“Kamu tuh jadi perempuan suka sensitif banget sih Ra… aku kan menceritakan si Arkhan jangan suka kebawa emosi jelek, karena lelaki itu harus bisa berpikir jernih, aku kan sudah mengalami kebawa emosi… ehh ditinggalin sama istri.. Tidak akan sekali-kali lagi aku lakukan. Mendingan makan hati aja deh nahan emosi daripada ditinggalin sama kamu” Reza sambil menjawil dagu Hasna dengan senyuman menggoda. Yang digoda antara malu dan mau akhirnya jadi ikutan tersenyum.
“Udah ah.. Jangan nyeritain yang lalu-lalu… terusin cerita Kang Arkhannya” Hasna terlihat antusias, ia melihat sisi lain dari Arkhan yang ia kenal selama ini.
“Kamu tuh kalau diceritain soal si Arkhan semangat dengernya. Yahh gitu aja… kelebihan dia yang lain dibandingkan Aswin adalah dia berani untuk menegur staf dan manager yang tidak memenuhi target sesuai kesepakatan rapat. Kalau Aswin kan sangat santun tidak mau ada konfrontasi kadang aku yang harus turun tangan dan menegur mereka langsung saat rapat. Kalau si Arkhan tidak, kemarin ada divisi eksport yang lambat dalam menerbitkan dokumen ekspor sehingga tertunda di pabean. Dia langsung telepon dan tidak cukup di telepon dia datangi langsung managernya karena lama tidak datang. Aku dengar dari Aswin kalau dia marah-marah pada manager itu. Padahal umurnya lebih tua dari aku, dia memang gila main labrak saja” Reza tertawa membayangkan manager senior yang kena labrak Arkhan.
Hasna langsung melotot ternyata suasana kantor lebih ramai dengan adanya Arkhan. “Waaah rame kayanya Mas… trus-trus gimana?” Reza sengaja berlama-lama dengan mengambil minum dan minum dulu. “Ahhhhh buruan atuh meni sengaja ihhh aku pengen tau” Reza langsung tersenyum “Wani piro?” jawabnya, Hasna langsung melengos ini seperti senjata dia diambil oleh Reza. Biasanya dia yang selalu mengucapkan kata itu kalau Reza ada maunya.
“Sakarep mu Mas.. boleh dua kali kalau kuat” Reza langsung tersenyum. Selama ini Hasna selalu membuat jadwal jatah pertemuan mingguan alasannya khawatir mengganggu bayi.
“Yah kemudian manager itu mengadukan sikap Arkhan sama aku, tidak ditanggapi malah aku marahi balik.. yah dia memang salah, dokumen penting kok tidak disiapkan. Aku bilang kalau memang tidak bisa bekerja memenuhi target silahkan saja mundur ada banyak orang yang bisa bekerja fokus” Hasna langsung melotot
“Mas ihhh jahat banget sih, kan kasian kalau udah senior disuruh mundur. Kasih kesempatan dong untuk memperbaiki diri” Hasna langsung memegang tangan suaminya untuk membujuk. Reza melirik dan langsung menegakkan badannya seakan jual mahal.
“Yaahh itu kan tidak dipecat hanya diberikan peringatan supaya dia tidak lalai lagi” Hasna mengangguk-angguk memang orang harus diperingatkan supaya tidak menganggap enteng masalah penting.
“Syukurlah aku senang kalau Mas Reza bisa akur sama Kang Arkhan. Dia orangnya bisa diandalkan kok, aku kan punya pengalaman kerja sama dia, hasil evaluasi organisasi mahasiswa selama kepemimpinan dia paling bagus kinerjanya dibandingkan angkatan-angkatan sebelumnya” Reza mengangguk ia setuju dengan pemikiran istrinya.
“Sudah ah ngomongin si Arkhan terus nanti kamu mikirin dia terus, sekarang waktunya istirahat, memenuhi janji tadi ...dicicil aja yah sekarang satu kali besok pagi satu lagi…” Reza langsung menarik Hasna tidur. Hasna langsung melotot “gak boleh sering-sering kata dokter juga..” Reza menggelengkan kepala “Gak sering ini juga selang satu hari jadi bisa….” ahhh sakarepmu bae mas… Emang kredit pake cicilan segala.
__ADS_1
#######
Sebulan berlalu setelah itu ternyata sulit bagi Hasna untuk bisa melupakan kalau ia harus cuti kuliah, cerita Ammera tentang mata kuliah yang baru, bayangan suasana kampus dan riuhnya suasana kelas sering membuatnya merasa kesepian di apartemen dan kangen ingin kembali kuliah. Tapi kalau melihat kehamilannya yang semakin besar menyadarkan Hasna kalau ada tugas lain yang harus diutamakan saat ini.
Usaha Hasna untuk menyibukkan diri dengan membuat konten pembelajaran cerita anak seperti dulu ternyata tidak semudah itu. Ia merasa tidak kuat untuk duduk lama-lama mengedit dan membuat konten cerita. Sedangkan untuk membuat rekaman video, Hasna merasa tidak percaya diri karena pipinya semakin terlihat tembem dan bulat, tampak tidak indah dipandang menurut pendapatnya, walaupun Reza meyakinkan kalau ia terlihat lebih cantik, tetap saja Hasna tidak percaya.
Beberapa kali Reza melihat Hasna kembali tidur setelah menyiapkan kelengkapan Hujan dan Maura ke sekolah. Seperti tadi pagi saat ia akan pergi ke kantor, kembali ia melihat Hasna merebahkan dirinya di tempat tidur.
“Mas aku gak nganterin ke bawah yah, lemes nih pengen tiduran dulu” Reza tahu sebetulnya Hasna tidak mengantuk hanya merasa tidak ada kegiatan yang membuatnya harus bergerak. Tinggal di apartemen memang memiliki kelemahan, ruang yang terbatas membuat kita jadi malas bergerak jauh. Naik turun menggunakan lift, antar ruangan di unit pun sempit sehingga kita hanya bergerak sedikit. Kalau terus dibiarkan akan membahayakan kesehatan juga pikir Reza.
“Katanya mau membuat video dan podcast lagi, mumpung anak-anak sudah berangkat sekolah” tawar Reza sambil mengusap kepala istrinya, Hasna menarik nafas panjang. “Gak tau nih rasanya gak ada ide di otak tuh.. Buntu gak kepikiran… mau tiduran aja, kata orang bisa lebih kreatif kalau diam dan berpikir” Reza tersenyum “itu sih ide orang untuk menjadi malas… ya sudah istirahat dulu… kalau bosan kamu main ke rumah Mama, kemarin Mama nanyain kamu terus” Hasna mengangguk lemah, ia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.
Akhirnya Reza berangkat ke kantor, sepanjang jalan ia memikirkan aktivitas yang disukai istrinya tapi tidak membuatnya lelah. Tidak mungkin ia mendorong Hasna untuk kuliah semester ini, saat ia melihat, jadwal kuliahnya sangat padat dan menguras energi. Waktu Hasna belum hamil saja ia melihat istrinya kelimpungan membagi jadwal antara mengurus Maura dan Hujan dengan jadwal kuliah, apalagi sekarang kalau ditambah dengan kondisi hamil. Reza yakin kalau itu adalah suatu hal yang tidak mungkin bisa dilakukan.
Sampai di kantor dilihatnya Arkhan sedang duduk di mejanya dengan muka yang berkerut dan kesal. Ada apa lagi anak ini, baru dua bulan bekerja dengan Arkhan ia sudah melihat kalau anak ini mudah emosi oleh hal-hal yang tidak ia kuasai dengan baik.
“Pagi…” sapa Reza sambil melewati meja Arkhan, bisa dilihat ada banyak tumpukan kertas tapi bukan dokumen kantor.
“Pagi Bang…” ia langsung membereskan dokumen-dokumen dan mengikuti Reza ke dalam ruangan.
“Trus nanti siang ada dua jadwal yang bentrok, yang pertama meeting dengan investor dari Jepang membahas progres produksi dan yang kedua meeting dengan manager dari kantor cabang untuk melihat kapasitas produk dan quality controlnya… bentrok karena pihak investor memajukan jadwal ke hari ini soalnya mereka harus sudah pulang nanti malam ke Jepang katanya. Mau dibatalkan yang mana? Kalau aku boleh kasih usul yang dengan manager dari kantor cabang sih mumpung masih pagi mereka belum berangkat ke Jakarta”
Reza menarik nafas kedua rapat itu penting karena hasil data dari kantor cabang perlu mereka jadikan dasar keputusan untuk pemenuhan rencana ekspor ke depan. Ditatapnya Arkhan dengan seksama.
“Kamu bisa mewakili saya pada pertemuan dengan manager cabang, nanti kamu ditemani Aswin. Saya bisa handle untuk meeting dengan investor Jepang paling hanya laporan melihat ketercapaian produksi dan perkiraan ke depan saja” Arkhan tampak berpikir dalam, ia masih belum yakin karena baru dua bulan bekerja dan sekarang harus mewakili GM.
“Kemarin kamu sudah bisa menegur manajer ekspor, artinya kamu sudah punya kemampuan untuk mengarahkan orang lain. Dicoba saja dulu, ada Aswin yang nanti akan memimpin rapat jadi tidak terlalu berat”. Arkhan mengangguk, kemarin dia menegur karena memang kondisinya urgen.
“Mengerjakan apa kamu tadi, kenapa langsung dibereskan” Reza heran melihat Arkhan yang tampak terburu-buru merapikan dokumen seperti takut ketahuan.
Arkhan tersenyum malu sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Itu Bang…. Hmmm bahan tesis, aku udah di warning sama pembimbing, disuruh bimbingan tapi gak datang aja soalnya bahannya Bang belum beres terus… susah banget kuliah sambil kerja. Nyampe di rumah aku udah cape boro-boro kepikiran ngerjain tesis” kilah Arkhan.
__ADS_1
Reza mengangguk, selama ini memang pekerjaan yang dilakukan Arkhan dilakukan dengan baik. Ia tidak mengalami kesulitan dalam menghandle pekerjaan yang ditinggalkan Aswin. Sulit memang bekerja sambil kuliah, energi yang terkuras saat bekerja menjadikan fokus untuk belajar menjadi lebih susah.
Itu sebabnya ia meragukan apakah Hasna akan bisa melaluinya kalau nanti si kembar sudah lahir, akan butuh waktu lagi untuk bisa konsentrasi belajar. Hasna…. Kenapa tidak Hasna diminta membantu Arkhan mengerjakan tesis… paling tidak dia akan terdorong untuk mengerjakan sesuatu yang ia sukai. Dia kan paling suka belajar, tiba-tiba Reza memikirkan solusi dari permasalahan yang dipikirkannya dari tadi pagi. Mencari kegiatan untuk Hasna supaya mau bergerak dan bersemangat lagi.
Tapi… tapi itu berarti Hasna akan jadi bertemu dengan Arkhan, pikir Reza. Senyumnya langsung menghilang, ada rasa tidak rela kalau Hasna akan sering bertemu kembali dengan Arkhan. Bukan curiga pada istrinya, tapi masih ada kecemburuan dan kekhawatiran kalau ia tidak bisa mengendalikan dirinya melihat istrinya akrab dengan pria lain. Tapi...ia tidak ingin melihat Hasna bersikap kehilangan semangat seperti tadi pagi. Itu bukan Hasna yang ia kenal, yang selalu bersemangat dan memiiliki ide-ide cemerlang.
Ya ia harus bisa menekan egonya, berpikir untuk kebahagiaan orang yang ia sayangi dan cintai sepenuh hatinya saat ini. Ternyata memang benar kata orang mencintai seseorang itu bukan berarti harus memiliki tapi membuat orang itu bahagia.
“Kenapa Bang? Senyam senyum itu kan dokumen ekspor bukan komik” Reza melengos rupanya dari tadi Arkhan memperhatikan dirinya, padahal ia sedang terlihat membaca dokumen.
“Ehmmm… kamu perlu bantuan untuk mengerjakan tesis?” Arkhan mengerutkan dahi, apa ia tidak salah dengar.
“Maksudnya gimana Bang? Dibantuin ngerjain tesisnya sama Abang?” Reza langsung melotot. Seenaknya saja untuk apa dia membantu pekerjaan pribadi bawahannya.
“Bukaan.. Enak saja, memangnya saya kurang kerjaan apa. Dibantu mengerjakan tesisnya oleh orang lain yang punya waktu senggang” tungkas Reza, Arkhan langsung menggelengkan kepala.
“Saya gak cocokan Bang kerja sama orang, apalagi tesis musti punya ide dan pola pikir yang sama, selama ini saya jarang sejalan pikiran sama orang lain. Kecuali sama Has… ehmm.. Sama istri abang” Arkhan terlihat mencoba membuat jarak dalam bahasa terhadap Hasna.
Reza langsung terlihat menahan senyum, ia senang kalau Arkhan terlihat bersikap lebih formal kepada Hasna.
“Dia sekarang banyak waktu, semester ini dia ngambil cuti, soalnya pertengahan semester depan bakalan lahiran. Jadi kayaknya bisa membantumu mencarikan bahan untuk tesis. Nanti saya tanyakan sama dia, mudah-mudahan saja mau” Arkhan yang tersenyum, merasa menemukan solusi dari kebuntuan studinya.
"Jangan senyum dulu, belum tentu dia mau! Terus kalaupun dia mau kamu tidak boleh bicara hanya berdua dengan dia, kalau ada saya kalian boleh bertemu” Arkhan langsung terlihat jengah.
“Yaelah Bang segitunya amat cemburuan sama istri. Dari dulu juga kita mah cuma berteman Bang. Dia gak pernah nganggap saya lebih dari sekedar teman. Apalagi sekarang sudah jadi istri Abang. Saya gak suka mengganggu istri orang. Dianya juga gak bakalan mau sama saya” Arkhan terlihat menggaruk-garuk kepala lagi. Selama ini sikap Reza selalu bermusuhan kalau berurusan dengan Hasna.
“Bagus kalau kamu sadar dia gak suka sama kamu…” ucap Reza dengan tegas
“Padahal kelebihan Abang dari saya cuma di faktor U aja..Uang. Yang lainnya perasaan lebih bagusan saya. Muka gantengan saya, umur mudaan saya, otak juga kayana lebih encer punya saya” Arkhan tampak berpikir keras, mencari kelemahan dirinya dibandingkan dengan Reza, orang yang dibandingkan langsung melotot.
“Heehh… kalau menilai itu jangan menurut pikiran sendiri. Dimana-mana yang menilai objektif itu orang lain. Yang nyebut kamu lebih ganteng dari aku siapa.. Itu kan menurut kamu sendiri, menurut Hasna yah jelaslah aku suaminya lebih ganteng. Trus siapa bilang umur lebih muda lebih bagus, kamu belum mendengar istilah kelapa makin tua makin berminyak artinya semakin tua semakin lebih memberikan manfaat… Soal otak juga belum jelas kalau you lebih pinter. Hasil tes IQ lu berapa Kan… aku kasih tau yah nilai tes IQ gw itu 140 itu jelas di atas rata-rata” Reza menjelaskan dengan berapi-api.
Arkhan cuma tersenyum sinis sambil melengos “Terserah elu deh Bang… Gw sih disini cuma remah-remah diamond… udah dikasih ijin dibantuin sama istri Abang juga udah bersyukur banget” Arkhan langsung beranjak pergi meninggalkan Reza daripada nanti tawaran bantuan tesisnya ditarik lagi mendingan kabur pikirnya.
__ADS_1
Reza langsung membetulkan letak jasnya, dia merasa sudah memenangkan peperangan dengan menyemprot Arkhan soal keunggulan pribadi
Dimana-mana juga Bos mah adalah Raja ….Bebaasss….Mau salah juga anggap aja bener selama gak dipecat. Hehehehhe Siap Bosqu…..