
Reza melemparkan berkas rapat di mejanya bunyinya cukup keras, tadi dia masuk ke ruangan diam-diam dengan niat untuk mengagetkan istrinya ternyata bukannya Hasna yang kaget malah dirinya yang syok mendengarkan percakapan istrinya.
“Beres rapatnya Mas?” setelah memberikan mie kocok kepada Aswin, Hasna masuk kembali ke ruangan. Reza hanya duduk cemberut sambil melirik melihat Hasna yang memberikan makanan kepada Aswin.
“Mau makan Mie Kocok sekarang gak? Kalau mau sekarang aku hangatkan kuahnya, tadi pas jam istrahat pada ngajak makan keluar kampus ternyata ada kios Mie Kocok yang laku banget katanya disitu, pas aku liat wuuiiih ... ternyata kaya yang enak langsung aja minta bungkus trus aku kesini dulu mumpung ada jam kosong” Hasna sibuk berceloteh tanpa menghiraukan ekspresi Reza yang terlihat duduk dengan kesal.
“Soal enak atau enggaknya aku gak tau, tapi biasanya kalau orang sampai ngantri-ngantri kaya gitu dijamin enak. Aku sih tadi kepikiran aja kalau Mas Reza bakalan suka soalnya berkuah hihihihi.. Trus inget Mas Aswin kemarin lagi sakit pilek bersin-bersin pas aku telepon.. Tadi dia kaya yang bahagia banget aku bawain Mie Kocok hehe” Hasna sibuk membuka kemasan kuah Mie Kocok untuk dihangatkan tanpa memperdulikan ekspresi Reza.
“Brakk… “ Reza kembali melemparkan berkas ke mejanya dan berdiri menghadap dinding dan melihat pemandangan di luar gedung. Hasna akhirnya menyadari ada yang mengalami perubahan mood. Dia melongok dari pantry dan melihat Reza yang berkacak pinggang melihat keluar. Hasna yang menyadari kalau Reza sedang marah akhirnya mendekat.
“Kenapa Mas ada masalah di rapatnya?” Reza diam saja, moodnya langsung rusak mendengar percakapan Hasna tapi ia terlalu malu untuk mengakui kalau dia kesal mendengar Hasna ada yang menyukai. “Gak suka aku datang ke kantor?” Hasna menghampiri dan menatap Reza dari samping, rupanya perempuan satu ini tidak pernah peka terhadap perasaan laki-laki.
“Maaf aku berani-berani langsung datang aja gak tanya dulu, ngeganggu yah? Tadi aku musti ngeprint portofolio diri, tugasnya baru dikasih tadi, daripada ngeprint di kampus aku pikir mendingan ke kantor Mas Reza aja sekalian ngirim makanan” Hasna menunduk. Reza tidak menjawab ekspresinya masih terlihat kesal dan dingin.
“Ya sudah aku langsung ke kampus aja lagi.. Maaf gangguin kerjaanya Mas Reza” merasa tidak dihiraukan Hasna langsung beranjak pergi, tapi Reza langsung menariknya dan memeluknya dari belakang.
“Kenapa kamu gak cerita soal foto-foto itu? Sepanjang rapat pikiranku jadi tidak fokus memikirkan siapa yang mengirim foto itu, kenapa kamu tidak mau bercerita, pasti kamu merasa marah dan sedih melihat foto itu” Reza menciumi rambut Hasna sambil memeluk erat istrinya.
Hasna langsung kaget ia tidak menyangka kalau Reza sudah tahu. “Fo..foto-foto apa Mas? Hasna berusaha mengelak, ia takut kalau Reza hanya menebak-nebak atau maksudnya berbeda.
Reza memutar tubuh istrinya, “Foto yang bikin kamu menangis kemarin, jangan suka berbohong sama aku, kemarin aku lihat di hape kamu” dipegangnya dagu Hasna agar ia melihat kepadanya. Hasna hanya menunduk “Liat-liat hape aku gak bilang-bilang” ucapnya pendek.
“Heeh jangan mengalihkan pembicaraan” Reza menatap istrinya tajam, sepanjang rapat, pikirannya jadi tidak bisa fokus, bayangan betapa menyebalkannya foto-foto itu, ia sampai malu sendiri membayangkannya. “Kenapa kamu gak cerita sama aku?” ditatapnya mata Hasna dengan tajam.
“Tujuan orang yang mengirim foto itu adalah supaya kita bertengkar, kalau sekarang aku tanya sama Mas Reza tentang foto ini, mau jawab apa? Yang ada Mas Reza merasa disudutkan trus akan bicara seperti ini: Maunya kamu apa? Aku sudah bilang minta maaf… aku gak tau ada yang fotoin… aku kan cuma melakukan kewajibanku menghibur tamu sebagai bagaian dari pekerjaan…. Kamu terlalu berpikir negatif… itu adalah jawaban-jawaban yang mungkin keluar dari mulut Mas Reza” Reza langsung terdiam, benar juga pikiran istrinya.
“Trus aku bakalan sakit hati.. Aku akan marah dan kita akan terus bertengkar, di depan anak-anak… mereka akan bingung dan sedih..itu yang diharapkan Mas Reza?” jawab Hasna dengan menarik nafas. Reza memeluknya erat, tidak terpikir sama sekali akan sampai sejauh itu. Tidak terbayang bagaimana pikiran anak-anaknya kalau mereka bertengkar, apalagi kalau Hasna sudah menjawab ia tidak pernah mau kalah.
“Aku musti bilang minta maaf seperti bagaimana lagi yaah, terus terang aku malu melihat foto-foto itu” diusapnya kepala istrinya sambil menciumi dengan lembut. Segala kegundahannya seperti luruh saat ia memeluk istrinya seperti ini, Hasna menengadah melihat mata suaminya sambil cemberut “Kalau malu jangan bikin kelakuan kaya gitu lagi yah... sadar umur” Reza malah tersenyum melihatnya.
“Kamu jangan suka cemberut kaya gini di depan orang lain..aku paling gak tahan kalau ngeliat muka kamu kalau kaya gini” Reza langsung menyambar memberikan ciuman pada istrinya, ia sampai melupakan kekesalan soal pengakuan Hasna yang menyebutkan tidak punya pacar. Yang ada dalam hatinya hanyalah menghilangkan kegamangan dan rasa bersalah yang tersalurkan pada ciuman penuh hasrat sehingga melupakan kalau ia sedang ada di kantor.
“Traaaak…” bunyi pintu yang tiba-tiba terbuka tidak membuat dua insan menyadari ada orang masuk tanpa mengetuk pintu. “Ehmmmmm… saya sudah bilang Bu kalau Pak Reza sedang ada tamu” suara Aswin menyadarkan Hasna yang langsung menarik dirinya dari pelukan Reza dan langsung menyembunyikan mukanya di belakang Reza. Hasna langsung meringis malu... ya ampun ketahuan sama Mas Aswin, ia langsung mengusap bibirnya, pasti lipstiknya belepotan. Arrrghhhh... punya suami gak tahu tempat main sosor aja.
__ADS_1
“Bisa tau waktu gak sih… ini jam kantor bukan waktunya untuk bermesra-mesraan dengan perempuan” suara Arcy terdengar dingin. Reza yang semenjak melihat foto-foto nya bersama Arcy merasakan kekesalan yang semakin menumpuk pada perempuan itu. “Ini ruangan saya ..hak saya melakukan apapun .. termasuk dengan ISTRI SAYA”
“Saya kira kamu sudah tahu bahwa aturan kalau kita masuk ke ruangan orang, sudah sepatutnya kita mengetuk dulu… kecuali kalau kamu memang orang yang tidak punya aturan” ucapnya kesal.
“Hahaha kamu suka melebih-lebihkan dari dulu juga kan saya selalu masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk” ucapnya santai sambil duduk di sofa. Hasna terbelalak hebat sekali mental perempuan ini, walaupun ia melihat dirinya dengan Reza berciuman seakan-akan tidak masalah malah dengan tenangnya duduk di sofa sambil menumpangkan kaki.
“Ada urusan apa? Koordinasi untuk kunjungan tamu dari Korea kan sudah” Reza bertanya dengan malas. “Dari ketiga pabrik mereka hanya akan datang ke satu pabrik saja sebagai representasi pabrik di Indonesia, mau yang mana?” Arcy duduk dengan santai seakan-akan pemilik ruangan.
“Aku hangatkan mie nya yah.. Jadi nanti bisa makan dulu sebelum rapat lagi” Hasna melihat jam sudah menunjukkan 12.15 ia harus segera kembali ke kampus jam 1. Reza mengangguk lemah, akhirnya ia memilih duduk di sofa dan melihat spesifikasi kebutuhan yang akan diobservasi oleh investor Korea untuk kemudian dipilih pabrik mana yang cocok. Arcy melirik Hasna dengan tajam tatapannya seakan ingin mencabik-cabik perempuan yang tampak tidak perduli dengan kehadirannya.
“Ini Mas... kerjanya sambil makan supaya gak sakit.. Maaf yaa Mbak Arcy saya tidak belikan karena tidak masuk hitungan tadi. Saya panggil embak yah dari sekarang soalnya lebih TUA dan BELUM MENIKAH… tidak cocok dipanggil ibu...toh bukan atasan saya lagi” Hasna sambil tersenyum diplomatis pada perempuan yang hanya mendengus melihatnya. Penekanan kata lebih Tua dan Belum Menikah menjadi pusat ucapannya.
“Salah satu alasan saya tidak menikah karena tidak suka peran seperti ini... menjadi pelayan menyiapkan makanan” ucapnya sinis. Hasna langsung tersenyum manis “Ohh maaf disini saya tidak sedang jadi pelayan… saya sedang BU-CIN… mungkin belum tahu yah kepanjangannya karena belum pernah. Bucin itu Budak Cinta… saya bucin sama dia” ucapnya sambil menunjuk Reza. Yang ditunjuk hanya melongo dan kemudian senyam senyum malu, terus terang kalau di rumah ingin rasanya Hasna memukul suaminya dengan bantal melihat ekspresinya seperti itu. "Siapa juga yang bucin sama kamu Mas ... ini cuma akting mas akting" ucap Hasna dalam pikirannya saat melihat Reza.
“MAKAN JANGAN KERJA MELULU” ucapnya ketus kepada Reza dan kemudian kembali ke pantry untuk membereskan semua sampah bekas take away. Kemudian Hasna langsung beranjak keluar, Reza yang melihat istrinya hendak pergi langsung berdiri.
“Mau kemana? Kan masih ada waktu?” Hasna mengacungkan usb nya “Ngeprint diruangan Mas Aswin, di ruangan ini pengap udaranya panas ada yang kompor” jawabnya santai. “Jangan ngeprint disana, pakai printer di mejaku” Reza langsung melangkah ke meja kerjanya dan merapihkan berkas supaya Hasna bisa mencetak tugas di mejanya.
Dengan malas Hasna kembali dan duduk di meja Reza, “cuma bentar aja kok di meja Mas Aswin...meni gak boleh” ucapnya kesal “Sudah ku bilang dari tadi jangan suka cemberut kaya gitu” Hasna langsung melipat masuk bibirnya, menyesal sekarang punya bibir lebar dan tebal jadi kalau cemberut langsung terlihat.
Ya ampun cari perhatian banget punya suami nih. "Pelan-pelan dong" ucap Reza saat Hasna mengusap bibirnya dengan tissue. "Berisik ihh.." Hasna cemberut ia merasa malu karena ada Arcy yang terlihat pura-pura tidak peduli. Reza yang melihatnya langsung menatap tajam “jangan cemberut..” Hasna langsung auto mingkem. Reza jadi tersenyum melihat kelakukan istrinya, jadi hiburan yang menyenangkan saat banyak pekerjaan seperti ini.
“Aku juga mau istirahat...kalau gak diputuskan sekarang mereka nanti akan putuskan sendiri random” Arcy terdengar kurang sabar saat melihat interaksi keduanya di meja Reza. Dengan malas Reza kembali ke sofa dan mulai membaca berkas yang dibawa Arcy sambil memakan Mie Kocok yang dibawakan istrinya.
Hasna hanya tertawa dalam hati melihat Arcy seperti yang tertarik melihat Mie Kocok itu “rasain loe… telen aja iler sendiri” Hasna berusaha menahan senyum melihat ekspresi Arcy. Perhatiannya teralihkan oleh bunyi handphone, ternyata Ammera.
“Halo assalamualaikum, ada apa Ra..” Hasna menjawab pelan agar tidak mengganggu suaminya bekerja, tapi tetap saja terdengar karena ada dalam satu ruangan.
“Hasna… ada yang titip nge print juga nih anak-anak soalnya foto copyannya ngantri”
“Beuuuh gak gratis getoh...buruan kirim ke email filenya, aku belum sholat lagi” Hasna langsung membuka email ternyata anak raja minyak juga mengirimkan file untuk diprint.
“Ini anak tukang minyak ngapain juga ngirim file.. Bilangin gak gratis getooh aku minta voucher buat bensin….gkgkgkgkgkgk” Hasna cekikikan sambil memelankan suaranya takut terdengar oleh suaminya
__ADS_1
“Beres katanya, sekaligus ntar disupirin juga dia bilang”
“Ogah gitu..aku udah punya supir pribadi… disupirin sama dia ntar disangka punya bodyguard. Itu badan apa telor rebus ngejendol semua ... ggkgkkgkgkg” Hasna paling tidak suka laki-laki berotot terlihat mengintimidasi.
Reza menyimak percakapan Hasna sambil membaca dokumen, ekspresinya semakin mengeras, rasa kesal yang tadi sempat hilang kembali muncul mendengar percakapan istrinya itu. Pertanyaan Arcy yang sedari tadi diulang-ulang seakan-akan masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri sehingga akhirnya Arcy kesal dan berdiri.
“Reza... kalau sekiranya kamu tidak bisa konsentrasi bekerja… aku keluar saja..terserah kalau nanti mereka akan memilih pabrik yang tidak siap itu kesalahan kamu...Braaaak” Arcy melemparkan sisa dokumen di meja sofa. Hasna yang sedang cekikan langsung kaget, rupanya yang pada duduk di sofa semuanya jadi kompor.
Kompor satu karena mendengar percakapan istrinya dengan teman yang bikin suasana hati menjadi panas, sedangkan kompor dua yang sejak melihat adegan kemesraan berusaha menahan panas tapi semakin tidak terbendung karena tidak dianggap kehadirannya.
“Aku butuh waktu buat membaca” ucap Reza dingin. Dia sudah tidak perduli apakah Arcy akan pergi keluar ruangannya atau tidak. Hasna langsung beranjak dari meja Reza jam sudah menunjukkan 12.40 ia harus sholat dulu, tugas teman-temannya masih dalam proses printing. “Mas aku ikut sholat disini yah..” Reza tersenyum dan mengangguk.
“Di lantai bawah sudah disediakan mushola untuk beribadah, manfaatkan ruangan sebagaimana peruntukannya” ucap Arcy tajam. “Ruangan ini perlu di rukyah… banyak dibacain doa dan dzikir mbak… biar gak ada setannya” jawab Hasna tenang, Reza tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, istrinya selalu saja punya jawaban atas ucapan Arcy.
“Istri mu tidak punya kesopanan” Arcy menatap sinis Hasna yang masuk ke toilet untuk berwudhu. “Yang tidak punya moral dan kesopanan itu orang yang mengirimkan pesan gelap dengan maksud memprovokasi” tatap Reza dingin kepada Arcy, yang ditatap langsung terkesiap dan menjawab cepat “Aku tidak mengirimkan foto apapun, jangan menuduh aku… disana aku juga jadi korban” Reza tersenyum sinis.
“Yang menyebutkan pesan itu berisikan foto siapa? Artinya kamu tahu kalau ada yang mengirim pesan berisi foto-foto amoral” Arcy langsung terhenyak. “Maksud aku ...aku juga menerima pesan yang sama ...makanya aku tahu...pasti diantara tamu undangan kemarin ada yang menyelinap masuk saingan dari perusahaan lain, supaya membuat berita yang tidak baik tentang kita berdua” Arcy langsung duduk tegap dan berusaha terlihat tenang.
“Hubungan aku dan Hasna tidak pernah sebaik ini, jangan pernah berpikir untuk bisa memisahkan kami, dia adalah perempuan terbaik yang saat ini kumiliki” ucap Reza. Percakapan mereka langsung terhenti saat Hasna ke dalam ruangan. “Aku duluan sholat yaa Mas soalnya jam 1 musti sudah berangkat” Reza mengangguk tersenyum kemudian melirik Arcy dengan tajam yang sudah tidak mampu lagi berkutik dan hanya diam.
Tepat jam 13 siang Hasna langsung bergegas untuk bersiap untuk pergi, setelah touch up make up supaya tidak terlalu pucat ia langsung pamit pada Reza yang masih memilih dokumen bersama Arcy. “Mas makannya dihabiskan nanti kalau sudah dingin gak enak… aku berangkat sekarang yahhh udah telat” Hasna langsung salim dan saat hendak mencium pipi Reza langsung berpaling dan mengecup bibirnya “iiiihhh… gimana sih” Hasna langsung cemberut, bukan apa-apa terlalu banyak pamer kemesraan membuatnya tidak nyaman.
“Jangan cemberut” teriak Reza saat melihat Hasna yang berlari keluar “Iyaaa… berisik ah..assalamualaikum” Reza hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya. Arcy sudah tidak ingin berkata apapun, ingin rasanya memakan Mie Kocok yang sedari tadi melambai-lambai di depannya. Belum sampai 5 menit Hasna keluar dari ruangan, tiba-tiba ia sudah muncul lagi seperti badak yang mengejar-ngejar macan kumbang.
“Astagfirullahalaziem…. Mas bukannya ngingetin ihhh ...ini tugas aku ketinggalan” Hasna langsung menyambar tumpukan kertas yang ada di atas printer dan langsung berlari lagi. “Mas Aswin hekter-hekter” Aswin langsung menyerahkan heckter seperti tongkat estafet. “Masss titip pusaka leluhur aku yaaah jangan sampai lepas” ucap Hasna sambil berlari ke lift… “Siaaaap” jawab Aswin sambil tertawa. Mereka sudah menjalin kesepakatan yang tidak tertulis untuk saling menjaga Reza.
Reza langsung tersentak melihat istrinya yang tampak panik, dia langsung menelpon.
“Pak Agus..Hasna sedang turun ke bawah, tolong tunggu di lobby jangan biarkan dia menyetir mobil sendiri, bahaya.. Bapak bawakan mobilnya” Reza tidak bisa membayangkan betapa paniknya Hasna karena sudah terlambat. Arcy tersenyum sinis “itu hukumannya kalau mengganggu pekerjaan orang lain” Reza langsung menatap tajam, ia sudah tidak ingin banyak bicara dengan Arcy jadi memilih untuk tidak menjawab.
Ting..ting...ting terdengar hape Reza berbunyi, ternyata Pak Agus yang telepon.
“Kenapa Pak gak temu?” suara Reza terdengar khawatir.
__ADS_1
“Bukan… ini malah kunci mobilnya diberikan pada saya, sekarang itu Bu Hasna nya naik motor online” suara Pak Agus terdengar bingung.
Reza menghela nafas istrinya memang tidak bisa diprediksi… seperti angin… bisa sepoy-sepoy, bisa keras dan sekarang sedang menjadi angin topan. Whhussssssuzzzzzzzzz sing penting cepat nyampai...siapa peduli pakai motor atau pakai mobil…