
Hasna mengikuti Isyana ke lantai 9, sebetulnya ia paling malas untuk ke lantai 9 saat ini, pertemuan dengan Arcy membuatnya harus mewaspadai perempuan itu. Tapi Hasna tidak ingin membuat gosip yang tidak perlu dengan Isyana.
Tapi memang nasib tidak pernah berpihak padanya di perusahaan ini. Selalu saja bertemu dengan orang yang tidak ingin ia temui. Seperti sekarang saat ia menemani Isyana ke lantai 9 di pintu lift dia bertemu dengan Arcy yang akan pulang. Ternyata keputusan berhenti memang tepat, gedung ini seperti gedung kutukan.
“Isyanaaaa…. Pretty girl I finally met you” Nenek Sihir langsung langsung pasang muka manis saat melihat Isyana.
“Mbak Arcy how are you still look amazing as usual” dan mereka cipika cipiki seperti sahabat lama yang bertemu, dan sudah dipastikan Arcy tidak akan menyapa Hasna.
“Oww you have baby now… Aw so cute… look like your husband Steve, handsome baby boy” Arcy langsung melihat stoler dan mencoba mengangkat Mikail.
“Namanya baby Mikail” ucap Maura sambil sibuk memberes-bereskan stoler Mikail.
“Maura suka sama baby Mikail” tanya Arcy.
“Sukak nanti Mola juga mau punya lilel brader… Buna nanti punya baby yang banak buat adik Mola” ucap Maura sambil merentangkan tangannya. Hasna tertawa melihat Maura bercerita dengan semangat sedangkan Arcy langsung tersenyum kecut.
“I hope not” Arcy mendengus sambil mendelik dan melihat kembali kepada Isyana.
“I think your brother got insane thinking to marrying that girl. Isyana kamu harus menyadarkan kakakmu supaya sadar kalau perempuan itu tidak berkelas” ucapnya dengan keras.
Hasna benar-benar tidak habis mengerti dengan kelakuan perempuan itu.
“What? you mean Hasna… Owh no.. she is wonderful girl”
“Abang benar-benar beruntung bertemu dia, anak-anak sayang banget sama dia”
‘She will become a perfect mother for them. I’am very happy they will gonna marry”
“Mbak Arcy please forgive my brother, but you know he don't love you since the beggining”
“You can't force someone to love you, it's terrifying, he will push you away”
Rupanya Isyana mengetahui kalau Arcy sangat menyukai Reza, syukurlah pikir Hasna dia punya seseorang yang membelanya di depan Arcy tanpa ragu. Reza hanya bersikap dingin tanpa memberikan batasan yang jelas kepada perempuan itu.
“Syana aku duluan yah ke ruang Mas Reza” ucap Hasna, tumben sekarang dia inget manggil mas ..hehehe efek pamer memang selalu lebih mantap.
“Wait for me Sisi” Isyana dengan elegannya memanggil Hasna memang kalau bawaan dari kecil sampai mendarah daging dalam gestur tubuh dan suara. Hahahahhaha.
“Ok Mba Arcy see you later yaa.. I hope you will find someone that will love you more ok” Isyana sambil cipika cipiki.
“Aamiiin yra” ucap Hasna keras. Arcy langsung mendelik ke arah Hasna dan berkata
“”Jangan merasa menang dulu, hanya soal waktu saja semuanya akan berbalik” ucapnya dengan penuh senyuman licik.
“Hey come on…. Don't be silly, she will be my sister in law soon. Don't be cruel” Isyana langsung berkata dengan keras.
‘Sorry honey, sometimes my joke is too much… bye-bye see you later” Arcy cepat-cepat masuk ke dalam lift.
“Huffft…” Hasna langsung menarik nafas panjang. Mengesalkan memang selalu bertemu dengan perempuan itu.
“Hahaha don't be mad ya Sisi… Arcy memang dari dulu suka sama Abang, cuma abang selalu saja tidak peduli, aku sempat khawatir abang jatuh ke pelukan dia” Isyana tertawa-tawa dengan santainya.
“Sebetulnya, kenapa Pak Reza tidak menikah dengan Bu Arcy, bukankah sama-sama memiliki saham di perusahaan ini” Hasna tersenyum masam. Dia merasa terseret pada situasi yang tidak menyenangkan.
“Who needs money if its only make us miserable, anyway we already have money, Sisi”
‘All we need right now is someone that can bring us happines”
“Steve is not a rich man, he's just an ordinary guy but has a lot of kindness in his heart. He also a good comedian” Isyana tertawa-tawa
“Saya selalu bisa tertawa melihat kelakuan Steve kalau di rumah, kalau dia memasak dia bisa membuat seisi dapur penuh dengan tepung”
“When he tell story, he always makes me laugh, he knows how to make a good joke” Isyana tersenyum bahagia.
“Dia teman kuliah?” tanya Hasna
“No… he is my best friend brother” ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Saya menyukainya karena dia sangat melindungi saya waktu saya di kuliah di Singapura. Selalu mengantar pulang kalau menginap di rumahnya dengan adiknya”
“Dia tidak tahu kalau Papa punya perusahaan di Indonesia, dia cuma tahu kalau aku anak yang dimanja karena punya banyak barang mahal hahahahhaha”
“Sekarang pun, aku suka dimarahi kalau membeli barang-barang yang mahal. Padahal itu memakai uang aku, cuma aku gak bilang-bilang aja sama dia...hahahahah”
“Horang kaya mah bebas” pikir Hasna sambil tersenyum.
“So if I want to buy something that expensive I have to pretend that I'm saving first… Dia langsung gak banyak protes… padahal aku gak pernah saving..hahaha mana cukuplah uang dari Steve untuk di saving.. Ngepas aja yang ada siy” Isyana terus saja tertawa-tawa sendiri. Hasna hanya bisa nyengir saja. Punya calon adik ipar ini mesti segera untuk turun ke bumi jangan hidup di khayangan terus.
“Bang Aswiiin … you still handsome and serious”
“Hasna why you are not naksir Bang Aswin, I think he looks more kind and handsome also” Isyana langsung ngomporin.
"Kalau bisa sih aku juga suka sama dia" pikir Hasna sambil tersenyum
“Pak Aswin kan sudah menikah Syana..” ucap Hasna, ampun deh ini adik ipar malah nyuruh naksir sama Aswin asisten kakaknya.
“Saya belum menikah kok” Aswin langsung nyengir.
“Ehhh kata Mbak Maytha Pak Aswin sudah menikah, katanya dulu pernah ketemu di mall bawa anak 2 … Pak Aswin itu katanya hot daddy” Hasna masih ingat ucapan Maytha dulu.
“Owh itu keponakan saya, wah bahaya nih, pantesan saya gak pernah ada yang naksir ternyata sudah disangka punya gandengan” Aswin tertawa-tawa.
“Mbak Hasna kok tanya-tanya sama Maytha kalau saya masih single atau tidak”tanya Aswin dengan senyum menggoda.
“Ehhhh… engga waktu itu saya nanya apa yah lupaa…” Hasna langsung salah tingkah. Hadeuuh ditembak kaya gini kan gak persiapan jawabnya.
“Pak Reza ada di dalam? Katanya lagi sibuk” Hasna langsung mengalihkan pertanyaan.
“Tidak, tadi tamu yang terakhir jam 5, sekarang free sampai jam 7.30 nanti malam ada jamuan makan malam dengan tamu dari Tiongkok”
“Ok kita mau gangguin sampai jam 7 setelah itu bisa siap-siap buat dinner ya” Isyana langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Abanggggg… are you still busy?”
“Papiiiiii….” Maura langsung loncat teriak masuk, dari tadi sudah goyang-goyang gak mau diam di pelukan Hasna.
Reza tampak sibuk di depan laptop di mejanya, mukanya tampak lelah. Dia tersenyum tipis dan kemudian berdiri menyambut Maura yang langsung naik minta di gendong.
“Sudah lama? Katanya sudah berangkat dari tadi?”
“Ya tadi bertemu dengan Arcy”
“She looks very mad knowing that you will marry Hasna”
“Sudah jangan membahas dia, sikapnya selalu mengesalkan” Reza langsung memotong, dan kemudian menatap Hasna
“Gimana apakah ada masalah dengan orang HRD terkait surat pengunduran diri” tanyanya
“Hmmm tidak ada pak, mereka bilang akan memprosesnya langsung” Hasna langsung tersadar tadi memanggil bapak melihat muka Reza yang langsung berkerut, hmm musti dianulir nih supaya gak bete pikirnya.
“Sibuk Mas? Ada yang bisa saya bantu?” dengan nada lembut dan senyuman manis… hehehe langsung mempan nih, mukanya langsung kegeeran gitu.
“Ya biasa aja, banyak rapat dari pagi. Nanti malam masih lanjut rapat tapi versi makan malam...hufft” ucapnya.
“Ganbatte kudasai” ucap Hasna sambil mengacungkan kepalan tangan
“Kudasey…” ucap Maura sambil menirukan Hasna dengan gerakan tubuh yang sama tapi terbalik dengan tangan ditarik ke bawah..
“Hahahaha Merdeka…” ucap Hasna dilanjutkan lagi melihat tingkah Maura, tangannya diacungkan keduanya ke atas.
“Meldeka..meldeka...meldeka” Maura langsung loncat-loncat … dasar bocah.
Mikail yang melihat tingkah laku Maura langsung tertawa-tawa gembira, menggerak-gerakan tubuh gendutnya… unchhh gemaaayyy…
Isyana langsung tertawa melihat kelakuan dua bocah, biasanya Mikail gampang menangis kalau di tempat baru.
__ADS_1
“Ayo kita minta kartu akses dulu buat belanja, aku hari ini mau temani Sisi belanja, Abang sediakan kartu nanti kita yang habiskan”
“Eh…. habiskan gimana maksudnya?” Hasna langsung kaget.
“Dia itu kebiasaan belanja gak terkendali, makanya aku gak akan kasih kartu aku sama kamu, Hasna kamu yang pegang jangan biarkan Syana pegang kartu, dia suka beli barang yang tidak perlu” Reza langsung mengambil kartu dari dompet dan memberikannya ke Hasna.
“Abang please aku udah lama gak belanja…” Isyana langsung merajuk memegang tangan kakaknya dan memohon dengan pandangan yang manja seorang adik.
“No… setiap bulan kamu sudah dikirim uang 3000$ seharusnya bisa kamu pakai belanja ditambah dengan penghasilan dari Steve pasti sudah lebih dari cukup”
“What 3000$ … itu hampir 50 juta hanya dipakai sebagai uang jajan” Hasna langsung keleyengan, ini orang-orang gaya hidup seperti apa.
“Hasna pegang kartunya, jangan pernah berikan kartu ini sama dia, ingat.. Hanya dipakai untuk keperluan kamu saja, dia udah punya kartu sendiri” Reza langsung memberikan ke Hasna.
Hasna dengan ragu-ragu mengambil kartu kredit dari tangan Reza.
“Ini dipakai untuk apa?”
“Katanya mau belanja untuk barang seserahan, sekaligus diskusi soal pesta pernikahanan sama Syana”
“Owh ok… harus beli semuanya sekarang?” Hasna bingung karena tidak mungkin membeli semua barang sekarang sudah malam dan membawa anak kecil.
“Its all up to you” hadeuuuh inih si Abang ikutan ngomong ngenglish juga.
“Aku mau diskusi aja dulu, soal belanja bisa belakang” Hasna mengembalikan kartu Reza.
“Pegang saja supaya nanti kamu gak susah untuk membeli keperluan.. Itu kartunya unlimited jadi kamu mudah memakainya”
“Hmmm… aku gak pernah dikasih kartu unlimited abang, Hasna belum nikah udah dikasih kartu unlimited. Abang tau gak kalau sebetulnya Hasna udah naksir duluan sama Aswin loh daripada sama Abang”
“Ehhhh… kata siapa?” Hasna langsung kaget, hadeuuh ini punya adik ipar ternyata hobi bikin kompor gas meledak.
Aswin langsung loncat dari kursi di belakang Reza, saat mendengar ucapan Isyana.
“Maksudnya gimana?” tanya Reza tajam.
“Ga..Gak..Gak tau Pak… itu Syana aja ngarang, saya gak pernah bilang naksir Pak Aswin”
“Kenapa kamu seperti yang kaget, apa kamu gak tau waktu kemarin saya marahin kamu itu, Aswiin yang…” Reza langsung berniat membocorkan skenario kampretos.
“Pak Reza… maaf sekarang sudah jam 7 lewat, sebaiknya kita mulai bersiap untuk acara dinner, saya khawatir nanti kita terlambat” Aswin langsung memotong pembicaraan Reza
“Marahin yang apa maksudnya? Pak Aswin memangnya kenapa?” tanya Hasna curiga melihat sikap keduanya yang saling langsung menimpali.
“Gak ada apa-apa Mbak Hasna, saya anter kedepan, supirnya dianter siapa Mbak Isyana, saya panggilkan ke resepsionis di lobby yah” Aswin langsung menggiring Hasna keluar.
Hmmm… ini mencurigakan, pikir Hasna tapi melihat waktu sudah jam 7 lewat memang Pak Reza harus segera bersiap-siap.
Akhirnya mereka meluncur menuju Mall di daerah Jakarta Pusat untuk makan malam dan diskusi. Kalau masih ada waktu akan dilanjutkan dengan mencari keperluan untuk barang seserahan.
Hasna cuma bisa pasrah saat menerima pesan dari Reza.
“Nanti malam kamu harus jelaskan soal tadi”
“Soal apa?
“Soal Aswin”
“Gak ada apa-apa juga lagi, udah ah.. Suka bikin pusing”
“Nanti setelah dinner aku telepon”
Hufttt… baru kemarin baikan udah ngajak ribut lagi, ini orang benar-benar suka nyari topik perdebatan”
**************************************
Happy wiken gurlz.... Meet new comer... Isyana tukang kompor. Hobby ngomong ngenglish, maklum suami orang asing. but really sorry kagak akan ditranslate obrolan die. Anggap aja ini novel latihan belajar bahasa inggris. Jadi kalau yang kagak ngatri, copy paste ke google traslate. Jangan cuma author aja yang ngetik kalean juga belajar.. Cemungudh yaaah.... Ganbatte kudasai.... #setelah belajar bahasa inggris nanti dilanjut belajar bahasa jepang...hahahahaha
__ADS_1
**************************************